
“Bawa siapa dia kan sendiri,” ucap Abah.
“Tapi Bah.”
“Udah masuk tidur kamu jangan berpikran aneh-aneh.”
'Semoga Laras baik-baik saja,' gumamku.
Aku pun menutup pintu dan langsung masuk ke dalam kamar, malam seketika hening karena abah juga sudah masuk ke dalam kamar.
Aku mengambil Hp dan mengirim pesan singkat kepada Laras agar ia berhati-hati di jalan.
Aku merebahkan diriku ke kasur dan mulai memejamkan mataku. Saat berada di penghujung alam bawah sadar aku kembali bermimpi.
Aku berada di belakang rumahku, aku melihat seseorang tiba-tiba berada di sampingku. Ia laki-laki berambut panjang dengan pakaian khas kerajaan. Aku bahkan berpikir jika orang itu adalah seorang artis yang sedang memerankan karakter di serial laga.
Ia tersenyum kepada ku, ia menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam sungai. Rasanya sangat nyata bahkan dinginnya air itu begitu terasa dengan jelas di lapisan kulitku.
“Aku bernafas. Aku bisa bernafas dalam air!” pekikku dengan heboh.
“Kamu mau bawa aku kemana?”
Aku terus bertanya kepadanya namun ia tidak menjawab pertanyaanku. Aku berenang dengan posisi tanganku di pegangi oleh pria itu. Hingga aku melihat sebuah kerajaan megah yang sangat bersinar penuh dengan emas.
“I-ini tempat apaan?” ucapku.
“Selamat datang di istanaku,” ucap pria yang membawaku.
“Istana?”
“Ayahmu sudah dipercaya untuk merawat salah satu dari kami,” ucapnya.
“Memang kalian siapa? Apa iya kalian lahir dari telur? Itu aneh.”
“Telur itu hanyalah simbol.”
“Maksudnya?”
“Kelak kamu akan mengetahuinya,” sahutnya.
Ia membawaku masuk ke dalam istana penuh dengan kilauan emas itu, aku melihat banyak buaya berlalu-lalang di dalam istana itu tapi mereka berwarna kuning bukan putih ataupun hitam.
Ia membawaku ke sebuah ruangan dengan singgasana besar terbuat dari emas.
'Semuanya emas?' gumamku.
“Ya. Apa kamu mau?”
“Kamu dengar apa yang aku katakan?”
“Tentu. Bahkan aku bisa tahu isi dari hatimu.”
“Kalau kamu mau kamu bisa ambil saja,” ucapnya.
“A-aku tidak mau. Terima kasih,” ucapku.
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanyaku lagi.
“Kamu harus memberiku nama,” ucapnya.
“Hah? Kenapa aku? Aku bukan orang tuamu,” ucapku menolak.
“Tapi kamu pemilikku.”
Tiba-tiba suara alarm dari Hp-ku berdering berulang kali. Aku langsung terbangun dan bangkit dari kasur. Aku melihat matahari sudah mulai masuk ke sela-sela jendela kamarku.
Aku bangkit dan bergegas untuk mandi lalu memakai seragam. Aku melihat pesan singkat di Hp-ku dibalas oleh Laras.
“Aya aku jatuh dari motor tadi malam,” balas Laras di pesan.
Tanpa pikir panjang aku menelepon Laras.
“Halo Aya,” ucap Laras di telepon.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanyaku.
“Aman! Cuma lecet sedikit,” sahut Laras sambil tertawa cengengesan.
“Aku serius Ras, soalnya tadi malam saat kamu pulang aki lihat kamu bonceng orang!”
“Iya bonceng kuntilanak makanya aku jatuh!” sahutnya.
“Astagfirullah. Lalu kamu gimana?”
“Tenang cuma lecet dikit sama ada jahitan di tangan. Nggak banyak kok cuma tiga.”
“Di rumah sakit. Kamu jangan panik gitu dong Aya aku kan masih hidup.”
“Habis pulang sekolah aku jenguk kamu ya”
“Oke aku tunggu ya Aya,” sahutnya senang.
Aku menutup telepon dan mengabarkan kepada abah jika Laras jatuh dari motor dan sekarang berada di rumah sakit. Abah terkejut dan bilang akan menjenguknya.
