
Aku menepis pikiranku, ‘ah sudahlah mungkin aku sedang menghayal,' pikirku.
Aku melakukan pekerjaanku seperti biasa, toko sangat ramai hari ini aku sampai kewalahan melayani setiap pembeli.
“Aya kamu istirahat aja, biar aku yang gantiin,” ucap Iyan.
“Serius Bang?”
“Iya.”
Aku pun berlalu pergi dan berjalan menuju ruang loker, aku mengambil HP dari tasku. Saat aku buka rupanya ada banyak chat masuk termasuk dari Laras.
📩 Aya apa kabar?
📩 Alhamdulillah baik Ras. Gimana kamu di sana sehat?
📩 Sehat dong 😜, oh iya besok aku berangkat ke sana Ya.
📩 Serius?
📩 Ya serius lah. Gimana kerjaan kamu?
📩 Alhamdulillah, lancar 😊
📩 Syukur deh kalau kamu betah, katanya si Brian mau buka cabang dan aku saranin dia buat ajarin kamu tentang pastry.
📩 Iya kemarin dia ada bilang sih. Aku agak kaget pas di tawarin tapi aku seneng juga.
📩 Iya. Biar kamu gak lama-lama di sana banyak hantunya 👻
📩 Ras, aku mau makan dulu nanti kita sambung lagi ya 👋
📩 See you. Sampai ketemu besok. Besok aku ke rumahmu.
Aku pun mengakhiri chat bersama Laras, aku senang ternyata Laras akan datang lagi ke sini.
Aku membuka kotak bekal yang aku bawa dari rumah, saat aku buka tercium bau yang tidak mengenakkan.
'Basi? Kok bisa?' gumamku sambil mengendus makanan yang ada di kotam bekalku.
“Ya Allah sayang banget. Biasanya gak kaya gini bahkan sampai malam pun gak basi,” ucapku.
Terlihat makanan itu sudah berbau dan berlendir seperti makanan yang sudah basi sejak lama.
Aku memasukkan semua makanan itu ke dalam kantung plastik.
“Ya Allah maafkan jika ini jadi mubazir,” ucapku sambil membuang kantung itu ke tempat sampah.
Saat berada di loker samar-samar aku merasakan kehadiran dari Atmajaya, aku mencoba mencari keberadaannya namun aku tidak melihatnya dimana pun.
__ADS_1
'Aneh, aku merasa dia di sini tapi kok gak ada,' gumamku.
Tiba-tiba HP-ku berdering saat aku lihat ternyata itu adalah panggilan dari Abah.
📞Ya Bah?
📞Aya bulik wahini! (Aya pulang sekarang!)
📞Kenapa Bah? Ini siang masih belum jam bulik.
📞Nini sudah kadada Aya (nenek sudah tidak ada Aya)
Aku langsung mematikan telpon dan mengambil tasku lalu bergegas keluar dari ruang loker sambil menangis tersedu.
“Bang.”
“Aya. Kamu kenapa?”
“Nini meninggal Bang.”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Ya sudah kamu aku antar.”
“Jap!” panggil Iyan.
“Kenapa Briyan?” tanya Japra.
“Loh kalian mau ke mana? Aya kamu kenapa kok menangis?” tanya Japra.
“Neneknya meninggal. Aku titip yang lain ya. Jaga bener-bener,” ucap Iyan menepuk pundak Japra.
“Siap. Kalian hati-hati.”
Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil Iyan, mobil pun berjalan dan melaju menuju rumahku. Untungnya rumahku cukup dekat jadi hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai.
Saat akan masuk ke area jalan rumahku, di depannya sudah terdapat papan tulis hitam dengan coretan kapur yang bertuliskan nama nenekku beserta jam dan tanggal kematiannya. Di sebelahnya sudah dipasang bendera hijau dengan untaian tali kuning di sisi bendera, dalam bendera itu tertulis huruf arab. Jika di daerah lain menggunakan bendera kuning sebagai penanda ada orang yang meninggal, namun di daerahku penandanya adalah bendera hijau bertuliskan innalillahi wainnailaihi rojiun dengan huruf arab berwarna kuning.
Kursi-kursi plastik sudah berjejer rapi di depan rumahku. Aku langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sambil terus menangis.
“Mana nini Bah?” ucapku sambil menagis.
“Nini lagi di mandikan,” sahut abah dengan wajah sendu.
Aku masuk ke dalam area pemandian jenazah, di situ nenekku sudah terbujur kaku di dalam tempat pemandian jenazah dengan gedebong pisang sebagai bantalannya nenekku di mandikan oleh 3 orang pemandi jenazah.
“Ikam siapa? (Kamu siapa?)” tanya salah satu ibu pemandi jenazah.
“Ulun cucu sidin (saya cucu beliau)” sahutku sambil menangis.
“Nah ikam kubui dari kepala sampai batis begimit mengubuynya! (Nah kami siram dari kepada sampai kaki, pelan-pelan menyiramnya)” ucap ibu itu sambil memberikan gayung kepadaku.
__ADS_1
“Di hapus dulu banyu matanya Nak jangan sampai titik ke awak sidin. (Di hapus dulu air matanya jangan sampai menetes ke tubuh beliau)”
Aku menahan tangisku sambil perlahan menyiram tubuh nenek untuk yang terakhir kalinya.
Usai di mandikan tubuh nenek diangkat dan untuk dikafani, aku hanya bisa terduduk lemas melihat tubuh nenek yang terbujur kaku, aku tidak menyangka jika nenek akan pergi secepat ini.
Aku menunduk sembari terus menahan tangisku, namun aku tidak sanggup membendungnya. Air mata yang aku tahan kini mengalir deras keluar sampai aku sesegukan.
Padahal tadi pagi aku baru saja berpamitan dengan beliau namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.
“Sudah. Kasian nini mun ikam menagis tarus. (kasihan nenek kalau kamu menagis terus)” ucap abah.
“Nah guntingi pandan aja nah, sambil menggunting sambil baca sholawat!” sambung abah.
Di daerahku jika ada yang meninggal maka wajib mengikat dan merajang daun pandan sambil membaca doa-doa hingga daun itu habis biasanya di lakukan oleh perempuan baik itu keluarga atau tetangga, nantinya pandan itu digunakan untuk menabur di atas makam.
Beberapa ibu-ibu juga telah berdatangan, sambil membawa semangkuk beras yang telah di tutupi kain. Hal ini sebenarnya salah satu tradisi sebelum jenazah dikuburkan, biasanya perempuan dari setiap warga akan datang membawa semangkuk beras sedangkan para pria akan membantu membuat peti dan keperluan kematian lainnya.
Jenazah nenek sudah di kafani kecuali bagian muka, salah seorang yang mengkafani nenek memperbolehkan aku untuk mencium kening nenek untuk yang terakhir kalinya namun dengan catatan tidak boleh sambil menangis.
Wajah nenek sepenuhnya di tutupi oleh kain kafan, jenazah nenek mulai di angkat dengan keranda untuk di bawa ke langgar (mushola).
Pada saat jenazah nenek di keluarkan dari rumah aku salah satu ibu pemandi jenazah memintaku untuk menyusup di bawah tandu. Ibu itu berkata agar anak cucu yang ditinggalkan tidak sakit-sakitan dan panjang umur.
Usai di sholatkan jenazah nenek di bawa ke tempat pemakaman umum yang lokasinya cukup jauh dari rumahku.
Sirine mulai dinyalakan, bendera hijau mulai dikibarkan, puluhan orang termasuk keluarga ikut mengantarkan nenek ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Iring-iringan mobil memecah lautan kendaraan yang saat itu cukup padat, suara sirine menggema di sepanjang jalan, beberapa mobil dan motor sedikit menepi memberikan jalan kepada kami.
Dari dalam mobil aku menatap semu keranda nenek yang berbalut untaian bunga kenanga itu.
Sesampainya di pemakaman, jenazah nenek langsung dibawa menuju rumah terakhirnya.
Jenazah nenek dimasukkan ke dalam peti lalu dimasukkan ke dalam liang lahat, sebelumnya tali pocong telah di lepas dan jenazahnya di hadapkan ke kiblat.
Bukan tanpa alasan kenapa memakai peti, karena ini masih daerah rawa, dan jika air sedang pasang terkadang bisa naik sampai kepermukaan. Bahkan jika habis hujan deras tidak jarang kuburan yang baru digali akan keluar air dan akhirnya menggenang di dalam. Jika tidak pakai peti maka jenazah akan mengapung dan sulit dimakamkan.
Hai gais.
Apa kabar?
Maaf banget author baru update cerita ini.
Jangan lupa dukungannya ya gais seikhlasnya.
Nantikan cerita Aya selanjutnya.
__ADS_1