
“Aya aku turut berduka cita ya,” ucap Japra.
“Iya, makasih ya Mas Japra.”
Aku celingak-celinguk ke seluruh sudut toko. “Mbak Sarah mana Mas?”
Mas Japra tertunduk lesu, “di rumah sakit Ya.”
“Hah? Sakit apa Mas?”
“Sejak kerasukan kemarin, kondisi Sarah semakin memburuk. Kemarin terakhir kali aku menjenguk wajahnya pucat terus tatapannya kosong.”
“Ya Allah.”
“Mas bisa temani saya jenguk mbak Sarah nanti?” sambungku.
“Bisa kebetulan aku sama Briyan mau ke sana.”
“Ya sudah kalau gitu aku ikut ya Mas,” ucapku.
Aku tidak menyangka jika kondisi mbak Sarah bisa mengkhawatirkan seperti itu, yang aku tahu orang setelah kesurupan akan lupa apa yang terjadi dan tubuh seperti kehilangan banyak energi.
Tapi kasus mbak Sarah ini cukup aneh, kenapa bisa dia berakhir seperti itu.
Aku bekerja seperti biasa, walau pun ada banyak hal yang aku pikirkan tapi aku harus tetap profesional dalam bekerja.
Hari ini cukup santai tidak terlalu banyak pengunjung yang datang untuk membeli roti, dan lagi ini hari kamis yang artinya pulang kerja akan lebih cepat mengingat saat malam jumat kebanyakan toko akan tutup lebih awal.
Saat santai seperti inj malah membuatku cukup bosan dan mengantuk karena harus duduk berjam-jam di depan meja kasir, sesekali aku menguap hingga tanpa sadar larut dalam rasa kantukku.
Saat aku sedang berada di antara kesadaranku, samar-samar aku melihat sebuah bayangan bergerak di pojok toko, tepatnya di ujung etalase dekat pintu masuk.
'Siapa? Apa pelanggan?' batinku.
Aku mengusap kedua mataku yang terasa sepat itu, perlahan aku mencoba melihat kembali orang itu namun tetap sama. Bayangan putih transparan menyerupai seorang wanita itulah yang terlihat oleh netraku.
'Siapa dia? Apa dia hantu?' pikirku.
Aku perlahan mendekati bayangan itu untuk memastikan, wujudnya samar tidak terlalu jelas bahkan wajahnya pun aku tidak dapat melihat.
__ADS_1
Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundakku.
“Astagfirullah.”
“Kamu ngapain?”
Rupanya itu adalah bang Iyan, mungkin dia melihat gerak-gerik anehku tadi.
“Eh ... Bang Iyan ngagetin aja,” ucapku.
“Kamu ngapain sih? Kok kaya orang mau nangkap cicak ngendap-ngendap gitu.”
“Ada orang tapi bukan orang Bang. Aduh gimana ya jelasinnya,” ucapku sambil menggaruk belakang kepalaku.
“Maksudnya gimana?”
“Tadi ada cewek tapi bentuknya transparan.”
“Ohh ... Kuntilanak mungkin,” celetuk Iyan.
“Kuntilanak? Ngapain keluyuran siang-siang?”
“Aya. Coba tanyain malam ini tembusnya berapa angka?” sahut Mas Japra yang mendengar ucapanku.
“Udah jangan di dengerin si Japra, kamu kalau mau istirahat aja di belakang.”
“Gak Bang di sini aja, sepi di belakang mana gelap lagi,” sahutku.
“Iya lampunya sering putus, padahal aku belinya sudah yang paling bagus,” ucapnya.
“Susah kalau berurusan sama penunggu di sini suka ngambekkan,” sambungnya.
Aku menyenyitkan alisku, pantas saja ruangan loker itu terlihat suram dan selalu gelap walaupun sudah di pasang lampu. Aku bahkan beberapa kali mengalami hal aneh di sana, dari mulai pintu loker yang terbuka sendiri, benda-benda jatuh serta suara-suara aneh.
'Pantas saja mereka gak mau naruh tas di loker,' gumamku.
Hari berangsur gelap, pelanggan juga sudah tidak ada yang masuk ke toko, aku dan Mas Japra mulai berkemas merapikan etalase.
“Jap, jadi kan kita jenguk Sarah?”
__ADS_1
“Jadi. Ada tambahan satu personil,” ucap Japra.
“Aya kamu ikut juga?”
“Iya Bang,” sahutku.
“Ya sudah kita pakai mobil aku aja.”
Kami semua bersiap berangkat, semua lampu telah di matikan. Kami semua masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit.
Aku sangat khawatir dengan keadaan mbak Sarah, aku berharap dia akan baik-baik saja.
Tidak butuh waktu lama untuk menuju rumah sakit, saat sampai kami semua bergegas menuju ruangan, tempat di mana mbak Sarah di rawat.
Kami masuk ke dalam salah satu ruangan yang isinya ada sekitar 4 pasien dan mbak Sarah berada di pojok kanan.
Kami menghampiri ranjang yang tertutup tirai biru itu, di sana aku melihat kondisi mbak Sarah sedikit berbeda. Wajahnya sangat pucat dengan bobot tubuh tidak seperti terakhir aku bertemu dengannya.
Tubuhnya terlihat sedikit kurus, tatapannya pun kosong.
'Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi pada mbak Sarah?' batinku.
Aku mendekatinya dan mencoba berbicara dengannya.
“Mbak Sarah,” ucapku.
“Maya, kamu datang,” sahutnya tersenyum tipis.
“Iya Mbak, ini aku bawakan buah.”
Kebetulan saat di perjalanan tadi aku meminta untuk berhenti di depan toko buah.
“Sarah gimana kondisimu?” tanya Japra.
“Baik kok,” sahutnya singkat.
Kecanggungan begitu terasa karena mbak Sarah hanya menjawab pertanyaan kami seadanya saja bahkan hanya dengan senyum tipisnya.
Atmajaya tiba-tiba muncul di sampingku, aku melihat reaksi mbak Sarah seperti tersentak kaget.
__ADS_1
'Apa mbah Sarah bisa melihatnya?' batinku.