Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Mencoba melihat masa lalu


__ADS_3

“Kamu gak mau kuliah?” tanya Abah.


Aku menggelengkan kepalaku, “enggak Bah, kerja aja. Bisa dapat duit,” sahutku.


“Abah sudah cari info, ada banyak kampus yang murah pembayarannya. Abah tidak ingin kamu nantinya hidup seperti Abah dan almarhumah mama mu.”


“Tapi kerjaan Aya gimana? Aya juga masih ingin kerja Bah,” sahutku.


“Masih ada waktu. Tahun depan kamu bisa memutuskannya.”


Aku sebenarnya sangat ingin kuliah tapi aku juga tidak ingin meninggalkan pekerjaanku ini.


'Sepertinya aku harus rajin menyisihkan uangku,' batinku.


Hari ini aku mendapat giliran untuk libur, aku menggunakan waktuku untuk bersantai dan memancing ikan.


Biasanya aku memancing ikan di samping rumah pamanku yang tidak lain adik dari abah. Aku berjalan santai menuju rumah paman yang lokasinya kurang lebih 200 meter dari rumahku sambil menenteng ember kecil dan alat pancing dari bambu.


Saat sampai aku melihat ada banyak orang tengah memancing dengan berbagai macam alat dari mulai yang tradisional hingga modern.


Aku berjalan di titian (jalan kecil dari kayu atau papan, biasanya dibuat di atas sungai berarus tenang atau rawa), setelah mendapat posisi yang pas aku duduk lalu memasang umpan.


Saat memancing aku teringat dengan cerita nenek tentang kapal Belanda yang karam di sungai samping rumah paman.

__ADS_1


Aku penasaran dan mencoba melihat-lihat apakah benar yang diceritakan nenek itu. Aku mencoba meraba dengan unjunan (pancingan) yang lebih panjang karena aku membawa dua buah.


Hingga pancinganku menyentuh sesuatu.


'Apa ini bangkai kapalnya?' pikirku.


'Apa aku bisa melihat kejadian itu?' batinku.


“Coba saja.”


Aku mendengus kesal, “Bisa nggak sih kalau muncul itu diam dan jangan mengagetkanku!”


“Kemarin aku diam, tapi kamu juga terkejut. Lalu aku harus bagaimana?” ucap Atmajaya.


Aku menggaruk kepalaku, “sudahlah gak usah dibahas. Memangnya aku bisa lihat kejadian masa lalu?” tanyaku.


“Gimana caranya?”


“Niatkan dalam hatimu dengan sungguh-sungguh. Minta izin terlebih dahulu,” sahutnya.


“Sama siapa?”


“Sama Tuhanmu lah. Segala sesuatu yang kamu miliki adalah pemberian Tuhanmu.”

__ADS_1


“Iya juga ya. He-he-he,” aku terkekeh.


Karena aku sangat penasaran, lantas aku mencobanya aku menghela nafas sambil menutup mataku dan meminta izin dengan sepenuh hati.


'Ya Allah. Engkau pemilik seluruh alam semesta dan seisinya, izinkan hamba untuk melihat sejarah dari kapal ini.’


Aku membuka mata perlahan, dan benar saja aku seperti dibawa ke jaman jauh sebelum aku di lahirkan. 


Tidak terlalu banyak rumah, bahkan di hadapanku sekarang adalah hamparan sungai yang begitu luas.


'begini ya zaman dulu? Sungainya luas banget mana bersih,' batinku.


Di zaman itu masih banyak jukung (perahu kecil tanpa mesin), bahkan pakaian mereka tidak seperti di zamanku, wanita seumuranku terlihat mengenakan pakaian sejenis kebaya tempo dulu ada juga yang hanya mengenakan tapih bahalai (kain jarik) yang dililitkan ke tubuhnya.


Aku berdiri dan berjalan untuk melihat-lihat, ada banyak orang Belanda. Memang benar kata nenek jika di samping rumah paman dulunya adalah dermaga.


Aku juga sempat mendengarkan ucapan-ucapan mereka. 


“Ga weg!” ucap pria Belanda berseragam itu pada warga yang menghalangi jalannya.


Namun para warga tidak mengerti apa yang pria Belanda itu ucapkan.


Salah seorang yang turun dari kapal berbisik kepada pria itu.

__ADS_1


“Pardon! (Maaf), bisakah kalian menyingkir?” ucapnya dengan aksen khas Belandanya.


Para warga pun langsung menyingir dari sana agar para serdadu Belanda bisa lewat.


__ADS_2