
Sampai di istana, Sylvia langsung di ajak menuju kamar nya oleh para buttler dan maid. Leon, Cathy, Rose, Ria dan seluruh teman teman nya di ajak untuk menuju ruang singgasana untuk menemui raja yang memang sudah siap menyambut mereka. Seorang pengawal dan dua orang pelayan mengantar mereka berjalan di koridor menuju singgasana. Dua pengawal di depan gerbang singgasana membukakan pintu ketika mereka sudah sampai. Pintu terbuka, di dalam banyak sekali noble berkumpul dan baginda Lexius sudah berdiri di podium. Leon, Cathy dan Rose melangkah masuk bersama Ria dan teman teman yang lain. Pandangan mata para noble terhadap mereka sangat tajam dan terasa menusuk, semua memandang remeh mereka dan menganggap mereka sebagai warga biasa yang tidak pantas bertemu raja. Rose sempat bereaksi tapi pundaknya di pegang oleh Leon dan Cathy. Setelah sampai di hadapan raja, mereka semua berlutut dan menunduk.
“Selamat datang di ibukota Oreano wahai para pahlawan yang berjasa dalam peperangan. Silahkan angkat kepala kalian dan berdirilah.” Sapa raja Lexius.
Semuanya langsung berdiri, para noble langsung berbisik dan bergosip sebab berdiri di depan raja adalah sebuah kelancangan yang luar biasa bagi kalangan noble. Raja malah turuh dari podium dan berdiri di depan Leon, Cathy, Rose dan Ria. Dia menyalami ke empatnya juga semua teman nya dan kemudian berdiri di depan mereka, di atas tangga pertama podium, dua orang petugas istana mendekati raja dan membawakan nampan berisi 7 bilah pisau dari emas.
“Dengan ini, aku akan memberikan Francesca, Frederick, Pauletto, Sarahesa, Laurencia (Laurie) gelar baron di kerajaan ini. Dan kepada Valeria, Leonard, Catherina dan Rosemary aku memberikan gelar viscount kepada mereka.”
Ruangan langsung ramai, banyak dari para noble yang protes dan mengatakan raja tidak adil, tapi ada juga yang medukung pernyataan raja dan mendukungnya. Di sini terlihat jelas fraksi yang membela dan menentang raja.
“Diaaaaam...keputusan ku tidak berubah......” Teriak Raja.
Seluruh ruangan langsung hening mendengar teriakan raja Lexius yang membahana dan menggema di seluruh ruangan. Para pelayan yang membawa nampan maju ke depan dan raja memberikan pisau nya kepada semua sebagai lambang status noble (bangsawan). Tapi ketika sampai kepada Leon, Cathy dan Rose.
“Kami menolak....” Teriak ketiganya dengan lantang.
Ria langsung menoleh dengan cemas, seluruh ruangan kembali ribut, banyak sekali noble yang menghujat mereka.
“Kurang ajar, tidak tahu diri....” Teriak seorang noble muda.
“Huh dasar commoners (warga biasa) yang tidak tahu di beri kehormatan.” Tambah seorang noble setengah tua.
Dan masih banyak hujatan lain nya, baik dari fraksi pendukung atau penentang raja. Tiba tiba Sylvia berdiri di singgasana, dia masuk dari ruang sebelah.
“Diam semuanya, Leonard sama, Catherina sama, Rosemary sama adalah pahlawan negeri ini, kalau pun mereka menolak status nya tidak masalah, mereka tetap pahlawan di negeri ini, untuk para bangsawan yang berkomentar, apa jasa kalian untuk negeri ini ? kemana kalian ketika perbatasan di serang, kemana kalian ketika menara di hancurkan ? apa pantas kalian berkata kata seperti itu kepada penyelamat negeri ini ?” Teriak Sylvia.
Selagi Sylvia menarik perhatian para noble, raja berbisik ke pada ke tiganya dan di bantu Ria.