Laras mengirimkan alamat rumah sakit di mana ia di rawat. Rencananya aku akan datang ke sana bersama Abah.
Aku berangkat ke sekolah seperti biasa dan menjalani pelajaran dengan lancar sampai aku tanpa sadar teringat tentang anak laki-laki yang aku lihat di kelas. Saat jam istirahat aku pun bercerita kepada Nia.
“Nia kemarin pas pulang sekolah aki lihat anak laki-laki di ujung kelas,” ucapku.
“Siapa? Teman sekelas kita?”
Aku menggelengkan kepala. “Aku awalnya nggak sadar kalau di kelas kita itu nggak ada murid baru.”
“Pas aku sendirian belum pulang, aku lihat ada anak laki-laki duduk di kursi kosong yang rusak itu. Aku ajak pulang bareng dia diam aja.”
“Ih ... Itu kan bangkunya nggak bisa didudukin Ras kalo diduduki langsung patah,” sahut Nia.
“Aku kan lupa. Terus anak itu diam nggak ngomong apa-apa,” sahutku.
“Aku coba tarik tangannya buat pulang tapi tangannya dingin baget, dan dia nggak mau. Jadi aku putusin pulang aja ninggalin dia,” sambungku.
__ADS_1
“Ih aku kok merinding sih Ya. Terus kamu tahu itu hantu gimana?”
“Pas aku mau pulang aku pamitan sama dia terus dia bilang hati-hati. Aku noleh ke belakang dia udah nggak ada lagi.”
“Berarti gosip itu bener ada hantu di sekolah kita!”
“Yah setiap tempat kan ada penunggunya Nia.”
Denting bel berbunyi tanda jika jam istirahat berakhir. Aku dan Nia bergegas masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran selanjutnya.
Aku menjalani kelas dengan lancar hingga di penghujung waktu pelajaran. Aku membereskan semua buku dan memasukkannya ke dalam tas dan bergegas menggoes sepedaku untuk pulang ke rumah.
“Assalamualaikum,” ucapku sambil masuk ke dalam rumah.
“Walaikumsalam,” sahut nenek.
“Abah mana?”
“Pergi tadi ada tetangga yang meninggal jadi Abah kamu ke sama,” sahut nenek.
“Ya sudah. Aya izin mau ke rumah sakit ya Ni. Mau jenguk Laras.”
“Ya sudah kamu hati-hati di jalan.”
Aku menggowes sepedaku menuju rumah sakit Laras di rawat, jarak dari rumahku ke rumah sakit lumayan memakan waktu jika memakai sepeda.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku mencari nama ruangan tempat Laras di rawat.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Walaikumsalam. Masuk Ya.” Ucap Laras.
Saat masuk aku terkejut jika cukup banyak luka di wajah Laras, bahkan bibirnya membiru dan bengkak.
“Ya Allah Ras. Kenapa kamu bisa kaya gini?” tanyaku.
“Pas aku mau keluar jalan rumah kamu aku lihat di spion motorku ada yang ikut. Aku kaget tapi aku tetap aja jalan tancap gas sekencang mungkin sampai jalan raya aku lihat ada orang mau nyebrang dengan tiba-tiba. Aku kaget langsung banting ke kanan nabrak trotoar dan aku mental,” tuturnya dengan panjang lebar.
“Kaya gini aja kamu masih bisa ketawa Ras,” ucapku.
“Yang penting masih hidup aku Ya,” sahutnya tertawa.
Mendengar ucapannya itu aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
“Aku khawatir banget sama kamu Ras.”
“Udah aku masih hidup gini kok,” sahutnya dengan enteng.
“Ah sudahlah. Yang penting kamu selamat,” ucapku karena kesal dengan jawaban Laras yang menyepelekan hidupnya.
Aku terus berbincang dengan Laras hingga tanpa terasa waktu telah menjelang sore hari. Aku berpamitan dengan Laras karena ingin pulang.
“Ras aku pulang ya. Kami cepat sembuh ya.”
“Iya besok aku sudah boleh pulang. Kamu hati-hati Ya.”
__ADS_1
Aku pun beranjak dari rumah sakit menggowes sepedaku menuju rumah.