
“Panas banget!” ucapku sambil duduk di papan pinggir sungai sambil menjuntaikan kakiku dan bermain air.
“Aya!” terdengar suara memanggilku.
Aku menoleh dan mencari sumber suara tersebut namun tidak nampak siapa pun.
“Aya!”
Suara itu terdengar lagi, seperti suara seorang laki-laki. Secara tiba-tiba aku merasakan seseorang menyentuh kakiku hal itu sontak membuatku kaget.
“Astagfirullah!” pekikku.
Terlihat seorang laki-laki berenang sembari memegangi kakiku.
“Kamu siapa?” tanyaku.
“Aku temanmu,” sahutnya.
“Teman? Tapi aki tidak pernah punya teman seumuran kamu.”
Terlihat laki-laki itu berumur sekitar 24 tahun.
“Aku sering menemani kamu berenang dulu,” sahutnya.
“Hah? Mana mungkin memang nama kamu siapa?” tanyaku.
“Kamu belum memberiku nama.”
Aku pun tertawa dan sempat merasa bingung.
“Kamu ini aneh. Aku bukan orang tuamu.”
“Tapi kamu pemilikku.”
Mendengar ucapan itu aku seperti sedang dejavu lalu aku mengingat sosok di mimpiku yang sangat mirip dengannya dengan cepat aku menaikkan kakiku dan berdiri.
“Ka-kamu bukan manusia,” ucapku.
Di tersenyum simpul. “Jika kamu mau tahu kamu bisa ikut denganku.”
“Enggak. Aku enggak mau mati!” aku mundur beberapa langkah.
“Siapa yang akan membunuhmu. Percayalah maka kamu akan tahu jawabannya.”
Aku mengerutkan alisku dan berjalan maju beberapa langkah lalu kembali duduk.
“Fokuslah, pejamkan matamu jangan dibuka sampai aku menyuruhmu.”
Aku pun menutup mataku dan menghiraukan semua suara yang ada di sekitarku. Hanya dalam beberapa detik dia menyuruhku untuk membuka mata.
Aku terkejut rupanya aku sudah berada di tempat lain, ini tidak sama seperti dimimpiku.
__ADS_1
“Apa kita di dalam sungai?”
“Ya bisa dibilang begitu.”
“Tapi ini aneh. Ini tidak terlihat seperti di dalam air ini tidak berbeda dengan daratan.”
Aku melihat sebuah bangunan besar dan megah sebagian seperti berwarna emas atau mungkin itu memang emas asli. Bentuk bangunannya seperti kerajaan yang ada di drama laga namun lebih megah dan indah.
Ada banyak orang berdiri di depan pintu masuk, baju mereka sedikit aneh samar-samar mereka terlihat sepeti manusia dan buaya aku sampai harus beberapa kali melihatnya.
“Ini kerajaan buaya?” tanyaku.
Dia hanya tersenyum sambil mengajakku masuk lebih dalam. Pilar-pilar besar dan tinggi menghiasi tempat itu aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada tempat seperti ini di bawah sungai.
Hingga aku melihat seseorang duduk di kursi besar berlapis emas dengan mahkota serta pakaian yang aneh namun bagus pakaiannya pun berkilau.
“Hei itu siapa?” tanyaku.
“Dialah Pangeran Suriyan,” sahutnya.
Mendengar ucapannya aku tertegun dan hampir tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.
Pangeran itu berperawakan tinggi dengan tubuh yang tegap, berpakaian berwarna putih berkilau dengan beberapa orang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum kepadaku aku pun membalasnya sambil sedikit menundukkan kepalaku.
'Apa aku harus memberi hormat seperti drama laga yang ada di TV?' pikirku.
“Tidak perlu, kamu ucapkan salam saja sudah cukup” sahut laki-laki di sampingku.
“Assalamualaikum,” ucapku agak ragu.
“Walaikumsalam. Kamu datang berkunjung ke sini rupanya,” sahut pangeran itu.
“Kemarilah,” ucapnya.
Aku berjalan perlahan mendekatinya menaiki anak tangga dan duduk di antaranya.
“Mendekatlah jangan ragu aku tidak akan memakanmu,” ucapnya tersenyum.
Aku berdiri dan mendekat ke sebelahnya.
“Sepertinya kamu sangat memiliki banyak pertanyaan dalam pikiranmu. Utarakan saja.”