“Begini, ini hanya sekedar formalitas, kalian tidak terikat dengan kerajaan ini, tapi tentu kalian butuh rumah, untuk itu aku sediakan kalian gelar kalau kalian mau kembali ke sini, begitu juga dengan Valeria.” Bisik raja Lexius.
“Leon, Cathy, Rose, untuk sementara kita terima saja dulu, aku tahu kalian mau menolak nya, tapi kita tidak bisa apa apa kalau tidak punya status. Tapi tolong berjanji yang mulia, kita tidak mau terikat di kerajaan ini. Oh ya, nama belakang kita pakai nama Heins.” Ujar Ria.
“Aku berjanji, gelar itu hanya untuk formalitas, tapi kalau kalian mau menetap, gelar itu sudah menjadi milik kalian. Seperti yang ku katakan sembelum nya.”
“Baiklah, kami mengerti....” Ujar ketiganya dengan wajah tidak terima dan terpaksa.
Raja mulai memberikan pisau untuk mereka satu persatu, sementara itu Leon, Cathy dan Rose berdiskusi di kepala mereka,
“Aku mengerti kenapa raja menjadikan kita noble (bangsawan)....” Ujar Leon.
“Apa Leon ? mau mengikat kita di kerajaan ini ?” Tanya Cathy.
“Bukan, dia mau memakai kita sebagai umpan untuk menarik keluar pengkhianat di tubuh kerajaan dan di kalangan noble.” Jawab Leon.
“Maksudnya pengkhianat yang berhubungan dengan kerajaan sebelah yang menyerang kemarin ?” Tanya Rose.
“Benar dan mereka berniat menggulingkan raja kan untuk mengambil alih kerajaan, seperti yang Rodrick sensei bilang dan dengan di angkatnya kita menjadi kaum bangsawan, bagi semua bangsawan yang hadir di sini kita adalah duri yang tiba tiba muncul, pastinya sangat mengganggu mereka. Hal seperti ini sudah biasa di dunia lama kita.” Jawab Leon.
“Hmm benar juga, berarti kita sekarang hanya tinggal menunggu reaksi mereka. Tapi kalau hanya mengangkat kita jadi bangsawan tidak terlalu kuat dan tidak akan membuat musuh bergerak.” Ujar Cathy.
“Aku khawatir.......pasti ada lanjutan nya.” Ujar Rose.
Ketika raja selesai memberikan pisau pisau sebagai lambang, dia naik ke atas dan berdiri di sebelah Sylvia di atas yang sudah selesai berpidato.
“Sekarang aku dan putri ku akan mengumukan....viscount Leonard Heins silahkan naik kepodium.”
Leon langsung naik ke atas dan berdiri di hadapan raja, tiba tiba raja meminta Leon menjulurkan tangan dan dia menaruh tangan Sylvia di atas tangan Leon.
“Hari ini sekalian aku umumkan pertunangan viscount Leonard Heins dengan putri Sylvia von Oreano.” Ujar raja dengan lantang.
Seluruh ruangan kembali ramai, banyak noble muda yang mengincar Sylvia protes keras, bahkan dengan lantang menantang Leon untuk duel. Keributan terjadi di dalam ruang singgasana dan membuat para penjaga masuk ke dalam untuk menenangkan situasi yang kacau akibat para noble muda yang protes.
“Diaaaaam......semua sudah di putuskan dan bersifat absolut. Jika ada yang tidak setuju atau memberontak, akan di hukum mati di tempat.” Teriak raja lantang.
Seluruh ruangan kembali tenang, para penantang mundur dan berbaris seperti semula walau wajah mereka menunjukkan rasa tidak senang. Leon memperhatikan wajah wajah semua noble yang tidak merasa senang dengan pengumuman raja, karena kemungkinan mereka adalah pengkhianat nya. Tapi Leon ingin memastikan sesuatu.
__ADS_1
“Um...yang mulia, ini semua hanya bohongan kan ?” Tanya Leon berbisik sambil menghadap raja.
“Iya, tenang saja hehehe....” Jawab raja.
“Hehehe....” Tambah Sylvia.
