Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Sikap Revan


__ADS_3

Happy Reading.


Bella menghabiskan minuman yang di berikan oleh Jessy.. Tenggorokan nya tiba-tiba terasa kering karena terlalu lama berdebat dengan sang pelakor.


"Udah tenang? Masih haus?" Bella menggeleng.


"Kenapa tadi kamu gak ngomong sama kita kalau ternyata wanita tadi adalah pelakor!" seru Emy yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bella.


Bella menggeleng, rasanya dia sudah lelah berdebat, tadi dia sudah cukup mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan Viona dan sekarang dia tidak mau meladeni pertanyaan kedua sahabatnya itu.


"Bell, kamu udah gak percaya sama kita-kita?" tanya Jessy.


Bella menghela nafas. "Bukan gitu guys, aku lagi gak mau debat, tadi aja udah capek banget, yang jelas aku gak kalah tadi sama pelakor itu!" jawab Bella tersenyum.


"Tapi kita pengen tahu cerita lengkapnya, ayolah Bella, masa kamu gak percaya sama kita-kita?" Emy merengek masih penasaran.


"Gak ada yang menarik kok," Bella masih tersenyum. Teringat bagaimana tadi dia membantai Viona habis-habisan


"Kalau gak menarik kenapa nenek lampir keluar dengan muka yang kek tembok berjalan, menyedihkan," ucap Emy.


"Ya itu, dia udah aku kalahin di acara sidang debat, makanya mukanya kek gitu!" ucap Bella tertawa.


Jesselyn dan Emy hanya melongo melihat Bella yang tiba-tiba tertawa lepas seperti itu, selama ini mereka hanya bisa melihat Bella yang selalu serius.


###


Viona memukul setir mobilnya karena kesal, tidak menyangka bahwa ia telah kalah melawan istri sah yang sangat tangguh seperti Bella.


"Aku harus menemui Revan, tidak peduli dia nanti marah atau gak, aku tidak ingin Revan membuang ku begitu saja!" gumam Viona mencengkeram setirnya.


Wanita cantik itu langsung melajukan mobilnya ke arah perusahaan Alfredo grup untuk bertemu dengan sang mantan.


Terserah dia akan di tolak lagi, tapi sekarang Viona akan lebih berusaha keras agar Revan mau menemui nya.


Viona keluar dari dalam mobil dan segera melangkah masuk ke dalam perusahaan Revan tersebut.


Tapi pada saat dia sudah berada di pintu masuk, tiba-tiba dua orang satpam menghadangnya.


"Maaf, Nona, anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam!" ucap salah satu satpam tersebut.


"Apa-apaan kalian ini! Minggir! Aku mau ketemu atasan kalian!" seru Viona tidak terima karena dihadang seperti ini.


Viona menatap marah terhadap dua orang itu.


"Tapi kami diperintahkan menahan anda di sini, dan anda sudah tidak boleh masuk ke dalam!"


Salah satu petugas yang memiliki wajah garang segera menarik Viona karena berusaha melawan.


"Lepaskan! Aku akan melaporkan mu pada Tuan Revan! Dan aku pastikan bahwa kalian akan langsung dipecat!"


Kedua satpam itu saling pandang, kemudian tertawa hampir bersamaan.


"Apanya yang lucu!!"


"Maaf, Nona, tapi yang menyuruh kami mengusir anda dari sini adalah Tuan Revan, jadi kalau kami malah melepaskan anda, maka kami akan di pecat!."


Viona sudah tau, tapi tetap saja dia berusaha untuk di izinkan masuk agar bisa bicara dengan Revan.


"Silahkan pergi Nona, kalau kamu tidak pergi, kami akan memaksa!"


"Tidak!! Aku tidak mau pergi!" Viona masih berusaha memberontak.


"Revan!! Revan!! Aku ingin bertemu dengan mu!!"


Bruk!!


Kedua satpam itu langsung mendorong Viona hingga terjatuh karena wanita itu tidak mau menuruti mereka, malah kelakuan nya yang memberontak dan berteriak-teriak memanggil atasan mereka membuat kedua satpam itu kesal.


