Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Mata Batin Terbuka


__ADS_3

Aku terperangah melihat ribuan makhluk tak kasat mata, mereka sangat banyak dengan bentuk-bentuk aneh.


Namun kebanyakan dari mereka berwujud manusia dengan ekspresi yang datar, wajah yang putih pucat. Dari bagian kaki ada yang transparan ada juga yang sangat jelas.


Mereka berjalan begitu saja melewati setiap jalan dan rumah, hingga sesuatu yang ada di depan rumah tetangga mengejutkanku. Sangat jelas terlihat sosok tinggi besar, tingginya hampir mencapai pohon kelapa. 


Tubuhnya berbulu matanya merah menyala serta memiliki taring. Sosok itu duduk di depan rumah tetanggaku.


'Sebenarnya aku ini kenapa?' pikirku.


Aku masuk ke dalam kamar, aku bisa melihat dengan jelas sosok penunggu kamarku yaitu seorang wanita berambut panjang tengah berdiri di pojok kasurku.


Aku berusaha menghiraukan hal tersebut, aku mandi lalu memakai seragam sekolahku. Aku mengayuh sepedaku menembus kerumunan makhluk astral yang sangat padat.


Tidak hanya di sekitaran rumahku, di jalan pun aku melihat sangat banyak makhluk astral dan wujudnya sangat mengerikan.


Ada yang tanpa kepala, tanpa lengan, mata yang lepas hingga sosok bersimbah darah berdiri di tengah jalan.


Aku sudah tidak bisa membedakan mana manusia asli mana yang astral. Mereka membaur jadi satu.


'Inikah yang di maksud orang-orang jika mereka yang di alam sana populasinya melebihi manusia?' pikirku.


Butuh perjuangan agar bisa sampai ke sekolah, aku bahkan hampir terlambat karenanya. 


Di dalam kelas aku melihat ada banyak makhluk astral dari yang seperti anak seumuranku sampai sosok berbaju tentara lengkap dengan topi serta senjatanya.


Mereka mengelilingiku seakan ingin berinteraksi denganku. Aku memilih tidak memedulikan mereka karena aku sendiri juga takut dengan mereka. Apa lagi sosok tentara dengan bekas sayatan di lehernya serta tangannya yang terlihat menggantung hanpir putus.


Aku bergidik ngeri melihatnya, aku berusaha memalingkan wajahku ketika mereka mulai mendekat.


“Aya kamu kenapa? Kami masih sakit?” tanya Nia yang melihat gelagat anehku.


“Enggak kok Nia, aku cuma sedikit ngantuk soalnya aku tidur larut malam banget,” sahutku.


“Kamu begadang?”


Aku menggelengkan kepalaku, “sahabat aku Laras tengah malam datang ke rumah sambil bawa kue ulang tahun. Ceritanya mau bikin kejutan buat aku,” pungkas ku.


“Wah kamu ultah. Selamat ya Aya semoga di tahun ini kamu semakin di beri keberkahan dan rejeki yang melimpah aaminn,” ucap Nia.


“Aamiin. Makasih ya Nia atas doanya.”


'Ngomongin soal ultah aku baru ingat jika aku belum membuka kado yang Laras,' gumamku.


Jam pelajaran pun di mulai, aku berusaha fokus memperhatikan pelajaran hingga ada seseorang yang berbisik di telingaku.


“Kamu bisa tolong aku?” ucapnya.


Aku menoleh, rupanya yang berbisik tadi adalah sosok wanita berambut panjang dengan leher yang hampir putus. Dengan cepat aku membalikkan pandanganku dan berusaha menghiraukannya.

__ADS_1


Aku begitu takut sampai tubuhku gemetar tangan dan kaki pun menjadi dingin karenanya.


“Kamu kenapa?” ucap Nia pelan.


“Nanti aku ceritakan,” bisikku.


“Oke,” sahutnya.


Semakin lama aku merasa mereka mendekatiku dan mengelilingiku, jantungku berdegup tidak karuan tak kala sebuah tangan yang sangat pucat dengan kuku yang panjang menyentuh tanganku. 


Sontak aku terkejut dan langsung berdiri.


“Ada apa Maya?” ucap Guru yang tengah menjelaskan pelajaran.


“A-anu Bu. Saya mau izin ke toilet,” sahutku.


“Ya sudah silahkan.”


Aku berjalan menuju pintu keluar dan langsung berjalan menuju toilet. Baru saja sampai di ambang pintu aku melihat seorang wanita merayap di atas plafon toilet.


“Aaaaaaaaa!” teriakku.


Aku berjalan mundur dan berlari, “Ada apa sebenarnya dengan ku!” ucapku.


Aku masuk ke dalam kelas dengan nafas tersengal, aku duduk sambil mengatur nafas.