“Kenapa....kalian tertawa seperti itu.....” Ujar Leon yang menjadi sedikit takut.
Sementara di kepalanya, Cathy dan Rosa tidak bisa diam dan terus berbicara sambil marah marah.
“Sudah kuduga kan, pasti ada udang di balik batu, ternyata ini......huuuuuu.” Ujar Rose.
“Grrrr........Leon, kamu kenapa diam saja sih........protes kek, apa kek...” Ujar Cathy.
“Sabar...raja bilang ini bohongan....” Balas Leon.
“Bohongan apa, wajah itu wajah serius.....” Teriak Cathy.
“Huuuuu onii chan bodoh banget......” Tambah Rose.
Upacara penobatan dan pengumuman pertunangan selesai, para noble meninggalkan ruangan, kemudian raja meminta semuanya masuk ke dalam ruang pertemuan di istana. Setelah di dalam dan semua sudah duduk, raja Lexius dan Sylvia menunduk di hadapan semuanya,
“Maafkan aku yang sudah melibatkan kalian semua.” Ujar Lexius.
Fran, Freddy, Paul, Sarah dan Laurie merasa tidak enak raja dan Sylvia menunduk di depan mereka. Setelah itu, raja dan Sylvia duduk kembali,
“Yang mulia raja Lexius, tentunya anda mengenal siapa saya kan, apa tidak masalah mengangkat saya menjadi bangsawan di kerajaan ini, kalau sampai identitas saya ketahuan, anda yang akan di fitnah mereka bekerja sama dengan kerajaan saya.” Ujar Ria tegas.
“Aku mengerti, tapi justru itu lah yang aku ingin pancing keluar, pengkhianat itu tentu mengenali anda, putri kerajaan Ingrasia, Valeria Gretude Ingrasia dan dia pasti akan bergerak.” Ujar raja.
“Tapi kenapa mengumumkan aku sebagai tunangan ojo tenka ?” Tanya Leon.
“Karena kamu adalah adik dari Valeria, pangeran ketiga Ingresia tidak penah muncul di permukaan, jadi musuh pasti menganggap kamu adalah pangeran ketiga dan kalau pangeran ketiga bertunangan dengan putri kerajaan, berarti terjalin kerja sama yang baik di antara dua kerajaan, ini akan memukul mereka dan membuat mereka berbuat sesuatu dengan segera kemudian membuat kesalahan, itu yang kita tunggu.” Balas raja Lexius.
“Tapi semua ini pura pura kan ?” Tanya Cathy dan Rose tegas dan berdiri.
“Aku tidak percaya, kenapa wajah mu seperti itu ojo tenka.....” Ujar Cathy.
Cathy merasa tidak nyaman melihat wajah Sylvia karena dia bisa membedakan orang yang benar benar jujur dan tulus dengan orang yang punya niat terselubung. Menurut Cathy, Sylvia dan ayahnya, raja Lexus benar benar menunangkan Leon dengan Sylvia dan itu bukan pura pura.
“Tenang nee san, aku tahu maksud mereka, tidak perlu marah....aku tidak akan setuju juga.” Ujar Leon.
“Huh....ya sudah, aku percaya kamu Leon....tapi jujur aku tidak percaya mereka.” Ujar Cathy sambil cemberut dan duduk kembali.
“Aku juga huh....” Tambah Rose yang juga duduk kembali dengan wajah cemberut dan melipat tangan di dada.
Leon memegang pundak keduanya, karena dia masih berdiri di tengah tengah mereka. Sementara teman teman nya yang lain menghela nafas lega, karena mereka takut Cathy dan Rose mengamuk.
“Kenapa tidak aku saja sih yang jadi tunangan nya....” Pikir Freddy dan Paul dengan wajah lesu.
“Yaaaah....Leon san bertunangan.” Pikir Fran, Sarah dan Laurie bersamaan dengan wajah lesu.
