Istana Bawah Sungai

Istana Bawah Sungai
Karin Menghilang


__ADS_3

Terdengar suara dentuman dari atas langit, bola-bola kapas kelabu kehitaman mulai merapat membentuk altokumulus, derai angin menjatuhkan dedaunan semakin lama hembusannya semakin kencang. Dari langit perlahan berjatuhan bulir-bulir air, suasana melankolis serta aroma tumbuhan dan tanah yang tersentuh hujan sangat terasa.


Rasa waswas dan khawatir menyelimuti tenda kami karena Karin tak kunjung datang.


“Gimana ini apa mungkin Karin di tenda lain?” tanyaku.


“Semoga saja begitu,” sahut Jasmin.


“Apa kamu gak lihat dia larinya kemana?” tanya Nia.


“Aku nggak lihat tiba-tiba Karin jalan duluan, aku kira dia langsung ke tenda,” sahutku.


“Padahal kita kan cuma jalan lurus nggak belok kemana-mana, masa iya Karin tersesat?” pungkas Jasmin.


“Apa kita lapor panitia saja?” usul Nia.


“Ya sudah. Kita ke tenda panitia saja.”


Kami bertiga pun berjalan menuju tenda panitia dengan menggunakan jaket kami sebagai penutup kepala.


“Kak,” ucap Nia di depan tenda.


“Kalian ngapain hujan-hujanan?” 


“Kak. Karin nggak balik ke tenda sekarang hujannya deras gimana ini?” ucapku.


“Terakhir kali kalian dimana?”


“Kami semua main di danau sana, lalu ada panitia lain menegur kami dan Karin kesal dia pergi mendahului kami. Kami mengira kalau dia sudah di tenda ternyata dia enggak ada,” tutur Jasmin.


“Ya sudah kalian masuk saja ke tenda kalian, biar kami yang mencarinya, hutan ini kan nggak luas jadi cukup gampang nyarinya,” tuturnya.


“Baik Kak terima kasih.”


Kami pun bergegas lari menuju tenda karena jaket yang kami gunakan sudah basah. Kami duduk berdempetan karena kedinginan.


“Kita berdoa aja semoga Karin baik-baik aja,” ucapku.


Satu jam berlalu, langit mendung perlahan memutih bias kelabu bulir air mulai berubah menjadi rintik kecil jam pun sudah menunjukkan pukul 17.50 namun tidak ada kabar baik tentang Karin.


Kami bertiga mulai keluar tenda mengeluarkan senter kami masing-masing. Terlihat beberapa orang dengan wajah panik menghampiri kami.


“Gimana teman kalian sudah kembali ke tenda?”


“Belum Kak, apa kita cari sama-sama saja?” usuk Nia.


“Ya sudah kalian ikut aku, kita cari dia. Kalian jangan sampai terpisah ya,” ucapnya.


“Baik Kak,” sahut kami serentak.


Langit berangsur gelap, bulan pun mulai menunjukkan eksistensinya. 


“Karin! Karin!” teriak kami dengan nyaring.


Kami terus berusaha mencarinya, panitia pun sampai kewalahan.


“Aneh kemana dia, padahal hutan ini gak luas,” ucapnya.


“Apa kita coba cari di danau itu saja,” ucap Jasmin.


“Nah kamu benar, siapa tahu Karin ada di sana,” sahutku.


“Gimana kak?” tanyaku.

__ADS_1


“Ya sudah kita cari ke sana, tapi kita saling pegangan tangan jangan sampai ada yang terlepas.”


“Memangnya ada apa dengan danau itu? Sampai kami dilarang bermain di sana?” 


“Danau itu berbahaya, ada banyak penunggu yang suka mengganggu.”


Mendengar ucapan itu bulu kudukku langsung berdiri, aku merasakan seperti ada yang tengah mengawasi kami. Mataku terus waspada hingga kami sampai di danau itu.


“Karin? Karin,” teriakku.


“Karin?” 


Kami mengarahkan senter ke berbagai sudut namun tidak melihat adanya seseorang di sana. 


“Sepertinya dia tidak ada di sini, sebaiknya kita kembali ke area tenda,” ucap panitia itu.


“Kak ... I-itu apa?” Jasmin mengarahkan senternya ke sebuah pohon.


“Jangan dilihat! Jangan lepaskan pegangan kalian!” ucapnya.


Terdengar suara tawa cekikikan di atas pohon, Jasmin berusaha melepas pegangannya namun aku menahannya.


“Jasmin jangan! Kita harus tetap sama-sama!” ucapku.


“Aku takut Ya,” Jasmin menangis tersedu sambil berjalan.


“Sudah hiraukan aja! Terus jalan jangan menoleh kemana pun!”


Kami berjalan dan terus bergandengan dengan erat hingga sampai ke area luar perkemahan, disana semua siswa sudah berkumpul.


Jasmin masih terus menangis Nia berusaha menenangkannya.


“Jasmin kita sudah sampai kamu jangan nangis lagi,” ucap Nia.


Hingga aku teringat dengan Hp yang aku pegang, aku mencoba menghubungi nomor Karin, walau pun berada di hutan untuk sinyal masih sangat kuat karena berada di dalam kota.


