
“Ular dan buaya? Berarti ada dua kerajaan?” tanyaku.
“Menurut ceritanya dulu seperti itu. Ada istana ular di ujung sana,” nenek menunjuk sebelah kirinya.
“Berarti di daerah kita masuk istana buaya?”
“Iya, makanya banyak orang yang ritual melabuh di sini,”
“Berarti bukan cuma abah aja?”
“Melabuh itu tradisi kita warisan dari datu (leluhur) turun temurun yang rumahnya di pinggiran sungai. Tapi tidak semua yang melabuh itu seperti Abahmu.”
“Lalu mereka melabuh untuk apa?”
“Misalkan ada hajat, kita harus melabuh agar juriat, anak cucu tidak diganggu dan itu melakukannya harus dengan hati yang ikhlas.”
Setelah mendengar penjelasan dari nenek aku mulai sedikit memahami tradisi leluhur yang baru saja aku ketahui. Aku pun menjadi sangat antusias menyaksikan ritual melabuh itu.
“Sudah malam. Kamu tidur sana,” ucap nenek.
“Iya Aya tidur dulu ya Ni.”
Aku masuk ke dalam kamar, aku merebahkan diriku lalu menarik selimut karena kebetulan aku sudah sangat mengantuk. Mendengar cerita dari nenekku seperti sedang dibacakan dongeng sebelum tidur di temani suara serangga malam aku memejamkan mata dan terlelap tidur.
***
Keesokan harinya, aku bersiap untuk menemani nenek pergi ke pasar yang lokasinya tidak jauh dari rumahku. Aku dan nenek berjalan kaki sekitar beberapa menit.
Pasar di tempatku sendiri bukan seperti pasar kebanyakan, para penjual biasanya menjajakan jualannya dengan jukung atau biasa di kenal perahu dayung. Para pedagang biasanya menjual sayur, kue, buah-buahan hasil kebun sendiri dan lainnya.
Hampir mirip dengan pasar terapung tapi bedanya kami membelinya di darat tepatnya di samping dermaga hanya penjualnya saya yang memakai perahu.
Sedangkan untuk membeli bahan pokok seperti beras dan lainnya biasanya abah yang belanja ke pasar yang sedikit jauh dari rumah kami.
Aku melihat ada seorang ibu yang sedang menjual kue serta gorengan, namun posisinya berada sedikit jauh dari dermaga aku pun harus berteriak memanggilnya.
“Acil! Acil! Nukar wadai (beli kue),” teriakku.
Di daerahku acil sendiri adalah sebutan untuk orang yang lebih tua bisa di pakai untuk sebutan kakak dari ibu atau ayah (tante) atau kami juga biasa menggunakannya untuk panggilan si pejual jika dia perempuan.
Ibu itu untungnya mendengar panggilanku, ia mendayung perahunya untuk menepi mendekatiku. Aku membeli beberapa kue serta gorengan tidak lupa nenek juga membeli pisang mas untuk abah melabuh.
Setelah dari pasar aku membantu nenek memasak, kebetulan abah juga sudah datang membawa beras ketan, telur ayam dan juga bunga setaman untuk ritual melabuh.
Untuk memasak ketan hanya nenek yang bisa karena aku belum belajar membuatnya.
__ADS_1
“Bah kapan melabuhnya? Tengah malam?” tanyaku.
“Kada (tidak) kena pas sanja (nanti saat senja).”
“Kenapa harus sanja? Bukannya kita nggak boleh di luar,” sahutku.
“Karena saat itulah mereka ada dan berkumpul,” sahut abah.
Aku mengangkat kedua alisku dan menganggukkan kepala tanda jika aku mengerti aku pun kembali melanjutkan aktivitas memasakku untuk kami makan siang.
Usai memasak aku mengambil bantal dan merebahkan diriku di lantai sambil menonton acara favoritku di TV.
“Aya lakasi (cepat) makan!” ucap nenek.
“Iya,” sahutku.
Aku bangkit dari lantai dan langsung menuju dapur untuk mengambil makanan, di keluargaku jika masalah makan tidak melulu harus bersama. Kami makan bersama hanya dalam saat tertentu saja.
