
Cathy dan Rose menoleh, mereka melihat Leon masuk bersama dengan seorang sensei wanita. Keduanya langsung berdiri di depan Sylvia dan bertanya kepada Leon,
“Siapa dia Leon ?” Tanya Cathy.
“Oh ya, sensei namanya siapa ?” Tanya Leon menoleh kepada sensei yang ikut dengan nya.
“Namaku Annebelle....panggil saja Anne. Aku wakil kepala akademi di akademi ini, kepala akademi di bunuh.....sekarang kita harus keluar dari sini....” Ajak Anne.
“Ah....aku ada ide......” Ujar Rose.
“Apa lagi ?” Tanya Leon dan Cathy khawatir.
“Lihat......”
Rose membuka jendela dan dia mengacungkan tongkat replika nya ke luar jendela. Kemudian lingkaran sihir besar muncul di tanah, persis di tengah tengah kerumunan orang yang menyeruak masuk. Seekor naga tulang yang sangat besar muncul di tengah tengah kerumunan orang orang itu, membuat kerumunan itu tercerai berai karena kaget melihat nya.
“Roooooaaaar.........”
Naga itu meraung kencang membuat kerumunan berhenti menghindari naga bersar dari tulang yang muncul di tengah tengah mereka dan sebagian melarikan diri karena takut. Kemudian Rose mengambil sebuah gulungan karpet dari tas dimensi nya.
“Semua minggir....tolong singkirkan semua yang ada di tengah.”
Leon, Cathy, Sylvia dan Anna menyingkirkan semua meja dan kursi yang berada di tengah ruangan untuk menyediakan tempat untuk Rose yang sudah memegang gulungan karpet. Rose menggelar karpet yang ternyata besar itu di lantai, lalu dia minta semua duduk di atas nya. Rose berdiri di depan karpet dan mengangkat tongkatnya, sudut karpet melipat ke atas, di bagian bawah nya muncul lingkaran sihir. Setelah semua siap, Rose mengangkat tangannya dan lingkaran sihir keluar dari depan tangan nya.
“Boulder smash.”
Sebuah batu besar keluar dari lingkaran sihir menghantam dinding dan jendela di depan nya sampai berlubang besar.
“Pegangan ya.....hehehe....” Ujar Rose yang berdiri di depan semuanya.
Lingkaran sihir di bawah karpet mengeluarkan debu debu cahaya dan membuat karpet melayang, Leon, Cathy, Sylvia dan Anne saling berpegangan. Langsung saja karpet melesat keluar dari lubang besar di dinding dan naik ke udara dengan Rose yang berdiri di depan sebagai pengemudinya nya.
“Yahooooo.....seruuuuuu.....” Teriak Rose girang.
“Kenapa harus karpet sih ?” Ujar Leon dan Cathy di kepala mereka.
“Rose sama, ke istana.....” Teriak Sylvia.
“Siaaaap....kita memutar....” Balas Rose sambil berteriak.
“Awaaaas.....ada yang datang......” Teriak Anne.
Leon dan Cathy menoleh, tiga orang demon yang menunggangi wyvern mengejar di belakang mereka dan menembaki mereka dengan panah. Cathy mengambil sniper riffle nya, dia langsung jongkok dan Leon duduk menyediakan pundak nya untuk menopang senapannya. Cathy memberikan Leon sihir pelindung supaya tidak terkena tembakan panah. Dia mulai membidik dengan tenang, “Bang....” Seorang demon pengendara wyvern tumbang, jatuh dari kendaraan nya dengan kepala pecah terkena peluru sinar. Wyvern yang terbang tanpa penunggang langsung menyerang karpet terbang di depan nya, Leon mengambil shotgun nya dan “Bam.” Wyvern itu langsung menukik ke bawah tak bernyawa. Mereka terus menembaki pengejar sampai semua habis dan berjatuhan di atas kota. Rose menerbangkan karpetnya menuju istana dengan cepat.
***
Sementara di akademi, teman teman sekelas Leon, Cathy dan Rose berhasil menekan kerumunan orang yang masuk ke dalam gedung dan menyerang akademi. Setelah bagian dalam gedung bersih, mereka membentengi pintu masuk ke dalam gedung akademi, bersama dengan naga tulang yang di tinggalkan Rose.