Setelah raja menerangkan maksudnya, dia bertepuk tangan dan seorang pelayan masuk ke dalam membawa nampan berisi beberapa gulungan kertas dan beberapa kantung uang.
“Untuk para baron aku sediakan tanah di wilayah kerajaan yang merupakan tanah kalian dan selama kalian tinggal di ibukota, kalian akan tinggal di asrama yang sudah ku siapkan khusus untuk kalian. Sylvia juga akan bersama kalian.” Ujar raja sambil meminta pelayan memberikan gulungan kertas dan kantung uang nya kepada lima orang baron.
“Terima kasih yang mulia....” Ujar Fran, Freddy, Paul, Sarah dan Laurie bersamaan sambil berdiri dan menunduk.
Lalu seorang pelayan pria masuk ke dalam membawa sebuah nampan berisi sebuah surat dan sebuah kunci rumah.
“Untuk visocount Heins, kami berikan sebuah rumah di ibukota dan isinya, serta surat pengakuan kalian yang bisa kalian gunakan kapan saja kalau kalian kembali ke kerajaan ini.” Ujar raja sambil menyerahkan nampan yang dia ambil dari buttler kepada Ria.
“Terima kasih yang mulia....” Ujar Ria dan Leon sambil berdiri.
Cathy dan Rose tetap duduk sambil bersungut sungut dan melipat tangan mereka di dada, tapi raja dan Sylvia mengerti, mereka malah tertawa kecil melihatnya. Hanya teman teman mereka yang terlihat sedikit ketakutan karena takut raja marah dengan sikap keduanya. Setelah selesai, mereka keluar dari ruang pertemuan dan di antar keluar istana oleh para pelayan dan penjaga.
__ADS_1
***
Setelah berpisah dengan teman teman nya, Leon, Cathy, Rose, Ria dan Altea berjalan menggunakan kereta menuju alamat rumah mereka di ibukota. Di dalam kereta,
“Ria nee san, kenapa nama belakang kita jadi Heins ?” Tanya Leon.
“Singkatan dari Heindrich dan Ingresia hehe....tidak usah di pikirkan, kita bukan bangsawan yang sesungguhnya, kita di sini bertugas.” Jawab Ria.
“Aku mengerti, Cathy nee san, Rose kalian mengerti kan ?” Tanya Leon sambil merangkul keduanya.
“Mengerti.....” Balas keduanya sambil cemberut.
“Ada yang mengikuti kita Leon sama, Cathy sama, Rose sama, Ria sama....” Ujar Altea.
“Aku tahu, biarkan saja dulu....di tempat sepi baru kita perjelas mau apa mereka.” Ujar Leon.
Kereta berbelok ke sebuah jalan yang cukup sepi, langsung saja seorang pria berpakaian serba hitam seperti ninja duduk di kursi pengemudi dan mengancam pengemudi dengan pisau untuk memberhentikan kereta. Seluruh penduduk yang tinggal di jalan itu, menutup pintu dan masuk ke dalam rumah, tidak ada yang berani keluar. Beberapa orang membuka pintu kereta dan seorang noble muda berambut pirang, sedikit gemuk ada di balik pintu. Leon mengenali noble itu, karena dialah yang menantang nya untuk duel di singgasana tadi setelah pengumuman pertunangan.
“Hey viscount Leonard Heins, turun, kita selesaikan urusan kita di sini.” Ujar nya.
“Urusan apa ? aku merasa kita tidak punya urusan.” Jawab Leon.
“Kamu bertunangan dengan Sylvia ojo tenka itu sudah menjadi urusan ku, aku sudah lama mengenal nya dan aku sudah mengajukan lamaran ku, aku yang harus nya memimpin negeri ini.” Ujar nya.
“Oh begitu, memang siapa kamu ?” Tanya Ria santai.
“Namaku count Wendell Brauster, turun, aku menantang mu duel.....” Ujar Wendell.
“Baik, aku jawab tantangan mu...” Cathy berdiri dan melompat keluar.
“Hei...aku tidak mau melawan wanita....jangan sembarangan ya.” Ujar Wendell.
