Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Acara syukuran


__ADS_3

“Aya di sini lagi ada acara?” tanya Nia.


“Iya, ada syukuran nanti malam,” sahutku.


“Rame banget ya, semuanya pada ikut membantu. Ini mang harus pakai kayu bakar? Kan ada kompor gas,” ucap Nia.


“Iya tapi memang tradisinya begini. Lagian kalau pakai kayu bakar lebih enak rasanya,” sahutku.


“Iya juga sih, tapi asapnya aku enggak sanggup! Mataku perih!” ucap Jasmin.


“Kamu jangan dekat-dekat di sana Jasmin,” ucapku.


“Oh iya. Memang enggak apa-apa masak di bawah sini kenapa enggak di pinggir sana?” tanya Nia.


“Enggak tahu, yang punya acara nyuruhnya masak di sini jadi kami ikutin aja.”


Kebetulan Nia dan Jasmin berkunjung ke rumahku pada saat ada acara syukuran salah satu tetanggaku. Biasanya kami akan bersama-sama membantu yang punya acara untuk masak dan mempersiapkan hal lainnya. Pemilik acara meminta untuk memasak di bawah jalan tepatnya di tanah pinggir sungai karena air sedang surut jadi kami bisa memanfaatkan tanah kosong itu.


“Ya ... Aya ini kenapa kok tanahnya retak-retak?” pekik Nia.


Semakin lama tanah itu semakin renggang, aku Nia dan Jasmin pun mundur. Tanah yang awalnya rata tiba-tiba amblas bumbu yang kami masak pun jatuh ke sungai beserta wajan besarnya.


Semua orang panik karena bumbu beserta wajannya hanyut ke sungai. Seorang tetua yang ada tempatku pun menyuruh yang lain untuk segera memindah tempat memasak agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


“Sangit ini ampunnya buhan ikam bemasak di sini! (Pemiliknya marah karena kalian memasak di sini)”


“Siapa paman yang sangit (marah)?” tanyaku.


“Ampun (milik/pemilik) sungai ini.”


Tetua kampung yang tidak lain adalah pamanku sendiri itu meminta yang punya acara untuk segera menyiapkan sesaji untuk melabuh, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada seluruh keluarga pemilik acara.


“Aya. Melabuh itu apaan?” tanya Jasmin.


“Itu tradisi kami kata nenek itu turun temurun. Memberi sesaji di sungai dilakukannya saat mau adzan magrib berkumandang,” sahutku.


“Aku jadi penasaran, kalau liat prosesnya boleh nggak sih?” tanya Nia.


“Boleh kok.”


“Tapi bumbunya sayang banget pasti yang punya acara harus ngeluarin uang lagi buat beli bahan,” 


“Yah mau gimana lagi,” sahutku.


“Tapi aneh banget nggak sih itu tanahnya tiba-tiba retak terus amblas dan lagi aku merasa di tanahnya kaya ada sesuatu yang bergerak,” ucap Nia.


“Iya aku juga ngerasain kaya ada yang jalan di bawah tanah,” sahut Jasmin.


“Udah deh kita masuk ke dalam rumah dulu,” ucapku.

__ADS_1


Aku berbincang dengan Nia dan juga Jasmin sambil menonton TV, Jasmin dan Nia terlihat senang berada di rumahku awalnya aku sedikit minder karena rumahku tidak seperti rumah mereka yang memilik bangunan permanen.


“Aya teman-teman kamu mana?” tanya Nia.


“Ada kok, mereka lagi sibuk main mungkin,” ucapku.”


“Oh iya aku dengar di sungai besar itu ada naganya,” ucap Nia.


“Mana ada, yang ada juga napas bau naga! Ha-ha-ha,” sahut Jasmin.


“Husss! Jangan suka asal ngomong!” 


“Udah jangan berantem.”


“Oh iya Ya. Ini jam berapa?” tanya Nia.


“Sudah jam setengah lima, kenapa memangnya? Kamu mau pulang?” tanyaku.


“Enggak aku cuma nungguin acara ritual apa tadi namannya aku lupa,” sahut Nia.


Tidak lama abah datang menghampiri kami sambil membawa beberapa piring makanan.


“Nah makan dulu,” ucap Abah.


“Wah ... Makasih ya Bah,” ucapku.


“Aya lain kali kalau ada acara kaya gini lagi ajak kita ya,” ucap Nia.


“Gampanglah itu,” sahutku.


