Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Penghuni Pohon Jambu


__ADS_3

Denting bel sekolah berbunyi tanda jika akan segera dimulai pelajaran, wali kelasku masuk ke dalam kelas. Bukan untuk memulai pelajaran tapi untuk memberitahukan sesuatu.


“Sekolah kita akan mengadakan kegiatan berkemah, lokasinya di cagar alam tepatnya hutan pinus. Ibu akan memberikan selebaran yang nantinya akan di tanda tangani oleh orang tua kalian untuk persetujuan atau tidak setuju kalian mengikuti kegiatan kemah ini.”


Ibu guru membagikan selebaran itu satu per satu kepada kami.


“Aya kamu ikut kan?” tanya Nia.


“Maunya sih ikut tapi aku harus dapat izin dulu,” sahutku.


“Apa perlu aku ke rumahmu agar kamu dapat izin,” sahut Nia.


“Memangnya kamu sudah pasti di izinkan orang tuamu?” tanyaku.


“Pastilah asal aku bilang dulu. Lagian orang tuaku di luar kota nanti aku suruh bibi aja tanda tangani suratnya.”


“Aku ke rumah kamu deh sekali-sekali bosan juga aku di rumah,” sambung Nia.


“Tapi ... Rumahku nggak sebagus rumahmu.”


“Apaan sih. Yang penting ada lantai dan atap,” sahutnya.


“Ya udah nanti pulang sekolah kita pulang bareng,” ucapku.


Aku menjalani aktivitas belajarku seperti biasa hingga jam pulang sekolah tiba. Nia ikut bersamaku pulang ke rumah kebetulan rumah aku dan Nia jalurnya searah.


Karena Nia memakai motor sedangkan aku hanya memakai sepeda, aku menyuruh Nia untuk jalan duluan dan menungguku di depan pintu masuk jalan rumahku.


Aku menggoes sepedaku sedikit lebih cepat agar Nia tidak terlalu lama menungguku, hingga aku sampai di depan pintu masuk jalan menuju rumahku kali ini Nia mengikutiku dari belakang hingga aku sampai di rumah.


“Wah enak banget di sini sungainya luas dan masih banyak pohonnya,” ucap Nia.


“Iya di sini masih enggak terlalu banyak orang kecuali di depan museum sana,” sahutku.


“Museum? Memangnya ada?”


““Ada. Di samping pintu masuk itu ada rumah panggung yang besar nah itu museumnya.”


“Oh yang itu. Aku kira itu cuma rumah biasa. Memang isinya apa aja? Kamu pernah masuk?”


“Ada banyak yang pastinya peninggalan saat penjajahan zaman dulu. Seingatku ada meja, kursi, bendera merah putih, foto-foto, senjata dan lain-lain.”


“Wah ... Kapan-kapan ajak aku ke sana ya.”


“Iya. Biasanya hari minggu rame di sana, ayo kita masuk!” ajakku.


Nia melepas sepatunya dan melihat sekeliling rumahku yang dindingnya sebagian ditutupi bekas spanduk.


“Ini kenapa ditutupi dindingnya?” tanya Nia.


“Ini biar angin nggak masuk. Dulu enggak ditutup tapi di dalam dingin banget jadi sama  abah ditutup pakai ini,” sahutku.


“Ooo gitu. Itu dapur? Tapi kok di luar?” 


“Biar enak aja kalau masak atau cuci piringnya.”

__ADS_1


“Pakai air sungai?”


“Ya enggak lah. Ada ledeng kok,” sahutku.


“Rumah kamu enak ya enggak perlu pakai kipas angin udah banyak anginnya bikin ngantuk,” ucap Nia sambil menguap.


“Udah kamu santai aja. Aku bikinin es teh dulu.”


“Wahh pas banget aku lagi haus,” serunya.


Aku menaruh tas ke dalam kamar lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman. 


“Nih minum dulu,” ucapku sambil menyodorkan satu teko kecil es teh.


“Tempat kamu rame, enggak kaya di daerahku sepi banget bikin bosan.”


“Iya di sini selalu rame Nia,”


“Oh iya abah kamu mana?”


“Lagi di tambak kayaknya. Sebentar lagi paling pulang.”


“Pas pulang langsung minta izin aja Ya.”


“Iya semoga aki di izinin. Memang hutan pinus itu dimana sih?” tanyaku yang sama sekali tidak pernah kemana pun selain ke sekolah dan pasar.


“Deket aja kok, 40 menit sampe kalau ngebut. Terakhir aku kemah di situ saat SMP pemandangannya bagus tapi ....”


“Tapi apa?”


“Ah ... Dimana-mana juga pasti ada penunggunya Nia.”


Aku dan Nia pun asik berbincang hingga abah datang.


“Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam,” sahut kami serentak.


