Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Berkemah


__ADS_3

“Yeee ... Kita satu kelompok!” pekik Nia girang.


“Kelompok kita siapa aja sih?” tanyaku.


“Aku lihat di papan pengumuman, kelompok kita ada 4 orang, dua lagi dari kelas sebelah.”


“Ya sudah nanti kita cari aja,” sahutku.


Tidak lama ada dua orang siswi mencari namaku dan juga Nia.


“Permisi, di sini yang namanya Maya sama Nia yang mana ya?” 


“Hadir!” teriak Nia sambil mengangkat tangannya.


Mereka pun menghampiri aku dan Nia. “Aku Karin dan ini Jasmin,” ucapnya.


“Kalian yang satu kelompok sama kami ya?” tanyaku.


“Iya, kami dari kelas sebelah.”


“Nah karena kita sudah ngumpul gimana kita bagi tugas sekarang?” ucap Nia.


“Boleh,” sahut Jasmin.


Kami pun membagi tugas untuk membawa peralatan yang diperlukan berkemah, sedangkan untuk makanan kami memutuskan untuk patungan dan membelinya.


Kebetulan aku kebagian membawa alat masak sedangkan Nia membawa alat makan Jasmin dan Karin akan membawa kompor serta alat penerangan dalam tenda.


Usai berbagi tugas kami bertukar nomor Hp lalu Karin dan Jasmin kembali ke kelas mereka. Ini pertama kalinya aku ikut kegiatan seperti ini dan hal ini membuatku cukup antusias.


Saat pulang sekolah aku menyiapkan peralatan masak yang aku butuhkan, sebelumnya aku sudah meminta izin kepada abah dan nenek.


Aku memasukkannya ke dalam kantong kresek, setelahnya aku menyiapkan peralatan untuk aku pakai sendiri seperti baju ganti, handuk, peralatan mandi, dan senter kecil.


Setelahnya aku duduk di depan TV sambil makan karena kebetulan aku sangat lapar. 


“Besok kamu berangkat pakai apa ke sana?” tanya abah.


“Pakai bis Bah.”


“Ini kamu bawa buat jaga-jaga,” abah memberikan selembar uang.


“Tapi ini kebanyakan Bah,”ucapku.


“Udah kamu bawa aja. Kebetulan Abah lagi dapat rejeki,” sahut abah.


“Alhamdulillah, Bisa beli jajan nanti,” ucapku senang.


Tidak disangka ternyata Laras datang ke rumahku dengan tangan yang masih diperban.


“Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam. Masuk Ras,” ucapku.


“Kamu sudah sembuh?” sambungku.


“Sudah dong,” sahutnya.


“Oh iya aku mau cerita Ya.”


“Cerita apaan?”


“kemarin saat aku masih rawat inap di rumah sakit ada kejadian aneh Ya,” tuturnya.

__ADS_1


“Kejadian aneh gimana?”


“Aku kemarin kan di tinggal sendirian sama kakakku, pas magrib infus aku itu mau habis tapi susternya nggak datang jadi terpaksa aku nyari susternya dan ketemu di depan toilet aku minta tolong dia buat gantiin infusku.”


“Lalu?” 


“Nah infusku itu sudah di ganti dan susternya itu pergi. Nggak lama ada suster yang sama masuk lagi sambil bawa peralatan dan infus dia bilang mau ganti infusku.”


“Lah ... Bukannya di baru ganti infus kamu Ras?”


“Makanya aku bingung. Aku bilang sama dia kalau dia baru aja ganti infusku dan pas aku lihat infus aku itu kosong Ya. Nggak ada isinya dan suster itu malah bilang aku lagi halusinasi,” tutur Laras.


“Jangan-jangan itu hantu. Soalnya kan rumah sakit banyak penunggunya.”


“Saat itu aku langsung aja tuh telpon si Iyan buat nemenin aku.”


“Untung kamu enggak kenpa-kenapa Ras. Oh iya besok aku ikut kemah Ras,” ucapku.


“Wah ... Seru banget andai sekolahku juga ngadain. Kemah dimana Ya?” 


“Hutan apa ya aku lupa. Ah ... Hutan pinus!” ucapku.


Laras mengerutkan alisnya. “Hutan yang di kota sebelah itu?” 


“Iya mungkin aku enggak tahu juga Ras aku enggak pernah kemana-mana soalnya.”


“Bukannya tahun kemarin ditutup ya?”


“Ditutup kenapa?”


“Disana pernah ada kasus pembunuhan korbannya wanita pas ditemuin wanita itu lagi ke iket di kursi terus kepalanya gak ada Ya. Dulu hutan itu jadi tempat favorit buat camping. Tapi saat ada kasus itu hutannya di tutup tapi mungin sekarang sudah dibuka lagi.”


“Kok serem sih Ras,” sahutku


“Ras aku serius. Tapi pembunuhnya sudah ketangkep?” tanyaku.


“Udah. Kamu tenang aja Ya,” Laras menepuk pundakku.


