
“Aku dimana?” ucapku.
Tiba-tiba aku berada di sebuah hutan dengan aliran sungai yang tenang, aku mengintip di balik pepohonan.
Aku melihat seseorang tengah berdiri di pinggir sungai dengan seekor buaya berwarna putih di hadapannya. Orang itu seperti seorang laki-laki dari suku asli Kalimantan terlihat dari pakaian yang ia kenakan.
Aku melihatnya seperti sedang berbicara dengan buaya tersebut menggunakan bahasa daerah. Aku memberanikan diri untuk mendekat karena penasaran dengan apa yang dia lakukan.
Saat mendekat aku bisa mendengar jelas apa yang dia ucapkan.
“Terima kasih karena telah membantu salah satu bangsaku. Aku akan berjanji akan melindungi anak cucumu dan melarang seluruh bangsaku mengganggu atau melukai manusia.”
'Buaya bisa bicara? Apa aku lagi berhalusinasi?' batinku.
“Baiklah kalau begitu aku pun akan melarang anak cucuku untuk mengganggu atau melukai bangsa kalian.”
“Kita akan hidup berdampingan tanpa saling menyakiti,” sambung laki-laki itu.
“Tapi jika ada yang lalai, maka bangsaku tidak segan-segan membalasnya, begitu pula sebaliknya jika ada dari bangsaku melanggar aturan ini maka kau bisa menghukumnya,” ucap buaya itu.
“Kami tidak akan menyakiti manusia selama manusia tidak menyakiti kami,” sambungnya.
'Apa ini yang di maksud pangeran tentang perjanjian itu?' gumamku.
Aku melihat buaya berwarna putih itu berubah wujud seperti manusia memakai pakaian yang bagus seperti baju kerajaan. Ada mahkota berwarna emas menghiasi kepalanya. Namun beberapa detik kemudian dia berubah lagi ke bentuk semula.
‘Apa dia seorang raja?' batinku.
Aku perlahan menjauh dari tempat itu, aku pun bingung harus pergi kemana semuanya nampak sama, hutan belantara dengan pepohonan rimbun berjejer di setiap sisi.
Suara-suara hewan liar pun membuatku terus waspada, aku terus berjalan lurus tanpa tahu arah. Cukup lama aku mengitari hutan itu sampai membuatku putus asa.
__ADS_1
“Kamu sudah tahu sekarang?” Atmajaya tiba-tiba muncul di hadapanku.
Aku menghela nafas lega, “Alhamdulillah. Untung kamu datang,” ucapku.
“Apa tadi yang aku lihat?” tanyaku pada Atmajaya.
“Itulah perjanjian kami antara manusia. Karena satu pertolongan itu lah yang membuat terciptanya perjanjian ini.”
“Tapi sayangnya sekarang banyak yang sudah melupakan adanya keberadaan kami. Bahkan hampir tidak peduli.”
“Tapi aku tidak,” sahutku.
“Kamu hanya satu dari seratus anak di pulau ini yang mengingat dan mengetahui keberadaan kami,” sahutnya.
“Bahkan tidak sedikit dari mereka melupakan tradisi,” sambungnya.
“Ya ... Mau gimana lagi jaman sudah semakin modern sekarang. Bahkan sungai yang dulunya lebar dan bersih sekarang menjadi menyempit serta banyak sampah,” sahutku.
“Ya kamu tinggal bangun saja.”
“Bangun?”
Tiba-tiba aku melihat cahaya putih semakin lama semakin mendekat cahaya itu begitu silau memburamkan pandanganku, aku menutup mataku lalu membukanya kembali.
Saat membuka mata aku mendapati tubuhku tengah berbaring di kasur. Dari sela-sela dinding papan yang ada di kamarku terlihat sinar matahari mulai masuk.
Aku bangkit dari tempat tidurku lalu mengambil handuk untuk segera mandi. Usai mandi dan berganti baju, aku berpamitan dengan abah untuk berangkat bekerja.
“Bah Aya pergi dulu,” ucapku sambil mencium punggung tangan abah.
“Iya hati-hati,” sahut abah.
__ADS_1
Aku menggoes sepedaku menuju tempat kerja, beberapa karyawan lain sudah terlebih dahulu datang.
“Aya, kamu masuk hari ini? Bukannya kamu kemarin izin berobat?” tanya Denny seorang pastry chief di toko roti itu.
“Saya sudah sembuh kok Pak,” sahutku.
“Syukur kalau begitu, soalnya si Briyan itu kebingungan menghadapi pembeli yang membludak,” sahutnya.
Jika aku biasa memanggil Briyantara itu Iyan namun tidak halnya di toko ini. Dia biasa di panggil Briyan bahkan beberapa ada yang memanggilnya Lesmana.
Aku memakai apron coklat serta topi coklatku, lalu sedikit membersihkan meja kasir serta menatanya kembali hingga siap untuk menyambut pelanggan.
Toko roti milik mama Laras ini cukup besar dan ramai pengunjung tidak heran aku harus berdiri cukup lama untuk melayani pembayaran.
Hingga waktunya toko buka, tanda close pun di rubah menjadi open kami semua siap di posisi masing-masing.
Wangi semerbak roti yang baru keluar dari panggangan pun menyeruak ke seluruh ruangan, aku bahkan bisa mencium berbagai aroma dari mulai aroma coklat, kopi, keju dan lainnya.
Tidak perlu pewangi ruangan lagi karena ketika pelanggan masuk indra penciuman mereka akan dibius dengan wanginya roti.
Beberapa pelanggan mulai berdatangan dan mengambil tray serta pengapit yang tersedia.
Aku mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, bahkan hal ini membuatku menjadi semakin bersemangat.
Aku pun berpikir suatu saat akan belajar dan ingin menjadi pastry chief seperti Pak Denny.
Hai para readers aku yang tercinta.
Jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya aja.
__ADS_1
Nantikan cerita Aya selanjutnya ya.