Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Istri Sah Vs Pelakor


__ADS_3

Happy Reading.


Dengan langkah tenang, Viona masuk kedalam butik dan langsung disambut oleh Emy.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" sapa Emy ramah, Viona masih diam mengamati.


"Apakan Mbaknya mau membeli baju di butik kami, butik ini banyak sekali menyediakan baju, gaun, dress, pakaian casual dan gaun pengantin dengan kualias yang sangat bagus, modelnya juga banyak bermacam-macam, bisa memilih sesuai dengan pesanan," ucap Emy panjang lebar dan luwes.


Viona menatap wanita manis dengan ukuran tubuh sedikit mini itu, dia sama sekali tidak mendenganrkan penjelasan dari Emy, saat ini Viona hanya ingin bertemu dengan Bella.


"Apakah Bella ada?" Emy menghentikan ocehannya yang panjang kali lebar.


"Bella masih belum datang, biasanya sih dia udah sampai jam 8 tadi, paling pagi dari kami malahan, tapi gak tahu kenapa sampai jam 10 Bella belum datang juga, apakan Mbknya ada perlu penting dengan Bella?" tanya Emy.


Belum sempat Viona menjawab, tiba-tiba orang yang di bicarakan muncul bersama sang suami.


"Revan?"


"Viona, ada perlu apa kamu kesini?" tanya Revan memandang Viona dengan tatapan tajam.


Bella melihat Emy dan Jessy menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya, dia hanya memberi kode mata seakan mengatakan pada kedua sahabatnya itu 'nanti akan aku jelaskan' dan Emy langsung menyambut pelanggan lain yang baru saja datang.


"Kita mengobrol di dalam ruangan ku, jangan di sini." Bella langsung berjalan mendahului kedua orang tersebut.


Revan lebih dulu berjalan menyusul istrinya, sedangkan Viona melangkah dengan sedikit kesal karena Revan benar-benar mengabaikannya.


"Ada perlu apa kamu ke butik istriku?" tanya Revan saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan kerja Bella.


Merangkul pinggang sang istri mesra. Menatap Viona dengan tatapan datar dan auranya yang dingin, membuat Viona bisa langsung menggigil ketakutan.


'Van, kamu benar-benar berubah!' batin Viona.


"Aku ingin bertemu dengan Bella, aku ada urusan sebentar," jawab Viona berusaha cuek tidak memperdulikan hatinya yang kini tengah sakit.


Bella yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya. 'Memangnya urusan apa? kita tidak seakrab itu?' batin Bella.


Revan beralih menatap Bella, seakan bertanya ada urusan apa sebenarnya diantara mereka. Bella hanya mengedikan bahunya, dia juga bingung harus menjawab apa karena benar-benar tidak tahu.


Viona mengepalkan tangannya melihat reaksi Bella dan Revan, Viona merasa kedua orang itu sedang membicarakannya lewat telepati, dia harus berusaha membuat suasana menjadi terkendali. "Ehm, sebenarnya aku memang belum ada janji dengan Bella, tapi aku ada urusan dan baru saja datang," ucap Viona menatap kedua pasangan itu.


"Baiklah, memangnya urusan apa?" tanya Revan to the poin.


"Ini masalah privasiku dengan Bella, jadi aku harap kamu tidak perlu ikut campur, Revan," jawab Viona menahan kesal, sungguh dia tidak pernah menyangka bahwa Revan benar-benar sudah membuangnya.


Bella merasa jika Viona mungkin memang membutuhkan privasi untuk bicara kepadanya, Bella ingin tahu apa yang akan dibacakan oleh wanita itu.


"Van, apa kamu tidak pergi kekantor?" tanya Bella bersedekap dada.

__ADS_1


"Iya sayang, nanti saja, aku masih ingin disini, tidak mungkin aku membiarkan mu bersama wanita ini sendiri," jawab Revan menyindir Viona.


"Maaf tuan Revan, Aku ada urusan dengan istrimu, Aku harap kamu mengerti!"


"Urusan istriku juga urusan ku!" jawab Revan cuek.


"Astaga!!"


Bella benar-benar pusing dengan kedua orang tersebut, sama-sama tidak ada yang ingin mengalah.


*****


Jesselyn menghampiri Emy yang sedang menjahit manik-manik di atas gaun pengantin kebaya modern.


