
Happy Reading.
Emy merasakan sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti di hinggapi banyak kupu-kupu yang menggelitik di bagian perut bawah.
Mereka berdua masih saling berbalas ciuman, tangan Emy bahkan sudah mengalung di leher Ferry.
Saling menyesap dan membelit satu sama lain. Saling memperdalam ciumannya.
Ciuman Ferry sudah turun ke leher mulus Emy, menggigit kecil untuk memberikan tanda di sana.
Ferry sangat ingin melakukan hal itu asalkan Emy juga menyetujui nya, Ferry tidak bermain lebih kalau tiba-tiba Emy menolaknya dan itu pasti membuatnya kecewa. Tapi dia memang harus siap untuk di tolak bukan.
"Aku sayang ma kamu, Emy.. jawab sekarang, mau gak jadi pacar aku?" ucap Ferry menatap wajah cantik Emy. Menatap je6 dalam manik hitam pekat itu.
Entah karena pengaruh minuman atau apa, Emy hanya bisa mengangguk sambil menahan malu karena tubuhnya kini hampir polos.
Ferry tersenyum dan langsung menggendong Emy ala bridal style. Pria itu merebahkan tubuh sang kekasih yang baru saja menerimanya tersebut di atas ranjang.
Ferry mencium kembali bibir merah itu,
Sambil tangannya melepaskan kancing bajunya satu persatu.
Dengan cekatan Ferry sudah membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan cd yang sudah tampak menonjol keras.
"Sayang, aku mau kamu, aku cinta banget sama kamu," bisik Ferry di telinga Emy.
Emy merasakan sapuan nafas Ferry menerpa telinganya, membuat wanita itu benar-benar tidak tahan.
__ADS_1
Ferry masih menunggu jawaban Emy, menatap wanita cantik tersebut dengan tatapan yang sudah mengkabut.
"Aku, belum pernah," jawab Emy malu.
Ferry langsung mencium bibir Emy gemas. "Aku juga pengalaman pertama, bagaimana?" Emy benar-benar frustasi, ingin menolak tapi tangan Ferry yang mengelus area bawahnya membuat Emy frustasi, dia menginginkan lebih.
"TIDAK!!!" Emy membelalakkan matanya, nafasnya sudah berderu keras. Terdengar suara langkah kaki sedikit berlari ke arahnya.
"Emy, ada apa?? kenapa lo teriak?" seru Jesselyn menghampiri sahabatnya diruang yang dikhususkan untuk beristirahat di butik.
Emy menatap Jessy yang masih memakai baju biasa, kaos lengan pendek bergambar kucing dan celana panjang. Emy juga melihat tubuhnya yang masih menggunakan pakaian sama saat dia berangkat ke butik pagi tadi.
'Apa aku hanya bermimpi?'
"Jess, kita ada di mana?" tanya Emy.
Jesselyn memegang dahi Emy, masih terasa hangat, satu jam yang lalu gadis itu tadi meminta izin untuk istirahat karena tidak enak badan. Jesselyn kembali ke depan untuk melayani beberapa pelanggan, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara Emy yang berteriak.
"Sebaiknya lo pulang, gue akan mengatakan pada Bella nanti kalau lo lagi sakit," ucap Jesselyn khawatir.
Emy masih terlihat seperti orang bingung, bahkan keringat sebesar biji jagung masih nampak di keningnya.
Tadi dia bermimpi hal yang benar-benar tidak wajar, melihat Jesselyn bercinta dengan seorang pria dan bahkan dirinya juga akan melakukan hal yang sama.
Seketika Emy merasa jijik pada dirinya sendiri, mengingat kejadian di mimpi yang seperti nyata itu, dia memimpikan Jessy dan dirinya seperti seorang penggoda. Ah, apa karena dia merasa tidak enak badan sehingga membuatnya memimpikan hal-hal yang begitu.
Emy melihat Jessy yang sudah merapikan barangnya dan bersiap untuk pulang, "ayo Jess, gue antar lo pulang, sebaiknya kita tutup tokonya lebih awal," Jesselyn melihat jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1
Biasanya mereka akan pulang menjelang magrib, menyelesaikan beberapa pesanan gaun.
"Baiklah, maaf jadi membuat lo repot, Jess," Emy berdiri dibantu oleh Jesselyn.
"Ya Tuhan Emy, kenapa lo minta maaf segala, kek sama siapa!"
Emy hanya bisa tersenyum, sepertinya dia tidak akan ikut Jessy ke acara pesta sepupunya. Entah kenapa dia takut akan terjadi hal-hal yang tidak baik, meskipun dia yakin Jesselyn bukan wanita seperti di dalam mimpinya.
"Jess, sepertinya gue gak bisa ikut lo ke pesta ultah sepupu lo deh," ucap Emy.
"Iya, gak apa-apa, gue ngerti keadaan lo gimana, gue juga gak mau liat lo sakit terus maksain dateng," jawab Jesselyn tersenyum.
Emy bisa bernafas lega, sepertinya memang dia hanya bermimpi karena tidak enak badan, sehingga mimpinya menjadi mimpi yang begitu buruk.
****
Revan tersenyum melihat istrinya yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya, ah jangan katakan jika dia malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Bella benar-benar membuat Revan gemas, setelah melakukan make out karena Bella masih belum bersih, tapi keduanya sudah sama-sama hampir tidak memakai pakaian.
Revan memeluk perut istrinya, mengecup bahu Bella dengan sayang, sepertinya istrinya itu memang benar-benar sudah tidur.
"Aku mencintaimu, Bella!" bisik Revan kemudian ikut memejamkan matanya, meninggalkan perasaan lelah yang mendera jiwa dan raganya akhir-akhir ini.
Hanya bersama dengan istrinya Revan merasa lebih nyaman, hanya Bella yang mampu membuatnya kehilangan insomnia.
Bersambung.
__ADS_1