Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Hari Kelulusan


__ADS_3

Senyum merekah menghiasi hari spesial ini seruan kebahagiaan terdengar menggema di lapangan, angan-angan akan masa depan terlontar dari masing-masing orang.


Keseruan itu semakin lengkap dengan adanya sesi foto bersama mengenakan seragam sekolah di tengah lapangan. 


Bagaskara (matahari) tengah berlindung di balik awan agar kami bisa lebih lama menikmati suasana ini meskipun hanya sesaat hawanya pun tidak terik namun sangat hangat.


“Aya. selamat ya kamu lulus dengan nilai yang bagus,” ucap Nia.


“Terima kasih ya Nia. Ngomong-ngomong kamu nanti setelah lulus mau ngapain?” tanyaku.


“Aku mau kuliah ngambil studi kebidanan,” sahut Nia.


“Wah ... Semoga kamu bisa mencapai cita-citamu sperti yang selalu kamu ceritakan sama aku,” sahutku.


“Aamiin. Kalau kamu gimana Ya?” tanya Nia.


“Aku sepertinya akan mulai mencari kerja,” sahutku.


“Kamu enggak mau lanjut ke universitas?” 


Aku menggelengkan kepalaku, “Kasihan abah kalau harus membiayai sekolahku terus,” sahutku.


“Kamu mau kerja di mana rencananya?”


“Di pabrik mungkin, aku dengar ada pabrik yang lagi buka lowongan besar-besaran. Ini kesempatan aku buat masuk ke sana,” sahutku.


“Nanti kita tetap sering chat dan telpon kan Ya?”  ucap Nia.


“Pasti Nia. Kamu kan teman terbaikku.”


'Akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan,' gumamku dalam hati.


Aku sangat senang sekaligus sedih, karena aku harus berpisah dengan Nia dan juga Laras sahabatku.


Aku mendapat kabar darinya jika setelah acara kelulusan dia akan segera pindah ke Cilacap.


Kini aku harus behadapan dengan kerasnya hidup untuk mencari uang. Aku sebenarnya sangat ingin meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi namun rasanya aku tidak akan bisa karena terbentur biaya.

__ADS_1


Aku mengayuh sepedaku dengan santai menuju rumah, saat di rumah aku menunjukkan hasil nilai ku kepada abah terlihat abah senang karena aku mendapat peringkat ke-3.


“Alahamdulillah. Mau melanjutkan kemana? Biar abah cari tahu informasi pendaftarannya,” ucap abah.


“Aya mau begawi (kerja) aja Bah,” sahutku.


“Kenapa?” 


“Aya pusing kalau  belajar terus, mending kerja dapat duit,” sahutku yang tidak ingin menjadi beban untuk abah.


“Ya sudah, tapi kalau berubah pikiran padahi (beri tahu) Abah.”


Aku sebenarnya masih kurang yakin dengan keputusan ini tapi aku juga tidak mau menjadi beban keluarga, aku juga belum punya pengalaman dalam bekerja sama sekali.


HP-ku berdering rupanya itu adalah panggilan masuk dari Laras.


“Halo Laras,” ucapku mengangkat telepon.


“Halo Aya. Gimana ... Gimana?” 


“Ya nilai kamu lah, aku yakin pasti bagus.”


“Alhamdulillah. Aku di peringkat ke-3.”


“Wah ... Selamat ya.”


“Oh iya kemarin kamu sempat bilang kalau lulus nanti mau kerja kan?” tanya Laras.


“Iya kenapa Ras?”


“Gimana kamu kerja di toko roti mama aku aja,” sahutnya.


“Serius?”


“Ya iya serius Aya. Kata mama aku di sana lagi butuh penjaga mesin kasir soalnya pekerja yang dulu berhenti karena melahirkan.”


“Aku mau banget. Tapi aku enggak ngerti cara pakai mesin kasir.”

__ADS_1


“Tenang. Ada Iyan dia nanti yang ngajarin. Hitung-hitung biar ada kerjaan dia ha-ha-ha.”


“Ya sudah. Besok kamu datang aja ke sana, lagian lokasinya kan enggak jauh dari rumah kamu,” sambung Laras.


“Oke deh. Sekali lagi makasih ya Ras.”


Aku menutup teleponku, aku sangat senang karena mendapatkan pekerjaan yang terbilang dekat dengan rumahku. Di bandingkan dengan pabrik itu cukup jauh.


“Selamat untuk kelulusanmu.”


Atmajaya tiba-tiba muncul di sampingku.


“Astagfirullah!” pekikku.


Rupanya suaraku terlalu keras sampai terdengar oleh abah yang berada di dapur.


“Kenapa Ya?” tanya abah.


“E-enggak Bah. Ada cicak gugur (jatuh),” sahutku.


Aku sudah terbiasa dengan kehadiran Atmajaya tapi aku tidak terbiasa dengan kelakuannya yang suka muncul dan berbicara secara tiba-tiba.


“Lain kali kalau mau muncul di hadapanku jangan selalu mengetukanku!” ucapku.


“Lalu aku harus seperti apa?”


“Itukan ada pintu kenapa enggak berjalan santai lalu masuk lewat pintu!”


“Kalau bisa datang dengan waktu sekejap kenapa aku harus berjalan dengan kakiku?” sahutnya.


“Ya-ya iya sih. Ah sudahlah susah ngomong sama kamu.”


Jangan lupa dukung Author ya


Karena satu dukungan dari kalian sangat berharga.


Nantikan episode selanjutnya ya gaes.

__ADS_1


__ADS_2