“Akhirnya kita bisa menunjukkan kemampuan kita....” Teriak Freddy sambil melompat maju dan mengayunkan tombaknya menghalau kerumunan.
“Hahaha ini menyenangkan....” Tambah Paul yang maju dengan kedua pisaunya di sebelah Freddy.
“Jangan lengah.....” Teriak Sarah sambil melemparkan cakram cakram nya.
“Beres.....majuuu....” Tambah Fran yang maju dengan katana nya.
Laurie menghilang dan muncul di tengah kerumunan banyak orang untuk menyerang dari belakang dengan dua wakizashi nya. Masih banyak kerumunan yang masuk ke dalam komplek akademi dari berbagai sisi. Ketika naga tulang Rose menghilang sebab sudah habis waktunya, Freddy, Paul, Sarah, Fran dan Laurie yang bertahan menjaga pintu masuk gedung, mulai kewalahan karena kerumunan yang tidak habis habis dan terus bertambah walau sudah banyak orang yang bergelimpangan. Tiba tiba dari dalam akademi,
“Kita jangan mau kalah.....maju semuanya......” Teriak Vince.
“Uoooooooh....” Teriak seluruh murid yang berhamburan keluar.
Semua murid akademi baik dari akademi ksatria atau akademi sihir, keluar dari gedung melewati Freddy, Paul, Sarah, Fran dan Laurie seperti air. Sebagian keluar dari jendela dan bahkan melompat dari jendela lantai dua.
“Kalian tidak apa apa ?” Tanya Vince kepada Freddy dan yang lainnya.
__ADS_1
“Tidak apa apa senpai.....” Jawab Freddy.
“Baik, ayo maju bersama.....” Ujar Vince sambil berlari maju.
“Majuuuuu.......” Teriak Freddy.
“Uoooooh......” Teriak semua teman teman nya.
Kerumunan orang akhirnya terpukul mundur keluar gerbang, yang masuk dari sisi samping dan belakang di giring menuju gerbang untuk di paksa keluar melalui gerbang.
“Hei....jangan lari....lawan.....bunuh semuanya.....” Teriak count Aaron di depan gerbang.
Aaron yang melihat perlawanan para murid dan pasukan nya yang berlarian keluar gerbang, sedikit mundur dan dia berbalik berniat lari dari sana.
“Kita pergi dari sini....” Ujar Aaron kepada para pengawal nya.
Tapi ketika berbalik, lehernya di sayat seseorang dari belakang dan darah keluar dengan deras dari lehernya, Aaron sempat berbalik dan melihat di belakang nya tidak ada orang, kemudian dia jatuh dan mati di depan gerbang menyusul anak nya. Para pengawal nya panik dan mencari siapa pembunuh nya sambil berjaga.
***
Leon, Cathy dan Rose sudah berada di singgasana menghadap raja Lexius. Sylvia dan Anne menjelaskan semua yang terjadi di akademi kepada raja secara rinci dan perbuatan count Aaron Karlsten. Raja langsung memerintahakan perdana menteri untuk mengutus para ksatria mengejar semua orang yang terlibat penyerangan dan menangkap mereka, dia juga memerintahkan kalau melawan langsung bunuh di tempat.
“Sekarang Annebelle sebagai wakil kepala akademi, saya angkat sebagai kepala akademi yang baru. Sampai masalah ini selesai, akademi di liburkan dulu.” Ujar Lexius.
Baru selesai bicara, tiba tiba seorang utusan masuk ke dalam singgasana, dia langsung menghampiri raja dan memberikan surat kepada raja. Raja membaca surat nya dan langsung meremas nya,
“Kerajaan Ingresia kembali menyerang......sekarang mereka menyerang menyusup lewat perbatasan dari kerajaan Astarte.” Ujar raja.
“Berarti benar, kejadian di akademi hanya untuk pengalih perhatian saja.....” Ujar Cathy.
“Ya, utamanya mereka sudah menyerang lewat sana.” Tambah Leon.
“Berarti mereka masuk melalui kota pertambangan Helion...disana kan wilayah pegunungan ya.” Gumam Sylvia.
Raja berpikir keras, dia kembali duduk di singgasanya sambil menopang dagu nya dengan tangan. Sementara ketiga kembaran itu berdiskusi di kepala mereka,
“Aduh jangan jangan kita di suruh pergi ke sana lagi.....” Ujar Leon.