Aku mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk dan kembali duduk di depan TV.
“Makanan! Makanan!” ucapku.
Ini kebiasaanku sebelum membaca doa makan, aku lebih dahulu menawarkan makananku kalau di daerahku namanya betawaran. Sejak kecil aku diajarkan saat akan makan harus menawari siapa pun yang ada di rumah termasuk makhluk yang tak kasat mata penghuni rumah.
Usai betawaran dan membaca doa aku pun makan siang, sesekali makanku terhenti karena terlalu fokus menonton TV.
“Rejeki dihadapan!” sambung nenek.
Dengan cepat aku menghabiskan makananku hingga selesai, lalu mencuci piring yang aku gunakan dan kembali menonton TV lagi hingga menjelang sore hari.
Aku menatap ke arah jam dinding rupanya sudah pukul 16.40 wita terlihat di dapur nenek dan abah tengah sibuk mempersiapkan sesaji untuk melabuh.
Nenek menaruh ketan yang sudah matang ke atas piring dengan menancapkan satu butir telur ayam rebus yang belum dikuliti di tengahnya serta bunga setaman di letakkan di pinggir piring.
Kami menunggu waktu sampai senja tiba tepatnya saat hampir adzan magrib berkumandang.
Aku dan abah berjalan di papan, sambil membawa sesaji dengan di temani desiran gelombang serta langit jingga abah berjongkok dan menepuk air sungai sebanyak tiga kali.
“Assalamualaikum, Pangeran Suriyan aku memanggilmu. Ini ada beberapa sesaji untumu,” ucap abah.
Abah mencelupkan tangan kanannya sambil memegangi piring yang berisi ketan dan telur itu, abah mencelupkan tangannya cukup dalam sampai melewati sikunya bahkan lengan baju abah sampai basah, lalu di lanjutkan dengan melabuh pisang mas dengan metode yang sama.
Aku sendiri hanya diam sambil memperhatikan yang abah lakukan hingga selesai.
Aku dan abah pun masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu.
__ADS_1
“Bah memang pangeran itu siapa?” tanyaku yang saat itu sempat mendengar.
“Itu namanya. Kamu juga perlu mengingatnya, karena ini tradisi kita yang tetap harus dijaga.”
“Gimana rasanya?” tanyaku.
“Rasa apanya?”
“Ya nyelupin tangan ke air itu kan ada buanyanya,” sahutku.
“Bukan buaya sungguhan Aya. Mereka ada tapi tidak bisa terlihat dengan mata biasa. Saat Abah melabuh ada tarikan seperti magnet nah saat itulah piringnya harus dilepas,” tutur abah.
“Ooh ... Aya kita buaya sunghuha.”
“Kamu kemarin bilang melihat ularkan? Itu mungkin saja dia sedang bertamu jadi jangan terlalu di pikirkan,” ucap Abah.
“Iya Bah.”
Abah pun beranjak dan bersiap untuk pergi ke mushola. Aku sempat mengingat jika awalnya abah sempat tidak mau melakukan hal tersebut dan tidak menerimanya tapi sepertinya Abah sudah mau melakukannya.
Ting!
Suara notifikasi di HP-ku, rupanya itu pesan singkat yang dikirim oleh Laras.
“Aya aku sudah pulang dari rumah sakit,” tulis Laras di pesan.
“Alhamdulillah. Gimana apa kamu masih merasa sakit? Luka kamu gimana?” balasku.
“Enggak Ya. Lukanya sudah nggak sakit tinggal masa penyembuhan aja.”
“Syukur kalau gitu. Oh iya aku tadi liat abah melabuh.”
“Melabuh? Bukannya abah nggak mau?”
“Iya awalnya gitu tapi sekarang sudah mau.”
“Kapan-kapan ajak aku juga dong aku juga penasaran,” balas Laras.
“Iya nanti deh. Aku juga belum tahu kapan abah mau melabuh lagi.”
“Nanti kabari aku ya.”
“Iya.”
Aku pun mengakhiri berbalas pesan bersama Laras, aku pergi ke kamar untuk melaksanakan sholat magrib yang hampir lupa aku kerjakan.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya.