
Happy Reading.
Emy dan Jesselyn menggerutu kesal dengan Revan yang tiba-tiba mengajak Bella pulang tanpa berpamitan dulu dengan mereka. Revan hanya mengatakan bahwa kunci mobil Bella sudah diserahkan kepada sekuriti dan menyuruh Emy untuk membawanya pulang.
"Dasar Revan, aku tuh gedek banget sama dia! dateng-dateng gandeng cewek hamil, mana udah tua lagi, mana dia menghargai perasaan Bella, bukannya bikin Bella seneng tapi malah bikin Bella sakit! eh tiba-tiba sok pura-pura gak terjadi apa-apa diantara mereka dengan deketin Bella pake bilang sayang-sayang segala! pinter banget, sih dasar playboy!" Jessy sejak tadi menggerutu tidak berhenti mengumpati Revan.
Emy yang saat ini tengah menyetir tidak begitu protes dengan ocehan sahabatnya itu, dia juga kesal melihat tingkah Revan yang benar-benar tidak tahu malu.
"Aku kasihan sama Bella, kenapa sih dia masih bertahan dengan pria seperti Revan! padahal di luar sana masih banyak cowok yang bisa bikin Bella bahagia," lanjut Jessy masih marah.
"Sabar donk, Jess, Bella aja gak mempermasalahkan hubungannya dengan Revan, kenapa mesti kita yang repot, dia pasti punya alasan kenapa mempertahankan rumah tangganya, mungkin dia harus bisa menyelesaikan kontraknya sampai dua bulan ke depan agar ia tidak mendapatkan masalah," ucap Emy.
"Masalah?" beo Jessy menoleh ke arah sahabatnya. Emy mengangguk.
"Setahuku kalau Bella memutuskan bercerai sebelum waktu habis kontrak, dia akan kehilangan segalanya, emh,, Bella memang gak nyritain apa yang aka hilang diambil oleh Revan itu, kalau harta gak mungkin, kan? secara keluarga Revan itu udah kaya banget," Jesselyn ikutan mengangguk.
Emy sedikit berpikir, sebenarnya apa yang membuat Bella tidak bisa lepas dari tali pernikahan yang mencekiknya ini.
"Akh! aku tahu," seru Emy kemudian.
"Apa?" tanya Jessy menajamkan pendengarannya.
"Mungkinkah keperawanan Bella sebagai taruhannya?" Jessy menutup mulutnya karena sangat terkejut.
"Awas, mulutmu harus di tutup rapat, jangan sampai ada yang dengar!"
"Ya, aku kan hanya menebak, jadi belum tentu benar juga, kan? kalau benar masalahnya seperti itu, pasti akan sangat berat untuk Bella, makanya dia bisa bertahan sampai sekarang!" ucap Emy membuat Jesselyn mangut-mangut.
"Tapi bukankah akhir-akhir ini hubungan mereka menjadi lebih baik, bahkan Bella pernah mengatakan jika Revan udah melenyapkan kontrak pernikahan itu?" tanya Jesslyn.
"Ya, mungkin Bella hanya jaga-jaga, ya intinya jaga dirilah, buktinya sekarang Revan udah membelot dari janjinya 'kan?"
Keduanya masih saja bergosip tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
****
Lisa mencari Revan kesana kemari, tetapi dia tidak bisa menemukannya sama sekali. Perutnya yang sudah membuncit membuatnya sedikit susah untuk berjalan.
"Revan, kemana kamu!" Wanita yang usianya lebih dewasa dari Revan itu sudah terlihat lelah. Apakah Revan sudah pulang? Tadi dia memang sempat ke toilet dan Revan tidak mengatakan apa-apa kepadanya setelah menggandeng istrinya pergi menemui para kolega.
__ADS_1
"Revan! Kamu benar-benar sudah berubah! Dulu kamu tidak pernah mengabaikan ku seperti ini!" Lisa duduk di sebuah kursi yang tersedia di ballroom itu.
Menghirup napas dalam-dalam karena memang sedikit sesak akibat mencari Revan kesana-kemari. Entah kenapa sekarang dia merasa semakin sulit menggapai pria muda itu.
Ada sedikit penyesalan yang menggerogoti hatinya saat ini, dia menyesal pernah meninggalkan Revan dan memilih menikah dengan pria yang lebih matang. Lisa pikir dia tidak akan bahagia bila bersama Revan yang saat itu masih remaja.
Padahal Lisa sendiri tahu betapa cintanya Revan kepadanya dulu. Cinta seorang remaja yang tulus dan tidak pernah menyakitinya.
Mengingat hal itu, Lisa benar-benar menyesal. Dia menyesal karena telah meninggalkan Revan yang begitu tulus mencintainya. Menyia-nyiakan pemuda baik seperti dia.
Bertahun-tahun lamanya Lisa hidup dengan suami pilihannya, namun apa yang dia dapati saat dirinya dinyatakan hamil, suaminya ketahuan selingkuh dibelakangnya, hal itu membuat Lisa nekat untuk pergi dari rumah dan melayangkan gugatan cerai. Rasa kecewa yang benar-benar mendalam, sampai Lisa tidak mau memberikan kesempatan lagi untuk George sang suami.
Setelah itu dia pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan hal pertama yang ia pikirkan adalah Revan. Lisa meminta seseorang menyelidiki tentang Revan dan ternyata pria itu diketahui sudah menikah. Tapi Lisa juga tahu kalau selama ini Revan juga masih memiliki hubungan dengan Viona yang diketahui adalah kekasihnya sewaktu kuliah.
