
Aku melihat Abah duduk termangu di belakang rumah sambil memandangi perahu-perahu yang lalu lalang. Semenjak mama tiada Abah sering menyendiri dan melamun aku pun menghampiri abah.
“Abah ngapain?” tanyaku.
“Lagi nyari angin,” sahut abah.
'Oh iya mumpung sama Abah aku tanya ah masalah sungai ini aku penasaran,' pikirku.
“Oh iya Bah memang bebar ya kalau di bawah sungai ini ada istana?” tanyaku.
“Kamu tahu dari mana?”
“Ya kata orang aja sih nggak sengaja dengar,” sahutku berbohong.
Abah memandangi sungai sembari menceritakan sesuatu kepadaku.
“Dulu waktu jaman penjajahan ada kapal Belanda berlabuh di sungai kita dan berniat untuk mengambil sumber daya alam yang ada di sini.”
“Lalu apa hubungannya Bah?” aku langsung bertanya.
“Menurut cerita ka’i (kakek) kapal Belanda itu mau sandar tapi saat akan masuk dermaga bagian bawah kapal menabrak sesuatu dan bagian lambung kapal pecah hingga membuat kapal itu tenggelam. Saat mereka menyelam ke sungai untuk memeriksa ternyata tidak ada benda apa pun,” tutur abah.
“Dan sampai sekarang bangkai kapalnya masih ada, kalau banyu (air) surut pasti kelihatan,” sambung abah.
“Dimana Bah?” tanyaku penasaran.
“Itu di samping rumah paman Junaidi, kalau surut kamu bisa melihat,” sahut abah.
“Wah berarti di tempat kita ada peninggalan bekas Belanda selain museum yang ada di depan jalan. Tapi Aya masih enggak ngerti apa hubungannya kapan Belanda sama istana bawah sungai ini.”
“Dulu ka'i punya inguan (peliharaan) buaya putih, dan di samping rumah paman Junaidi dulunya ada jalan dari papan di situ tempat ka'i melabuh.”
“Melabuh? Ngasih makan maksud Abah?”
“Iya. Sejak saat kapal Belanda itu tenggelam mereka mengurungkan niatnya untuk mengambil sumber daya alam yang ada di sini,” tutur Abah.
“Berarti Abah bakalan ikut jejak ka'i dong kan Abah dipilih mereka,” ucapku spontan.
__ADS_1
Mendengar hal itu Abah mengerutkan alisnya. “Kamu tahu dari mana?” tanya Abah.
'Aduh Aku keceplosan! Itu kan cuma mimpi,' gumamku dalam hati.
“Enggak ... Aya nggak sengaja dengar dari nini saat Abah dapat telur itu.”
“Nanti kita melabuh di sini,” sahut Abah.
“Kapan Bah?”
“Isuk (besok) hari apa?” tanya Abah.
“Minggu Bah,” sahutku.
“Besok berarti kita harus menyediakan ketan, telur ayam rebus, pisang dan kembang setaman,” ucap abah.
“Buat bikin kue Bah? Memang Abah bisa?” tanyaku polos.
“Bukan. Itu sesaji untuk kita melabuh nanti.”
Aku menganggukkan kepalaku. Aku ikut duduk di samping Abah sambil memandangi arus sungai yang cukup deras sesekali dari kejauhan terdengar suara mesin perahu. Hingga tanpa terasa langit mulai berubah jingga keabuan matahari perlahan hanya meninggalkan biasan sinarnya. Suara dari pengeras suara mushola pun terdengar.
Aku pun mengikuti Abah masuk ke dalam rumah, aku dan Abah menutup semua pintu dan jendela. Abah bergegas bersiap untuk shalat magrib di mushola sedangkan aku lebih memilih shalat di rumah bersama nenek.
Usai Shalat magrib aku menyalakan Tv dan menonton serial kartun kotak kuning kesukaanku sambil makan malam. Aku pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil makanan.
Saat aku ingin mengambil piring, terpal biru penutup dapurku itu tersibak angin, dan saat itulah aku melihat seseorang tengah berdiri di papan tempat biasa Abah bersantai.
'Siapa? Perasaan abah belum pulang,' gumamku.
Dari siluet yang terlihat orang itu seperti laki-laki, ia bertubuh tinggi tegap namun ada hal aneh kakinya sangat panjang bahkan aku ragu itu kaki, karena itu lebih mirip ekor ular.
Aku mengintip di balik terpalku, aku melihat di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota walaupun tidak terlalu jelas tapi aku sangat yakin itu bukan topi ikat kepala atau semacamnya.
Rupanya ia tahu aku tengah mengintip dan melihatnya, ia menoleh ke arahku dan mulai berjalan mendatangiku.
“U-ular!” ucapku terkejut.
__ADS_1
Aku mundur dan langsung masuk ke rumah lalu menutup pintu, aku terkejut ia bisa mengetahui aku tengah melihatnya.
“Ngapain kamu?” abah tiba-tiba berada di belakangku.
“Astagfirullah!” ucapku kaget.
“Bah ada ular!” ucapku lagi.
“Ular dimana?”
Dengan cepat Abah mengambil kayu yang ada di pinggir pintu dan berjalan menuju dapur.
“Mana ularnya?” tanya Abah lagi.
“Ular manusia Bah di sama di papan itu,” aku menunjukkan arah tempat kami duduk tadi sore.
“Ular manusia gimana maksudnya?”
“Manusia kakinya ular!”
Abah mendengus. “Kamu jangan mengada-ada!” Abah masuk ke dalam kamar
“Tapi Bah itu beneran!”
Abah tidak mendengarkan ucapanku dam masuk ke kamar, aku pun kembali menonton Tv, nenek datang menghampiriku.
“Dimana kamu melihatnya?” tanya nenek.
“Di papan yang biasa abah duduk,” sahutku.
“Aneh. Ini bukan wilayahnya tapi kenapa ke sini?” ucap nenek.
“Wilayah?”
Aku penasaran dengan ucapannya karena menurutku nenek yang paling mengerti tentang hal seperti ini. Sebenarnya bukan hanya nenekku saja, sebagian besar orang-orang yang sudah tua atau sepuh di daerahku sangat mengeri dan paham tentang tradisi dan kepercayaan leluhur.
“Sungai ini terbagi dua wilayah, ada dua istana di bawahnya. Istana ular dan buaya.”
__ADS_1
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