Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Keputusanku


__ADS_3

(Tamat)


Ting!


Terdengar pesan masuk, saat aku buka ternyata itu dari mbak Sarah.


"Aya aku dengar semuanya," tulis mbak Sarah di pesan.


"Dengar apa maksudnya mbak?" balasku.


"Yang di ucapkan orang yang ada di sebelahmu tadi."


"Mbak bisa lihat?"


"Semenjak aku membaca mantra itu aku jadi bisa melihat mereka."


"Jadi mbak sudah dapat jawabannya kan."


"Iya terima kasih ya Aya, untung kamu menjengukku," balasnya.


"Sama-sama mbak, tapi sebenarnya ini bukan karena aku. Tapi memang sudah jalannya seperti ini," balasku.


Mbak Sarah hanya membalas chatku dengan mengirimkan stiker. 


Aku menghampiri abah yang tengah duduk di depan TV.


"Bah, Aya tidak masalah jika harus melakukan ritual melabuh seperti Abah," ucapku.


"Nanti saja dipikirkannya, sampai kamu ikhlas menerimanya," sahut Abah.


"Aya ikhlas dan sudah menerimanya," sahutku.


"Apa kamu yakin? Kamu jangan memaksakan Aya, jika kamu ingin terbebas dari hal ini abah akan berusaha mencari cara," tutur Abah.


"Gak Bah Aya sudah yakin dengan keputusan ini," sahutku.


Aku berpamitan untuk masuk kamar terlebih dahulu kepada abah, saat di kamar Atmajaya sudah duduk di kursi meja belajarku.


"Kamu berarti sudah menerimaku," ucap Atmajaya.


"Kamu lebih tahu aku kan."


"Kenapa kamu berubah pikiran?"


"Ucapan Dewi tempo hari membuatku tersadar, hal ini tidak membuat hidupku berakhir jadi kenapa aku harus ambil pusing."

__ADS_1


"Dan lagi aku juga tidak ingin melupakan tradisi adat turun temurun ini," sambungku.


"Itu sebabnya hari ini aku muncul di hadapanmu lagi," sahut Atmajaya.


"Sudah aku bilang kan kamu tahu aku. Aku ingin ke sana," ucapku.


"Tinggal niatkan dalam hatimu, fokuskan pikiranmu dan meminta izin kepada sang Kuasa."


Aku pun mencoba apa yang Atmajaya suruh, dengan sekejap aku dan Atmajaya sudah berada di dalam sungai.


Atmajaya menuntunku masuk ke dalam hingga aku berada di depan istana itu. 


"Di sini masih siang hari," ucapku.


"Kita tidak hanya berbeda alam, namun juga berbeda dimensi serta waktu," sahut Atmajaya.


Aku dan Atmajaya berjalan masuk ke dalam istana berhiaskan emas itu, istana itu terlihat tampak lebih indah dan berkilau dari pertama kali aku ke sini.


Aku bahkan tidak merasa seperti di dalam air, ada banyak pepohonan yang berbuah serta bunga-bunga yang mekar di sekitaran istana.


"Aneh sebelumnya pohon itu gak ada," ucapku.


"Hati manusia akan mempengaruhi penglihatannya, jadi nikmati lah," sahut Atmajaya.


"Ada lebih banyak hal yang aku tahu dan kamu tidak tahu begitu pula sebaliknya."


Aku masuk dan bertemu Pangeran Suriyan. Rasanya sudah sangat lama aku tidak menemui dan menginjakkan kaki di istana ini.


"Selamat datang kembali anakku," sambut Pangeran Suriyan.


"Akhirnya kamu mau masuk lagi ke istanaku ini," sambungnya. 


"Iya sudah lama sekali," sahutku.


"Jangan sungkan untuk berkunjung anakku."


"Baik Pangeran," sahutku.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan, jangan ada kata terpaksa lakukanlah dengan ikhlas apa yang sudah ditetapkan. Kami tidak meminta lebih dari itu kami juga tidak akan menjadi pengganggu sepeti yang penerus lain pikirkan," ucapnya.


"Datang lah kemari sesuka hatimu, pintu istana ini terbuka lebar untukmu."


"Terima kasih Pangeran. Akan saya ingat pesan dari Pangeran."


Aku pun berpamitan kepada Pangeran Suriyan, Atmajaya membawa ku kembali.

__ADS_1


Aku pun membuka mata dan tersadar.


“Terima kasih karena sudah mau mengajakku masuk ke sana lagi,” ucapku.


“Sama-sama.”


Atmajaya pun pergi dan aku mulai membaringkan tubuhku ke kasur karena sudah hampir larut malam.


Beberapa hari berlalu Iyan mendaftarkan aku ke kursus tata boga khusus pastry. 


Rasanya aku sangat senang, ada banyak teman baru serta pengalaman baru yang aku dapatkan, di rumah aku mulai belajar membuat berbagai macam roti serta kue dan banyak respon positif ketika roti serta kue itu aku bagikan kepada tetangga sekitar.


Semangatku semakin kuat berkat semangat yang selalu abah berikan kepadaku. 


Hingga akhirnya aku bekerja di toko baru milik bang Iyan dan posisiku sekarang bukanlah penjaga kasir lagi melainkan sebagai pastry chief.


*** 


“Bah sudah siap semua,” ucapku.


Abah melihat jam dinding lembayung senja juga mulai terlihat, lalu menyuruhku segera melakukannya.


Aku berjalan mengitari papan kecil dan duduk di atasnya. Aku menepuk air sungai sebanyak 3 kali.


“Asslamualaikum, Atmajaya aku Maya Lukita binti Rahmad ingin memberikan sesaji untukmu.”


Aku menaruh sesaji dan melabuhnya ke dalam air, di bawah sana sudah ada Atmajaya yang mengambil sesaji labuhanku.


Perkembangan zaman serta canggihnya teknologi, membuat banyak anak muda melupakan bahkan meninggalkan adat istiadatnya dan lebih memilih hal-hal yang menurut mereka tengah trend dan lebih keren ketimbang harus meneruskan tradisi turun temurun dari nenek moyang.


Ada banyak persepsi tentang ritual adat. 


Namun terlepas dari semua persepsi itu, sebaiknya kita jangan sampai melupakan adat istiadat serta tradisi kita masing-masing.


Karena diluar sana masyarakat Indonesia terkenal dengan adat istiadat, tradisi serta bahasa daerahnya yang sangat beragam.


TAMAT


Gaes terima kasih karena sudah setia membaca cerita urban legend tentang istana di bawah sungai ini.


Author sangat senang dengan reaksi positif serta dukungan yang kalian berikan.


Karena ini kali pertama Author membawakan novel yang memasukkan unsur adat, mitos, serta bahasa Banjar, walaupun tidak sepenuhnya.


Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua, salam dariku anak Kalimantan. 

__ADS_1


__ADS_2