
Seminggu sudah aku bekerja di toko roti itu, aku juga sudah mulai paham penggunaan mesin kasir serta terbiasa melayani pembeli, karyawan lain pun ternyata ramah. Tidak ada kata senior dan junior mereka menganggapku sama seperti mereka.
Namun ada yang aneh, setiap Iyan mendekatiku Atmajaya selalu pergi begitu saja. Sekarang Atmajaya sering menemaniku kemana pun aku pergi.
Hingga suatu hari aku jatuh sakit, saat pulang bekerja aku merasakan tubuhku lemas dan demam setiap menjelang sore. Sakit itu akan semakin parah saat malam hari dan sembuh ketika pagi hari.
Meskipun begitu aku tetap bekerja, namun ketika akan menjelang adzan magrib sakit itu akan kambuh begitu terus.
Aku sudah berusaha meminum obat dari Mantri hingga resep dokter namun tetap saja tidak kunjung sembuh.
Aku pun mengeluh kepada nenek tentang sakitku ini.
“Nek kenapa sakitnya enggak sembuh-sembuh,” eluhku.
“Besok abah kamu akan melabuh,” sahut nenek.
“Lalu apa hubungannya?”
“Besok kan Minggu kamu minta izin saja untuk berobat.”
“Berobat kemana?”
“Saat abahmu melabuh, kamu mandi di tempat itu. Ceburkan dirimu di sana sebanyak 3 kali,” sahut nenek.
“Hah? Aya enggak mau takut! Di bawahnya kan ada buayanya.”
“Kata siapa?”
“Kan kalau abah kalau melabuh katanya mereka semua berkumpul,” sahutku.
“Kita ikhtiar, segala macam obat sudah di coba tapi kada wagas jua (tidak sehat juga).”
__ADS_1
“Dulu abahmu pernah sakit seperti ini, ada tetua menyuruh mandi di air bekas melabuh dan sembuh akhirnya.” Sambung nenek.
'Apa iya?' pikirku.
'Tapi apa salahnya dicoba,' batinku.
“Ya sudah besok Aya minta izin,” sahutku.
Malam semakin Larut, rasa panas yang ada di tubuhku semakin memuncak sampai aku tidak bisa tidur pandanganku pun menjadi sedikit buram.
Saat itu aku melihat ada seseorang membuka pintu kamarku dan masuk tanpa permisi.
Wujudnya seperti manusia namun aku tidak mengenalinya, matanya melotot ke arahku dengan tatapan penuh intimidasi.
Aku pun bangkit dari kasurku dan berteriak memanggil abahku.
“Bah! Abah!” teriakku.
“Lain! ikam lain abahku! (Bukan! Kamu bukan abahku!)”teriakku histeris
“Astagfirullah. Sadar Aya ini abah!” sahutnya sambil mengguncang tubuhku.
Seketika itu aku tersadar jika laki-laki yang masuk ke kamarku itu memanglah abahku.
Aku terduduk lesu dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar keributan dari kamarku nenekku datang menghampiriku lalu menyentuh keningku. Saat itu nenek menyuruh abah untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompresku.
“Ya Allah Maya kenapa ikam (kamu) jadi kaya ini,” ucap nenek.
Mataku semakin buram cahaya bola lampu LED yang terang berangsur menjadi remang, kepalaku pun sangat sakit tak tertahankan tasanya seperti sedang dipukul dengan benda tumpul.
__ADS_1
Aku hanya bisa diam sambil menahan rasa sakit itu karena aku tidak ingin abah dan nenek menjadi semakin khawatir.
Aku tidak tidur semalaman, namun saat pagi hari demamku itu turun dan seperti tidak terjadi apa pun.
Abah menyuruhku untuk beristirahat walaupun aku sudah merasa baikan.
Terlihat nenek sibuk memasak ketan untuk nanti abah melabuh. Aku terus berbaring, aku bingung biasanya Atmajaya selalu ada di sampingku tapi setelah aku sakit entah kenapa Atmajaya tidak kelihatan.
Tiba waktunya melabuh, nenek sudah menata ketan di piring dengan sebutir telur di atasnya.
“Aya parak sanja (senja/menjelang magrib) umpat (ikut) abah ke sungai belakang.”
Aku mengikuti abah, abah mulai melakukan ritual melabuhnya seperti biasa setelahnya abah menyuruhku menceburkan diri ke sungai tepat di mana abah melabuh sesajen.
Aku menceburkan diriku ke sana, dan membenamkan tubuhku sebanyak tiga kali di sungai itu lalu naik ke atas papan.
Abah memberiku handuk dan menyuruhku cepat-cepat masuk ke dalam rumah.
“Ganti baju dulu,” ucap abah.
Aku berganti baju lalu duduk di atas kasur. Saat menceburkan diri tadi aku merasa air di area abah melabuh itu sangat hangat serta saat aku membenamkan diriku untuk yang ketiga kalinya aku merasakan ada yang menyentuh kedua tanganku.
‘Tapi ngomong-ngomong aku tidak merasa deman,' gumamku.
‘Apa aku sudah sembuh?’ pikirku.
Aku merasakan bahkan tubuhku sedikit ringan ini ajaib tapi juga menurutku tidak masuk akal. Aku berobat kemana-mana dengan meminum berbagai merek obat namun tidak sembuh, namun yang tidak masuk akal adalah hanya dengan menceburkan diri di sungai itu aku malah sembuh.
Hai gaes
Jangan lupa dukunganya ya seikhlasnya.
__ADS_1
Nantikan episode selanjutnya ya.