Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Terkena Tulah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ada seseorang yang mencari pamanku untuk meminta  pertolongan. 


Rupanya dia adalah orang yang telah membawa anak buaya kemarin. 


Orang itu datang ke rumahku dan dia juga mengenali aku, karena aku orang pertama yang menegurnya saat itu.


Orang itu lantas meminta maaf kepadaku karena sudah menghiraukan perkataanku. Saat itu dia bercerita kepada abah dan juga pamanku apa yang telah dia alami.


“Aku kemarin dapat  anak buaya, lalu aku bawa bulik (pulang) karena sepengetahuanku buaya ukuran se’itu cukup mahal harganya,” tuturnya.


“Kenapa ikam wani-wani meambil?” ucap pamanku.


“Maaf banar, aku kada (tidak) mengerti kalau di sini kada boleh sembarangan,” sahutnya.


“Lalu pang ikam handak minta tolong apa? (Lalu kamu mau minta tolong apa?)” sahut Abah.


“Kamarian imbah membawa buaya tu bulik tiba-tiba rasanya rumahku beguncang, lawan beputar sampai aku kada kawa lagi bediri. (Kemarin setelah membawa buaya itu pulang, tiba-tiba rumahku seperti bergoyang serta berputar sampai aku tidak bisa berdiri)”


“Aku paksa betingkaung ke luar, imbahnya aku melihat hibak buaya di sekitaran rumahku, (Aku terpaksa merangkak ke luar, setelahnya aku melihat di sekitaran rumahku penuh dengan buaya)” sambungya.


“Sudah ikam lapas lah anaknya? (Sudah kamu lepas anaknya?)” tanya paman.


“Sudah Amang (paman),” sahutnya.


Paman pun memberi nasihat kepada orang itu agar tidak bertindak sembarangan di sungai kami. Paman meminta kepada orang itu untuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh di dalam hati agar tidak terjadi hal buruk terhadap keluarnya.


Rupanya paman dapat penglihatan jika orang itu harus meminta maaf langsung.


Paman mengajaknya pergi ke sungai belakang rumah untuk meminta maaf secara langsung dengan paman sebagai perantaranya.


Aku hanya bisa melihat dari belakang apa yang mereka lakukan.


“Tepuk air 3 kali, beri salam, sebutkan nama panjang dan bin. Lalu minta maaf dengan tulus,” tutur paman.


Orang itu pun mengikuti instruksi dari paman, dia berjongkok dan menepuk air sebanyak 3 kali.


“Assalamualaikum. Ulun (saya) Jumri bin Hasan. Ulun ke sini untuk minta maaf atas kesalahan ulun yang sudah mengambil anak buaya. Ulun minta rela minta ridho, ulun berjanji kada (tidak) bakalan lagi meulangi.”


Samar-samar aku melihat seorang perempuan berpakaian kerajaan, wajahnya cantik dengan mahkota kecil menghiasi kepalanya.


Setengah dari tubuhnya di dalam air, dia menatap tajam pria itu lalu menatap ke arah paman. Dia menganggukkan kepalanya sekali dan menghilang begitu saja.

__ADS_1


'Apa dia pemilik anak buaya itu?' pikirku.


Aku masuk ke dalam dan berpikir sejenak, rupanya apa yang aku lihat beberapa hari yang lalu memang benar terjadi. Yang di katakan orang itu sama persis dengan penglihatanku malam itu.


'Apa aku bisa melihat peristiwa yang akan terjadi?' gumamku.


'Ini aneh banget, kenapa bisa aku memiliki kemampuan seperti itu?' gumamku.


“Itu tidak aneh,” Atmajaya muncul secara tiba-tiba.


“Aaaaaaa.”


Aku berteriak lalu langsung menutup mulut dengan kedua tanganku.


“Aku sudah bilang jangan suka muncul tiba-tiba!” omelku kesal.


“Kenapa kamu selalu kaget padahal aku tidak mengerikan. Apa itu bagian dari kebiasaanmu?” ucapnya.


Aku hanya bisa tersenyum masam mendengar ucapannya. Aku pun mengambil HP dan memutar video yang ada di media sosial.


Hingga aku lupa dengan keberadaan Atmajaya. Saat aku fokus menonton, tiba-tiba aku merasakan jika tangan ku bergerak dengan sendirinya sehingga membuat layar HP-ku posisinya sedikit miring ke sebelah kanan.


Kebetulan saat itu aku tengah menonton anime ninja favoritku.


“Ninja, dia lagi bertarung melawan musuh.”


'Makhluk gaib ternyata bisa tertarik juga dengan tontonan seperti ini,' gumamku.


Aku mencoba scrool layar HP-ku hingga sampai pada video stand up comedy aku terus tertawa menontonnya rupanya Atmajaya kembali memperhatikan video itu tapi aneh dia tidak sedikit pun tertawa.


'Mungkin jokes bangsa mereka berbeda dengan manusia,' pikirku sambil mengangkat kedua bahuku.


Aku pun dengan iseng bertanya kepada Atmajaya. 


“Apa di alammu ada pelawak?” tanyaku. 


Pertanyaan ini sedikit membuatku geli sendiri hingga membuatku menahan tawa.


“Pelawak? Apa itu?” sahutnya.


Dari yang tadinya aku menahan tawa seketika wajahku berubah datar.

__ADS_1


“Sudahlah enggak usah dipikirkan,” sahutku.


Aku melanjutkan aktivitas menontonku, namun rupanya Atmajaya penasaran dan terus melihat ke arahku dengan tatapan yang mengintimidasi menurutku.


Aku mendengus. “ Pelawak itu seseorang yang menghibur dengan perkataan atau perbuatan yang lucu hingga membuat penontonnya tertawa,” sahutku.


“Sepertinya tidak ada yang seperti itu.”


“Kalau HP? TV? Sepeda?” cecarku.


“Tidak ada,” sahutnya singkat.


“Lalu kalian hiburannya apa?” 


“Kami memanggil penari dan pemain alat musik,” sahutnya.


“Musik? Apa pakai panting dan sejenisnya?”


Panting adalah alat musik petik tradisional khas Banjar yang menghasilkan suara yang khas. Di daerahku biasanya di mainkan jika ada acara pernikahan atau acara adat.


“Ya ada.”


“Madihin! Apa ada di sana?” 


Atmajaya hanya menggelengkan kepalanya.


Madihin sendiri yang aku tahu adalah lantunan syair atau puisi berbahasa banjar yang dibawakan oleh seseorang sambil memainkan rebana yang isinya sarat akan makna, pujian, serta nasehat tidak jarang di selipkan kata-kata jenaka.


Temanku Odi sangat handal dalam hal madihin, bahkan jika ada acara dia sering diminta untuk tampil.


Aku mematika layar HP-ku Atmajaya juga sudah tidak ada entah sejak kapan dia pergi, seperti hantu datang dan pergi sesuka hatinya.


Hello para readers yang cantik dan ganteng. 


Terima kasih karena sudah setia membaca cerita 'Istana Bawah Sungai'.


Jangan lupa dukung Author ya bisa dalam bentuk vote atau beri hadiah juga boleh.


Satu dukungan kalian sangat berharga bagi Author.


Nantikan episode selanjutnya ya. 

__ADS_1


__ADS_2