"Duh, aku penasaran deh, sebenarnya siapa cewek yang tadi, kenapa dia kenal sama si Revan?" tanya Jesselyn yang saat ini duduk di samping Emy.


"Mana aku tau, cantik banget, lihat dandanan nya udah kaya artis korea aja," jawab Emy terkekeh.


"Tapi sepertinya ada sesuatu diantara mereka bertiga, deh!" ucap Jesselyn mengambil beberapa manik dan menjadikannya satu pada sebuah jarum.


Emy jadi tidak konsentrasi gara-gara ucapan Jessy, wanita itu mendongak menatap sahabatnya itu yang kini justru terlihat sibuk.


"Maksudnya apa, Jess? Apa jangan-jangan wanita cantik itu adalah kekasihnya Revan, yang selama ini di ceritakan sama Bella?" kini giliran Jesselyn yang menghentikan kegiatannya.


"Wah, kalau emang bener, bisa jadi si pelakor itu nyari Bella karena sekarang Revan sepertinya udah mulai sayang ke Bella?" ucap Jesselyn.


Brak!


Emy dan Jesselyn melonjak kaget karena mendengar suara pintu di tutup dengan sedikit keras, tidak di banting, hanya mendorong nya sedikit bertenaga.


Revan berjalan ke arah pintu keluar dengan tatapan kesal, ia sama sekali tidak memperdulikan tatapan Emy dan Jesselyn yang menatapnya dengan pandangan aneh.


Yang jelas dia hanya merasa kesal karena Bella menyuruhnya pergi dari butik gara-gara Viona.


"Kenapa Revan yang keluar? bukannya si mbak itu tadi, ya?" beo Emy. Jesselyn hanya mengangkat kedua bahu.


Bella benar-benar malas berdebat dengan Revan hingga akhirnya ia memilih untuk mengusir suaminya itu secara paksa.


Sebenarnya Bella tidak mengerti kenapa Revan terus saja merengek tidak mau berangkat ke kantor? apa karena ada Viona yang ingin bicara empat mata dengannya? ataukah Revan takut bahwa nanti Bella akan menyakiti Viona?


Bella berusaha menyangkal pemikirannya yang nomor dua, tidak mungkinkan kalau Bella akan mencakar wajah Viona yang cantik itu, atau manjambak rambutnya yang hitam legam seperti milik para artis iklan sampo?


Huh, apa sih yang kau pikirkan! batin Bella kesal.


Tapi Bella tidak ingin jika Viona menganggapnya istri yang mengekang suaminya, apalagi dihadapan mantan kekasih dari suaminya sendiri.


Bella hanya ingin bisa menghadapi Viona sendiri tanpa campur tangan dari Revan.

__ADS_1


"Ehm, sebenarnya ada apa kamu menemui ku? Apakah kamu ingin memesan baju?" tanya Bella to the point.


Viona menyandarkan tubuhnya kebelakang sambil bersedekap dada. Terlihat berkelas dan anggun. Tapi tentu saja Bella juga tidak kalah anggun dan mempesona. Yang membedakan antara Bella dan Viona adalah riasan di wajah.


Jika Bella tidak suka dengan hal-hal berbau make up, lain dengan Viona yang harus dan wajib pakai make up di wajahnya. Jadi bisa dipastikan siapapun yang melihat Viona untuk pertama kalinya, dia pasti langsung terpesona dengan kecantikannya yang cetar membahana.


"Aku ingin kamu pergi dari kehidupan Revan! Ajukan cerai ke pengadilan dan berikan bukti bahwa Revan sejak awal pernikahan telah berselingkuh, itu yang aku inginkan!" jawab Viona. "Kalau kamu tidak mau, aku akan menyebarkan ke media tentang perjanjian 1 Triliun itu!"


Bella tertawa sinis, dia benar-benar tidak menyangka ada wanita seperti Viona yang tidak tahu malu meminta seorang istri menceraikan suaminya. Yah, haruskah istri sah mengalah pada pelakor?


