
Happy Reading.
Revan tidak percaya dengan apa yang dia baca, Bella meninggalkan nya? Apa ini prank? Kenapa istrinya tiba-tiba pergi tanpa tahu apa penyebabnya.
"Aarrgghh!! Bella!! Kenapa kamu pergi, sayang!!" Revan meraih ponselnya dan segera menelepon nomer sang istri.
Namun yang terdengar hanyalah bunyi operator, Revan melakukan panggilan lagi dan lagi, tapi hasilnya tetap sama. Nomer Bella tidak bisa dihubungi.
"Tidak!! Ini tidak mungkin!!"
Revan ingin menghubungi sahabat-sahabat Bella, tapi dia tidak memiliki nomer ponselnya.
"Aku yakin Bella tidak meninggalkan ku, dia hanya nge-prank 'kan?"
Tubuh Revan langsung merosot ke bawah, matanya memanas dan terasa perih, dadanya kini terasa sesak.
Bella, istri yang mulai dicintainya pergi, padahal dia sudah bersikap sebaik mungkin terhadap wanita itu. Berusaha merubah sikapnya yang suka bermain dengan perempuan, sudah dia tinggalkan.
Bahkan dia mengacuhkan Viona, pacar terlama nya dan juga Lisa, cinta pertamanya.
Karena apa? Tentu saja karena dia ingin membangun rumah tangga dengan Bella, dia ingin bisa memulai semuanya dari awal.
Revan benar-benar jatuh hati pada istrinya, Revan benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Tapi benarkah dia tulus mencintai Bella. Di saat dia masih saja memperdulikan wanita lain.
Entahlah, pikiran Revan saat ini benar-benar kalut, detik itu juga Revan harus mencari Bella, akan ia datangi semua tempat yang sering Bella kunjungi, dia akan bertanya kepada semua orang yang mengenal istrinya.
Hingga matahari sudah naik ke atas, Revan belum mendapatkan keterangan pasti di mana keadaan Bella.
Tidak seorang pun mengetahui keberadaannya, Revan tidak berani bertanya kepada orang tuanya karena pasti mereka akan menyalahkan kepergian Bella.
Bahkan Emy dan Jesselyn juga tidak tahu apa-apa, mereka mengatakan bahwa Bella tidak memberi pesan apapun kepada keduanya.
Revan bisa melihat kedua wanita itu berkata jujur karena mereka juga bingung dan tentu saja khawatir mendengar kepergian Bella yang tiba-tiba.
Revan bahkan mendapatkan makian dari kedua wanita itu yang mengatakan jika Revan hanya suka mempermainkan hati istrinya, tentu saja pria itu menyangkalnya karena dia sudah minta maaf atas semua sikapnya selama ini.
"Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa terhadap Bella, kami tidak akan memaafkan mu!!"
"Aku akan membawanya kembali!!"
*****
Bella menginjakkan kakinya di Hongkong setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam, akhirnya dia menyunggingkan senyum di bibir manisnya.
Selama di dalam pesawat Bella tidak berhenti merasa khawatir karena pergi meninggalkan Revan tanpa berpamitan.
Namun dia juga sudah memantapkan hatinya untuk pergi ke Hongkong karena dia juga ingin melihat bagaimana Revan memperjuangkan nya.
Tanpa ingin berpikir lebih banyak lagi Bella akan memfokuskan untuk acara fashion show yang akan diselenggarakan 6 hari ke depan.
Kalau Bella bisa mendapatkan kesempatan untuk menang, dia akan ikut semifinal dua minggu mendatang di Paris, dan juga kalau dia bisa masuk final ke London fashion week yang akan diadakan seminggu selanjutnya, dia akan bisa mewujudkan impian nya untuk menjadi designer internasional.
__ADS_1
Yang pasti keinginan Bella adalah ingin menjadi desainer yang karyanya diakui oleh masyarakat dunia.
***
Hingga beberapa hari terlewati, kabar tentang keberadaan Bella belum juga diketahui. Revan sudah mengutus beberapa orang untuk mencari kemana istrinya itu pergi.
Tidak jarang Revan turun tangan sendiri mencari informasi dia bertanya pada teman atau siapapun yang mungkin mengenal istrinya tidak peduli meskipun hal tersebut dilakukan sampai berulang kali Revan berharap bisa menemukan belas secepatnya karena semakin hari dia semakin merindukan sang istri.
Penyesalan selalu datang di akhir, Revan menyesal karena di selalu saja mengecewakan istrinya.
Hari ini rencananya Revan akan berkonsentrasi terhadap pekerjaannya. Belakangan ini dia telah membuat banyak orang kerepotan karena sibuk mencari Bella, para karyawan terpaksa bekerja lembur untuk mengurus pekerjaan yang Revan abaikan, terkadang Samuel sampai tidak bisa pulang karena harus dikejar deadline.
Para karyawan pun tahu apa yang terjadi kepada bosnya itu, rumor beredar bahwa kepergian Bella ternyata sanggup membuat CEO mereka menjadi lebih garang dan pemarah.
Selama bertahun-tahun mereka bekerja di Alfredo Corp baru kali ini mereka melihat Revan yang terlihat begitu kacau.
Ternyata Revan memang benar-benar mencintai istrinya.
Viona yang mengetahui masalah ini tentu saja merasa senang karena Bella sudah pergi dari kehidupan Revan.
Viona sadar jika Revan sudah mulai mencintai istrinya. Tapi kalau kasusnya seperti ini, maka dipastikan Revan pasti sedang dalam fase patah Hati.
