
Happy Reading.
Malam ini Emy menghadiri acara ulang Tahun sepupunya Jesselyn yang katanya ganteng banget itu.
Sejujurnya Emy juga tidak begitu minat untuk menghadiri acara pesta ulang tahun tersebut, apalagi dia tidak mengenal si empunya acara. Tapi karena ajakan Jesselyn dan katanya akan ada party Time setelah pesta ulang tahun berlangsung, membuat Emy mau tidak mau menerima ajakan sahabatnya itu.
Sebenarnya Emy memang suka Party Time, bisa dapat makan gratis dan juga ada banyak minuman di sana.
Emy tidak memperdulikan lagi kalau dia tidak di undang oleh si empunya acara, karena memang Party Time itu untuk para sahabat kuliah Ferry (sepupu Jesselyn)
Malam ini Emy tampil dengan dress di atas lutut dan sedikit ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Entah kenapa dia berani berpakaian seperti itu, mungkin karena menurutnya pesta itu untuk kalangan anak muda dan anak muda sekarang memang suka berpakaian seksi dan menantang.
"Em, gue ke sana dulu, ya. Kalau mau ambil wine ada di sebelah sana," ucap Jesselyn menepuk bahu sahabat nya.
"Eh lo mau kemana, Jess? Masa gue ditinggal sendiri!" seru Emy karena memang suasana di tempat itu sedikit berisik dengan alunan musik yang sedikit keras.
"Gue mau ke atas sebentar, tuh ada Ferry, gue panggilin dia, ya? Biar kalian saling kenal," bisik Jesselyn sambil menunjuk ke arah sepupunya yang tengah bersama para sahabatnya.
"Ya udah, kalau lo mau ke atas, sono! Gak usah manggil Ferry, gue di sini aja," jawab Emy mengibaskan tangannya mengusir Jesselyn.
"Oke deh, bye," Emy menatap punggung Jesselyn yang sedang menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Pesta itu memang di rayakan di rumah Ferry sendiri, dia tinggal di sana hanya dengan pembantunya karena kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri.
Rumah itu juga hanya di samping rumah Jesselyn, sepertinya rencana party itu memang berani di adakan di rumah karena tidak ada orang tua dari Ferry.
Meski usianya baru dua puluh satu tahun, Ferry memang remaja yang sedikit bebas pergaulannya. Emy bisa melihat banyak minuman yang di sajikan ditempat tersebut.
Bahkan ada beberapa pasangan yang sedang terang-terangan mengumbar kemesraan. Mungkin mereka memang pasangan kekasih.
"Anak muda jaman sekarang!" Emy hanya menggelengkan kepalanya melihat beberapa cewek juga tampak menggoda para pria yang paling keren, seperti gerombolan Ferry yang tengah berkumpul sambil membawa wine di tangan mereka.
Bahkan para cewek itu tidak sungkan menggoda Ferry dan teman-temannya dengan menggandeng lengan ataupun menyentuhnya.
"Huh, Jessy kenapa ninggalin gue disini sendiri, sih! Kan gue gak kenal siapa-siapa!" gerutu Emy saat beberapa cowok itu melihat ke arahnya.
Sepertinya mereka sedang membicarakan Emy, karena melihat beberapa cowok yang langsung memandang nya.
"Ya udah, nikmati aja! Gak usah pedulikan mereka!" Emy mengambil segelas air berwarna putih dan langsung mencari tempat duduk karena sudah lelah berdiri.
"Hai, mbak nya sendiri, ya? Mau kita temenin gak?" Emy mendongak melihat dua cowok yang tadi menatapnya dan sekarang malah menghampirinya.
__ADS_1
'Ya Tuhan, kenapa sih dengan mereka! Ganggu saja!' batin Emy kesal.
"Gue gak sendirian, temen gue baru pergi, dan terima kasih atas tawarannya," jawab Emy tersenyum.
Meskipun dia kesal, tapi Emy hanya berniat mengusir mereka secara halus.
"Beneran nih, mbak, gak mau kita temenin?"
"Gak mas, terima kasih, aku mau nyari temenku dulu!" Emy langsung berdiri dan berjalan cepat.
Dia benar-benar tidak mau berurusan dengan para cowok-cowok seperti itu.
"Dasar bocah jaman sekarang, masih kecil aja udah berani goda cewek yang lebih tua! Ck! Ini Jessy kemana, sih!!" Emy memutuskan untuk naik ke lantai atas mencari keberadaan sahabatnya itu.
Sedari tadi ada sepasang mata yang menatap Emy tanpa wanita itu sadari.
"Eh, Ferr! Gitu amat lihatnya!"
"Apaan, sih Ndra!"
