
“Ya ... Maya bangun!” ucap nenek.
Aku membuka mataku perlahan, rasa lemas dan juga panas membuat tubuhku berkeringat cukup banyak padahal masih pagi hari.
Aku bahkan tidak mampu berdiri, rasanya kepalaku sangat berat. Abah datang dan menyentuh bagian keningku.
“Badan kamu panas. Hari ini kamu tidak usah masuk sekolah dulu, nanti abah yang akan datang ke sekolahmu untuk memberi tahu gurumu.”
“Iya Bah.”
Aku pun berbaring lagi di kasur dan memejamkan mataku, tidak lama nenek datang membawakanku obat yang dibelinya di warung.
Usai meminum obat aku kembali berbaring, aku merasa rumahku seperti berputar-putar dan pandanganku juga sedikit kabur.
Samar-samar aku melihat seseorang masuk ke kamarku namun anehnya dia menembus dinding kamarku sosoknya seperti manusia namun tidak terlalu jelas.
“Kamu siapa?” tanyaku.
Sosok itu tidak membalas ucapanku dia hanya diam dan menatap tajam ke arahku, Dia berjalan perlahan mendekatiku semakin dekat sosok itu semakin jelas tubuhnya hitam dengan bulu di sekujur tubuhnya. Ia menyeringai dengan lidah yang menjulur.
“Abah! Abah!” teriakku.
Abah datang dan langsung menghampiriku, “Kenapa?” tanya abah.
“Itu Bah!” aku menunjuk sosok itu yang masih berdiri di ambang pintu.
“Itu apa?”
“Itu nah inya (dia) ke sini,” aku ketakutan karena sosok itu tertawa.
“Inya siapa? Kadada (tidak ada) siapa-siapa di sini,” ucap abah.
“Ada bah itu nah di muka lawang (pintu),” aku menangis sejadi-jadinya.
Mendengar aku menangis nenek pun juga ikut masuk ke dalam kamarku.
“Kenapa Maya?”
“Kada tahu, ada urang jar di muka lawang (tidak tahu, katanya ada orang di depan pintu),”
__ADS_1
Aku terus berteriak histeris dan menangis karena sosok itu terus berada di depan pintu, aku tidak menghiraukan lagi kondisi demam di tubuhku.
Tidak lama, sekitar beberapa menit sosok iti menghilang dengan sekejap namun aku terus waspada. Aku terus memandangi pintu kamarku.
Hingga sore hari Abah memanggilkan Mantri untukku karena panasku semakin tinggi. Saat Mantri datang dia langsung memeriksa keadaanku dan menanyai abah.
“Sejak kapan Pak ini demamnya?” tanya Mantri.
“Dari tadi pagi, sore ini panasnya tambah naik,” sahut abah.
“Apa merasakan mual dan pusing juga?” Mantri bertanya kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Buka mulutnya ya sambil di julurkan lidahnya,” perintah Mantri.
Usai memeriksa kondisiku Mantri itu mengeluarkan obat-obatannya dan menuliskan waktu meminumnya.
“Ini gejala tifus, ini obatnya diminum 3 kali sehari. Kalau makin parah atau tidak ada perkembangan sebaiknya dibawa ke rumah sakit,” pungkas Mantri itu.
“Baik Pak Mantri terima kasih.”
“Makan dulu nanti baru minum obat,” ucap nenek.
Mulutku mulai sedikit pahit, tapi aku berusaha untuk memakannya agar aku cepat sembuh dan tidak membuat abah dan nenek khawatir. Setelah makan dan meminum obat aku kembali membaringkan tubuhku di kasur.
***
Beberapa hari berlalu namun sakitku tidak kunjung sembuh, dan yang membuatku aneh adalah sakitku akan parah menjelang sore sampai malam hari aku juga sering mengigau melihat sosok hitam itu. Namun, Jika pagi hari tubuhku akan membaik bahkan aku bisa berjalan ke sana kemari.
Sampai saat menjelang magrib tubuhku kembali panas, rasanya sangat panas tapi di luar kulitku terasa sangat dingin aku bahkan mengeluarkan keringat dingin.
