
Laras menyenyitkan alisnya sembari menatapku heran, “kamu kenapa Ya? Pagi-pagi buta udah bengong.”
“Gak apa-apa Ras,” sahutku singkat.
“Kangen banget aku sama suasana di sini,” ucap Laras.
“Oh iya, kita jalan yuk ini kan hari minggu,” sambung Laras.
“Kemana?”
“Taman Siring. Sekalian nyari keringat,” sahut Laras.
“Boleh deh, aku ganti baju dulu ya,”
Waktu masih menunjukkan pukul 05.40 pagi, aku mandi dan berganti pakaian.
Setelahnya aku berpamitan dengan abah untuk pergi jalan-jalan ke car free day yang ada di pusat kota.
Aku dan Laras melaju menuju lokasi tersebu menggunakan sepeda motor milik Laras. Saat di perjalanan Laras kembali menanyakan tentang sikapku.
“Aya kamu sudah sering ke sana kan?” tanya Laras.
“Gak Ras baru kali ini sama kamu,” sahutku.
“Berarti ini pertama kalinya.”
“Iya.”
“Kamu kenapa sih Ya? Kok dari bangun tidur aku lihat kamu bengong aja,” ucap Laras.
__ADS_1
“Aku ... Apa aku harus menerimanya?” sahutku.
“Menerima apa? Kamu di tembak cowok ya?”
“Bukan itu Laras. Ini masalah inguan buaya kuning .”
“Itu terserah kamu Ya. Aku gak bisa menyuruhmu untuk menerima ataupun tidak. Karena keputusan ada di kamu.”
Aku menghela nafas mendengar ucapan Laras, aku harus memikirkan hal ini berkali-kali hal ini membuatku dilema. Di satu sisi aku menerima atau tidak hasilnya akan sama.
“Tapi jika aku jadi kamu, mungkin aku akan menerimanya.”
Ucapan Laras itu membuatku tersentak, apa sebenarnya keputusanku ini salah, apakah ini karena aku egois hanya memikirkan kehidupanku sendiri.
“Tapi aku harus melakukan ritual itu Ras,” ucapku.
“Itu adalah peninggalan leluhur Ya, bahkan budaya. Kamu pernah bilang kan jika tidak banyak orang mengingat akan hal ini. Apa salahnya kita menjadi salah satu penerus budaya,” sahut Laras.
Aku berpikir ucapan Laras ada benarnya, tapi aku masih belum siap dengan hal itu. Aku terus memikirkannya hingga tanpa sadar rupanya kami sampai di lokasi utama yaitu masjid raya.
Aku tidak menyangka di jam seperti ini sudah banyak orang berkumpul untuk sekedar berjalan-jalan santai atau pun berolah raga. Padahal langit pun masih kelabu ke biruan, sinar fajar juga baru memperlihatkan biasnya saja.
Ini kali pertamaku pergi ke tempat seperti ini, ada banyak penjual makanan, serta barang-barang bahkan aku bisa menjumpai orang-orang yang tengah berlari pagi sambil membawa hewan peliharaanya.
Kesedihanku karena kehilangan nenek sedikit terobati karena ramainya orang.
“Aya. Kita ke Siring Yuk di sana ada pasar terapungnya,” ucap Laras.
“Ah masa? Bukannya cuma ada di sungai.”
__ADS_1
“Sekarang di sana juga ada. Ayo!” Laras menarik tanganku.
Aku dan Laras berjalan menuju jembatan besar dengan motif khas banjar itu, di sana lebih banyak orang saking banyaknya aku harus sedikit memelankan langkahku agar tidak menabrak orang.
Hingga aku sampai di tempat itu, ada banyak wahana permainan untuk anak-anak di sana.
Laras menarikku hingga kami sampai di tempat di mana Laras maksud.
Sebuah pasar yang menjual berbagai macam makan serta hasil kebun, pasar itu benar-benar terapung dengan papan kayu yang di susun sedemikian rupa.
Aku dan Laras menghabiskan waktu cukup lama di tempat itu, Laras juga mengajakku berkeliling.
Aku juga sempat berselfie bersama Laras di patung ikonik kotaku itu.
“Kita pulang yuk,” ajakku.
“Ya sudah kita udah lumayan lama juga di sini, gimana apa kamu udah gak sedih lagi?” tanya Laras.
Aku menggelengkan kepalaku, “makasih ya Ras.”
Laras hanya tersenyum lalu berdiri dan berjalan pelan menuju parkiran.
Aku dan Laras pun pulang ke rumah, saat sampai di rumah terlihat abah tengah menonton TV bersama beberapa orang.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Walaikumsalam,” sahut orang-orang serentak.
Aku mencium punggung tangan abah dan duduk di sampingnya. Setelah aku memperhatikan rupanya orang-orang itu adalah keluarga dari almarhumah mama.
__ADS_1
Aku memberi salam dan mencium punggung tangan mereka.