Waktu pun menunjukkan pukul 17.50 wita, semua orang juga sudah berkumpul untuk menyaksikan ritual melabuh itu.


Bedanya kali ini melabuh di tujukan agar saat acara berlangsung tidak ada gangguan apa pun. Di rumah yang punya syukuran itu sudah tersedia berbagai sesaji yang nantinya akan di tenggelamkan ke sungai.


Kami bertiga juga ikut berkumpul untuk menyaksikan ritual itu. Langit sudah terlihat jingga paman dengan cepat berjalan ke sungai dengan melewati jalan yang amblas tadi. 


Terlihat paman terdiam sejenak lalu menepuk air sebanyak tiga kali dan menenggelamkan sesaji itu. Paman berjalan kembali menghampiri tetanggaku yang mengadakan syukuran.


“Sudah aman. Acara syukuran bisa dilakukan malam ini.”


“Aya nanti yang makan sesajinya siapa? Ikan?” tanya Nia.


“Bukan. Tapi sesuatu yang ada di bawah sungai ini,” sahutku.


“Memangnya apa? Nggak mungkin kan ada kerajaan di bawah sana,” ucap Jasmin.


“Bisa saja. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini,” sahutku.


Acara syukuran pun berlangsung sangat  khidmat lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema menyejukkan indra pendengaran. Karena ini syukuran khusus laki-laki, aku Nian dan juga Jasmin hanya bisa ikut serta di bagian dapur sambil mendengarkan tausiah dari penceramah.

__ADS_1


“Kalian baru pertama kali ya ikutan acara kaya gini?” tanyaku.


“Iya. Biasanya kalau ada acara kaya gini cuma mama aja yang pergi,” sahut Jasmin.


“Oh iya biasanya ritual kaya gitu dilakuin cuma pas ada acara kaya gini aja ya?” tanya Nia.


“Enggak juga sih, pas lagi sakit pun katanya bisa tapi, kalau sakitnya engak sembuh-sembuh dan melabuhnya bukan pakai sesaji kaya gitu,” sahutku.


“Lalu kaya gimana?”


“Pakai bubur merah bubur putih aja sih kalau enggak salah. Itu pun kalau sakitnya akibat ulah makhluk gaib,” tuturku.


“Eh Aya memangnya di sungai ini ada apa sih kayaknya di keramatkan banget,” tanya Nia.


“Kepercayaan orang sini, di sungai ini ada kerajaan gaib nya jadi kalau di sini enggak boleh sembarangan harus jaga sikap,” sahutku.


“Nah berarti omongan aku tadi bener dong,” ucap Jasmin.


“Enggak sia-sia aku ke sini selain dapat makanan gratis aku dapat pengetahuan juga,” pungkas Nia.


“Kalian apa enggak apa-apa pulang malam?” aku khawatir kejadian Laras terulang lagi.


“Udah tenang aja Ya, aman iya kan Jasmin?”


“Iya lagian aku ngekost jadi bebas,” sahut Jasmin.


Sekitar pukul 22.00 wita acara syukuran pun berakhir, Jasmin dan Nia pun berpamitan untuk pulang. Pemilik acara memberikan mereka masing-masing sekantung penuh makanan dan kue serta sedikit uang.


Wajah semringah dari mereka berdua pun begitu terlihat.


“Asik dapat makanan dapa duit pula, lain kali kalau kamu ada acara kata gini lagi kabari kita ya Aya,” ucap Nia.


“Oke deh. Sekalian nanti aku kenalin sama sahabat aku kalau kalian ke sini,” ucapku.


“Kalau gitu kami pulang dulu ya.”


“Kalian hati-hati ya jangan lupa baca doa.”


“Iya. Sekali lagi makasih ya,” ucap Jasmin sambil naik ke motornya.


Mereka berdua pun pulang dengan motornya masing-masing. Aku pun masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu.


“Teman kamu sudah pulang?” tanya abah.


“Sudah Bah baru aja.”


“Ya sudah. Kamu istirahat besok masuk sekolah,” ucap abah.


Aku masuk ke dalam kamar dan duduk di kasurku. Aku mengambil HP-ku dan melihat ada pesan masuk dari Laras, dia mengirimkan beberapa link saat aku mencoba membukanya aku tertarik membacanya karena di sana terdapat sejarah bagaimana terjadinya perjanjian antara manusia dan siluman buaya penghuni sungai.

__ADS_1


__ADS_2