Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Anak Buaya Kuning


__ADS_3

Saat aku pulang sekolah, aku melihat seseorang mendapatkan sesuatu di sungai. Dia membungkusnya dengan jaketnya saat aku perhatikan ternyata yang dia dapat adalah seekor anak buaya dengan kulit berwarna kuning berukuran kurang lebih 40 cm.


“Paman kenapa ditangkap?” ucapku.


“Larang (mahal) ini anaknya dijual,” sahutnya.


“Kada (tidak) boleh Paman!” sahutku.


“Kada boleh? Memang ikam (kamu) siapa?”


Orang itu bergegas mengendarai motornya dan pergi sambil membawa anak buaya di tangannya.


Aku pun pulang ke rumah dan menceritakan hal itu kepada abah.


“Bah tadi ulun (saya bahasa halus) melihat orang menangkap anak buaya,” ucapku.


“Dimana? Siapa yang menangkap?”


“Kada (tidak) tahu lain (bukan) orang sini,”


“Katulahan kena orang tu lihati ja! (kena tulah nanti orang itu lihat saja)”


Aku pun masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Saat aku memberitahukan hal tadi sepertinya abah terlihat kesal, aku pun merasakan hal yang sama karena yang dia tangkap adalah anakan buaya yang seharusnya hidup bebas di alamnya.


“Assalamualaikum,” seseorang datang ke rumahku.


“Walaikum salam, masuk,” sahutku karena pintu dalam keadaan terbuka.


“Mana abah?”


“Ada di kamar, hadang ulun kiaukan (tunggu saya panggilkan).”


“Bah ... Ada orang mencari.”


“Siapa?” tanya Abah.


“Kada tahu,” sahutku sambil mengangkat bahu.


Anah pun keluar kamar dan menghampiri orang itu.


“Rahmad Lawas kada tetamu, (Rahmad lama tidak bertemu)” ucap orang itu.

__ADS_1


“Amrul. Ya Allah kaya apa habar (kabar)?” ucap abah yang langsung menjabat tangannya.


“Alhamdulillah baik. Lawas kada be elang ka sini (lama tidak mampir ke sini),”  sahutnya.


“Dimana damini badiam? (dimana sekarang tinggal?)”


“Samarinda, kaya apa (gimana) sehat aja?” tanya orang itu kepada abah.


“Alhamdulillah kami sekeluargaan sehat.”


Obrolan abah dan teman lamanya itu berlangsung lama aku pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelahnya aku memilih untuk duduk di belakang menikmati angin serta langit sore.


Namun karena bosan, aku mengambil dayung yang tersimpan di dapur, aku turun ke atas jukung (perahu dayung) dan mulai mendayung.


Aku mendayung santai di pinggiran sungai hingga aku di kejutkan oleh kemunculan Atmajaya di hadapanku.


“Sudah lama kamu tidak mendayung ke sini,” ucapnya.


“Astagfirullah! Bisa nggak sih kamu jangan tiba-tiba munculnya bikin aku kaget,” ucapku.


“Kenapa kamu harus kaget?” ucapnya dengan ekspresi dingin dan datar.


Aku memutar kedua bola mataku sembari terus mendayung, “aku manusia punya yang namanya jantung. Kalau kamu muncul kaya tadi hal itu membuat adrenalin jantung terpacu dan membuat efek kaget!” ucapku.


“Ahh ... Sudahlah lupakan. Ada apa? Tumben kamu muncul?” tanyaku.


“Ada tangan jahil yang mengambil bangsaku, apa kamu tahu?” 


'Bangsanya? Maksudnya makhluk sejenis dengannya,' pikirku.


“Ya aku sempat lihat aku melarangnya untuk mengambil tapi dia tidak memedulikan ucapanku,” sahutku.


“Kami sebenarnya tidak suka mengusik kehidupan manusia karena kami juga memiliki batasan, tapi terkadang manusia itu serakah mengambil yang bukan haknya tanpa izin itu membuat kami merasa marah,” ucapnya.


“Lalu apa yang akan terjadi sama orang itu?” tanyaku.


“Kamu lihat saja, kamu pasti akan mendengar kabarnya.”


“Aku punya pertanyaan untukmu,” ucapku.


“Kenapa ular dan buaya tidak bersatu? Kenapa kalian saling berjauhan?” tanyaku.

__ADS_1


“Energi kami berbeda, akan ada benturan jika kami menjadi satu kesatuan,” sahutnya.


Aku menganggukkan kepalaku, “udah mau magrib. Aku pulang dulu,” ucapku.


Aku mendayung untuk kembali ke tepi rumahku Atmajaya juga sudah menghilang. Aku naik ke atas papan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Saat aku masuk teman lama abah sudah tidak ada lagi.


“Bulik kah sudah kawan pian tadi Bah? (Teman abah tadi sudah pulang?)”


“Iya sudah, nah di bari duit tadi lawan Amrul (nih di kasih uang sama Amrul)” ucap Abah sembari memberikan selembar uang.


“Asyik! Buat jajan besok,” sahutku.


Aku mengantongi uang seratus ribu itu lalu masuk ke dalam kamar, aku sempat memikirkan yang di ucapkan oleh Atmajaya tadi.


'Apakah benar kata abah orang itu akan terkena tulah?' gumamku.


Tanpa sadar aku tiba-tiba bisa melihat suatu gambaran, rasanya seperti sedang menonton sebuah film di layar besar dengan orang yang mengambil anak buaya tadi sebagai pemerannya.


Aku melihat orang itu tengah mengandangi anak buaya tersebut di dalam rumahnya. Rupanya orang itu berada di kampung seberang sungai kami.


Samar-samar aku melihat orang itu seperti sempoyongan saat berada di dalam rumah.


“Kenapa rumah ni beputar?” 


Ucapannya terdengar jelas.


Dia meraba dinding rumahnya agar bisa berdiri namun tetap saja dia terjatuh. Akhirnya ia merangkak ke luar pintu.


Saat dia keluar aku melihat rumahnya dikelilingi oleh ratusan buaya dengan berbagai ukuran.


Aku pun tersentak lalu tersadar.


'Aku tadi lihat apa?' gumamku.


'Apa itu yang dimaksud Atmajaya? Tapi bagaimana bisa aku melihatnya. Sedangkan aku berada di kamar saat ini.’


Aku kebingungan dengan apa yang terjadi kepada diriku sendiri. Aku merasa seperti ada yang tidak beres dengan diriku.


'Apa aku harus periksa ke dokter?' pikirku.

__ADS_1


Aku pun berusaha mengalihkan pikiranku agar tidak melihat hal-hal yang menurutku aneh dan tidak masuk akal.


__ADS_2