"Jadi cewek tuh punya harga diri dikit donk, mbak!" seru salah satu satpam.


Kemudian mereka meninggalkan Viona sambil mengawasi wanita itu dari jauh.


****

__ADS_1


Revan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, pria itu memijit pelipisnya yang sejak tadi terasa amat pusing. Padahal hari ini dia cukup mempunyai waktu luang karena tidak ada agenda rapat atau meeting dengan klien, tapi rasanya bebannya malah semakin bertambah.


Bukan karena soal urusan kantor yang membuat ia pusing, melainkan mengenai istri dan mantan kekasihnya. Sebenarnya Revan masih banyak sekali pikiran yang mengganjal di hatinya, mengenai Viona yang datang kebutik, dan melihat Bella yang mengusirnya secara terang-terangan di depan Viona membuat Revan semakin was-was.


Dia bukan takut dengan Viona, melainkan Revan resah kalau nanti mantan kekasihnya itu menceritakan sesuatu yang tidak-tidak pada Bella hingga membuat istrinya itu menjadi sedikit goyah akan dirinya dan perasaanya.


Tapi sepertinya Bella telah salah paham dalam menanggapi. Wajar memang jika seoang istri tidak ingin melihat suami dan mantan kekasihnya berada di dalam ruangan yang sama, begitupun sebaliknya, pasti Revan juga tidak maukan kalau Bella bersama mantan kekasihnya terlihat bersama.


"Aku harus meneleponnya," gumam Revan mengambil ponsel yang berada di atas meja. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang di bicarakan oleh Viona dan juga istrinya. Revan khawatir kalau Viona akan menyakiti Bella karena dirinya.


Apakah sebaiknya dia menyewa pengawal untuk sang istri? mungkin Viona bisa bersikap lebih kasar dan menyakiti istrinya dan hal itu tentu saja bisa terjadi mengingat bagaimana keras kepalanya Viona.


Panggilannya tidak diangkat oleh Bella, bahkan Revan mengulangnya sampai tiga kali tapi tetap saja tidak diangkat.


"Kamu kemana, sayang? aku khawatir!" Revan mengusap kasar wajahnya. Dia bingung menghadapi masalah kehidupan rumah tangganya yang begitu rumit.


"Sahabatnya Bella, tapi aku tidak tahu nomor teleponnya, sepertinya mulai saat ini akun harus lebih banyak tahu tentang kehidupan Bella dan para sahabatnya," gumam Revan.


Ya, selama ini Revan memang tidak pernah tahu tentang kehidupan istrinya, dia hanya tahu tentang kedua sahabat Bella yang bekerja dibutiknya, tapi Revan sama sekali tidak pernah peduli.


Namun nyatanya sekarang dia butuh tahu kabar istrinya, misalkan Revan tahu nomer sahabat sang istri, pasti dia tidak perlu bingung untuk mengetahui bagaimana keadaan Bella sekarang.


Tok, tok, tok!


Sebuah suara ketukan dipintu membuyarkan lamunan Revan.


"Masuk!"


Terlihat seseorang berseragam satpam masuk kedalam ruangan dengan menunduk.


"Ada apa?" tanya Revan.


"Ehmm, anu tuan, tadi ada seorang wanita mencari tuan," jawab satpam itu.


"Siapa?" tanya Revan sok sibuk dengan melihat berkas-berkas yang sebenarnya sudah ia tanda tangani.


"Nona Viona," Revan langsung mendongak ketika ia mendengar nama Viona.


"Iya, tuan, tadi dua penjaga di depan sudah melarangnya masuk, bahkan Nona Viona langsung berontak, sekarang dia masih berada di dalam mobilnya dan tidak mau pulang, mungkin dia sedang menunggu anda, saya hanya menyampaikan ini," jawab satpam tersebut.


Revan kembali memijit kepalanya yang langsung pusing, sepertinya Viona benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik. Apakah dia harus menggunakan ancaman agar dia mau melepaskan dirinya dan juga sang istri.


"Aku akan bicara padanya, bawa dia masuk!" satpam terkejut dengan titah atasannya, tetapi dia tidak wajib bertanya karena itu bukanlah ranahnya.