“Kamu kenapa sih dari tadi aneh banget?” bisik Nia.


Ibu guru mulai curiga dengan kami, beliau menoleh dan menegur Nia.


“Nia jika kamu sudah tidak ingin mengikuti pelajaran ibu silahkan keluar!” ucap Ibu guru.


“Maaf Bu.” Sahut Nia.


Nia pun mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di sana.


'Kamu serius? Lihat dimana?' tulis Nia.


'Dimana-mana, di setiap ruangan, jalan semua ada!' balasku.


Nia terkejut dan langsung menatap ke arahku. Aku memilih memperhatikan pelajaran walaupun dengan perasaan takut dan membuatku susah berkonsentrasi.


Hingga jam istirahat Nia langsung mencecar berbagai pertanyaan.


“Aya! Kamu beneran bisa lihat? Dimana aja? Dan kok bisa kamu lihat?”


“Semua tempat ada mereka, aku melihat semuanya penuh dengan mereka di pohon, di jalan, di rumah dan sekolah.”


“Berarti kamu punya indra Ke-6 Ya.” 

__ADS_1


“Ah ... Mana mungkin. Ini pasti ada yang salah dengan mataku.”


“Aku dulu juga punya teman dia bisa lihat makhluk halus, sampai di bawa ke dukun. Kata dukunnya mata batinnya terbuka sepenuhnya karena memang sudah keturunan,” tutur Nia.


“Tapi abah dan nenekku enggak kaya aku Nia,” sahutku.


“Ya bisa saja. Sekarng kamu ulang tahun yang ke berapa? 17?”


“Iya  kenapa memangnya?”


“Menurut video yang pernah aku tonton di medsos. Mata batin itu akan terbuka bisa tergantung usia juga. Misal kamu kecil umur 7 tahun bisa liat hantu terus tiba-tiba enggak bisa lihat lagi. Nah kemampuan itu katanya bisa muncul lagi di saat umurmu 17, 27 atau berapa gitu aku lupa.”


“Waktu kecil pernah sih, tapi saat aku lulus SD udah enggak lagi.”


“Fix mata batinmu terbuka.”


“Kamu hobi ya nontonin video mistis?”


“Iya aku suka, bahkan aku suka nonton film horor tapi kadang kalau serem aku ajak temen-temenku buat nonton juga.”


“Gimana rasanya bisa lihat hantu Ya?” sambung Nia.


“Ya enggak enak lah Nia. Apa lagi saat di jalan  tadi aku bahkan melihat bentuk mengerikan. Ada yang tanpa kepala, muka hancur, badannya penuh darah.”


“Iiihhh ... Serem!” Nia bergidik.


“Aku enggak tahu apa bisa aku hidup dengan keadaan kaya gini. Bahkan mereka bisa tahu kalau aku bisa melihat mereka. Mereka terus berbisik dan tiba-tiba bisa muncuk di depam mukaku,” ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tangannku.


Saat aku bercerita pun ada banyak sekali yang ikut mendengarkan bahkan ada yang jahil, dia menampakkan wajahnya yang mengerikan secara tib-tiba tepat di depan wajahku.


Aku bahkan berpikir saat siang saja mereka sangat banyak dan mengganggu apa lagi jika saat malam hari. Hal itu membuat aku jadi frustrasi dan tenggelam dan ketakutan aku bahkan menahan diriku untuk pergi ke toilet karena sosok yang ada di sana sangat mengerikan.


“Oh iya Ya. Aku mau nunjukin sesuatu. Ada orang yang lagi aku incar dia tinggi, putih dan ganteng banget,” ucap Nia.


Nia membuka Hp dan masuk ke dalam akun sosmednya lalu menunjukka  foto serta nama akunnya kepadaku di akun itu tertulis jelas jika namanya Briyantara Lesmana dengan wajah oriental serta tidak asing bagiku.


“Briyantara? Ini kan bang Iyan?” ucapku.


“Kamu kenal?” tanya Nia.


“Iya kenal banget dia kakaknya sahabatku Laras,” sahutku.


“Laras? Apa orangnya yang ini?” Nia menunjukkan foto Laras yang tengah berpose yang ada di dalam akun Briyantara itu.


“Iya benar dia Laras,” sahutku.


“Ah ... Aku pikir dia pacarnya soalnya aku lihat fotonya mereka selalu berdua,” sahut Nia.


“Ha-ha-ha. Kamu cemburu ya, kamu bisa cek aja di sosmed Laras. Namanya Dahayu Larasandra Lesmana,” sahutku.

__ADS_1


“Ah aku coba cek deh nanti,” sahut Nia 


jangan lupa dukungannya ya gengs seikhlasnya saja ya


__ADS_2