“Uma ... Kaya apa Maya ni kada ampih-ampih malah bebangat (ibu ... bagaimana ini Maya tidak sembuh-sembuh malah semakin parah).”
“Kapidaraan bisa Maya ini.”
Di daerahku kapidaraan adalah istilah sakit yang diakibatkan oleh gangguan dari makhluk halus biasanya yang terjadi adalah demam dan akan memburuk di saat sore sampai malam hari, sering mengigau melihat makhluk gaib atau bahkan di datangi makhluk gaib dan membuat rasa takut yang tidak bisa dijelaskan oleh lisan.
“Kiau (panggil) nini Aman ke sini.”
__ADS_1
Abah dengan cepat berjalan ke luar rumah untuk memanggil nenek yang berumur sekitar 65 tahun itu untuk mengobatiku.
Selang beberapa menit abah datang bernama nini Amah, beliau biasa dimintai tolong untuk mengobati anak atau orang yang kena pidara.
“Minta janar (kunyit), baras, lawan kapur sirih Umanya Rahmad (ibunya Rahmad)!” pinta nini Amah.
“Parapin (tungku kecil yang biasa di isi bara) ada kah baisian (punya)?”
“Ada ai Ni, hadang lah (ada Nek, tunggu ya).”
Nenek dan abah sibuk menyiapkan bahan untukku, sedangkan Ninin Amah memperhatikan wajahku dan menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
“Panas banar , lawas kah sudah Ya (panas sekali, apakah ini sudah lama)?”
“4 hari lawan ini sudah Ni (4 hari dengan hari ini).”
Nenek kembali sambil membawa mangkuk kecil berisi seruas kunyit, sejumput beras serta kapur sirih. Abah pun juga sudah menyalakan bara di parapin. Nini amah merogoh kantung yang ada di bajunya dan mengeluarkan bungkusan kecil. Rupanya itu adalah dupa yang sengaja nini Amah bawa dari rumah.
Dupa pun di tabur di atas parapin, asap putih tipis membumbung ke atas menciptkan bau kemenyan yang menyengat.
Nini Amah memarut kunyit yang ukurannya sebesar jari telunjuk itu hingga habis lalu mencampurnya dengan kapur dan juga beras sambil mulutnya terus berkomat-kamit. Nini Amah memeras parutan kunyit tersebut dan anehnya air hasil perasan itu cukup banyak padahal sebelumnya tidak ditambahkan air atau apa pun.
Setelah melihat hasil perasan kunyit itu nini Amah pun langsung memberitahu abah.
“Iya sudah ngini kapidaraan (Ini memang kapidaraan).”
Sambil mulutnya terus berkomat-kamit nini Amah mengambil beras yang sudah berubah warna karena tercampur dengan kunyit tersebut, lalu menaruhnya ke ubun-ubunku. Lalu beliau mencoret keningku tepatnya di antara kedua alisku dengan menggunakan kunyit yang di campur kapur sirih coretan itu berbentuk garis lurus, tidak hanya di keningku nini Amah juga mencoret kedua telapak tanganku.
Namun bentuk coretannya berbeda yaitu membentuk tanda silang, nini Amah juga mencoret telapak kakiku dengan bentuk yang sama sambil terus berkomat-kamit.
Sisa beras yang ada di mangkuk itu langsung dilempar ke depan rumahku dan berakhir proses bapidara.
“Mudahan ikam lakas wagas Nak lah (mudah-mudahan kamu cepat sembuh ya Nak),” ucap nini Amah.
“Tarima kasih Ni lah sudah membantui anak ulun (saya),” ucap Abah sambil bersalaman dan menyelipkan amplop ke tangan nini Amah.
“Sama-sama,” sahut nini Amah.
Abah pun keluar mengantarkan nini Amah pulang ke rumahnya. Aku sendiri sedikit bingung kenapa tanda pidara ini harus berbentuk silang. Namun yang lebih aku tidak mengerti lagi kenapa hanya dengan kunyit dan kapur dapat menyembuhkan sakit seperti ini.
__ADS_1
Aku sebelumnya sudah beberapa kali kapidaraan namun itu saat aku kecil antara percaya atau tidak setelah dipidarai biasanya dalam hitungan jam saja aku bisa sembuh.