
“Kenapa kamu selalu hilang kalau ada dia?” tanyaku kepada Atmajaya.
“Aku hanya tidak ingin diketahui itu saja,” sahutnya.
“Memangnya dia bisa lihat kamu?”
“Kalau tidak bisa, tidak mungkin dia menatapku terus-terusan,” sahutnya.
Aku merasa sedikit penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada orangnya.
'Nah pas banget ni orang ke sini,' batinku.
“Bang. Boleh nanya nggak?” tanyaku kepada Iyan.
“Tanya aja. Mau tanya apa memang?”
“Abang lihat sesuatu nggak sih di sini?” tanyaku.
“Maksudnya?”
“Ya ... Kaya lihat makhluk apa gitu?”
“Makhluk? Ada sih tuh di depan toko makhluk berbulu,” dia menunjuk seekor kucing di depan toko.
“Bukan itu! Makhluk gaib,” bisikku.
“Oooo ... Ada banyak.”
“Emm ... Tapi ada satu yang beda dia selalu memperhatikanmu entah dari mana datangnya,” sahutnya.
'Wah ... Berarti bener kata Atmajaya kalau dia bisa lihat,' batinku.
“Kamu bisa lihat juga?”
“Eh ... Enggak Bang aku cuma nanya aja sih,” sahutku.
Aku pun melanjutkan pekerjaanku hingga jam kerja berakhir, seperti biasa sisa roti dan kue akan dibagikan.
Aku menggowes sepedaku hingga sampai di rumah.
“Assalamualaikum,” ucapku sambil membuka pintu.
“Walaikumsalam,” sahut orang-orang yang ada di rumah.
__ADS_1
Rupanya abah sedang kedatangan tamu, dia adalah pamanku tepatnya adik dari ibuku. Aku menyapanya sambil mencium punggung tangannya.
“Kayapa habar Paman? Sehat haja kalo? (Bagaimana kabarnya Paman? Sehat aja kan?)” ucapku.
“Ya kaya ini pank nah (Ya begini lah).”
“Kenapa Paman awak pian kuning? (Kenapa badan Paman kuning?)”
“Kena wisa bakas menjaga durian di pondok, (terkena wisa habis menjaga durian di pondok)”sahutnya
“Wisa? Apa wisa bah? Bisa ular?” tanyaku bingung.
“Wisa itu racun. Racun gaib yang dikeluarkan oleh jin atau mahkluk halus bisa juga ada orang sengaja melepas wisa lewat makanan, udara, atau air,” tutur abah.
“Habis me apa gerang ikam Jun? (Memangnya kamu habis ngapain Jun?)” tanya Abah.
“Aku semalam di beri orang wadai (kue) di warung pas haratan (saat) sanja kuning.”
“Ikam (kamu) makan kah wadainya?” tanya Abah.
“Nyata ku makan, namanya rajaki (Memang aku makan, namanya rejeki)” sahutnya.
“Lalu pang Paman?” tanyaku penasaran.
“Makanya aku ke sini handak betatamba,” sambungnya.
“Betatamba lawan siapa? (Berobat sama siapa?)”
“Nini Amah.”
Betatamba istilah untuk sebutan pengobatan tradisional Banjar, seperti urut patah tulang, keseleo dan lainnya atau bisa juga untuk orang yang terkena sihir dan lainnya.
Abah pergi ke luar untuk memanggil Nini Amah, sedangkan aku berganti pakaian dan membuatkan minum.
Tidak lama nini Amah datang bersama abah sambil membawa sebuah bakul berukuran sedang.
“Ikam kah yang kana wisa?” tanya nini Amah.
“Inggih ulun, (Iya saya dalam bahasa halus)” sahutnya.
“Rahmad ada bisian (punya) tikar purun kah?”
“Ada Ni, hadang ulun (tunggu saya) ambilkan.”
__ADS_1
Selagi menunggu abah, nini amah mengeluarkan beberapa lembat daun pandan, cabe, lengkuas serta potongan kecil kayu ulin (kayu besi).
“Nah Maya dijarang setumat (direbus sebentar),” pintanya kepadaku.
“Sampai menggurak (mendidih) kah Ni?”
Nini amah mengaggukan kepalanya, aku mengambil panci kecil lalu merebus semua yang diberikan oleh nini Amah tadi aku menunggunya hingga mendidih.
“Mun sudah bawa ka sini Maya,” ucap nini Amah.
Aku membawa panci kecil berisi ramuan itu ke tempat nini Amah, sedangkan abah tengah mengatur posisi tikar purun.
Terlihat paman Junaidi tengah melepas baju kaos yang di kenakannya dan duduk di dadampar (bangku kecil dengan kaki pendek terbuat dari kayu). Abah mengelilingi tubuh paman dengan tikar purun.
Sebelumnya aku di suruh menaruh panci kecil itu di hadapan paman, dan menata tapih bahalai (kain jarik) sebagai alasnya, sekarang seluruh tubuh paman berada di dalam tikar purun itu bersama panci berisi ramuan.
“Aya ambilan tapih bahalai lagi (kain jarik) di kamar,” ucap abah.
Aku masuk ke kamar abah dan mengambil beberapa kain lalu memberikannya kepada abah. Abah dengan cepat menutupi bagian atas dan dengan kain itu.
“Di buka aja tutupnya biar uapnya keluar,” pinta nini Amah.
Nini Amah juga meminta segelas air putih, beliau membacakan mantra lalu meniup air itu sebanyak satu kali.
Ini adalah proses batimung, sangat mirip dengan sauna yang ada di SPA namun dengan cara tradisional khas suku Banjar.
Kata Abah ini adalah salah satu cara untuk mengobati orang yang terkena wisa.
Beberapa menit berlalu, nini Amah meminta abah untuk membuka penutup kain yang ada di atas kepala paman. Saat tikar dibuka terlihat tubuh paman basah seperti orang yang sedang mandi.
Nini Amah menyuruh paman keluar dan menyeka keringatnya. Bau semerbak daun pandan bercampur laos sangat menyengat ketika tikar itu di buka.
Nini Amah menyodorkan air yang telah beliau bacakan mantra, paman pun meminumnya sampai habis.
“Insyaallah isuk wagas, (besok sembuh)” ucap nini Amah.
Gaes jangan lupa dukungannya ya.
Seikhlasnya saja.
Terima kasih juga karena terus setia membaca cerita ini.
__ADS_1
Nantikan episode berikutnya ya.