
“Ras kamu udah tidur?” tanyaku.
“Belum, kenapa memangnya?”
“Aku jadi ingat omongan nenek dulu,” ucapku.
“Apa memangnya?”
“Tentang penerus.”
“Penerus? Apa maksudnya?” tanya Laras.
“Kalau yang punya inguan sudah meninggal maka yang akan meneruskan itu anak atau cucunya,” ucapku.
“Kalau gitu bisa aja kan nanti yang nerusin acil (tante) Rosmala,” sahut Laras.
“Katanya tergantung, buaya itu mau ikut yang mana,” sahutku.
“Ooo ... Gitu. Kalau dia milih kamu gimana Ya?”
“Aku gak tahu, aku masih belum siap.”
“Kalau keluarga ku dulu ada juga tapi bedanya penerus ilmu,” sahut Laras.
“Ilmu apa? Kebal?”
“Ya bukanlah. Tapi kaya pengasihan gitu aku juga gak terlalu ngerti sih, nah yang sekarang mewarisi ilmu itu pamanku yang ada di Cilacap.”
Aku menghela nafas, “ya sudah lah gak perlu dibahas, aku udah ngantuk juga,” sahutku.
“Iya mataku juga udah sepet.”
Aku menarik selimut dan tertidur lelap, saat aku memejamkan mataku bayang-bayang wajah nenek masih terlintas bahkan suaranya ketika memanggil namaku begitu jelas masih terdengar.
__ADS_1
“Maya.”
“Uuuu Maya.”
Aku tersentak, aku benar-benar mendengar nenek memanggil namaku.
Suara itu begitu jelas bahkan seperti di samping telingaku.
Aku mencari-cari ke beberapa sisi kamar, aku mengira nenek mendatangiku. Namun aku tidak melihat siapa pun di kamar kecuali aku dan Laras yang tengah tertidur pulas.
'Ah ... Mungkin aku terbawa suasana,' pikirku.
Aku kembali melanjutkan tidurku, saat aku sudah berada di alam bawah sadarku, aku kembali mendengar seperti ada tang memanggilku.
Namun kali ini suara laki-laki, aku perlahan membuka mataku. Aku terkejut bukan kepalang mengetahui diriku berada di tengah sungai.
Aku berusaha berenang ke tepi namun seperti ada yang menarik kakiku dari dalam air. Aku berteriak histeris tarikannya bwgitu kuat hingga aku kewalahan.
Aku dengan jelas merasakan sesak, bahkan terminum air yang cukup banyak. Hingga seseorang memegangi tanganku dan menarikku ke permukaan.
“Uhhhuukk ... Uhuuuk!”
Dengan nafas tersengal-sengal aku berusaha menjauh dari sungai.
“Apa itu tadi?”
“Hantu banyu.”
Aku menoleh, rupanya orang yang menolongku adalah Atmajaya.
“Terima kasih kamu sudah menolngku,” ucapku.
“Ngomong-ngomong, apa memang hantu banyu itu perempuan?”
__ADS_1
Atmajaya menggelengkan kepalanya, “Mereka sebenarnya adalah Jin yang tidak memiliki wujud, transparan seperti air,” tutur Atmajaya.
'Transparan?' gumaku.
Aku memikirkan sesosok monter di film kartun yang juga tubuhnya transparan, namun memiliki mulut dan juga mata.
“Apa seperti monster di kartun?” tanyaku.
“Kartun? Apa itu?”
“Yah ... Aku nanya dia balik nanya.”
“Katamu dia gak memiliki wujud, terus kenapa tadi aku lihat dia wujudnya cewek?”
“Dia mengambilnya.”
“Kenapa harus cewek? Kan ada cowok juga atau bentuk hewan gitu,” ucapku.
“Karena di sini banyak wanita yang melakukan kesalahan di air, maka dari itu mereka mengambil wujudnya,” sahut Atmajaya.
“Maksud kamu apa? Apa yang bisa di lakukan di air coba? Apa lagi ini sungai bukan pantai atau kolam renang,” protesku.
“Ada banyak wanita berjalan dan berhenti di atas sungai (jembatan) dengan perasaan sedih, sakit hati, marah, depresi dan sebagainya. Mereka memilih terjun dari atas sana hingga mereka meninggal. Wujud dan perasaan itu lah yang diambil oleh jin tersebut,” tutur Atmajaya.
“Iya sih masuk akal juga,” sahutku.
“Kembali lah. Aku tidak memaksamu untuk menerima kehadiranku, tapi jika kamu sudah menerimanya maka kamu bisa menemuiku kapan saja.”
Seketika Atmajaya menghilang setelah mengucapkan hal itu. Aku pun langsung terbangun dari tidurku akibat tamparan dari tangan Laras.
“Astaga Laras, kamu tidur atau lagi berantem sih!” ucapku yang langsung terbangun sambil mengusap wajahku.
Kebiasaan buruk Laras saat tidur dia bisa ngelantur sambil berbicara bahkan tidak jarang dia main tangan saat tidur. Aku sudah sering terkejut jika tidur bersama Laras dia bisa tiba-tiba tertawa saat tidur hingga mengajakku bicara sambil terus memanggil namaku.
__ADS_1