"Kenapa kamu memintaku untuk melakukan hal itu? Kenapa kamu tidak mengatakan sendiri pada suamiku yang jelas-jelas tadi ada di sini? Apa kamu takut kalau keinginan mu tidak di kabulkan?" balas Bella sinis. "Dan masalah uang satu triliun yang itu kalau sampai kamu memang menyebarkan keluar yang ada kamu akan ditertawakan sama orang, karena biar bagaimanapun Revan itu adalah suamiku dan aku berhak meminta uang seberapapun yang aku mau!" Bella menatap wajah Viona tajam. "Namu beda urusannya jika yang minta itu adalah pelakor seperti mu! aku juga bisa melaporkan mu karena di posisi ini aku yang jauh lebih unggul daripada kamu yang hanya seorang wanita simpanan! bagaimana jika keluarga Alfredo sampai tahu!!"


"Hahaha, apa kamu kira aku akan takut? bukankah pernikahan kalian ini hanyalah pernikahan di atas kertas yang hanya akan terjadi selama 1 tahun? Aku memang tidak mau bicara pada Revan, dia pasti menunggu kontrak kalian selesai, kalau tidak, pasti separo saham yang ia punya untuk Alfredo grup dan juga rumah mewah itu akan jatuh ke tangan mu!" ucap Viona penuh penekan.


Deg!!


'Dari mana Viona tahu tentang perjanjian itu? Apa Revan yang mengatakannya? Kalau iya berarti Revan benar-benar sudah keterlaluan!'


Viona bisa melihat Bella mengepalkan tangannya, wanita itu tersenyum sinis karena jebakannya berhasil.


Sedangkan Bella langsung menormalkan raut wajahnya dan mengontrol emosi yang kini menderanya.


"Lalu, apakah kamu tahu apa konsekuensinya kalau aku meminta cerai atau melayang kan gugatan cerai lebih dulu?" tanya Bella menatap Viona. Kini raut wajahnya sudah terlihat tidak emosi. Hanya ada raut datar dan tenang.


Viona berdehem ketika melihat wajah Bella yang sedikit menakutkan dan juga atas pertanyaan yang sama sekali tidak ia tahu jawabannya. Karena dulu Revan hanya mengatakan hal itu dan tidak tahu soal apa konsekuensi kalau yang melayangkan gugatan adalah Bella.


Sedangkan Bella langsung bisa membaca raut wajah Viona yang nampaknya memang tidak tahu jawabannya.


"Apakah Revan tidak mengatakannya padamu? Viona?" tanya Bella kembali.


"Tidak, dia hanya memberitahu masalah yang tadi aku bicarakan," jawab Viona jujur.


Buat apa dia berbohong, toh yang ada nanti dia bakal malu sendiri.


"Apakah kalau kamu tahu konsekuensi atas gugatan ku yang belum waktunya habis kontrak tidak membuatnya shock!" Viona mengepalkan kedua tangannya.


"Konsekuensi adalah tubuhku, kesucian ku, keperawanan ku! Revan meminta itu semua, itu kalau misalkan aku yang mengajukan gugatan cerai terlebih dahulu!" Viona terkejut mendengar hal itu. Dia tidak mungkin rela kalau Revan harus menyentuh bahkan meminta haknya pada Bella.


Padahal dia tahu kalau itupun sah-sah saja bagi Revan dan Bella, tetap saja Viona tidak rela.


"Kenapa diam? Kamu tidak akan pernah rela bukan, kalau aku dan Revan bercinta? Kamu pasti juga tahu kalau aku dan Revan belum pernah melakukan hal tersebut, sedangkan kamu?" tunjuk Bella dan menatap Viona dari atas hingga bawah.


"Kamu hanya wanita simpanan yang tidak tahu malu masih menempel dengan suami dari wanita lain, apa itu pantas di lakukan oleh wanita baik-baik? Jadi kalau kamu meminta aku untuk menceraikan Revan, maka kamu juga harus siap kalau Revan akan kecanduan dengan tubuhku!" seru Bella.


Dia memang telah kalah dalam hal memenuhi kewajiban sebagai istri, karena memang sejak awal dia dan Revan sepakat dengan perjanjian. Tapi dia tidak akan mau merendahkan harga dirinya di depan pelakor yang tidak tahu malu seperti Viona.


Biarkan Viona merasa dirinya di atas, tapi Bella yakin kalau wanita itu memang sudah di buang oleh Revan. Sekarang Bella berani melakukan hal ini karena Revan sudah mulai mencintai nya, berbeda dengan dulu, kalau dulu Revan masih bersama dengan Viona dan Bella tidak ada berhak melarang. Karena semuanya memang sudah rumit sejak awal.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2