
“Apa aku ini egois?” tanyaku kepada Dewi.
“Egois sih enggak, tetap saja kita harus memikirkan masa depan kita kan,” sahut Dewi.
“Aku dulu sama. Aku bahkan ke orang pintar biar mereka gak memilihku.” Sambung Dewi.
“Lalu sekarang?”
“Aku akhirnya sadar, kehidupanku tidak akan berakhir hanya karena hal ini. Lagian ini adalah tradisi turun temurun Ya. Kalau bukan kita siapa lagi?”
“Iya aku pun pernah bilang ke Pangeran Suriyan, kalau aku tidak melupakan mereka. Tapi sekarang aku malah menolaknya,” ucapku terkekeh.
Panjang lebar Dewi memberi pencerahan kepadaku hingga hatiku terketuk untuk menemui Atmajaya, aku bahkan berpikir sebenarnya dia tidak salah apa-apa kenapa aku harus menjauhinya walaupun alam kami berbeda dia tetaplah seperti manusia, memiliki perasaan.
Tanpa terasa langit mulai membias jingga, kumandang adzan mulai menggema aku dan Dewi tengah sibuk mempersiapkan peralatan yang akan digunakan.
Sedangkan abah mulai menggelar karpet yang tadinya masih tergulung rapi. Semua orang sibuk untuk acara 2 hari meninggalnya neneku.
Kali ini acaranya akan di adakan selepas sholat magrib, usai sholat magrib aku dan Dewi mempersiapkan piring-piring untuk nantinya dipakai untuk menaruh kue serabi.
Saat semuanya tengah sibuk, aku tanpa sengaja memandang ke arah pintu kamar nenek yang hanya ditutup dengan gorden lama berwarna merah itu.
Samar-sama aku melihat seseorang masuk ke dalam kamar dan anehnya orang itu masuk tanpa membuka gordennya melainkan menembusnya.
Karena penasaran aku mendekati kamar nenek dan membuka gorden tersebut. Aku melihat seorang wanita tua dengan rambut yang panjang serta beruban, dia mengenakan kebaya zaman dulu berwarna coklat, perawakan itu sangat mirip dengan nenekku. Dia duduk di pinggiran ranjang kayu tua dengan posisi membelakangiku.
__ADS_1
Perlahan aku menghampirinya. “Ni?”
“Nini kah ini?” ucapku lagi.
Tiba-tiba saja neneku menoleh ke arahku, wajahnya pucat namun bagiku itu sama sekali tidak menakutkan.
Beliau menatapku lalu tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Maya? ... Maya.” Terdengar suara abah memanggil.
“Iya Bah,” sahutku sambil menoleh ke pintu.
Aku pun kembali menoleh ke arah tempat dimana nenek duduk. Namun nenek sudah menghilang seketika itu juga aku terduduk.
'Kenapa nenek pergi? Aku bahkan belum meminta maaf,' batinku.
Aku pun beranjak dari kamar nenek dan menghampiri abah.
“Kenapa Bah?” tanyaku.
“Susun ini di depan,” pinta abah.
Aku menyusun piring-piring berisi gorengan dan juga kue-kue di ruang depan tidak lupa aku menaruh gelas yang berisi rokok, beberapa orang juga sudah mulai berdatangan.
Buku-buku yasin pun sudah di tata di tengah ruangan. Hingga semua orang telah datang dan memulai pembacaan surah yasin.
__ADS_1
Saat berada di dapur aku memikirkan kejadian yang aku alami, hal yang sama pernah juga aku alami saat almarhumah mama meninggal. Bahkan aku sangat sering melihat mama masih berada di rumah kala itu.
Tapi bedanya wajah nenek menunjukkan ekspresi tersenyum sedangkan mama datar tanpa ekspresi.
Pembacaan tahlil dan doa-doa selesai, aku dan Dewi mulai membagikan kue serabi berkuah gula merah itu pada orang-orang yang datang.
Hingga acar selesai, aku dan Dewi bertugas mengumpulkan piring-piring yang kotor, saat itu aku memberi tahu Dewi tentang apa yang aku lihat.
“Dewi.”
“Apa?”
“Aku tadi ketemu nini,” ucapku.
“Hah? Dimana?”
“Di kamarnya tadi, nini senyum ke aku,” ucapku.
“Mungkin nini mau mengucapkan salam perpisahan Ya sama kamu. Karena nini meninggal saat aku kerja kan,” ucap Dewi.
“Iya kayaknya gitu. Tapi aku belum sempat minta maaf sama nini Dew,” sahutku.
“Kamu sering-sering kirimkan doa buat nini, biar dilapangkan kuburnya dan di terima semua amal ibadahnya sama Allah.”
“Iya Dewi, tapi jangan bilang abah ya.”
__ADS_1
“Iya tenang aja Ya.”