
Aku naik lebih tinggi ke atas pohon mangga karena aku melihat di atas buahnya banyak yang besar. Pohonnya lumayan tinggi hampir melewati atap rumah, saat aku naik dan menghadap ke atap mataku langsung terbelalak.
Aku melihat bayangan putih transparan di atas rumah, aku menajamkan kembali penglihatanku dengan seksama. Bayangan itu melambai-lambai seperti kain tertiup angin, beberapa saat bayangan itu begitu jelas dan beberapa saat dia terlihat samar.
Terlihat seperti sosok wanita berambut panjang dengan wajah yang tidak terlalu jelas menatap ke arahku.
Pelan-pelan aku turun dengan kaki yang gemetar serta jantung yang berpacu.
“Di! Odi ayo turun!” ucapku sambil kakiku meraba.
“Belum banyak ini tunggu aku ambil yang di atas gede-gede!” teriaknya.
“Udah nggak usah ayo cepetan turun!” sahutku yang meloncat dari atas pohon.
“Kamu kenapa si Ya? Kan baru dapat sedikit,” ucap Laras.
“Ada ... Aduh gimana aku bilangnya!” ucapku dengan tubuh gemetar.
“Kamu kok gemeteran gitu ada apa sih?” tanya Laras.
“Odi ayo turun di genteng ada kuntilanak!” terikakku sambil menarik Laras.
“Mamaaaaaa!” teriaknya memanggil ibunya sambil turun dari pohon.
Tanpa pikir panjang Odi turun dengan cepat dari atas pohon sambil membawa mangga hasil petikannya.
“Ayo cepetan!”
“Aya jangan tinggalin aku dong!” Odi meloncat lalu mengambil sendalnya.
Sepanjang jalan Odi berlari sambil berteriak memanggil mamanya. Aku pun ikut berlari bukan hanya penampakan itu saja yang membuatku takut tapi lokasi jalan di area rumahku juga minim penerangan, hanya ada beberapa lampu pijar untuk penerangan jalan.
Namun tidak dengan Laras ia malah tertawa terbahak karena melihat Odi terus berlari sambil memanggil mamanya.
“Ha-ha-ha. Aya temen kamu kocak mana larinya paling kenceng lagi.”
“Dia memang begitu kalau ketakutan,” sahutku sambil berlari.
Kami berlari hingga di depan rumah, dengan nafas tersengal-sengal aku duduk bersandar di depan pintu.
“Ini gara-gara kamu Di. Ngajak nyolong mangga malam-malam!” ucapku sambil mengatur nafas.
“Kamu beneran lihat kunti tadi?” tanya Laras.
“Iya Ras di atas genteng!” ucapku.
“Iya aku tadi lihat putih-putih di atas genteng.”
“Eh tadi aku sempat ambil yang gede-gede pas turun. He-he-he,” Odi mengeluarkan senyum kudanya.
“Cengar-cengir aja kering gigimu entar,” ucap Laras.
“Udah ayo kita bagi aja mangganya, kamu dapat berapa?” tanyaku.
“Enam biji lumayan buat ngerujak sama orang-orang jaga malam nanti.”
“Aku dapat empat,” sahutku.
__ADS_1
“Nih Ras aku bagi kamu 2 biji,” ucap Odi memberikan mangganya.
“Nih dua buat kamu juga Ras,” sahutku.
“Kok banyak banget. Udah ini aja.”
“Udah bawa aja. Aku nggak suka makannya aku cuma suka nyolongnya aja,” sahutku tertawa.
“Asyik makasih ya.”
“Ya aku pulang dulu ya,” ucap Odi.
“Ya udah hati-hati.”
Aku dan Laras masuk ke dalam rumah dan duduk di depan TV. Laras masih menayakan masalah kuntilanak yang aku lihat.
“Memang kuntilanak itu bentuknya memang kaya di TV ya?” tanya Laras.
“Ya gitu Ras, tapi lebih serem kalau lihat aslinya,” sahutku.
“Wah aku penasaran.”
“Huss! Kalau ngomong jangan sembarangan Ras!” ucapku.
Seketika ucapan Laras seperti sebuah mantra pemanggil makhluk halus, seluruh bulu halus di tangan dan kakiku berdiri. Aku merasakan hawa aneh di belakangku rasanya sanga dingin dan menggelitik tengkuk leherku.
Aku dan Laras seketika hening tidak berbicara apa pun. Aku mulai merasakan pusing kepalaku berat dan sedikit mual. Sekujur tubuhku dingin dan gemetar keringat dingin keluar dari keningku. Aku meringkuk memeluk lututku dengan erat
“Aya kamu kenapa?” tanya Laras.
