
Happy Reading.
Dua Minggu sudah Bella meninggalkan Revan, ada rasa yang menelusup dihatinya, rasa yang membuatnya ingin menangis. Rasa yang seakan menggerogoti jiwanya yang tertinggal. Sakit tapi tidak berdarah, hanya sepi yang menemani dalam sesak.
Meskipun banyak orang yang berada di sekelilingnya, tapi Bella merasa sangat kesepian.
Rindu, itulah yang di rasakan oleh Bella saat ini, hanya dua Minggu saja dia meninggalkan Revan, ternyata dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan kangen.
'Kenapa jadi begini? Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta pada suamiku?'
Ya, Bella memang menyadari jika dia sering kali luluh oleh pesona Revan, tidak sulit untuk jatuh cinta kepada pria itu, sosok Revan seakan memang diciptakan untuk membuat para wanita gampang jatuh cinta kepadanya.
Meskipun selama ini Bella dengan terang-terangan tidak menunjukkan sikap jatuh cintanya pada sang suami, tapi jujur di dalam lubuk hatinya dia sudah jatuh hati.
Revan dengan semua pesonanya membuat Bella membangun benteng pertahanan hatinya agar tidak selalu luluh meskipun akhir-akhir ini Revan selalu mengucapkan kata cinta.
Mungkin dengan cara perpisahan Bella ingin membuktikan bagaimana perasaan Revan yang sebenarnya.
Tapi mungkinkah Bella telah kalah sebelum berjuang, dia sudah merasa begitu rindu terhadap Revan. Lalu apakah suaminya itu merasakan perasaan yang sama, mengingat bagaimana selama 2 minggu ini dia tidak melihat bagaimana perjuangan Revan untuk bisa menemukannya.
'Ah, bukankah aku telah menonaktifkan ponselku, jadi Revan tidak bisa menghubungiku, Bella apa yang kau harapkan, menahan rindu sendiri seperti ini?'
Bella ingin sekali mengaktifkan ponselnya dan menghubungi Revan, tapi dia urungkan karena dia masih memikirkan egonya yang tinggi.
Bella tidak mau jika dia kalah dalam pertarungan hati, Apakah dia tidak akan malu kalau sampai menghubungi Revan duluan dan mengatakan bahwa dia merindukan suaminya.
'belum tentu juga Revan merindukan ku!'
Daripada Bella bingung dengan perasaan kangen yang menderanya, wanita itu memutuskan untuk pergi jalan-jalan keluar menelusuri kota Paris.
Baru 3 jam yang lalu Bella menginjakkan kakinya di kota Paris ini, mungkin dia akan menjelajahi kota romantis ini seorang diri.
Ya, dalam bertekad untuk menghilangkan kerinduan pada suaminya dengan menghabiskan waktunya berjalan-jalan sebelum besok dia mulai serius untuk mengikuti ajang semifinal.
Di belahan dunia lain, ada satu sosok manusia yang juga sama sedang memikirkan sang istri, rindu berat menyerang ke relung hatinya. Seperti ditikam puluhan ton bebatuan, dadanya terasa sesak sampai dia kesulitan bernafas.
Revan kali ini sudah tidak bisa menoleransi perasaan kangen yang menderanya. Dia harus segera memesan tiket pesawat untuk penerbangan ke Paris, Perancis.
Sudah cukup waktu 2 minggu dia tidak bisa melihat istrinya, sudah begitu menyiksa jiwa dan raganya.
"Sam, pesankan aku tiket ke Perancis malam ini!"
"Baik, Pak!"
Akhirnya atasannya itu mau bergerak untuk bisa menyusul sang istri, bagi Samuel memang seharusnya Revan melakukan hal itu, daripada setiap hari Samuel melihat Revan yang uring-uringan tidak jelas, banyak pekerjaan yang di limpahkan untuknya, lebih baik Revan segera menyusul istrinya untuk mengobati rasa rindu.
****
Malam ini adalah acara fashion show semifinal, selama tiga hari berada di Paris, Bella sama sekali tidak bisa berkonsentrasi menghadapi acara semifinal itu.
Pikirannya melalang buana entah ke mana, sampai pada saat penjurian pun Bella sama sekali tidak pernah berpikir jika namanya tidak disebutkan.
Yang itu artinya Bella sudah kalah dan tidak bisa maju ke final, tepuk tangan meriah ketika melihat dua finalis yang berdiri di panggung berbagai ucapannya selamat mengalir dari puluhan penonton yang ada di sana.
"Ternyata aku gagal menuju ke final, huh!"
Sedih, tentu saja, tapi Bella sudah berjuang keras demi semua ini. Mungkin benar kalau pada saat di Paris, Bella seperti kurang semangat.
Namun Bella masih bisa menelan semua kekecewaan karena tiba-tiba dia melihat seseorang yang tiga hari ini membuatnya hampir gila.
"Kamu hebat, sayang! aku bangga padamu, tahun depan ikut lagi, ya? dan aku pastikan kalau kamu pasti juara!" setelah mengucapkan kata-kata penyemangat untuk istrinya, Revan membawa Bella ke dalam pelukan.
Sungguh tidak bisa dipercaya dengan apa yang Bella lihat saat ini. "Re-revan? kamu di sini?"
"Iya, aku disini untuk melihat acara kamu dan juga untuk menjadi pendukung setiamu," jawab Revan tanpa melepas pelukannya.
"Sejak kapan?"
"Ehmm, sejak dua hari lalu aku sudah berada di sini, di dekatmu, tapi aku tidak berani muncul di hadapanmu karena takut akan mengganggu semua konsentrasimy, sayang!"
__ADS_1
"Bodoh!!" Bella memukul dada Revan.
Revan tidak mengerti kenapa istrinya meneriaki nya dengan kata-kata bodoh, Revan takut kalau kedatanya ke sini membuat Bella menjadi sedih. Bukankah Bella sudah melarangnya untuk mencari.
Apakah setelah ini Bella akan benar-benar membencinya?
Tidak! Revan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia benar-benar sudah merasa sangat tersiksa menahan kerinduannya dan hal itu membuatnya langsung terbang ke Paris hanya untuk bisa melihat Bella secara langsung.
"Maafkan aku, sayang! aku tidak bisa menahan diri lagi! Jangan benci aku, ya?"
Terdengar isakan dari mulut sang istri, Revan benar-benar panik dan sangat khawatir.
"Bodoh, kamu bodoh Revan!! kenapa tidak langsung menemuiku dua hari yang lalu, kalau saja kamu datang padaku, aku pasti bisa memenangkan fashion show kali ini!" Revan melongo mendengar jawaban dari sang istri.
"Astaga!! apa aku membuat kesalahan lagi? sayang, maafkan aku, maaf!!" Bella hanya diam sambil terus menangis.
Mengeluarkan segala beban yang ada dalam pikirannya, ya beban itu adalah kerinduan dan sekarang semuanya telah terobati dengan datangnya Revan di waktu yang tepat.
****
Saat ini kedua sejoli itu sudah berada di dalam kamar hotel yang Revan sewa. Revan memeluk sang istri dari belakang, mengucapkan kata maaf berkali-kali karena dia merasa tidak bisa menjaga perasaan istrinya selama ini.
Revan menyesal, dia sadar jika tidak bisa berjalan dengan istrinya.
"Maaf sayang, berikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu!"
Bella tersenyum dan melepaskan pelukan Revan, membalikkan tubuh dan menatap wajah sang suami yang terlihat sendu. Bella bisa mendengar dengan jelas bagaimana keseriusan yang Revan ucapkan.
"Baiklah, kalau begitu aku juga akan belajar bagaimana caranya menjadi istri yang baik," jawab Bella tersenyum. "Kita bisa sama-sama saling belajar bagaimana caranya membina rumah tangga yang sesuai dengan keinginan kita, apalagi aku perlu banyak belajar," lanjutnya.
Revan mengusap pipi Bella yang terasa dingin.
"Aku juga, maaf karena selama ini aku banyak menyakiti mu, tapi sekarang aku janji untuk akan selalu membahagiakan mu, sayang," ucap Revan tulus.
Bella tersenyum menatap ketulusan yang terpancar dari dalam mata sang suami.
Sungguh bibir Bella memang benar-benar berbeda, menawan dan bikin nagih.
Bella juga merasakan gelenyer aneh ketika merasakan ciuman Revan yang benar-benar intens. Entah kenapa ada sesuatu yang seakan menginginkan lebih, sentuhan dan belain dari suaminya membuat Bella melayang.
Bella dan Revan sama-sama menginginkan gejolak dari dalam dirinya yang memang sudah meronta-ronta. Revan masih intens memberikan ciuman dan pagutan di bibir Bella. Bahkan lidahnya kali ini sudah menerobos masuk dan bermain-main di dalan sana.
Revan semakin gencar membuat istrinya mengeluarkan suara yang mengalun merdu di telinganya. Rasanya mendengar lenguhan Bella membuatnya semakin berhasrat.
Dia pun mencium dan memberi tanda merah pada leher jenjang sang istri, entah kapan posisi mereka sudah berada di atas ranjang king size kamar mewah itu.
"Tunggu!" Bella menghentikan tangan Revan, membuat pria itu menatap Bella dengan penuh tanda tanya. Ada sedikit rasa kecewa saat Bella menghentikan nya secara tiba-tiba.
"Kenapa? Apa kamu masih ragu terhadap ku? Apa kamu belum bisa menerimaku sepenuh hati?" tanya Revan dengan suara yang parau.
Terlihat jelas raut wajah yang kecewa dari Revan melihat sang istri yang menolak untuk dia sentuh. Padahal senjatanya sejak tadi sudah menginginkan sesuatu yang hangat, tetapi Bella malah menghentikan nya.
Bella sendiri menjadi merasa tidak enak, sebenarnya dia memang sudah siap seratus persen untuk memberikan haknya kepada sang suami, namun memang malam ini ada sesuatu yang tidak bisa ia lakukan meskipun Revan sangat menginginkannya.
"Bukan seperti itu, tentu aku juga sangat menginginkannya, sama sekali tidak ada sedikit keraguan pun, tetapi aku pasti akan siap," jawab Bella menggenggam tangan Revan.
Mengatakan semua isi hatinya agar Revan tahu bahwa tidak ada keraguan saat sang suami ingin menyentuhnya lebih dalam.
"Kalau kamu juga menginginkan, lalu kenapa sekarang kamu malah menolaknya?" tanya Revan sendu.
Sungguh hasratnya sudah tidak bisa tertahan lagi, ingin sekali rasanya, tetapi Revan sadar bahwa mungkin Bella memang belum siap.
Bella sendiri merasa sedikit gelisah dan duduknya menjadi tidak tenang.
"Ehhmm sebenarnya aku sedang datang bulan!" jawab Bella membuat Revan langsung melongo.
"Datang bulan?" Bella mengangguk.
"Ya Tuhan, sayang!" Revan langsung menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi, kan aku bisa nahan dan tidak menyerang mu dari awal," Revan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tentu saja Revan tahu apa yang di maksud dengan datang bulan itu, beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang wanita tentu para kekasihnya juga pernah mengalami hal itu.
"Jadi, aku bukannya menolak mu, meskipun masih takut sebenarnya, kamu tahu kan aku bukan wanita yang bebas, bahkan aku belum pernah tersentuh oleh pria manapun, jadi masih merasa agak takut," ucap Bella jujur ketika membayangkan jika dia kehilangan keperawanan yang kata orang itu sangat sakit.
"Owh, baiklah, aku paham sekarang, maafkan aku, ya?" Bella menggeleng cepat.
"Tidak, kamu tidak salah, akulah yang salah, maafkan aku, ya? Aku belum bisa membuatmu senang, tapi jangan khawatir, setelah selesai aku berjanji akan memberikan segalanya untukmu!" ucap Bella tersenyum.