Wanita paling lama yang sanggup bersama Revan meskipun terkadang pria itu membawa gadis lain dihadapannya, Lisa tahu kalau Viona juga sangat mencintai Revan.
Tapi Lisa merasa bahwa saat ini Revan terlihat begitu peduli pada istrinya, terlihat dari raut wajah dan tingkah Revan yang tidak seperti dibuat-buat. Bahkan tatapan mata Revan juga menunjukkan bagaimana perasaannya pada Bella.
"Apa Revan sudah mulai mencintai istrinya?" batin Lisa.
"Eghem! maaf, bolehkan saya bergabung dengan anda, Nona?" ucap Josh yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Lisa.
"Apakah anda mencari Revan?" Lisa menoleh ketika pria itu bertanya.
"Maaf, tadi aku melihat anda seperti sedang mencari seseorang, ehm,, karena tadi aku lihat anda berangkat bersama Revan jadi aku menyimpulkan seperti itu," lanjut Josh.
"Aku tidak berangkat bersama Revan, tadi tidak sengaja bertemu di depan pintu, jadi kebetulan sekali kita masuk ke sini bersama-sama," jawab Lisa jujur, karena memang itulah kenyataannya.
"Owh, aku kira! ehm tapi tadi aku lihat Revan sudah pulang bersama istrinya," ucap Josh membuat Lisa mengerutkan keningnya.
Kenapa pria ini terkesan ikut campur dengan urusan pribadinya? mereka saja tidak saling mengenal, tetapi kenapa seakan-akan pria di sampingnya ini mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.
"Namaku Josh, aku sahabat Bella, istri Revan, dan aku juga menyukai Bella, jadi jangan menganggapku sebagai orang lain," ucap Josh seakan tahu apa isi pikiran dari Lisa.
"Lalu maksud kamu apa memberitahu ku semua ini?" tanya Lisa yang kali ini menatap wajah Josh dengan seksama.
Josh ikut membalas tatapan Lisa dan tersenyum. "Aku tahu bahwa sebenarnya kamu menginginkan Revan, bukan? ehm apakah anak itu adalah anaknya Revan?" tanya Josh.
"Bukan, ini anakku dengan mantan suamiku, aku dan Revan sudah lama tidak bertemu." jawab Lisa.
__ADS_1
"Owh, jadi aku langsung saja, disini aku ingin agar Bella bahagia, jika dia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, maka aku akan sanggup membahagiakan Bella, kalau memang kamu menginginkan Revan, tahanlah dulu, tunggu hingga Revan dan Bella berpisah, aku akan ikut membantu," jawab Josh sangat yakin.
Lisa mengangkat sebelah alisnya, dia bisa melihat kesungguhan di wajah pria itu. "Akan ku pikirkan," jawab Lisa tidak menolak maupun menerima. Tetapi mungkin usulan dari Josh bisa ia dengarkan.
'Aku hanya tidak ingin melihat Bella sakit hati lagi dengan kelakuan suaminya, kalau memang Bella sudah tidak tahan, bukankah dia bisa meminta cerai dari Revan? tapi kenapa sepertinya hal itu sangat sulit? tidak mungkin kan hanya karena cinta?' batin Josh.
Sedangkan di kediaman Revan
Bella menarik nafasnya kasar sebelum masuk ke dalam kamar Revan. Apakah malam ini dia akan benar-benar menyerahkan semuanya pada sang suami karena Bella ingin mengakhiri pernikahan ini?
Bukankah tadi Revan mengatakan bahwa ia dan Lisa tidak sengaja ketemu di depan pintu masuk ballroom, dan mereka bukan berangkat bersama.
Kalau memang mereka berangkat bersama, bukankah seharusnya Revan mengantarkan Lisa pulang kembali, tapi nyatanya itu tidak terjadi, apalagi saat ini Lisa tengah hamil, mana mungkin Revan tega membiarkan seorang wanita hamil berkeliaran sendiri di tengah malah.
Jadi intinya memang Revan berkata jujur, dia tidak membohongi Bella lagi, bahkan perasaan pria itu memang sudah tidak ada yang tersisa untuk Lisa.
'Jadi apakah yang dikatakan Revan semuanya benar?'
"Sayang, kenapa lama sekali, aku menunggumu sejak tadi, loh! aku kangen banget sama kamu," ucap Revan mendekati istrinya yang hanya mematung di depan pintu kamar.
"Ah, iya, ayo kita masuk, ehm aku akan tidur di kamarmu mulai malam ini, itupun kalau kamu izinkan," ucap Bella.
"Tentu saja, aku sangat senang sekali, bukankah sudah ku bilang jika kita akan memulai semuanya dari awal? dan itu juga dimulai tidur bersama," jawab Revan tersenyum.
Bella membalas senyuman sang suami yang terlihat tulus.
'Sepertinya Revan memang benar-benar sudah berubah, aku tidak bisa membuat keputusan seenaknya seperti ini. Akan aku tunggu seberapa tulus dia, yang pasti aku tidak akan gegabah!' batin Bella.
Revan terlihat begitu bahagia, seperti ketiban durian runtuh saat tahu bahwa Bella ingin tidur bersamanya, bukankah ini kemajuan yang luar biasa? Revan ingin Bella benar-benar percaya padanya dan bisa mencintainya setulus hati.
*****
To Revan Alfredo.
Sebelumnya aku minta maaf, aku harus pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri, jadi jangan cari aku, kalau sudah merasa lebih baik, aku pasti akan kembali.
From Bella.
Bersambung.
__ADS_1