Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Perkemahan berujung bencana


__ADS_3

 


“kamu belum tidur?” ucap Ibu Irma wali kelasku.


“Bu, Karin kenapa?” ucapku yang melihat Karin terus menatapku dengan tajam.


“Karin ... Karin. Kamu kenapa Nak?”


Karin terus menatapku hingga membuatku takut, dari tenda lain terdengar suara teriakan beberapa siswi serta suara tertawa hal itu membuatku semakin takut.


“Ayo kita bawa Karin keluar!”


Aku membangunkan Nia dan Juga Jasmin.


“Nia ... Jasmin ayo bangun!” aku berusaha membangunkan mereka.


“Ada apa?” tanya Jasmin.


“Ayo kita keluar cepat!”


“Berisik banget sih! Siapa yang teriak tengah malam begini!” ucap Nia yang bangkit dari tidurnya.


“Nia ayo bangun kita keluar!”


Kami semua keluar tenda, Karin di bantu Ibu Guru keluar tenda saat kami keluar ada banyak siswa menangis dan bahkan berteriak.


“Kak mereka kenapa?” tanyaku.


“Mereka kesurupan! Kalian jangan mendekat!”


“Kok bisa, perasaan tadi baik-baik aja,” ucap Nia.


Tidak lama panitia lain datang membawa seorang pria paruh baya mengenakan peci putih.


“Siapa Bapak ini?” tanya ibu Irma.


“Beliau orang sini Bu, saya minta bantuan sama penjaga gerbang depan katanya Bapak ini bisa membantu kita,” sahutnya.


“Saya Sobri warga di sini, rumah saya di seberang.”


“Oh Bapak yang punya warung di depan ya,” sahut Ibu Irma.


“Betul Bu.”


“Pak, bagaimana ini ada banyak siswa yang seperti ini.” 


“Selama saya bermukim di sini, biasanya kalau terjadi kesurupan ada  anak yang jahil dan membuat penunggu di sini marah.”


Pak Sobri melihat ke arah Karin, beliau berjalan menghampiri Karin. Mata Karin langsung melotot dan Karin mundur perlahan. Ibu Irma berusaha menahan Karin hingga ia mulai berontak.


Karin terus mengerang dan berontak, beberapa panitia berusaha memegangi Karin. Jasmin dan Nia merapat dan memegangi tanganku dengan erat.


Terlihat Karin meneriaki Pak Sobri namun anehnya Karin tidak mengeluarkan kata-kata apa pun.

__ADS_1


Pak Sobri mulai melantunkan doa-doa, Karin berteriak histeris hingga suaranya serak.


“Kenapa pian (kamu) mengganggu anak ini? Kita ni lain (bukan) alamnya!” ucap pak Sobri.


“Ha-ha-ha. Aku ketuju lawan anak ini. Inya umpat aku aja! (aku suka sama anak ini. dia ikut aku saja),” sahutnya dengan suara berat.


“Kada kawa! (tidak bisa). Bulik ke alam pian! (pulang ke alammu).”


Pak Sobri mulai melantunkan doa serta memegang kepala Karin, Karin meronta serta berteriak histeris hingga dia tidak sadarkan diri.


Karin dibaringkan ke area mushola yang tersedia, beberapa murid juga sudah di tangani oleh pak Sobri, ada salah satu siswa yang marah-marah dan mengamuk.


Dia berkata jika siswa yang dia rasuki telah merusak kediamannya, tepatnya pohon besar yang ada di dekat danau bahkan sosok yang merasukinya itu ingin membawa siswa itu bersamanya.


“Apa ada yang tahu dia melakukan apa?” ucap panitia kepada seluruh siswa.


“Saya tadi lihat dia pipis sembarangan di samping pohon gede, lalu pohonnya digores-gores pakai pisau kak,” ucap salah satu siswa.


“Kami mewakili siswa ini meminta maaf atas kesalahannya,” ucap panitia.


Seketika siswa itu tak sadarkan diri untungnya pak Sobri bisa mengatasinya walau pun dia juga kewalahan dengan banyaknya siswa yang kerasukan, hal ini juga mengundang para warga sekitar untuk datang karena banyaknya dari siswa yang berteriak serta menangis.


Hingga waktu menunjukkan pukul 05.00 wita, kami semua tidak ada yang tidur, kami berkumpul berdesakkan duduk di mushola yang ada di area perkemahan.


Aku terus melihat kondisi Karin yang sedari tadi tidak sadarkan diri. 


“Panggil namanya tiga kali agar dia bisa kembali,” terdengar seseorang berbisik kepadaku.