“Iyaaaaaa.....makanya aku mengatakan itu tadi....” Balas Rose.
“Kalau sampai kita di suruh kesana gimana nih....tolak ?” Tanya Cathy.
“Aku sih maunya menolak ya, kalau di minta kesana, paling aku akan alasan bicara dulu dengan Ria nee san hehehe.” Jawab Leon.
“Hmmm jangan....langsung tolak saja, kalau bilang mau bicara, itu namanya mengulur waktu saja.” Balas Cathy.
“Uh....kapan bisa tenang nih kalau begini, baru aku merasa nyaman di ibukota.” Tambah Rose sambil menunduk.
Ketiganya melihat raja masih berdiskusi dengan perdana menteri nya sambil duduk di singgasana. Mereka mundur perlahan menuju lobby singgasana bersamaan. Sylvia rupanya melihat ketiganya mundur perlahan, dia langsung turun dari podium dan berlari menuju ketiganya yang sudah berbalik bersiap kabur. Sylvia berhasil menangkap lengan Leon,
“Jangan pergi dulu Leon sama huff.....” Ujar Sylvia sambil memegang tangan Leon dengan kedua tangan nya.
“Ah....aku tertangkap.....” Ujar Leon.
“Yaaaaaah......” Gumam Cathy dan Rose tertunduk lesu.
Tak lama kemudian, seorang prajurit masuk ke dalam dan melaporkan situasi di akademi sudah terkendali dan Aaron sudah di pastikan meninggal. Raja dan perdana menteri langsung menoleh kepada Sylvia yang sedang memegang tangan Leon dan menariknya mendekat kembali ke singgasana di ikuti Cathy dan Rose yang lemas di belakang nya. Raja langsung berdiri,
“Baiklah, keluarga viscount Heins, aku memerintahkan kalian pergi ke Helion untuk memperkuat di sana.” Ujar Raja sambil menunjuk kepada Leon, Cathy dan Rose.
“Kaaaaaaan.........kita lagi.” Ujar ketiga nya pasrah.
“Hehehehe.....” Sylvia tertawa melihat ketiganya lesu.
Akhirnya mau tidak mau, ketiganya menerimanya, raja memberi waktu mereka mengadakan persiapan selama 2 hari dan langsung berangkat. Mereka menunggu sebentar untuk di titipi surat dari perdana menteri untuk memperkenalkan mereka dengan kepala pasukan di kota Helion. Setelah perdana menteri menyelesaikan surat dan memberikan nya pada mereka, ketiganya langsung keluar dari singgasana setelah pamit kepada raja dan melenggang keluar dari istana untuk pulang menuju rumah mereka.
__ADS_1
“Anggap saja kita jalan jalan ke kerajaan Astarte ya hehe....aku mau lihat kerajaan itu.” Gumam Leon.
“Yah, boleh juga, kita liburan di kerajaan Astarte.....” Tambah Cathy.
“Onii chan...onee chan....jangan berusaha meyakinkan diri ini bukan kerja ya.....” Celetuk Rose meledek.
“Aaaaah....aku sudah berusaha tidak memikirkan nya....Rose sini kamu.....” Teriak Leon dan Cathy bersamaan sambil mengejar Rose yang melarikan diri sambil tertawa.
***
Sementara itu, di sebuah kereta yang sedang berjalan melintasi jalan setapak di dalam hutan,
“Hei...kita mau di bawa kemana ?” Tanya Ria dengan tubuh terikat dan berdiri kepada pengemudi kereta.
“Nanti juga tahu, diam.....” Balas pengemudi kereta.
Ria kembali duduk di tepi kereta dan bersender pada kereta. “Cklink....” Rantai yang mengikat Altea yang terbaring di depan Ria terputus.
“System reboot completed....Ria sama, mau ku habisi semuanya ?” Tanya Altea yang menoleh kepada Ria dengan posisi tiduran.
“Jangan dulu...begitu sampai ke markas mereka, baru kita beraksi...sekarang kamu pura pura dulu.....” Balas Ria berbisik di telinga Altea.
“Di mengerti....” Altea memakai lagi rantai nya dan tidur seperti semula.
“Jalan ini.....menuju Helion...kita sudah lumayan jauh dari ibukota.” Ujar Marvel yang dari tadi melihat jalan dari belakang kereta.