“Eh tapi katanya di situ banyak pocongnya Ya.”


“Namanya juga hutan. Lagian aku enggak takut kan aku rame-rame Ras.”


“Ya iya juga sih.”


Aku dan Laras terus berbincang hingga hampir pukul 18.00. Laras pun berpamitan untuk pulang karena sekarang dia tidak diperbolehkan pulang malam oleh orang tuanya.


“Aya aku pulang ya,” ucapnya.


“Oh iya hampir lupa.”


Laras mengambil sesutu yang tergabung di motornya dan memberikannya kepadaku, “ini dari mama aku Ya.”


“Wah kue ... Makasih ya Ras,” ucapku.


“Sama-sama aku pulang ya.”


“Abah Laras bulik (pulang)!” teriak Laras.


“Ya hati-hati belihat lah di jalan (lihat-lihat kalau di jalan).”


Laras menyalakan motornya dan melaju menuju pulang, aku kembali masuk ke dalam rumah dan menaruh kue yang di berikan oleh Laras ke piring.


*** 

__ADS_1


Pagi hari aku bergegas mempersiapkan semua barang bawaanku, kali ini aku di jemput oleh Nia menggunakan motornya. 


Saat sampai di sekolah terlihat sudah banyak yang berkumpul dengan berbagai barang bawaan mereka masing-masing. 


Bus pun datang, para panitia dan guru menyuruh kami untuk masuk satu persatu. Bus berjalan menyusuri jalan, ini pertama kalinya aku keluar rumah dan melihat jalanan. Aku baru tahu jika di kotaku banyak gedung-gedung tinggi serta mall yang besar. 


“Wah ini pertama kalinya aku keluar dan masuk pusat kota,” ucapku.


“Hah? Jadi selama ini kamu dimana? Cuma dirumah?” tanya Nia.


“Iya. Pulang sekolah ya langsung ke rumah seperti itu aja,” sahutku.


“Aku juga baru pertama kali punya teman kaya kamu Ya,” ucapnya.


Mendengar hal itu aku sempat berpikir sekuno itukah aku, tapi aku tidak terlalu memikirkannya aku lebih fokus memperhatikan jalan. 


Bukan hanya gedung tinggi bus juga melaju melewati bandara yang baru saja diresmikan menjadi bandara internasional itu, aku dapat dengan leluasa melihat jejeran pesawat-pesawat yang ada karena lokasinya memang dipinggir jalan.


Aku bahkan bisa melihat pesawat yang datang dan mendarat. Kami pun sampai dilokasi perkemahan, bus berhenti dan kami mulai turun sambil membawa barang-barang kami.


“Wah sejuk banget di sini,” ucapku.


Kami diminta berkumpul terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam lokasi perkemahan. Kami diberi arahan serta penjelasan dalam berkemah.


“Saat di dalam jangan buang sampah atau buang apa pun sembarangan, jangan bersikap buruk atau mengeluarkan kata-kata yang buruk! Jangan merusak pohon dan yang lain di hutan ini mengerti?”


“Mengerti Pak,” sahut kami serentak.


“Tenda sudah disiapkan oleh panitia, kalian bisa mendirikannya bersama kelompok kalian jika butuh bantuan khususnya para siswi   bisa memintanya ke kakak kelas.”


Kami pun masuk ke dalam area perkemahan dan langsung mendirikan tenda.


“Aya kamu pernah bikin tenda?” tanya Nia.


“Pernah waktu main rumah-rumahan,” sahutku polos.


“Hah mana ngaruh! Ya sudah kita coba dirikan dulu,” ucap Nia.


Kami berhasil mendirikan tenda tanpa harus meminta bantuan kepada kakak kelas, aku dan kelompokku menyusun semua peralatan di tenda.


Setelahnya kami keluar dan berjalan santai menyusuri hutan pinus.


“Sejuk banget padahal sudah tengah hari,” ucap Nia.


“Kalau kita jalan masuk ke sana ada apa aja ya?” ucap Jasmin.


“Mau coba?” tanyaku.


“Boleh. Ayo!” Karin berjalan mendahului kami.


Kami terus berjalan lurus jauh masuk ke dalam dan menemukan hamparan danau dengan air yang jernih dan tenang.


Kami bermain-main dengan sejuknya air danau hingga kami lupa waktu. Seorang panitia datang dan menghampiri kami yang tengah asyik bermain air di danau itu.


“Kalian jangan main disitu! Ayo kembali ke tenda!” ucapnya.


“Kenapa Kak? Kami kan cuma main di pinggir lagian kita nggak basah-basahan kok,” sahut Karin.


“Disini bahaya! Ayo cepat kembali!” 


Dengan tatapan masam Karin mengentakkan kakinya di depan panitia itu lalu berjalan mendahului kami semua.


“Sepertinya Karin kesal,” ucap Nia.

__ADS_1


“Yah ... Karin mang seperti itu jadi biarkan aja. Ayo kita balik,” ajak Jasmin.


__ADS_2