“Hah apaan?” ucapku.


“Kamu nanya sama siapa?” ucap Nia.


“Oh ... Enggak aku tadi cuma ngelindur,” sahutku.


Aku mulai memikirkan ucapan itu, perlahan aku berbisik di dekat kuping Karin.


“Karin ... Karin ... Karin. Ayo kembali kami semua menunggumu.”


Hal itu spontan terucap dari mulutku, terlihat Karin seperti menghela nafas panjang dan perlahan membuka matanya.


“Karin. Bu Irma Karin sudah sadar,” ucapku.


“Alhamdulillah.”


Saat membuka matanya Karin langsung menangis tersedu ibu Irma berusaha menenangkan Karin.


“Karin kenapa kamu menangis tenang Nak,” ucap Ibu Irma.


Karin berusaha bicara namun mulutnya seperti susah untuk mengucapkan kata-kata, kami pun panik dan bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Karin.


Pak Sobri yang masih berada di situ pun memberi tahu kepada ibu Irma jika sebelumnya Karin di sembunyikan oleh sosok wewe gombel, hal ini diperjelas dengan kondisi tubuhnya yang berbau amis dan berlendir serta terlihat seperti orang linglung. Pak Sobri juga bilang biasanya yang dia incar adalah anak-anak namun tampaknya sosok itu menyukai Karin karena Karin memiliki kepekaan yang cukup kuat.


“Dia beruntung bisa kembali dengan selamat,” ucap pak Sobri.

__ADS_1


“Setahu saya, jika wewe gombel itu menculik wanita maka akan dia jadikan makananya,” sambungnya.


Kami pun tercengang mendengar hal itu, aku pun baru tahu jika makhluk itu memakan manusia juga. 


“Sebaiknya kalian cepat pulang, tempat ini memang indah dan nyaman tapi jika ada satu saja yang membuat mereka marah maka yang lain pun akan terkena imbasnya,” tutur pak Sobri.


“Pak apa dulu di tempat ini pernah ada yang dimutilasi?” tanyaku.


“Kamu tahu dari mana Ya?” tanya Nia.


“Ohh ... Itu kata temanku kemarin,” ucapku berbohong.


“Benar tepatnya 4 tahun yang lalu ada wanita di perkosa lalu di mutilasi di belakang pohon dekat tenda itu,” Pak Sobri menunjuk tenda kami.


“Lalu tahun kemarin ada yang di penggal kepalanya dan itu juga wanita. Sebenarnya hutan ini sempat ditutup tapi sama pengelolanya dibuka lagi,” tuturnya.


'Berarti yang aku lihat itu kejadian masa lalu?' gumamku dalam hati.


Aku tidak percaya jika aku bisa melihat hal mengerikan semacam itu, bahkan aku masih terbayang bagaimana sadisnya orang-orang itu secara bergantian memutilasi wanita itu.


Waktu terus belalu, matahari mulai memperlihatkan bias cahayanya. Kami semua membereskan barang-barang dan masuk ke dalam bus. Wajah lelah serta mata yang mengantuk terlihat di masing-masing siswa.


Kali ini saat pulang kelompok kami tidak lengkap karena Karin dibawa menggunakan mobil oleh panitia dan juga ibu Irma.


“Ini acara perkemahan terburuk yang pernah aku ikuti,” eluh Nia.


“Tapi setidaknya kita bertiga tidak kenapa-kenapa,” sahut Jasmin.


“Kata ibu Irma besok sekolah kita diliburkan karena banyak siswa yang kerasukan,” ucapku.


“Aya. Besok aku ke rumah kamu ya,” ucap Nia.


“Boleh aja.”


“Aku boleh ikut nggak?” ucap Jasmin.


“Boleh banget.”


“Enak loh di rumah Aya, belakang rumahnya ada sungai besar,” sahut Nia.


“Wah ... Besok kita bareng gimana?” ajak Jasmin.


“Oke, nanti aku hubungi ya.”


Bus pun berjalan menyusuri jalan dan mulai masuk ke pusat kota.


“Banyak banget orang disni sampai jalananya di tutup,” ucapku.


“Ya kan hari minggu Ya.”


“Memang setiap hari minggu jalannya bakalan di tutup?”


“Iya kan car free day, jadi area jalan ini di tutup. Kapan-kapan kamu aku ajak ke sini deh banyak yang jual makanan,” ucap Nia.

__ADS_1


bersambung dulu ya reader. jangan lupa like comment dan hadiahnya.


__ADS_2