Aku menghampiri abah dan mencium punggung tangannya. Saat abah ingin masuk ke kamar untuk mengambil handuk aku menahannya dan memberitahukan jika aku mendapat selebaran aku pun memberikannya kepada abah.


“Bah ini,” ucapku sambil memberikan selebaran.


“Apa ini?”


“Surat persetujuan orang tua. Sekolah mengadakan acara perkemahan apa Aya boleh ikut?” tanyaku.


“Dimana?”


“Di hutan pinus Bah.”


“Teman kamu semuanya ikut?” 


“I-iya Bah.”


“Wajib ikut Om, buat nambah nilai,” Nia tiba-tiba berbicara.

__ADS_1


“Ya sudah mana pulpennya,” pinta abah.


Aku pun memberikan pulpenku, tanpa membaca isinya abah langsung menanda tangani surat tersebut lalu pergi ke kamar.


“Nia kenapa kamu bohong!” bisikku.


“Kalau enggak gitu kamu bisa gagal ikut berkemah!”


“Iya juga sih,” sahutku.


“Nah tugasku sudah selesai, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan aku main ke sini lagi boleh kan?” tanya Nia.


“Ya boleh lah siapa yang melarang,” sahutku.


Nia memasang sepatunya lalu berjalan menuju motornya, Nia menyalakan mesin motor dan melaju pergi.


Aku masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu karena sebentar lagi akan adzan magrib abah juga sudah bersiap-siap untuk pergi ke mushola. Sedangkan aku akan sholat bersama nenek di rumah. 


*** 


Suara dari gerakan jarum jam dinding terdengar jelas bahkan aku bisa menyatukan iramanya dengan detak jantungku, mataku mulai lelah namun tugasku masih belum selesai. Abah dan nenek juga sudah terlelap tidur, aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke luar kamar untuk mengambil minuman dingin di kulkas saat aku minum aku merasa abah keluar kamar dan melewatiku laku membuka pintu dapur. Hentakkan kakinya pun terasa sangat jelas.


Kebetulan posisi kulkas berada di samping kamar abah. Aku penasaran dan mencoba melihat apa yang abah lakukan di dapur. Saat aku sampai di dapur aku terheran karena pintu dapur masih terkunci.


'Loh ... Bukannya abah tadi ke dapur?' gumamku.


Aku membuka kunci lalu membuka pintu dapur namun anehnya tidak ada siapa-siapa di sana, dengan cepat aku menutup pintu lalu menguncinya kembali.


Aku berjalan ke kamar abah, kebetulan kamar abah tidak memiliki pintu hanya ada gorden lama sebagai penutupnya.


Aku menyingkai gorden dan melihat dengan jelas abah tengah tertidur lelap dengan cepat aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. 


Jantungku berpacu cepat bahkan aku sendiri susah mengendalikan nafasku, tubuhku gemetar tak karuan.


“Tadi siapa?” ucapku pelan.


Aku menyudahi pengerjaan tugasku, aku menutup semua buku lalu berusaha untuk tidur. Aku berusaha memejamkan mata serapat mungkin namun tetap saja aku tidak bisa tidur bahkan yang tadinya mataku sangat lelah kini menjadi terang.


Sayup-sayup aku mendengar sesuatu, seperti bola yang di pantul-pantulkan ke tanah, suaranya sangat jelas hingga membuatku sangat tidak nyaman.


Kebiasaan anak-anak di sini jika sehabis bermain bola, mereka akan meninggalkan bola tersebut di bawah pohon jambu depan rumahku.


“Siapa yang main bola tengah malam begini?” ucapku.


Suara itu terus terdengar hingga pukul 03.00 wita aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku pun keluar kamar dan melihat siapa sebenarnya yang sedang bermain bola. Aku melihatnya di balik gorden namun bola itu masih di posisi semula di bawah pohon dan saat aku memeriksa suara itu juga berhenti.


Aku pun berniat kembali ke kamarku, baru beberapa langkah aku kembali mendengar suara itu dengan cepat aku membuka gorden.


Mataku terbelalak ketika melihat sosok yang berdiri dibawah pohon jambu itu. Tubuhnya kecil seperti anak kecil namun wajahnya sangat tua dan juga bungkuk, matanya merah menyala. Dia menyeringai sambil menghadap ke arahku seakan mengetahui jika aku tengah mengamatinya, dengan cepat aku langsung menutup gorden dan berlari ke kamar lalu mengunci pintu kamar.


“Apa itu tadi? Apa tuyul?” ucapku.


“Tapi apa iya?”


Akhirnya aku sama sekali tidak bisa tidur hingga pukul 05.00 pagi aku bangun dan langsung mandi. Tanpa peduli dengan air sedingin es aku terus menyiram tubuhku hingga aku menggigil kedinginan.

__ADS_1


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya terima kasih banyak


__ADS_2