
Terdengar suara ketukkan pintu di tengah malam tepatnya pukul 00.00 wita, aku terbangun dan mencoba membuka pintu.
‘Siapa jam segini bertamu?' pikirku.
Aku berjalan menuju pintu lalu membukanya. Aku terkejut rupanya yang ada di depan pintu adalah Laras dan ian kakaknya sambil membawa kue dengan tancapan lilin angka 17 di atasnya.
“Selamat ulang tahun Aya!” ucapnya secara tib-tiba.
“Ya Allah Laras,” ucapku terharu.
“Ayo masuk dulu.”
“Nanti dong kamu harua tiup lilinya dulu,” pinta Laras.
“Ya sudah kalau gitu.”
Aku memanjatkan doa kepada Allah dan mengutarakan harapan ku.
'Ya Allah semoga di tahun lahirku ini kami semua termasuk Laras diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan setiap kegiatan, aamiin.’
Aku mengibas-ngibaskan tanganku agar lilin itu mati, lalu mengajak Laras dan kakaknya masuk ke rumah.
“Makasih banget ya Ras kamu sampai datang tengah malam begini, Bang Ian makasih juga ya,” ucapku.
“Sama-sama, oh iya ini kado dari aku dan kakakku,” Laras memberikan dua kotak kado.
“Makasih ya Ras.”
Aku sangat terharu dengan apa yang Laras lakukan hingga membuat mataku berkaca-kaca.
“Ayo potong kuenya Ya,” ucap Laras sambil menyodorkan pisau kue.
Aku pun memotong kue tersebut dan memberikannya kepada Laras dan kakaknya. Tidak lama abah keluar dari kamar karena mendengar suara kami yang sedikit nyaring.
“Ada Laras ternyata,” ucap Abah.
“Iya Bah. Ayo sini kita makan kue,” ajak Laras.
Abah pun duduk di dekat kami, aku memotongkan kue untuk abah.
“Sebelum kuenya di makan ada baiknya kita baca doa selamat dulu,” ucap Abah.
“Nah iya ... Ayo Bah.”
Abah mulai membaca doa kami semua menengadahkan tangan sambil mengaminkan setiap doa yang abah panjatkan. Setelah selesai kami mulai memakan kue itu bersama-sama.
“Aya ... Nini enggak di kasih?” tanya Laras.
“Kadar gula nenek tinggi enggak boleh makan makanan kaya gini. Tapi nanti akan aku kasih nanti kepuhunan kalau enggak dikasih soalnya nenek suka makanan manis,” sahutku.
“Kepuhunan? Apa itu?” tanya bang Ian.
__ADS_1
“Kepuhunan itu kalau seseorang melihat makanan dan sangat ingin mencobanya tapi tidak di bolehkan atau tidak sempat itu bisa terjadi sesuatu misalnya jatuh atau sebagainya,” tutur abah.
“Bisa juga kalau ada orang yang menawari makanan dan minuman khususnya kopi hitam tapi kita menolak atau tidak mencicipi itu akan tertimpa sial, kalau tidak ingin mencicipi cukup di sentuh sedikit dengan jari,” sambung abah.
“Gitu ya ... Laras baru tahu Bah,” sahutnya.
“Di Kalimantan memang seperti itu, kalian kan bukan asli Kalimantan jadi wajar tidak tahu,” sahut Abah.
“Kalian nginap di sini aja pulangnya besok pagi, ada kamar kosong kok,” ucapku.
“Iya rencananya gitu sih Ya,” sahut Laras.
“Eh ... Ngomong-ngomong di jidatmu itu apa?” tanya Laras yang melihat bekas tanda pidara.
“Oh ... ini aku kapidaraan Ras jadi diobatinya pakai kunyit sama kapur sirih,” sahutku.
“Oooh ... Ini yang namanya kapidaraan. Temen-temenku sering mongomong tentang ini dan kadang dijadiin bahan candaan ternyata ini,” ucap Laras.
“Candaan gimana maksudnya?” tanyaku.
“Kan ada temenku kelakuannya agak nyeleneh terus pada ngatain dia lagi kapidaraan gitu Ya.”
“Ha-ha-ha. Berarti dia lagi di ganggu hantu dong,” sahutku tertawa.
