
Lantunan dari surah tahlil serta dzikir dari para warga yang datang menggema, ucapan bela sungkawa terus berdatangan di malam ini. di daerahku acara ini biasa di sebut sebagai turun tanah. Acara yang di laksanakan saat malam setelah jenazah dikuburkan acara ini diiringi dengan pembacaan surah yasin, tahlil serta dzikir sebanyak 100 kali.
Saat itu aku terus memandangi sebuah ranjang yang biasa nenek gunakan untuk tidur.
Rasanya nenek masih berada di sana dan berbaring di atasnya. Tanpa sadar air mataku mengalir mengingat kenanganku bersama nenek.
“Assalamualaikum,” terdengar ucapan salam.
“Walaikumsalam,” sahut orang-orang serentak.
“Ayo masuk ke dalam Laras,” ucap Abah.
Laras mendekatiku dayang saat itu tengah bersandar di dinding kamar nenekku.
“Aya, aku dapat kabar dari kakaku kalau nini (nenek) meninggal. Aku turut berduka cita,” ucap Laras.
“Makasih ya Ras. Kamu kapan sampai?” tanyaku.
“Tadi sore.”
“Maaf ya Aya, aku baru bisa ke sini sekarang,” ucap Laras.
“Gak apa-apa Ras.”
__ADS_1
“Aya, bantu abah di dapur ya.”
Aku dan Laras bergegas berjalan di dapur, saat di dapur ada beberapa kerabat dari abah yang juga tinggal di dekat rumahku serta beberapa tetangga yang membantu untuk memasak.
“Sudah kah bebacaanya (baca doanya)?” ucap acil (tante) Ros adik dari Abah.
“Parak sudah. Surung ha dulu! (sebentar lagi. Suguhkan saja dulu)” sahut abah.
Acil Rosmala menaruh lauk satu persatu di piring dan menyusunnya di rak yang terbuat dari kawat besi agar mudah membawanya serta memasukkan nasi ke dalam wadah.
Makanan telah di keluarkan, aku membabtu abah membagikan nasi sedangkan Laras membagikan lauknya.
'Setelah ini rumah akan kembali sepi,' pikirku.
Hingga acara selesai dan semua telah di bereskan, kini tinggal kami bertiga di dalam rumah aku, abah dan juga Laras.
“Kapan kamu datang Laras?” tanya abah.
“Tadi sore bah,” sahut Laras.
Abah menengadah ke arah jam dinding, “sudah jam segini, kamu nginap di sini saja,” ucap abah.
“Iya Bah, rencananya juga gitu Laras juga sengaja bawa baju,” sahut Laras.
__ADS_1
“Ya sudah. Abah masuk ke kamar dulu,” ucap abah sambil berdiri.
Saat abah pergi masuk ke dalam kamar aku mulai bercerita kepada Laras tentang perasaanku saat ditinggal oleh nenek.
“Gimana Ras, sekarang aku sendiri nenek sudah gak ada,” ucapku dengan kelopak mata menggenang.
“Aya kamu jangan bilang gitu. Kasihan kan nini nanti beliau sedih di sana,” ucap Laras.
Aku menghela nafas panjang, “aku hanya bingung, aku gak punya tempat untuk bertanya Ras,” sahutku.
“Eh tapi ya setahuku jika ada orang yang meninggal, arwahnya bakalan di rumah selama 40 hari ke depan,” ucap Laras.
“Masa sih? Berarti nenek masih ada di sini dong.”
Secara tiba-tiba bulu halus yang ada di tanganku berdiri, aku merasakan ada seseorang selain aku dan Laras.
“Aya jangan asal ngomong dong, aku jadi merinding nih,” ucap Laras.
“Tapi setidaknya itu arwah nenek kan.”
“Husss! Kamu gak tahu ya jin juga bisa menyerupai orang yang sudah meninggal. Kita gak tahu dia jin jahan, jin baik, apa jin-jinan,” ucap Laras.
“Memangnya ada yang begitu?” tanyaku.
__ADS_1
“Ya ada. Katanya kalau kamu mimpi keluarga yang sudah meninggal menghampiri kamu, dan dia bicara berati itu bukan arwah tapi Jin!”