
“Beginilah jika dengan sengaja bermain-main dengan hal gaib,” ucap Atmajaya.
Seketika aku dan Iyan pun menoleh ke arah Atmajaya.
“Maksudnya apa?” ucapku.
“Hah apanya?” Sahut Japra.
“Oh gak Mas, aku cuma keingat sesuatu aja,” ucapku
“Mbak Sarah, apa sebelumnya Mbak Sarah ngelakuin sesuatu di loker?” tanyaku.
Mbak Sarah hanya diam tanpa membalas pertanyaanku. Hal ini menjadi sangat sulit karena mbak Sarah seakan menutupi banyak hal.
“Aya bisa temani aku ke luar sebentar,” pinta Iyan.
“Bisa Bang,” sahutku.
“Jap, kamu tunggu di sini ya.”
“Siap, tapi jangan lama-lama ya.”
Aku dan bang Iyan pun keluar ruangan disusul dengan Atmajaya.
“Aya ada yang mau aku tanyakan sama kamu,” ucapnya.
“Nanya apa Bang?”
“Kamu bisa lihat dia?” Iyan menunjuk Atmajaya.
“Iya. Abang bisa lihat dia juga?”
“Udah lama?”
“Iya. Bahkan aku yang kasih dia nama, namanya Atmajaya.”
“Kamu jangan terlalu sering berteman dengan makhluk gaib, karena kita beda alam,” ucap bang Iyan sambil mengarahkan matanya ke Atmajaya.
Bang Iyan meninggalkanku bersama Atmajaya, dia kembali masuk ke dalam ruangan.
“Dia kenapa sih?” ucapku.
“Entahlah,” sahut Atmajaya.
__ADS_1
Aku kembali masuk namun tidak bersama Atmajaya, seperti biasa dia menghilang dan muncul semaunya.
Saat aku kembali tiba-tiba mbak Sarah mengatakan sesuatu.
“Dia minta aku balikin dia,” ucapnya dengan wajah ketakutan.
“Dia siapa?” tanya Japra.
“Dia ...,” mbak Sarah menunjuk pojok dinding. “Dia minta di balikin.”
Aku mencoba melihat dan memfokuskan netraku, perlahan mulai terlihat bayangan putih lambat laun membentuk sesosok makhluk.
Sosok dengan tubuh terbungkus serta ujung kain yang ada di atas kepalanya terikat, matanya melotot ke arah mbak Sarah. Wajahnya hitam legam bahkan aku tidak dapat melihat jelas bentuk wajahnya.
“P-pocong!” pekikku.
Saat menyebut hal itu aku tersadar dan langsung menutup mulutku, mas Japra dan bang Iyan menatap ke arahku.
“Aya kamu jangan macam-macam, kita lagi di rumah sakit nih mana pulangnya harus lewatin kamar mayat dulu lagi,” eluh Japra.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di toko ku? Jawab Sarah!” Iyan memegangi kedua bahu Sarah dan mengguncang-guncangkan tubuh Sarah.
“A-aku takut. Dia selalu ada di sana. Aku takut,” Sarah meringkuk sambil menangis.
“Briyan sadar! Sarah sedang sakit,” ucap Japra memegangi tangan bang Iyan.
“Mbak Sarah sebenarnya kemarin waktu di loker Mbak Sarah ngapain?” tanyaku pelan.
“Aku hanya main-main aja manggil dia, tapi dia beneran datang,” mbak Sarah menangis tersedu.
“Astaga Sarah! Seharusnya kamu jangan begini!” ucap bang Iyan.
“Memangnya mbak Sarah manggilnya gimana?”
“Saat itu gak sengaja aku nemu mantra di media sosial, katanya itu mantra pemanggil hantu. Karena penasaran aku membacanya sebanyak 3 kali dan pocong itu muncul Ya!”
“Dia selalu berdiri di depanku, bahkan saat aku tidur dia bisa berada di atasku,” sambungnya.
Seketika itu kami mencium bau amis seperti darah bercampur bau busuk.
“Gila bau apa ini?” ucap Japra sembari menutup hidung dengan tangannya.
Beberapa pasien yang berada satu ruangan dengan mbak Sarah pun mengeluhkan bau tersebut.
__ADS_1
“Aku sudah biasa mencium bau ini,” ucap mbak Sarah.
“Kalian aku mohon tolong aku, aku gak mau hidup dalam ketakutan setiap hari seperti ini,” ucap mbak Sinta.
“Kalau boleh tahu mantranya kaya gimana Mbak?” tanyaku.
Mbak Sarah membacakan mantra itu dengan fasih, mantra itu berbahasa Jawa jadi aku tidak terlalu mengerti maksudnya. Saat mantra itu selesai diucapkan aku merasakan tekanan energi yang cukup kuat hingga membuat kepalaku pusing.
Tubuhku mulai sempoyongan, aku berusaha tetap tersadar dan berpegangan pada pagar ranjang yang ditempati mbak Sinta.
“Ya kamu kenapa?” tanya Japra.
“Gak tahu Mas kepalaku rasanya pusing benget,” ucapku.
“Waduh kenapa jadi gini.”
Saat itu juga Atmajaya kembali muncul di sampingku, dia mengarahkan tangannya ke belakang kepalaku.
“Kenapa manusia begitu ceroboh, sebuah mantra di jadikan mainan,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Kepalaku yang awalnya pusing pun berangsur sembuh, namun tubuhku rasanya sangat lemas dan gemetar.
“Biar di obati bagaimana pun, dia tidak akan sembuh yang bisa menyembuhkannya hanya dirinya sendiri,” ucap Atmajaya kepadaku.
“Caranya gimana?”
“Berserah diri kepada sang pencipta dan minta pertolongan-Nya dengan hati ikhlas, minta maaflah kepada arwah itu dengan tulus,” pungkas Atmajaya.
“Itu aja?”
“Kalian punya Tuhan kenapa harus bingung?” ucap Atmajaya.
“Minta maaf? Manusia adalah makhluk paling mulia mana bisa manusia meminta maaf kepada pocong? Yang benar saja,” bang Iyan tersenyum masam.
“Kalian ini lagi ngomong apa sih? Gak jelas,” ucap Japra.
“Jika kamu diperlakukan seperti kamu memperlakukan kami, bagaimana perasaanmu?”
“Kami sama halnya seperti manusia, sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama memiliki perasaan dan hawa nafsu.”
Bang Iyan masih menatap sinis ke arah Atmajaya namun tidak membalas perkataannya.
Cukup lama kami berada di ruangan itu, hingga salah satu perawat menegur kami karena sudah melewati jam besuk.
__ADS_1
Kami pun berpamitan dengan mbak Sarah dan bergegas ke luar ruangan.
Aku hanya bisa diam tanpa berkata apa pun, bagitu pula dengan bang Iyan. Aku jadi merasa canggung dan tidak enak hati.