“Helion ? perbatasan dengan negara mu ?” Tanya Ria.
“Benar...tapi aku kaget, ternyata Ria adalah Valeria ojo tenka dari Ingresia.” Jawab Marvel sambil melihat Ria.
“Huh...aku juga kaget.....ternyata Mabel laki laki.....haaaaah....kamu sudah lihat semuanya....tanggung jawab.....” Ria mendekati Marvel dengan wajah cemberut.
“Maaf...Valeria sama....aku terpaksa, soalnya wajah asli ku sudah di kenal orang...dan kalau menyamar jadi laki laki kan sama saja.” Balas Marvel sambil mundur karena Ria yang mendekat padanya.
“Grrrrr.......memang aku kenal.....tapi kenapa ga bilang sebelum nya....” Balas Ria.
“Loh aku menyamar karena menghindari pengejaran dari kerajaan mu yang bekerja sama dengan para noble di kerajaan ku yang memfitnah ku.....mana mungkin aku bilang bilang soal penyamaran.” Balas Marvel.
“Hmmm begitu ya...lalu sejak kapan kamu berkeliaran di luar kerajaan mu ?” Tanya Ria.
Marvel kemudian bercerita kalau dua tahun lalu, ibunya yang merupakan ratu Astarte jatuh sakit dan tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya. Tujuan Marvel keluar awal nya hanya pergi mencari obat untuk mengobati ibunya, tapi ketika di perjalanan, dia di kejar oleh prajurit kerajaan yang mengatakan kalau alasan ibunya sakit karena di racuni oleh dirinya, di tambah dirinya keluar dari kerajaan sehingga di anggap melarikan diri, awalnya Marvel berusaha menjelaskan nya tapi penjelasan nya tidak di dengar dan dia tidak punya alibi yang memperkuat penjelasan nya. Karena bingung dan tidak mengerti apa apa, dia melawan dan melarikan diri ke kerajaan Ingresia, tapi sampai di sana dia sudah ditunggu oleh pasukan kerajaan Ingresia. Dia berhasil meloloskan diri dengan bersembunyi dan akhirnya dia menyamar menjadi Mabel dan pergi ke kerajaan Oreano, kemudian menetap di kota Lindwurm yang dekat dengan perbatasan ke kerajaan Ingresia. Disana barulah dia mendaftar menjadi petualang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bertemu Oscar.
“Jadi begitu ceritanya....lalu apa kamu sudah dengar kabar dari kerajaan mu mengenai ibu mu ?” Tanya Ria.
“Aku sudah mencari info nya tapi aku masih belum mendengar apa apa sampai saat ini.” Jawab Marvel.
“Maafkan kerajaan ku.....aku sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sebenarnya, kenapa mereka menyerang Oreano dan memfitnah pewaris tahta Astarte.” Ujar Ria menunduk.
“Tidak usah minta maaf, kalau kamu ada di sini, berarti kamu juga melarikan diri kan ?” Tanya Marvel.
Ria menceritakan apa yang di alami nya dan dia juga melarikan diri sejak dia berumur 12 tahun, bahkan dia sudah di anggap meninggal sampai identitas nya ketahuan sekarang.
“Tapi terus terang saja, kamu kuat Ria, sama seperti adik adik mu....” Ujar Marvel.
“Haha...mereka justru yang mengajari aku, selama aku hidup bersama mereka.” Balas Ria.
“Siapa mereka sebenarnya ?” Tanya Marvel mulai serius.
“Maaf untuk hal itu, aku sudah berjanji pada mereka untuk tidak membocorkan siapa mereka, tolong mengerti hal itu dan jangan bertanya lagi.” Jawab Ria.
“Baiklah, maaf, aku tidak bermaksud apa apa, hanya penasaran, sebab mereka jauh di atas normal....ingat kan kejadian di Skytower, tidak ada yang bisa sampai ke lantai 70 sebelum nya.” Balas Marvel.
“Ya, mereka memang tidak normal, justru itulah aku harus melindungi mereka.” Tambah Ria.
Keduanya kembali terdiam, Altea yang mendengar ucapan Ria tersenyum sambil berbaring, walau biasanya wajah nya tanpa eskpresi. Kereta terus berjalan melewati hutan untuk menuju kota Helion.
__ADS_1