Sebenarnya dia sudah mulai membuka diri dengan Revan, kalau memang Revan benar-benar ingin memulai semuanya dari awal, tentu saja dia juga akan siap menjadi istri dari Revan sepenuhnya.
Seperti memasak, menyiapkan air untuk suaminya mandi, menyiapkan bajunya dan segala hal selayaknya seorang istri yang berbakti.
"Maksudnya?" tanya Revan penasaran.
"Aku akan memberikan hak ku sepenuhnya sebagai istri," jawab Bella.
Revan tersenyum dan langsung mencium bibir sang istri.
"Makasih sayang, aku bahagia sekali," lagi Revan mencium bibir Bella.
"Tapi ada syaratnya juga, loh!" Revan mengerutkan keningnya.
"Syarat apa? Pasti akan ku penuhi," jawab Revan.
"Kamu harus setia dan gak boleh selingkuh lagi, kalau sampai kamu selingkuh, akan ku pastikan aku akan pergi dari hidup kamu, selamanya!" ucap Bella mantap.
"Tentu saja, aku pastikan gak akan selingkuh lagi, aku akan setia sampai mati sama kamu, sampai maut memisahkan kita," janji Revan.
"Aku pegang janjimu, Van!" Revan mengangguk.
"Percayalah padaku, aku sudah berubah, sejatinya cintaku hanya untukmu, Bella!"
Bella tersenyum melihat kesungguhan Revan yang saat besar, dia berharap apa yang diinginkan olehnya dan terutama tentang pernikahan impian bisa terwujud bersama dengan orang yang dicintai.
"Ayo sekarang kita tidur," Revan merangkul bahu istrinya dan membaringkannya di atas ranjang.
Jantung Bella berdebar-debar, setelah ini dia harus mulai terbiasa tidur bersama sang suami. Revan berbaring terlentang, sedangkan Bella masih duduk di pinggiran ranjang.
"Kemarilah, sayang. Katanya mau tidur? Apa kamu akan duduk terus seperti itu!" tanya Revan.
Pria itu duduk kembali dan menarik pinggang Bella.
"Duh, gemes banget aku, punya istri kok manis banget!" Revan mencium rambut Bella yang aromanya sangat disukai oleh Revan.
"Ahh, Revan hentikan!" pekik Bella ketika Revan menggelitiknya.
"Makanya ayo cepat berbaring dan tidur, kalau gak mau aku apa-apain, loh!" Revan terkekeh melihat ekspresi wajah sang istri yang sedang cemberut.
Benar-benar sangat cantik. Revan segera berbaring dan menepuk lengannya mengisyaratkan agar Bella menjadikannya bantalan. Bella tersenyum dan merasa sangat malu. Apalagi harus tidur dengan posisi intim seperti itu?
"Ayolah, sayang?" ucap Revan sekali lagi, membuat Bella langsung tidur di tangan Revan sebagai bantalan.
Dengan sigap pria itu langsung memeluk tubuh sang istri, membawa Bella kedalam dekapan hangat. Sangat nyaman.
Sepertinya dia akan tidur nyenyak malam ini karena sudah ada Bella di sampingnya dan dia tidak akan membiarkan Bella pergi jauh darinya lagi.
"Ehm, kenapa? Apa kamu merasa tidak nyaman saat ku peluk seperti ini?" tanya Revan saat melihat Bella yang masih belum memejamkan matanya.
"Nyaman, aku hanya merasa bahagia!"
Revan melonggarkan pelukannya dan menatap wajah sang istri yang saat ini terlihat begitu cantik.
"Aku juga sangat bahagia, aku memang laki-laki yang sangat beruntung, bisa memiliki istri seperti mu, aku benar-benar merasa sangat bersyukur, terima kasih sayang, terima kasih karena mau memaafkan ku," Revan mencium kening Bella kemudian ia memeluk istrinya lagi.
Bersambung.
Panjang banget part kali ini 😁
__ADS_1