“Eh memangnya kapidaraan itu lagi di ganggu hantu?”
“Ya bisa dibilang gitu sih, tapi enggak yang di ganggu hantu kaya kesurupan gitu,” sahutku.
Aku baru sadar kalau aku tidak merasakan demam lagi bahkan tubuhku rasanya sangat ringan.
“Aamiin. Terima kasih Bah,” aku mencium punggung tangan abah.
“Laras suruh tidur sama kamu aja, biar Ian di kamar yang satunya,” ucap Abah.
“Iya Bah,” sahutku.
Malam semakin larut mataku juga sudah sangat mengantuk, aku dan Laras masuk ke dalam kamar. Kami berbaring sambil menatap langit-langit rumah.
“Laras, mama kamu nggak apa-apa dianggal sendiri?” tanyaku.
“Enggak apa-apa, lagian aku sudah izin juga,” sahut Laras.
“Oh iya Ya. Ada yang mau aku kasih tahu ke kamu,” ucap Laras.
“Apa Ras?”
“Saat lulus SMA nanti kami bakalan pulang ke Cilacap Ya.”
“Yah ... Kamu serius? Aku enggak bisa ketemu kamu lagi dong Ras,” ucapku sedih.
“Kita kan masih bisa video call dan chat Ya. Nanti kalau aku ada waktu aku bakalan main ke sini,” ucap Laras.
__ADS_1
“Kenapa harus pulang lagi ke sana?”
“Mama aku punya toko roti disana, dan enggak ada yang ngurus jadi terpaksa kami harus pulang,” tutur Laras.
“Lalu toko roti yang di sini gimana?”
“Bang Ian yang handle Ya.”
Aku merasa sedih karena harus berpisah dengan sahabat masa kecilku ini. Tapi apa boleh buat, aku juga tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal di kota ini.
“Lulus nanti rencana kamu apa Ya?” tanya Laras.
“Aku mau kerja biar bisa bantu Abah, kalau kamu?”
“Mama nyuruh aku buat kuliah, tapi ... Aku males kalau harus belajar terus bikin pusing,” sahutnya.
Obrolan demi obrolan terucap dari mulut kami hingga tanpa sadar kami terlelap tidur.
Keesokan harinya Laras dan Bang Ian bersiap untuk pulang, mereka berdua naik ke atas motor dan berpamitan kepada kami. Setelah Laras pulang aku berbalik dan berjalan menuju dapur.
Saat di dapur tidak sengaja aku melihat ada banyak orang di sungai.
“Rame banget pada ngapain sih?” ucapku penasaran.
“Bah itu orang-orang pada ngapain sih di sungai? Rame banget,” tanyaku.
“Mana? Enggak ada siapa-siapa cuma ada perahu yang lewat,” sahut abah.
“Itu Bah ... Mereka berenang rame banget,” ucapku.
“Sudah ... Kamu sepertinya masih belum terlalu sehat kamu istirahat aja dulu,” sahut Abah.
“Masa Abah enggak lihat sih Bah? Bahkan mereka memanggil Aya Bah.”
“Maya sebaiknya kamu masuk ke kamar dan istirahat.”
Aku merasa sedikit kesal karena jelas-jelas aku melihat di sungai itu ada banyak orang bahkan sebagian dari mereka memanggilku untuk ke sana, aku membaringkan tubuhku di kasur.
Saat aku tengah menatap langit-langit rumah aku seperti melihat sesuatu, bentuknya seperti cahaya putih melayang dan terbang ke sana kemari.
‘Itu apaan?' gumamku.
‘Apa mataku bermasalah?'
Aku terus memandangi cahaya itu, lalu ia berhenti di pojok pintu kamarku dan menghilang.
'Aneh banget,' gumamku.
Aku bangkit dari kasur dan berjalan ke luar rumah. Saat aku keluar aku terkejut dan hampir tidak percaya seluruh jalan yang ada di daerahku di penuhi oleh orang-orang.
“Ini ada apa sih sebenarnya sampai seramai ini?” ucapku.
__ADS_1
Aku terus memperhatikan mereka yang berlalu lalang, hingga aku tersadar jika mereka semua bukanlah manusia.
bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya, Terima kasih banyak.