Dengan percaya diri Viona menghubunginya nomer Revan menggunakan nomor lain, dia akan membuat situasi ini menjadi jalan untuknya bisa kembali kepada Revan.
"Halo, siapa ini?"
"Halo, ini aku," Revan yang sangat hafal dengan suara wanita di seberang langsung meremas ponselnya.
Tanya Revan to the point.
"Van, tenang dulu, aku berniat baik, jadi jangan marah-marah dulu ya?"
"Viona, cepat katakan apa urusanmu denganku?"
"Ehm, begini bagaimana kalau aku membantu kamu mencari di mana Bella saat ini, karena beberapa hari yang lalu aku sempat melihat dia di bandara," ucap Viona tersenyum miring.
"Apa? Benarkah? istriku di bandara?" seru Revan.
Viona tentu saja berdejcih dalam hati ketika mendengar antusias Revan.
"Iya, makanya dengerin kalau orang mau ngomong!"
"Kamu jangan bohong, orang suruhan ku mengatakan jika Bella tidak pergi menggunakan pesawat!!"
"Hahaha, Revan kenapa kamu sekarang menjadi begitu bodoh hanya karena Bella! Seharusnya kamu menyewa detektif bukan cuma orang suruhan biasa!"
Revan memijit pelipisnya yang terasa semakin pusing.
"Ayo kita ketemu, aku akan memberikan banyak informasi!" ucap Viona, dia tidak akan melepaskan Revan kali ini.
Revan yang mendengar hal itu langsung tertawa.
__ADS_1
"Hahaha, tidak perlu kita bertemu, terima kasih karena telah memberiku informasi, aku bisa mencari istriku sendiri dan kamu tidak perlu melibatkan diri dalam hal ini!" Setelah itu Revan mematikan panggilannya dan langsung memblokir nomor tersebut.
***
Revan berjalan dengan tergesa sambil menempelkan ponsel di telinganya, pria itu menghubungi sang asisten pribadi.
"Samuel tolong nanti kamu cek keuanganku termasuk dari rekening pribadi istriku."
"Baik Pak, saya akan segera menghubungi pihak Bank untuk melihat data pengeluaran keuangan Bapak."
"Ya, setelah itu langsung kabari aku jika sudah mengetahui hasilnya!" Revan langsung mematikan ponselnya.
Kemudian dia segera masuk ke dalam rumah, seminggu ini Revan sangat kurang istirahat, tapi dia tahu kalau tubuhnya memerlukan istirahat agar staminanya tetap fit dan tidak jatuh sakit.
Revan tidak mau kalau dia sampai sakit dan akan susah untuk mencari istrinya kembali.
Setelah masuk ke dalam kamar membersihkan diri dan memakai baju yang nyaman Revan segera membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
Tidak lupa memandangi foto Bella di layar ponselnya, merenungi setiap kesalahannya terhadap sang istri. Berujar maaf berkali-kali agar istrinya mau kembali lagi.
Sungguh Revan benar-benar tersiksa dengan kerinduan yang amat sangat, dulu ketika ditinggal oleh Lisa lihat memang begitu terpuruk, tetapi tidak seperti sekarang yang benar-benar membuatnya menjadi pria yang sangat tidak berguna.
Sungguh Revan menyesali setiap perbuatan yang terhadap Bella.
****
Pagi itu Samuel langsung mendatangi ruangan Revan untuk memberinya informasi.
"Pak, ini berkas informasi yang Bapak minta kemarin dari pihak bank." Samuel meletakkan sebuah map terpisah dari tumpukan dokumen yang lain.
"Apa kau sudah membacanya?" Tanya Revan tanpa berpaling dari layar laptop di depannya.
"Sudah Pak, Ibu Bella tidak melakukan transaksi semenjak 1 minggu terakhir, kalau untuk ke rekening beliau pihak bank belum bisa menyelidikinya tanpa izin dari ibu Bella sendiri," jawab Samuel.
Revan menghela nafas, sebenarnya dia sudah tahu jika Bella tidak mungkin memakai uang yang dia berikan, karena bela sendiri sudah memiliki uang yang banyak dari hasil kerja kerasnya sendiri.
"Terima kasih, Samuel, silakan lanjutkan kerjamu," Samuel langsung menunduk dan menjalankan tugasnya yang sama banyaknya dengan Revan.
Sepeninggal Samuel Revan menghubungi seseorang yang pasti bisa diandalkan.
"Halo, aku meminta tolong padamu, ada tugas yang harus kau lakukan saat ini!"
Setelah menelepon orang penting itu Revan menyandarkan tubuhnya untuk melepas lelah. Walaupun sudah ada beberapa orang yang ia suruh mencari istrinya tetap saja semua itu belum cukup, buktinya sampai sekarang belum ada satu orang pun yang membawa kabar baik.
Keputusan Revan untuk menghubungi orang penting itu ternyata tidaklah salah, baru mendapatkan perintah beberapa jam saja ia sudah membawa kabar yang dirasa cukup meyakinkan.
"Apakah kamu yakin dengan informasi ini?" Tanya Revan memastikan lagi berita yang baru saja dia terima.
"Saya sangat yakin sekali, pak, istri anda melakukan penerbangan ke Hongkong seminggu yang lalu, dia sedang mengikuti acara yang diadakan salah satu perusahaan terbesar di negara itu."
Bersambung.
__ADS_1