“Kenapa bisa ada tempat seperti ini di bawah sungai dan bahkan ini bukan terlihat seperti sungai melainkan daratan,” tanyaku.
“Kita memiliki alam kita masing-masing. Kamu dengan alammu kami pun dengan alam kami. Yang kesini hanyalah sukmamu jika kamu ke sini dengan ragamu itu akan lain,” sahutnya.
“Jadi sebenarnya aku memang berada di bawah sungai?”
“Apa aktivitas kalian sama seperti kami?” sambungku.
“Semua sama hanya alam dan cara hidup kita yang berbeda.”
__ADS_1
“Kenapa ada banyak emas di sini? Apa ini emas sungguhan?” tanyaku.
“Jika kamu mau, kamu bisa membawanya.”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Alammu dan alamku sama-sama memiliki kekayaanya tersendiri tapi terkadang di alammu ada banyak tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab merusak alam demi kepentingan sendiri,” ucapnya.
“Aku penasaran, kenapa bisa ada ritual seperti yang dilakukan abah?” tanyaku.
“Itu sudah janji kami dengan manusia dan itu mutlak dari sebelum pulau ini penuh dengan manusia. Tapi sekarang sudah banyak yang melupakannya bahkan tidak mengerti bagaimana cara melakukannya. Padahal tinggal datang saja ke orang yang bisa melakukannya.”
“Ya aku mengerti. Karena ini sebenarnya tradisi dari leluhur. Bahkan teman-temanku tidak mengeri apa itu melabuh dan bagaimana melakukannya,” sahutku.
“Memang janji seperti apa yang sudah dilakukan?”
“Kelak kamu akan mengetahuinya.”
Aku merasa sudah cukup lama aku berada di tempat itu, aku memutuskan untuk pulang karena takut nenek dan abah akan heboh mencariku. Laki-laki itu mengantarku kembali namun bedanya ia hanya mengantarku sampai depan pintu gerbang.
“Kamu lihat cahaya putih di ujung sana?” tanyanya kepadaku.
“Iya aku melihat.”
“Berjalanlah lurus ke arah cahaya itu maka kamu bisa langsung sampai.”
Aku pun berjalan mendekati cahaya putih itu, semakin dekat cahaya itu semakin besar dan luas hingga membuat mataku silau dan tidak melihat apa-apa. Aku mengusap mataku dan saat membuka mata aku sudah terduduk di atas papan tepi sungai.
Aku melihat sekelilingku dan aku memang berada di belakang rumah tempat semula aku bersantai. Aku merasa takjub dan juga sedikit heran hanya dalam hitungan detik aku bisa kembali.
Aku pun masuk ke dalam rumah, namun ada sesuatu yang membuatku tidak habis pikir. Saat aku masuk ke rumah aku melihat jam dinding aku sangat ingat setelah pulang sekolah aku langsung duduk di sana dan itu tepat pukul 16.00 wita. Saat aku pulang jarum panjangnya hanya bergerak di garis ke dua padahal aku sangat yakin aku berada di sana cukup lama.
'Apakah satu menit di sini, bisa satu jam di sana?' pikirku.
Dari pengalamanku ini aku merasa tambah penasaran tentang sejarah serta apa hal yang membuat adanya perjanjian antara manusia dan mereka yang ada di bawah sungai itu. Aku berencana untuk mencari tahunya nanti.
Aku juga masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan ucapan mereka, karena bisa saja itu hanya tipu daya saja, begitulah yang aku pikirkan.
Aku pun masuk ke dalam kamar, karena masih ada waktu aku memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolahku. Karena aku sudah kapok mengerjakannya saat malam akibat gangguan yang aku alami kemarin malam.
Rasanya aku ingin menyuruh abah untuk menebang pohon jambu di depan rumahku itu, karena setiap aku melewatinya aku selalu terbayang sosok kerdil dengan wajah tua tersebut. Namun aku yakin pasti abah tidak mau karena pohon itu selalu berbuah lebat tanpa mengenal musim.
***
Hai, Assalamualaikum para readers.
Terima kasih karena tetap setia membaca setiap cerita di novel ini. Jangan lupa beri dukungan vote ya.
Kalian juga bisa ramaikan cerita ini di kolom komentar.
Nantikan cerita Aya selanjutnya ya.
__ADS_1