Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Menghindar dari Atmajaya


__ADS_3

“Bang gimana keadaan Sarah?” tulisku di chat


“Aman,” balasnya singkat.


“Alhamdulillah,” balasku.


“Tapi ....”


“Tapi apa bang?”


Aku lama menunggu balasan chat dari Iyan namun tak kunjung dibalas, aku semakin khawatir dengan mereka.


Aku mencoba mengirim chat lagi namun bukan ke nomor Iyan melainkan ke Mas Japra.


“Mas?” tulisku di chat.


“Apa Ya?” balas mas Japra.


“Sarah gimana?”


“Parah Ya. Dia kerasukan.”


“Ya Allah serius?”


“Iya. Aku sama si Briyan malah sampai panggil ustadz bahkan aku manggil ibu-ibu pengajian yang rumahnya di komplek seberang toko.”


“Ibu-ibu pengajian?”


“Iya siapa tahu Sarah sadar kalau dengar kosidahan ibu-ibunya aju suruh rebanaan,” balas Japra.


“Astagfirullah!” balasku sembari menambahkan stiker menepuk jidat.


“Kenapa sih? Apa yang salah?” tanya Japra.


“Gak mas kamu gak salah kok,” balasku sambil tertawa geli.


“Sekalian mas nyalain sound system,” sambungku.


“Buat apaan?”

__ADS_1


“Gak apa-apa biar ramai.”


“Dih gak jelas,” balas mas Japra.


“Lalu sekarang Sarah gimana?” 


“Pingsan dia, ini aku sama Briyan mau antar dia pulang ke rumah.”


“Ya sudah. Kalian hati-hati.”


Aku pun mengakhiri chat ku bersama mas Japra.


'Semoga saja Sarah gak kenapa-kenapa,' gumamku.


Saat aku tengah duduk di atas kasur, aku merasakan jika Atmajaya hadir disekitarku. Energinya begitu terasa, karena aku sudah terbiasa dengan kehadirannya aku sampai bisa menebak energinya.


“Kenapa kamu menghindar?” ucap Atmajaya yang tiba-tiba muncul di sebelahku.


“Menghindar? Aku gak menghindar.”


“Aku tahu isi hatimu. Kamu berusaha menolak kehadiranku.”


“Apa yang tidak normal darimu? Lalu apa hubungannya dengan kehadiranku?” tanya Atmajaya.


“Inilah yang gak normal! Yang bisa lihat dan bicara sama kamu itu cuma aku. Berkali-kali orang melihatku berbicara sendiri karena apa? Karena mereka gak bisa lihat kamu! Aku bahkan di bilang sedang stres dan depresi karena sering bergumam sendir!” pungkasku dengan kelopak mata yang menggenang.


Mendengar ucapanku Atmajaya hanya terdiam sambil menatap tajam ke arahku.


“Terserah kamu ingin marah atau benci atau apalah! Aku hanya ingin hidup seperti orang kebanyakan! Tanpa harus memikirkan ritual atau hal-hal mistis lainnya.”


Tanpa membalas ucapanku Atmajaya langsung menghilang, bahkan energinya pun juga menghilang. Entah, aku juga bimbang dengan hidupku aku terus memikirkan bagaimana aku nanti di masa depan jika harus meneruskan tugas abah untuk memelihara buaya kuning itu. 


Aku menghela nafas panjang, aku sedikit lelah dengan pemikiranku sendiri. Aku memutuskan untuk tidur saja dari pada terus-terusan memikirkan hal yang tidak pasti.


*** 


Keesokan harinya aku masuk kerja seperti biasa, namun kali ini Sarah tidak masuk kerja. Namun aku tidak terlalu banyak bertanya tentang keadaan Sarah karena aku sendiri pernah mengalami hal semacam itu.


Aku membereskan meja kasir serta membersihkannya hingga siap untuk menerima kedatangan pelanggan.

__ADS_1


“Aya,” mas Japra mendekat ke meja kasir.


“Ada apa Mas Japra? Tumben manggilnya pelan-pelan gitu,” ucapku.


“Tadi malam ada yang aneh sama Sarah,” ucapnya pelan.


“Aneh kenapa?”


“Saat kami di mobil mengantar Sarah pulang dia tiba-tiba kesurupan lagi. Dia jedot-jedotin kepalanya sendiri ke kaca mobil.”


“Lalu mbak Sarahnya gimana Mas?” 


“Untungnya kumatnya itu pas mau sampai rumahnya. Sama bapaknya di panggilkan orang pintar dan kata orang pintar itu Sarah kesurupan pocong pesugihan!”


“Pesugihan?”


“Iya. Katanya sih itu pocong dulunya di gunain buat penglaris di ruko itu lalu di tinggalin begitu aja sama yang punya. Dulu ruko itu di disewain buat salon kecantikkan,” tutur Japra.


“Mas tahu dari mana?”


“Ibu-ibu komplek seberang lah. Katanya salonnya rame dan ada terus pelangganya bahkan parkiran di depan ruko itu penuh yang punya sampai sewa lahan di seberang rukonya buat di jadikan parkiran.”


“Tapi, katanya semenjak yang punya salon itu meninggal itu salon gak ada yang mau nerusin termasuk anak-anaknya. Dan yang lebih seremnya lagi yang punya salon itu meninggalnya bunuh diri,”


“Kok serem sih Mas.” Bulu kudukku langsung berdiri mendengar cerita itu. 


Seakan tahu sedang di bicarakan aku melihat jelas sesosok wanita berdiri di pojok sambil mandang ke arah aku dan mas Japra. Tubuhnya penuh luka dengan sebagian kepala yang rusak.


Namun ada hal yang membuatku heran, raut wajahnya seakan sedih. Aku bahkan dengan jelas melihat darah yang mengucur dari kepalanya. 


Pemandangan mengerikan yang tidak terbayang sebelumnya apa lagi ini masih pagi hari.


 


Halo readers jangan lupa dukungannya ya 


Seikhlasnya saja, dukungan kalian begitu berharga bagi author.


Oh iya. Ada yang pernah ngalamin hal kaya Sarah atau Aya? Jika ada kalian bisa membaginya di kolom komentar.

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya ya. See you.


__ADS_2