Cathy melepas sarung tangan nya dan langsung melemparkan nya ke wajah Wendell.
“Aku yang menantang mu duel di sini....” Teriak Cathy.
“Ku..kurang ajar....aku akan menjadikan kamu salah satu budak ku dan menyiksa mu setiap hari....rasakan ini......wahai angin yang perkasa, jadilah kekuatan ku......” Wendell mengangkat kedua tangan nya.
Belum selesai Wendell merapal sihirnya, lutut Cathy sudah bersarang di wajah nya yang lebar dan membuat nya terpental jauh ke belakang. Empat orang ninja yang datang bersama nya langsung tertegun tidak berani bergerak, mereka hanya melihat tuan mereka melayang kebelakang dengan wajah bonyok dan berlari menolong nya.
“Huh kelamaan....dan banyak omong.” Ujar Cathy sambil berbalik.
Para penjaga datang menghampiri karena mendengar ada keributan dari warga sekitar, mereka langsung menodongkan tombak mereka pada para ninja dan ninja yang duduk di pengemudi sehingga dia mengangkat tangan nya, para penjaga langsung menanyakan masalah nya pada Cathy dan pengemudi kereta, setelah di ceritakan oleh pengemudi kereta dan Cathy, para ninja itu di tangkap oleh para penjaga. Wendell yang baru bangun juga langsung di bawa oleh penjaga dengan wajah yang bonyok. Leon, Rose dan Ria tertawa terbahak bahak di dalam kereta, mereka paham Cathy ingin melepaskan kekesalan nya dari di singgasana dan ruang pertemuan, mereka merasa kasihan pada Wendell yang terkena dengkul Cathy sampai bonyok. Cathy kembali naik ke kereta, baru selesai pengumuman saja sudah ada yang mengejar mereka. Akhirnya Altea keluar dan duduk di sebelah pengemudi supaya tidak terjadi lagi hal serupa.
“Catat namanya, nanti kita laporkan ke raja.” Ujar Ria.
“Jelas jelas dia mengatakan mau menikahi Sylvia karena ingin menjadi raja hahaha...kalau bukan pengkhianat apa itu namanya.” Ujar Leon.
“Tapi aku rasa bukan dia yang memiliki hubungan dengan Ingresia dan sekte terlarang itu, karena dia sangat lemah dan tidak menjadi demon.” Ujar Rose.
“Benar Leon, dia sepertinya memang benar ingin menikah dengan Sylvia untuk menjadi raja, tapi ucapan nya mengenai budak, itulah niat sebenarnya kenapa dia ingin jadi raja, dia bermaksud melegalkan perbudakan di kerajaan ini, mungkin.” Ujar Cathy.
“Hooo berarti dia bukan berhubungan dengan kerajaan Ingresia melainkan dengan kekaisaran Lenox, begitu kan maksudnya nee san ?” Tanya Leon.
“Benar, ampun deh, musuh kerajaan ini banyak juga ya.” Jawab Cathy.
“Yah itulah tugas kita kan, membereskan masalah kerajaan ini.” Balas Ria.
“Huh aku tidak rela ojo tenka di nikahi si babi tadi, mending onii chan deh.....(sadar) ah tidak, aku juga tidak rela onii chan menikahi nya.” Ujar Rose.
“Hahaha ya sudah, kita selesaikan saja tugas kita di sini dan pergi dari kerajaan ini, kalian mau hidup tenang kan ?” Tanya Ria.
“Benar nee san....” Ujar ketiganya.
Mereka meneruskan perjalanan dengan kereta menuju rumah mereka. Setelah berbelok sekali lagi, mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar seperti sebuah mansion yang di miliki bangsawan ternama. Rumah besar bertingkat dengan halaman yang sangat luas sampai terlihat jauh dari tepi jalan. Semuanya turun dari kereta dan memandang rumah baru mereka.
__ADS_1
“Heeee.....ini rumah baru kita ?” Tanya semuanya sambil tertegun melihat rumah itu.