“Ya! Aya!”
Aku masih bisa mendengar Laras berteriak memanggil abah hingga akhirnya aku kehilangan kesadaranku.
***
'Kepalaku rasanya berat dan lemas,' pikirku.
Aku membuka mata, aku terkejut karena ada banyak orang mengelilingiku
“Kenapa Bah kok banyak orang?” tanyaku kepada Abah yang saat itu di sampingku.
“Bangun dulu lalu minum ini!” ucap Abah memberikanku segelas air putih.
Aku bangkit lalu meminum air itu, aku melihat Laras duduk dengan mata yang sembab.
“Kamu kenapa Ras?” tanyaku.
“Ini sebenarnya ada apa?” tanyaku lagi.
Aku juga melihat beberapa lembar daun jeringau di sampingku, setahuku daun jeringau atau biasa di sebut dlingo digunakan untuk mengobati seseorang yang sedang kesurupan dengan cara di pukul-pukulkan ke tubuh orang yang tengah kesurupan.
“Kamu kesurupan Ya,” ucap Laras.
“Kamu habis ngapain Ya kok bisa sampai seperti ini?” tanya abah.
“Aya nonton TV tadi Bah sama Laras, habis itu nggak tahu lagi lupa,” sahutku.
__ADS_1
“Kamu tadi teriak histeris terus menangis sambil marah-marah sama Abah,” ucap Laras.
“Hah?” sahutku seakan tidak percaya.
“Iya. Kamu teriak sampai kami datang ke sini. Kata si Odi kamu lihat kuntilanak pas nyolong mangga di rumah kosong!” tutur salah satu tetanggaku.
“Tapi alhamdulillah untung ada yang tanaman jeringau jadi bisa minta sedikit,” sambungnya.
“Abah Aya, kami pamit dulu syukur kalau Aya sudah sadar. Aya kamu jangan lupa banyak berdoa ya,” ucap tetanggaku.
“Inggih (iya),” sahutku.
Beberapa tetangga pun satu per satu pulang ke rumah mereka, Laras langsung menghampiriku.
“Aya kamu nggak apa-apa kan?” ucapnya.
“Enggak. Aku cuma lemas aja,” sahutku.
“Aya Abah enggak mau kamu berbuat sembarangan lagi. Ini yang terakhir mengerti!” ucap abah tegas.
“Iya Bah,” sahutku.
Abah beranjak dari duduknya dan menuju dapur sambil membereskan beberapa barang yang berantakan.
“Ras aku tadi beneran kesurupan?” tanyaku kepada Laras dengan pelan.
“Iya, mata kamu melotot ke arahku sambil teriak marah-marah. Aku takut jadi aku langsung panggil abah,” sahutnya.
“Jadi barang-barang berantakan itu karena ulahku?” tanyaku.
“Iya. Kamu sebenarnya sudah aku pegangi tapi aku enggak sanggup kamu kuat banget aku bahkan kamu dorong nih sampai biru,” tutur Laras sambil memperlihatkan kakinya yang memar.
“Kayaknya aku suruh mama buat tanam ini, daun ini hebat kamu aja langsung teriak kesakitan dan sampai minta ampun ke abah saat di pukul pakai daun ini. Padahal di pukulnya pelan,” ucap Laras sambil mengambil daun itu.
“Ini memang katanya buat penangkal makhluk halus, setahuku kalau bayi baru lahir biasanya di atas kepalanya di taruh ini,” jelasku kepada Laras.
“Aya maafin aku ya kalau bukan karena mulutku yang sembarangan ini kamu nggak bakalan begini,” ucap Laras.
“Udah enggak apa-apa Ras.”
Aku pun perlahan bangkit dan duduk bersandar di dinding, Laras melihat jam dan ia berniat untuk pulang.
“Aya udah malam banget, aku pulang ya,” ucapnya.
“Kamu nggak nginap di sini aja?” tanyaku.
“Aku belum ngerjain tugas Ya,” sahutnya.
“Ya sudah kamu kalau pulang baca doa dulu ya, jangan lupa itu mangga sama ikannya,” ucapku.
Laras berjalan ke luar dan menyalakan motornya.
“Aya, Abah Laras pulang ya,” ucapnya.
“Iya hati-hati kamu di jalan,” sahut Abah.
Aku berdiri di depan pintu bersama abah, samar-samar aku melihat sesuatu berwarna putih duduk di belakang Laras saat ia melaju jauh dengan motornya.
__ADS_1
“Bah! Laras bawa orang tadi!” ucapku kepada abah yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam.