
Butuh waktu lama agar aku bisa sampai ke rumah, entah apa yang harus aku ucapkan rasa syukur atau malah kata umpatan. Aku bahkan bingung membandingkan mana manusia mana yang bukan, semua terlihat sama sekarang.
Hingga aku sampai di rumah. Aku terkesima melihat hal tidak terduga.
'Ini rumahku kan?' pikirku.
Sebuah gerbang besar berada di samping kanan dan kiri rumahku, air di sekitarnya pun terlihat sangat bening seperti kaca. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan berjalan ke sungai belakang.
Benar saja air sungai itu sangat jernih aku bahkan bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Ada banyak jenis ikan, udang, serta biota sungai lainnya jumlahnya tidak terhingga berenang di sekitar sungai aku seperti berada di atas akuarium besar.
'Ikannya banyak banget, ini kah sumber daya yang di maksud pangeran itu?' pikirku.
'Apa ini cuma penglihatanku saja?' gumamku.
Hingga abah muncul di belakangku.
“Beapa ikam di sini Maya? (ngapain kamu di sini Maya?”
“Bah, banyu nih jernih banar (Bah, air ini jernih sekali),” ucapku sambil memandangi sungai.
“Jernih datang dari mana? Banyu karuh (keruh) kaya ini disambat (dibilang) jernih.”
Ucapan Abah kali ini membuatku yakin jika hanya mataku saja yang melihat hal itu.
Di tambah lagi aku dengan sangat jelas melihat istana itu. Ya, istana buaya itu aku benar-benar melihatnya.
Buaya-buaya itu terlihat berlalu lalang mengelilingi istana, hanya ada dua warna yang aku lihat buaya kuning dan buaya putih.
Aku beranggapan jika yang putih itu adalah albino, seperti yang aku baca di buku biologi tentang kelainan gen.
Aku terus memperhatikan istana berkilau berhiaskan emas itu dari atas papan yang aku pijak, bentuknya seperti rumah adat namun lebih megah dengan ornamen-ornamen khas Banjar. Aku melihat lambat laun wujud mereka berubah dari buaya menjadi manusia dengan pakaian khas kerajaan mirip seperti drama kolosal tapi yang mereka pakai lebih bagus.
Seluas sungai membentang seluas itu juga istana itu. Perahu yang lalu lalang pun tidak mempengaruhi aktivitas mereka. Aku baru menyadari ini lah yang dimaksud hidup berdampingan dengan makhluk dunia lain.
Aku duduk di papan itu sembari terus melihat berbagai ikan yang berlalu lalang bahkan aku melihat adanya bias-bias cahaya namun aku tidak tahu itu apa.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Saat berganti pakaian pun aku merasa risih karena mereka ada dan terus melihat ke arahku.
Aku menarik nafas dan memberanikan diri.
“Pergi dulu sana! Aku mau ganti baju!” ucapku sambil melempar baju ke pojokkan kamar.
Rupanya dengan cara itu berhasil, sosok itu hilang alau kembali lagi saat aku selesai berganti pakaian.
__ADS_1
'Ohh ... Mereka bisa juga ya di gituin aku baru tahu,' gumamku.
'Mungkin lain kali aku harus lebih sopan,' pikirku.
Stigma ku seketika menjadi berubah, aku bahkan mencoba beberapa kali seperti saat aku ingin mengambil nasi di dapur, aku melihat sosok kuntilanak berdiri di pojok dapur dia memandangiku saat aku menyendok nasi ke piring.
“Handak (mau) kah? Nah ku beri sedikit,” ucapku sambil menyendok nasi ke piring kecil dan menaruhnya di pojok lantai.
Aku masuk ke dalam dan duduk di depan TV.
“Makanan berataan Handak ambil sorangan! (semuanya makan, kalau mau ambil sendiri),” ucapku nemawarkan makananku.
Aku membaca doa lalu menikmati makananku sambil menonton TV, hingga ada satu makhluk astral yang tiba-tiba lewat di depanku saat aku makan.
Aku terperangah melihatnya karena itu tidak sopan membuatku sedikit kesal sambil mengomel aku membuang makanan itu. Karena saat kecil almarhumah ibuku mengajarkan jika makanan sudah di langkahi orang tidak boleh dimakan nanti jadi hantu.
Namun aku berpikir lagi yang melangkahi adalah hantu bukan orang.
'Kata uma (mama/ibu) kalau nasi dilangkahi orang nanti mati jadi hantu, nah kalau hantu yang langkahin gimana?' gumamku sendirian di dapur.
Konsep seperti ini sedikit membuatku bingung, namun makanan sudah terlanjur aku buang dan dimanakan ikan.
Aku kembali mengambil makanan dan duduk di depan TV untuk menonton kartun kotak kuning.
'Apa aku bisa ke sana lagi ya? Kalau langsung terjun ke sungai ada dua kemungkinan sih. Tenggelam atau sampai ke sana,' pikirku.
Tiba-tiba aku teringat dengan sosok pria dari istana itu, aku tidak memberikan dia nama. Beberapa kali dia meminta aku untuk memberinya nama namun aku tidak memedulikannya.
Setelah makan dan mencuci piring bekas makanku, aku berjalan di papan dan mencoba sesuatu.
Aku mencoba memanggil pria yang ada di istana itu.
Aku memakai metode yang di lakukan abah saat melabuh. Aku menepuk air itu sebanyak tiga kali dan menyebutkan namaku.
“Assalamualaikum. Aku Maya Lukita Binti Rahmad memanggil kamu yang belum aku beri nama,” ucapku.
Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, karena ini hanya bahan eksperimenku saja.
“Ada apa?” suara pria di sebelahku membuatku kaget.
“Kamu ... Kamu beneran datang.”
“Kamu memanggilku jadi aku datang.”
__ADS_1
“Aku mau memberimu nama,” sahutku.
“Mau nama seperti apa? Artis korea? Artis indonesia? Atau bagaimana?” sambungku.
“Apapun itu jika kamu yang memberikan aku sangat senang.”
Aku melihat ke arahnya memandangi wajah orientalnya dengan mata sipit serta hidung mancung, berkulit putih dan bertubuh tegap hingga memutuskan memberinya nama.
“Ken? Kay? Ah ... Gimana kalau Atmajaya?” ucapku.
“Baik sepertinya bagus,” sahutnya.
“Oke berarti nama kamu Atmajaya yang artinya jiwa yang berjaya,” pungkasku.
“Tapi aku tidak memiliki jiwa, aku hanyalah sukma,” sahutnya.
“Atma dalam kamus yang aku pelajari itu artinya jiwa, arwah, dan sukma.”
“Jika kamu seorang pangeran atau raja mungkin akan lebih bagus jadi memanggilmu pangeran Atmajaya atau Raja Atmajaya,” ucapku sambil tertawa.
“Baiklah aku setuju.”
“Sepertinya umurmu sudah cukup makanya kamu bisa seperti ini,” ucapnya.
“Maksudnya gimana?”
“Tutup matamu sebentar,” pintanya.
Tanpa ragu aku pun menutup mataku, entah apa yang ingin ia lakukan. Aku hanya bisa merasakan hawa dingin di daerah mata dan keningku.
“Sudah, bukalah.”
“Aku kamu apain?” tanyaku.
“Memberikan sedikit hadiah, agar penglihatanmu lebih bisa dikendalikan.”
“Cara pakainya gimana?”
“Berkatalah dalam hati apa yang ingin kamu lihat maka kamu akan melihatnya. Tapi ingat satu hal jangan pernah terpengaruh karena yang kamu lihat belum tentu itu hal yang sebenarnya.”
“Mereka bisa mengelabui mata dan pikiran manusia namun tidak dengan hatinya. Tapi jika pikiranmu terus terpengaruh maka hatimu akan ikut terpengaruh. Banyak orang di dunia ini sombong dengan apa yang bisa mereka lihat tapi, mereka sering melupakan hatinya.”
“Kata-kata kamu hampir sama dengan almarhum kakeku. Apa kamu setua itu?” tanyaku.
__ADS_1
“Bahkan aku ada sebelum ada kakekmu,” sahutnya.