"Baik, tuan," jawab satpam itu menunduk, sepertinya dia penasaran dengan keputusan atasannya itu, tapi kakinya tetap melangkah meninggalkan ruangan atasannya itu.


Viona masih betah berada di dalam mobilnya, dia bertekad akan menunggu Revan sampai pria itu keluar dari dalam kantornya. Tiba-tiba ada seorang satpam berjalan ke arah mobilnya dan mengetuk jendela mobil Viona.


"Ada apa?" ketus Viona setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Anda ditunggu tuan Revan di ruangannya," jawab satpam tersebut kemudian berlalu begitu saja.


Viona hampir berteriak karena kegirangan, dia benar-benar ingin mengadukan para satpam yang sudah mengusirnya secara paksa itu.


"Heh! kalian lihat saja, setelah ini aku pastikan kalian di pecat! karena memperlakukan aku dengan kurang ajar!" tunjuk Viona kearah dua satpam yang tengah mengusirnya tadi.


Viona langsung melenggang masuk dengan membusungkan dada penuh percaya diri. Kedua satpam tadi bukannya merasa takut tapi malah mencibir kelakuan wanita yang menurut mereka memang bukanlah wanita baik-baik itu.


Semua orang diperusahaan tahu kalau wanita itu adalah seorang wanita penggoda yang selalu menempel pada atasannya, padahal semuanya sudah tahu siapa istri dari seorang Revan Alfredo.


"Dasar pelakor!"


"Dia benar-benar tidak tahu malu,, untung Tuan Revan sekarang udah sadar!" Ya, tentu saja mereka semua tahu dengan kelakuan atasannya, tapi mereka tidak berani berspekulasi apa-apa.


Takut jika mereka akan dipecat dari perusahaan itu, biar bagaimanapun Alfredo grup adalah salah satu jajaran perusahaan besar di kawasan Asia tenggara.


"Sebenarnya nona itu cantik sih, tapi kelakuan nya itu bikin sepet mata!"


"Kalau disuruh milih, tetep milih istri dirumah yang bau dapur ketimbang uler keket itu,"


"Ya iyalah, dia doyannya duit banyak, lah sedangkan kita apa!!"


Kedua satpam itu tertawa terbahak-bahak menertawakan nasib mereka.

__ADS_1


****


Viona masuk ke dalam ruang kerja Revan dengan senyum yang mengembang di bibirnya, mekipun tadi penampilannya sedikit berantakan karene berkelahi dengan dua satpm dibawah, tetapi sekarang penampilan Viona sudah rapi kembali karena sebelum masuk ia pergi ke toilet terlebih dahulu untuk memperbaiki make up dan penampilannya.


"Hai, Van! aku tahu kalau kamu pasti tidak akan pernah tega kepadaku, 'kan? aku tahu bahwa dihatimu masih ada namaku, dan aku yakin kalau kamu hanya marah sesaat kepadaku, betulkan, say5amg?" ucap Viona menghampiri Revan dan akan bergelanyut manja seperti biasanya di leher Revan.


Tapi belum sampai hal itu terjadi, Revan lebih dulu menghindar dan menepis tangan Viona.


"Bisakah kamu duduk di sana dengan tenang? kelakuanmu ini sungguh kekanakan," ucap Revan dengan intonasi yang tegas.


Viona sendiri merasa agak terkejut mendenganya. "Kenapa kamu jadi seperti ini, Van? apa salahku padamu?"


Revan tersenyum sisis. "Kesalahan mu banyak sekali, kau tahu bahwa kamu memang tidak bisa dikasih hati, ya! aku sudah mengatakan padamu bahwa saat ini aku dan kamu hanyalah teman, dan hubungan kita sudah putu!! apakah perlu aku ulangi lagi?"


Viona terkesiap melihat Revan yang membentak nya dengan rahang mengeras. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Revan yang seperti ini, apakah ini memang saatnya untuk dia harus benar-benar mundur dari kehidupan? Viona menggeleng pelan sambil menitikkan air matanya, air mata yang memang jatuh karena rasa sakit di hatinya. Belum pernah Revan membuat hatinya sakit, meskipun Revan sering bermain dengan banyak wanita di depannya, tapi pria itu selalu berbuat baik dan tidak pernah membentak seperti ini.