"Itu mbaknya emang cakep dan seksi," Ferry langsung menjitak kepala Andra, sahabatnya.
"Dia itu sahabat kakak sepupu gue, awas aja lo ngatain dia lagi," seru Ferry mengacungkan bogeman pada temannya itu.
Sedangkan Emy masih berusaha mencari Jesselyn ke lantai atas rumah itu. Di atas ada beberapa ruang dan empat kamar yang Emy yakini adalah kamar tidur.
Rumah Ferry memang cukup besar, di lantai dua ini suasana cukup sepi tidak seperti di lantai bawah. Emy tidak menemukan keberadaan sahabatnya di atas.
"Jessy kemana, sih? Masa iya dia ninggalin gue di bawah hanya untuk tidur!"
Emy melangkah menuju ke salah satu kamar, mungkin sahabatnya itu ada di salah satu kamar yang ada di ruangan itu.
Ingin menghubungi Jesselyn tapi sialnya ponsel Emy kehabisan daya. Maklum dari semalam dia lupa untuk men-charge baterai nya.
Sayup-sayup terdengar suara aneh dari salah satu kamar. Emy menajamkan telinganya. Dia mendengar suara seorang wanita di kamar tersebut.
"Itu kek suara Jessy!" Emy mendekati kamar yang ada suara aneh itu.
Telinganya pun di tempelkan ke daun pintu.
Emy melotot-kan matanya dan tidak lupa mulutnya menganga. Itu suara Jesselyn seperti orang sedang, entahlah.
'Gak mungkin kan!' Emy menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
__ADS_1
Karena penasaran akhirnya Emy berusaha memutar handle pintu itu. 'Eh, tidak di kunci!'
Perlahan dia pun membuka pintu itu sedikit. Kali ini Emy benar-benar di bikin spot jantung oleh sahabatnya sendiri.
Emy langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan agar tidak berteriak. Dia bisa melihat Jesselyn bermain adegan suami istri dengan seorang pria yang tidak Emy kenal.
'Ya Tuhan!! Jessy! Dia,, dia!!' jerit Emy dalam hati.
Emy langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran yang benar-benar sudah membuat kepala berdenyut.
Ini gila! Sebaiknya Emy harus cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Tapi pada saat berbalik, Emy di kejutkan dengan seorang cowok tinggi dan tampan yang ada di hadapannya saat ini.
"Ka.. kamu! Kenapa ada di sini?" tanya Emy terbata kepada cowok tersebut yang tidak lain adalah Ferry.
Ferry hanya tersenyum. "Ayo ikut gue!" tiba-tiba cowok itu menarik tangan Emy.
"Eh, lo mau bawa aku kemana?" Ferry tidak menjawab, dia membawa Emy ke salah satu kamar di lantai dua itu.
"Eh, apa-apaan ini!! Kenapa lo bawa gue ke kamar!! Jangan main-main sama gue, ya!" Emy berusaha melepaskan tangannya dari Ferry.
"Tenang aja, gue cuma mau bersama lo, Emy!"
Emy terkejut karena ternyata Ferry mengenal nya. Padahal mereka belum saling sapa ataupun berkenalan.
"Lo, kok kenal sama gue?" Ferry tersenyum, kemudian dia menarik pinggang Emy hingga tubuh bagian depannya menabrak dada bidang Ferry. Tentu saja hal itu membuat Emy benar-benar terkejut, bahkan tubuhnya sekarang terasa kaku saking terkejutnya.
Ferry tersenyum simpul, memandang lekat wajah Emy yang memang cantik. Emy bisa melihat begitu tampannya pria yang sedang merengkuhnya itu.
"Jessy sering cerita ke gue, bahkan dia kasih tau fotonya lo, gue juga udah pernah lihat lo saat jemput Jessy di butik beberapa kali, mungkin lo yang gak engeh aja, tapi gue mau jujur kalau sejak pertama lihat lo, gue langsung suka sama lo, Em!" Emy melotot sempurna.
"Mak-maksudnya apa?" Ferry tidak menjawab, melainkan langsung mencium bibir Emy hingga membuat wanita itu benar-benar shok.
"Sejak lihat lo gue langsung jatuh cinta, lo mau percaya atau gak, gue suka dan cinta sama elo pada pandangan pertama, mau gak lo jadi cewek gue, Emy Sukma Pramono?"
Emy melotot-kan matanya, cowok itu bukan hanya nembak, tapi dia juga tahu nama lengkapnya.
Belum sempat Emy menjawab, Ferry sudah membungkam mulutnya dengan ciuman lagi.
Bersambung.
Selingan ya 🤭🤭🤭
__ADS_1