
Aku masuk ke dalam rumah lalu berjalan ke pintu, saat keluar rumah aku tidak lagi melihat makhluk-makhluk itu semuanya terlihat normal sekarang.
Aku pun mencoba apa yang dikatakan oleh Atmajaya tadi.
Aku memejamkan mataku lalu berkata dalam hati.
'Tunjukkan apa yang ada di hadapanku,' gumamku dalam hati.
Aku pun membuka mata, dan benar saja aku melihat semua makhluk itu lagi. Aku pun menutup mata dan membukanya lagi lalu semuanya kembali normal.
Aku pun sangat senang dan juga sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi.
'Sekarang aku bisa hidup dengan normal lagi.’
Waktu menunjukkan pukul 17.56, lembayung senja menampakkan wujudnya dengan warna jingga kemerahan berbias ungu keabuan.
“Sanja kuning. Aya tutup lawang!” ucap abah.
Aku pun menutup pintu serta jendela.
Bagiku tampilan langit senja itu memukau mata namun tidak dengan mitos serta kepercayaan daerahku.
Fenomena itu biasa disebut sanja kuning seperti yang abah sebut tadi, ada beberapa larangan yang aku ketahui antara lain tidak boleh beraktivitas di luar rumah, memainkan alat musik, duduk di depan pintu atau teras rumah, memasak dengan kompor.
Sebagian orang juga percaya jika saat ‘sanja kuning' banyak santet yang dilakukan atau sebaliknya membuang santet jika kita berada diluar maka kita akan terkena imbasnya.
Aku sendiri antara percaya dan tidak tapi aku pernah melihat orang yang kesurupan setelah duduk di depan pintu saat 'sanja kuning' terjadi.
Dia berteriak dan mengamuk sejadi-jadinya beruntung ada tetua kampung yang meredakannya.
Aku juga pernah tenggelam di sungai saat senja, itu pengalaman yang tidak pernah aku lupakan.
__ADS_1
Malam harinya saat aku sibuk mengerjakan tugas sekolahku aku dikejutkan oleh suara ketukan dari luar jendelaku.
Awalnya ketukan tersengar biasa hingga aku berpikir jika di bawah jendelaku itu bukanlah daratan melainkan sungai, aku mengurungkan niatku untuk membuka jendela.
Semakin lama ketukan itu berubah menjadi gedoran yang cukup kencang.
“Abah!” teriakku.
“Kenapa?” ucap Abah yang datang ke kamarku.
“Ada yang ketok-ketok.”
Suara gedoran itu terus berlangsung begitu keras hingga dinding kamarku yang terbuat dari kayu itu pun ikut bergetar.
Abah keluar sambil membawa senter dan menyoroti bagian jendela kamarku. Namun tidak ada siapa pun di sana bahkan air saat itu sedang surut jadi tidak akan mungkin jika ada orang yang sampai untuk mengetuk jendela kamarku.
“Gimana Bah?” tanyaku.
“Ada yang jahil ini,” sambung abah.
Aku dan abah pun masuk kembali ke dalam rumah, kami memeriksa di kamar suara itu masih ada hingga membuat abah kesal.
“Siapa ikam? Handak apa ikam mengganggu kami? (Siapa kamu? Mau apa kamu menganggu kami?)” ucap abah.
Secara tiba-tiba gedoran di jendelaku berhenti aku pun bernafas lega aku pun melanjutkan mengerjakan tugas sekolahku walaupun masih dengan hati yang waswas.
Sedangkan Abah bilang akan berjaga di depan pintu sambil menonton TV karena kebetulan malam ini ada acara pertandingan bola. Beberapa teman abah juga akan datang untuk nonton bersama.
Aku sedikit lega karena mengetahui hal tersebut. Usai mengerjakan tugas aku membereskan semua buku serta memasukkannya ke dalam tas.
Dari kamarku terdengar suara riuh beberapa orang, dalam asumsiku teman-teman abah sudah datang.
__ADS_1
“Aya buatkan kopi,” pinta abah yang membuka sedikit pintu kamarku
“Iya Bah.”
Aku berjalan ke dapur untuk membuat kopi, saat di dapur aku merasakan hal tidak nyaman aku seperti sedang diawasi oleh seseorang. Aku cepat-cepat membuatkan kopi untuk abah.
Saat aku berbalik aku mendengar suara seseorang.
Suaranya seperti suara nafas yang berat dan serak, aku dengan cepat berjalan ke dalam.
“Loh ... Mana abah?” ucapku.
“Bah ... Abah. Kopinya sudah,” ucapku sambil membuka gorden kamar abah.
Terlihat abah tengah membereskan kamarnya dan ingin keluar kamar.
“Kopi apa?” tanya abah.
“Abah minta kopi tadi,” sahutku.
“Pebila (kapan)? Abah dari tadi dikamar ini baru mau keluar,” sahut abah.
“Beneran Bah. Tadi Abah ke kamar minta kopi!” aku bersikeras.
“Ya sudah taruh aja di depan TV,” ucap Abah.
Aku pun menaruh tiga gelas kopi itu di depan TV yang belum menyala.
Aku sangat yakin jika tadi abah dan teman-temannya duduk menonton TV. Tapi anehnya kenapa saat aku keluar dari dapur malah sepi.
Aku pun masuk kembali ke kamar dan membaringkan tubuhku ke kasur.
__ADS_1