
“Ma apa buhan Walanda ni kamari? (ngapain orang Belanda ini kemari?)” ucap salah seorang di dermaga itu.
Dalam etnis suku Banjar orang-orang menyebut Belanda sebagai Walanda ada juga yang menyebut Balanda.
“Kada tahu. Apa kah pulang nang diincarnya di kampung kita ni. (Tidak tahu. Apa lagi yang di incar di kampung kita ini)”
Rupanya percakapan mereka itu terdengar oleh pria Belanda itu dia menyipitkan matanya serta memiringkan sedikit kepalanya.
“Waar hebben ze het over? lk grijp net niet. (apa yang mereka bicarakan? Aku tidak mengerti)” ucapnya kepada pria di sebelahnya.
“Ze lijken de lokale taal te spreken. (sepertinya mereka memakai bahasa daerah)”
"Spreken ze indonesisch? (apa mereka bisa bahasa Indonesia?)"
"lk ken luitenant niet, laten we gewoon proberen met ze te communiceren. (entahlah Letnan, kita coba saja berkomunikasi dengan mereka)”
“Apa kalian bisa bahasa?” ucapnya kepada beberapa warga.
“Apa jar nya? (dia bilang apa?)” salah seorang warga bertanya kepada temannya.
“Jar nya kita ni nah bisa kah bepandir bahasa indonesia, (kata dia kita ini apa bisa berbahasa Indonesia)” sahut seorang pemuda yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
“Oooo ... Bisa sedikit Meneer,” sahut warga itu.
“Di kampung ini ramai. Banyak orang,” ucapnya.
“Iya banyak pandatang bejualan di sini. Handak me apa di sini? (Mau ngapain di sini?)” tanyanya.
Wajah sang Meneer terlihat bingung mendengar ucapan warga tersebut.
“Mereka bertanya. Kalian mau apa ke sini?” tanya pemuda tadi.
“Kami hanya ingin membeli sumber daya di sini,” sahut pria Belanda itu.
Namun, tidak dengan pemuda yang tadi dia terus memperhatikan para tentara Belanda itu beserta pemimpinnya.
Hingga pria yang mereka panggil Letnan itu berbicara kepada pria yang berada di sampingnya. Lagi-lagi mereka berbicara dengan bahasa mereka.
"Hij zegt dat er hier een schat is, we moeten hem vinden! ( Dia bilang di sini terdapat harta, kita harus mencarinya!)" ucap Letnan itu.
"Zei hij onder deze river. (Dia bilang di bawah sungai ini)" sahut pria di sebelahnya.
"We moeten hem pakken voordat ze erachter komen! (Kita harus segera membawanya sebelum mereka tahu!)”
__ADS_1
'Dia? Dia siapa maksudnya? Apa salah satu pemberontak yang bekerja sama dengan mereka?' pikirku.
Aku terus memperhatikan mereka sampai salah seorang tentara berteriak dengan bahasa belanda.
"Luitenant! Ons schip heeft enn probleem! (Letnan! Kapal kita terjadi masalah!)" teriak prajurit Belanda itu yang tengah berada di atas kapal.
"Wat er is gebeurd? (Apa yang terjadi?)" sahut pria di samping Letnan itu.
"Romp brak! Ons schip zal zinken. (lambung kapal pecah! kapal kita akan tenggelam)"
Kedua pria Belanda itu berlari ke arah kapal dengan wajah sedikit panik.
“Kalian tidak bisa berlaku jahat di tanah kami! Ini lah akibatnya,” ucap pemuda tadi dengan lantang.
Mata sini pria Belanda itu menatap tajam ke arah pemuda itu. Pemuda itu tersenyum masan sambil membalas tatapan dari pria Belanda.
Dan benar saja kapal Belanda itu mulai miring, beberapa prajurit terjun ke sungai untuk menyelamatkan diri.
Tanpa sadar aku sudah kembali di alamku semula, aku tertegun karena bisa melihat langsung kejadian itu. Aku juga sempat melihat kejadian dimana ada seseorang dari kampungku berusaha mengambil sebagian besi tua dari bangkai kapal itu untuk dijual.
Namun, belum sempat menjualnya orang itu malah sudah tertimpa sial bahkan lebih buruk. Orang itu kecelakaan saat membawa tumpukan besi tua bekas bangkai kapal Belanda dengan gerobaknya.
__ADS_1