Menurut informasi yang aku tahu hutan ini dikelola khusus untuk aktivitas perkemahan dan tempat rekreasi bahkan di sekitar hutan banyak rumah penduduk.


Aku mencoba menghubungi nomor Karin dan tersambung.


“Halo Karin. Karin kamu dimana?” ucapku.


“Karin? Halo Karin!” 


“Kok nggak ada suaranya,” ucapku.


Aku mencoba menghubungi lagi namun nomornya sudah tidak aktif lagi.


“Gimana? Dia dimana?” tanya Nia.


Aku menggelengkan kepalaku, “ Nggak ada suaranya, aku coba telpon lagi malah nggak aktif,” sahutku.


Seorang guru serta dua orang panitia akhirnya menemukan Karin, dan mengantarnya ke tenda kami bertiga bergegas lari mengikuti panitia untuk menuju tenda.


Terlihat Karin tidak sadarkan diri dengan kondisi basah kuyup.


“Tadi Karin kami temukan duduk dibawah pohon samping tenda ini,” ucap panitia.


“Iya benar, saat kami datangi dia malah teriak dan langsung pingsan.”


“Aneh. Kami dari tadi mencari dia sama sekali tidak ketemu,” sahut Nia.


“Tapi kenapa Karin pucat sekali?” tanyaku.

__ADS_1


“Mungkin karena kedinginan. Kalian bantu Ibu gantikan baju Karin ya.”


“Baik Bu.”


Kami pun masuk lalu menutup tenda, kami menggantikan pakaian Karin yang basah, ada sedikit keanehan lain pada Karin. Tubuhnya penuh dengan sesuatu yang lengket seperti lendir.


Aku mengambil handuk serta tissue basah milik Jasmin untuk membersihkan tubuh Karin.


“Syukurlah dia bisa kembali, sepertinya Ibu akan ikut di tenda kalian nggak apa-apa kan?”


“Enggak apa-apa Bu. Lagian tenda ini cukup luas,” sahut Nia.


Saat menggantikan pakaian, tubuh Karin terasa sangat dingin kami pun berusaha menyelimutinya dengan kain sarung dan selimut milik Nia.


Kami semua memilih untuk tetap berada di tenda untuk menemani Karin, kami tidak mengikuti aktivitas siswa lain di luar area perkemahan. Hingga malam semakin larut kami semua mulai terlelap termasuk Ibu guru yang tidak lain wali kelas aku dan Nia.


Saat terlelap sayup-sayup aku mendengar suara jeritan seorang wanita, mataku terbuka ketika suara jeritan itu semakin jelas.


Bahkan bukan hanya jeritan aku juga mendengar suara tangisan pilu yang begitu menyayat hati, aku mengambil senter dan mencoba keluar tenda dan mencari sumber suara itu.


Rupanya suara itu berasal dari belakang tenda, dari kejauhan aku melihat ada sekumpulan pria yang sedang menggauli seorang wanita.


Wanita itu berteriak histeris serta meminta tolong, aku sendiri tidak berani mendekat. Mereka menggaulinya bergiliran.


Saat itu aktivitas para siswa masih berlangsung, bahkan terdengar suara sorak bahagia mereka beberapa panitia juga masih terlihat berjaga ditenda masing-masing.


Aku sendiri heran padahal suara teriakan wanita itu sangat keras tapi mereka seakan tidak mendengarnya. 


'Apa aku sedang halusinasi?' gumamku.


Aku terus memperhatikan mereka, hingga salah seorang dari mereka mengeluarkan sebilah golok dari dalam tasnya. Dia dengan santai menggorok leher wanita itu sampai putus. 


Melihat hal itu kakiku langsung gemetar dan lemas, aku berteriak dan menangis namun aku tidak berani mendekat.


Tidak sampai disitu, mereka secara bergantian memutilasi wanita itu. Mereka mulai memotong lengan, kaki serta perutnya bahkan isi perutnya keluar.


Hal itu membuatku mual aku berlari masuk ke dalam tenda dan berusaha membangunkan yang lain. Saat masuk aku melihat Karin duduk dengan tatapan kosong, dia perlahan menoleh ke arahku.


“Ka-karin kamu kenapa?” tanyaku.


Dia terus menatapku dengan matanya yang terlihat menakutkan, dengan cepat ia berdiri dan menghampiriku.


Tangannya menyelusup ke leherku dan dia mencekikku.


“Aaaakkkkkh!” 


“Karin! Karin!” aku berusaha melepaskan tangan Karin.


Aku seperti kehabisan nafas, aku terus berusaha agar Karin melepaskan cekikannya.


Samar-samar aku mendengar beberapa orang memanggil namaku dan Karin. Tanpa pikir panjang aku menarik rambut Karin dan dia melepaskan cekikannya.


Aku tiba-tiba langsung terbangun.


“Astagfirullah! Syukurlah ini cuma mimpi,” ucapku.


Aku menoleh ke arah Karin, rupanya dia juga sudah bangun.


“Karin apa kamu baik-baik aja?” tanyaku.


Ibu guru yang tengah tidur di sampingku pun juga terbangun karena mendengar suaraku yang cukup keras.


bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya

__ADS_1


__ADS_2