"Hiks, Van! apa kamu benar-benar memutuskan ku karena wanita itu?"


"Dia istriku, dan posisinya lebih tinggi dari pada dirimu, kamu hanya teman wanita ku, tidak lebih dan mulai sekarang aku ingin bisa hidup tenang dan normal seperti pasangan suami istri yang lain, membina sebuah keluarga dan membesarkan anak-anak dengan kasih sayang dan juga harta yang melimpah, dan aku hanya akan melakukan semua itu bersama bersama satu wanita yaitu Bella!" tekan Revan sekali lagi agar Viona tidak bertanya.


"Tidak!!! kamu tidak mungkin ...!"


"Aku juga sangat mencintai istriku!"


Viona benar-benar merasa sangat sakit mendengar pengakuan dari pria yang sangat dicintainya itu.


"Silakan keluar dari sini dan ingat! jangan pernah Kembali lagi!!"


****


Bella melihat ponselnya yang tadi ia tinggal di dalam tas. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Revan dan juga beberapa pesan. Salah satunya pesan dari Josh.


Bella mengabaikan pesan Revan dan lebih memilih membuka pesan dari Josh karena sepertinya itu sedikit penting.


'Aku akan kembali ke Amerika,, sebelumnya aku akan memesan beberapa batik dari Jogja, apakah kamu bisa mencarikan atasan batik beberapa pasang? Kalau bisa aku memesannya lewat kamu saja?'


Bella langsung membalas pesan itu dan mengatakan bisa. Sepertinya dia punya salah satu sahabat baik di Jogja yang memiliki toko batik di Jl. Malioboro. Bella akan memesan kepada sahabat nya itu.


'Kira-kira kamu buruh berapa pasang?'


Tidak lama muncul balasan dari Josh.


'Kalau ada 20 pcs aja, jadi 10 pasang. Masalah warna dan corak aku serahkan padamu, semua warna yang kamu pilih pasti bagus-bagus.'


Bella masih menimang untuk membalasnya, sepertinya kalau hanya 20pcs dia bisa langsung minta sahabatnya itu untuk mengirimkan besok.


Saat akan membalas pesan Josh tiba-tiba pria itu sudah menelepon.


"Halo?"


"Halo, Bella. Sepertinya kita harus bertemu untuk membahas ini, gak enak rasanya kalau cuma jari yang bicara," ucap Josh di sebrang.


"Baiklah, kamu sibuk gak? Aku hari ini agak longgar, jadi kalau kamu bisa, siang ini gak apa-apa."


"Oke, nanti aku ke butik, mau kelarin sedikit masalah dulu."


"Oke, aku tunggu!"


Bella memutuskan panggilan nya kemudian memberikan balasan pada sang suami.


'Maaf, tadi aku sedang ada tamu, aku baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku dan Viona, dia hanya ingin berbisnis dengan ku!'


Bella memang sedikit berbohong karena dia juga tidak akan menceritakan apa yang di inginkan Viona itu pada Revan.


Mungkin memang sudah saatnya dirinya dan Revan saling terbuka, Bella memang sudah mencintai suaminya sejak lama, sebelum Revan menyadari perasaannya terhadapnya. Dia juga ikhlas kalau misalkan Revan ingin tetap berpisah dengan nya seperti janji mereka sejak awal.


Bella tahu jika Revan bukan pria yang bisa diajak berkomitmen, jadi sejak awal Bella sudah menerima apapun konsekuensinya.


Tapi kalau kali ini Revan ingin memulai semuanya dari awal, Bella juga berhak memberikannya kesempatan. Yah, hanya kesempatan kedua, karena dia tidak akan memberikan kesempatan ketiga ataupun ke-empat untuk suaminya itu.


Bagi Bella, dia sudah kenyang makan hati dan yang namanya sakit hati, huh! Sepertinya dia juga harus menebalkan iman, siapa tahu kalau suatu saat nanti Revan akan mempermainkan kembali. Bella harus mulai mempersiapkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2