Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Mulai Dari Awal


__ADS_3

Happy Reading.


Di butik.


Jesselyn menghampiri Emy yang terlihat merenung, sepertinya sahabatnya itu masih belum bisa teralihkan pikirannya dari sang mantan yang belakangan ini selalu mengganggunya. "Em, nanti setelah pulang dari butik anterin aku ke Mall ya? aku mau beli hadiah buat sepupuku yang mau ulang tahun, mau gak?" ucap Jesselyn.


Emy menoleh dan tersenyum kepada Jessy, sapaannya. "Bolehlah, aku udah lama gak nge-Mall, emangnya sepupu kamu yang mana yang mau ulang tahun?" tanya Emy.


"Sebenarnya dia tuh udah lama gak balik ke Jakarta, tapi setahun belakangan ini dia kembali karena udah selesai kuliahnya, terus disuruh urus bisnis keluarganya di bidang meble," jawan Jesselyn.


"Oh, aku kira sepupu kamu masih kecil, minimal masih SMA, eh ternyata udah lulus kuliah, ta?" Emy terkekeh.


"Iya, dia hampir seumuran sama kita, masih mudaan dia setahun. tapi sifatnya itu dewasa banget, ugh, kalau gak ingat kita tuh masih sodara, pasti bakal aku pacarin," Emy langsung menjitak kepala Jesselyn.


"Dasar, emang kamu suka sama berondong? bukannya setahuku kamu suka yang lebih tua, terus mau dikemanain tuh si Tio yang lagi di luar Negeri nyariin nafkah buat kamu?" ejek Emy.


Jesselyn hanya nyengir kuda. "Sebenarnya aku sama Tio udah sebulan ini renggang," ucap Jesslyn yang tiba-tiba berubah sendu, "kamu tahu sendirikan bagaimana hubungan jarak jauh itu, gak menutup kemungkinan Tio di sana punya cewek lain, soalnya sebulan ini dia jarang banget balas chat aku, paling balas cuma bilang kalau dia lagi sibuk banget, yah, lama-lama aku bosan juga donk, gimana bisa seneng kalau hubungannya kek gini udah lebih dari setahun?"


Wanita itu merasa matanya memanas ketiia ingat bagaimana chat dia yang sering diabaikan oleh sang kekasih.


"Pokoknya aku butuh kepastian dari dia, kalau dia udah gak cocok sama aku, ya mending kita putus, biarin aku nyari yang baru di sini." Jesselyn menyeka air matanya. Emy hanya bisa memberinya semangat lewat pelukan.


"Sejujurnya aku masih cinta banget sama dia, Em.. tapi aku gak bisa kalau harus terus mengalah seperti ini, dia itu lebih memilih mementingkan karirnya dari pada kekasihnya, aku gak sanggup Em, aku mau kejelasan tentang hubungan ini!" Jesselyn menutup wajahnya dengan kedua tangan. Akhirnya dia menumpahkan segala kesedihan yang ia pendam sendiri selama ini.


Emy menenangkan sahabatnya dengan mengelus punggung Jesselyn yang masih bergetar. Emy tahu bagaimana kisah cinta Jesselyn dan juga Tio, tetapi baru tiga bulan mereka jadian, Tio harus keluar Negeri untuk bekerja di salah satu perusahaan korea di bidang elektronik.


"Keluarin semua uneg-uneg kamu, Jess, aku akan selalu ada buat kamu, certakan semua masalah yang mendera hatimu, jangan di pendam sendiri, percaya sama aku," ucap Emy.


Jesselyn mengusap air matanya. "Terima kasih, Emy, kamu memang sahabat terbaikku, ya udah, nanti aku traktir kamu makan deh setelah aku nyari kado untuk sepupuku," Emy langsung memeluk Jesselyn kembali.


"Kamu baik banget sih, padahal gak perlu loh, tapi kalau kamu maksa ya gak apa-apa," Emy tersenyum lebar sambil mengangkat kedua jari tengah dan telunjuk nya membentuk huruf V.


"Iya-iya, aku tahu kamu pasti butuh makan banyak, biar badan lebih berisi dan sang mantan nyesel deh udah ninggalin kamu," Jessy dan Emy tergelak.

__ADS_1


"Tenang aja, aku gak akan mau balik sama mantan, dia kan udah bekas, jadi ya buang aja, tinggal nyari yang baru."


Jesselyn memberikan dua jempol tangan untuk sahabatnya itu, dia juga harus bisa membuat Emy teguh pendirian dan tidak kembali kepada sang mantan yang masih mengejarnya.


****


Revan keluar dari dalam mobil dan melihat istrinya sedang bercengkrama dengan seorang pria yang sangat dia kenal. Pria itu bahkan mengajak Bella pergi berdua dengannya.


"Tidak boleh! Bella tidak boleh pergi dengan siapapun karena aku melarang istriku dekat dengan pria lain!!" seru Revan membuat Bella dan Josh menoleh ke arahnya.


"Revan?" guman Bella.


Dia tidak menyangka kalau Revan ada di tempat ini, apa yang dilakukannya? Apakah Revan sedang membelikan Lisa makan siang? Bella tidak mau membatin yang tidak-tidak.


"Kenapa? Apa hak mu melarang ku? Aku sudah tahu seperti apa hubunganmu dengan Bella, dia tidak pernah menceritakan tentang mu, tapi aku mencaritahu sendiri, kamu bahkan berselingkuh dari Bella, memiliki kekasih lain di luar sana, oh, aku tidak menyangka bahwa Bella di sakiti oleh pria seperti mu!" seru Josh.


Revan mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar merasa marah saat mendengar ucapan pria itu, semuanya memang benar, tidak Revan pungkiri tetapi dia sekarang sedang berusaha membuat Bella bahagia dan sudah tidak berhubungan dengan wanita lain lagu.


"Revan! apa yang kamu lakukan!!" seru Bella.


Revan menatap ke arah istrinya yang berusaha melindungi Josh itu, ada rasa ngilu dihatinya, ia begitu tidak suka dan tidak terima kalau Bella membela pria lain.


"Bella, ayo kita pulang!" Revan menarik tangan istrinya dan mengajaknya keluar dari dalam restoran Italia itu.


Pria itu membawa sang istri masuk ke dalam mobil dan langsung melajukanya, meninggalkan Josh yang masih diam menatap kepergian mereka.


Bella hanya diam saja dan menatap kesal ke arah Revan. Sebenarnya ia merasa sangat tidak enak dengan Josh, tetapi Bella juga tidak bisa melawan Revan yang sepertinya kelihatan sedang marah.


Revan menghela napas, dia melirik ke arah sang istri yang hanya diam saja membuang wajahnya ke arah luar.


"Bella, jangan dekat-dekat dengan pria itu! aku tidak suka!" ucap Revan memecah keheningan di antara mereka.


Bella menoleh, menatap nanar pria di sampingnya ini, kenapa dia tidak boleh dekat dengan pria lain sedangkan dirinya saja bisa berpacaran dengan bebas.

__ADS_1


"Apakah kamu lupa dengan perjanjian pernikahan kita, Van? bukankah kamu ... !"


"Lupakan perjanjian itu, aku sudah membuangnya, bisakah kita melupakan saja kontrak pernikahan yang telah ku buat itu, Bella, aku ingin memulai semuanya dari awal!" jawab Revan menoleh ke arah istrinya, dia benar-benar tulus mengucapkan hal itu.


Terdengar nada frustasi di dalamnya, kenapa dia sangat sulit sekali untuk hidup tenang bersama istrinya.


Bella kembali menatap ke depan, dia merasa bingung dengan ucapan Revan yang terus saja membuatnya begitu melambung tapi kemudian menghempaskannya ke dasar, entah sudah berapa kali Bella mendengar dari Revan bahwa dia ingin memulainya dari awal tapi entah kenapa setiap melihat Revan masih memperdulikan mantan kekasihnya membuat Bella masih belum bisa menerima semua itu.


"Van, aku tidak tahu kenapa kamu ingin memulai semuanya dengan ku, apakah kamu benar-benar seri... !" Bella tidak meneruskan ucapannya.


Dia tidak ingin menduga-duga hal yang tidak akan terjadi. Mungkin saja Revan melakukan itu hanya karena ingin membahagiakan orang tuanya dan bukan karena keinginannya sendiri. Jika memang Revan benar-benar tulus terhadapnya, kenapa pria itu masih saja terlihat khawatir melihat wanita masa lalunya yang sedang berada dalam masalah.


'Tapi sepertinya Revan memang benar-benar berubah, dia sudah mengatakannya bukan, jika dia mencintai ku!'


'Ya Tuhan, jangan sampai baper, kenapa kamu gampang banget baperan, sih Bell!' gerutu Bella dalam hati.


Tiba-tiba Bella merasakan sentuhan di tangannya, dia menoleh ke arah samping yang melihat Revan masih fokus ke depan. Matanya turun ke bawah dan melihat tangan Revan yang saat ini tengah menggenggam tangannya.


"Aku ingin kita menjalani rumah tangga ini seperti pada umumnya, aku sudah tidak mau bermain-main lagi," Revan menoleh sekilas ke arah Bella dan tersenyum.


Bella tidak boleh terbawa perasaan, jantungnya sudah terasa seperti ingin melompat dari tempatnya.


'Sebaiknya tetap seperti ini saja, Van, aku takut kalau suatu saat nanti tidak akan bisa menahan perasaan nyaman yang kamu berikan, apalagi masih banyak wanita yang selalu mengusik mu, apa aku akan kuat kalau kamu tidak bisa tegas dengan wanita-wanita itu?' batin Bella.


"Bell, jangan berfikir yang tidak-tidak, aku sudah merasakan nyaman denganmu, aku juga sudah memutuskan untuk memperbaiki semuanya, kan? bagaimana kalau kita mulai dengan kencan dulu atau mungkin berbulan madu?" tanya Revan penuh percaya diri.


"Jangan harap kalau bulan madu, aku belum siap, hatiku masih bimbang dengan semua ini, Van. Perubahan mu ini terkadang membuatnya merasa sangat aneh," jawab Bella akhirnya.


Revan mengangkat tangan yang menggenggam tangan sang istri kemudian menciumnya lembut.


"Apa kamu takut kalau aku hanya akan bersenang-senang di awal? Apa kamu merasa aku tidak serius? Ayolah Bella, aku ini sangat serius, aku benar-benar ingin berubah dan memperbaiki semuanya," ucap Revan benar-benar tulus dengan raut wajah yang yang serius.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2