
Happy Reading.
Bella membuka seluruh pakaiannya dan dan langsung masuk ke dalam bathtub. Dengan mencampurkan wewangian mawar ke dalam sabun membuat Bella sedikit rileks.
Bella memejamkan matanya, menghilangkan sejenak rasa sakit yang mendera kepalanya sejak di rumah sakit tadi.
Sepertinya ia memang butuh aromaterapi agar bisa berpikir lebih jernih. Bella seharusnya bisa memahami situasi yang ada.
"Aku harus menanyakan kepada Revan, bagaimana dia akan mengambil keputusan? Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir dan terlalu takut," gumam Bella.
Sementara Revan baru saja masuk ke dalam kamar, melihat sang istri tidak ada sedikit membuat Revan panik. Saat ini Revan benar-benar sangat takut kehilangan istrinya. Dia merasa Bella sedang tidak baik-baik saja.
Setelah melangkah ke arah kamar mandi, Revan baru ingat kalau istrinya itu sedang membersihkan diri.
Pria itu duduk di ranjang dan merebahkan dirinya, sungguh tidak di pungkiri bahwa Revan juga sangat lelah. Bukan hanya kepalanya yang sakit, seluruh tubuhnya juga terasa sakit.
Mengingat bagaimana tadi bagaimana dia menghalau Lisa yang mengamuk karena Revan menolak untuk menikahinya.
Flashback.
"Aku tidak bisa menikahi mu, Lisa! Dan aku juga tidak akan pernah menikah dengan mu! Apa kamu begitu tidak tahu malu dengan menginginkan hal itu? Apa kamu lupa dengan apa yang telah kamu lakukan padaku dulu?" ucap Revan datar dan dingin.
"Aku tahu aku salah, tapi aku sekarang menyesal, aku menyesal Revan, kamu yang terbaik untuk ku, aku ingin kita kembali bersama!" Lisa duduk dan berusaha menarik Revan tapi pria itu langsung berdiri.
"Enak saja kamu ngomong seperti itu? Gampang sekali, ya? Seharusnya kamu malu dan introspeksi diri!! Kalau aku nerima kamu, itu sama saja aku sudah gila!" tunjuk Revan ke arah wajah Lisa.
Lisa semakin marah ketika diperlakukan seperti itu, dia pun langsung bangkit berdiri dan berusaha menarik tubuh Revan untuk ia peluk.
"Jangan pergi, Van! Aku tidak mau sendiri!! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi!" seru Lisa memeluk Revan dari belakang.
Sungguh kali ini Revan benar-benar sangat kesal. Wanita seperti Lisa memang harus sedikit di beri pelajaran, agar dia bisa berpikir mana yang baik untuk nya dan mana yang tidak.
Siapa yang salah dan siapa yang korban. Dia berlagak seperti korban yang memaksakan kehendaknya dengan cara meminta Revan untuk menikahinya.
Sungguh mustahil, Revan bahkan sudah tidak berselera lagi hanya untuk melihatnya, kalau bukan masalah ini, Revan juga tidak sudi harus berurusan dengan Lisa.
"Lepaskan aku, Lisa!! Jangan sentuh aku!!" Lisa sangat terkejut melihat Revan yang membentaknya seperti itu. Sekarang Revan memang sangat sulit di kendalikan. Lisa benar-benar merasa kewalahan.
"Cepat lepaskan!! Jangan buat aku melukaimu lagi!!" tekan Revan membuat Lisa sedikit takut.
Revan merasakan perutnya di peluk erat dan tidak ada pergerakan sama sekali dari Lisa.
Sepertinya Revan memang harus sedikit kasar agar wanita itu mengerti.
"BRENGSEKK!" Revan menarik tangan Lisa dan menghempaskan begitu saja.
__ADS_1
"Revan!!! Aku gak mau kamu pergi!!"
Lisa menarik baju Revan dari belakang, bahkan wanita itu menariknya begitu kuat. Lisa berbalik dan langsung menghadang nya.
Ck, wanita ini bukan hanya keras kepala, tapi ternyata juga tidak punya malu dan etika.
Lisa memukul dada Revan sekuat tenaga, seakan menyalurkan kemarahan nya bercampur dengan emosi jiwa karena keinginan nya tidak di kabulkan oleh pria ini.
Revan tidak membalas, tapi juga tidak menghentikan, biarlah Lisa memukulnya sampai puas, asalkan dia melepaskan Revan dan tidak menggangu Bella lagi.
"Kamu jahat!! Kamu membunuh anakku! Kamu membuat ku tidak memiliki siapa-siapa lagi!! Aku benci kamu Revan! Aku benci kamu!" seru Lisa dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.
"Sudah? Cukup? Aku membiarkan kamu seperti ini agar kamu tidak mengusikku lagi!!" Revan berlalu dari hadapan Lisa dan segera keluar dari ruang itu.
****
Bella keluar dari dalam kamar mandi memakai handuk kimono, berjalan menuju lemari dan melihat suaminya yang tertidur pulas di atas ranjang dengan terlentang.
Bella mendekat dan menatap wajah sang suami dengan tatapan sendu. Terlihat raut wajah lelahnya di sana. Bella mendekat, meneliti setiap detail wajah dari Revan.
Pria itu memang benar-benar tampan, hidung nya mancung, bibirnya tipis dan berwarna merah alami. Alisnya tebal dan bersih tanpa bulu. Seandainya Revan memiliki bulu-bulu halus di rahangnya pasti terlihat lebih macho dan cool.
Pantas saja dia suka bermain bersama banyak wanita, dengan ketampanan yang seperti ini pasti Revan bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang ia inginkan.
Bella mendesah, sepertinya kalau Lisa menginginkan kembali pada Revan juga tidak salah. Melihat bagaimana Revan memang begitu tampan, kaya dan juga menjabat sebagai CEO Alfredo Corp. Tentu saja Lisa pasti menyesal karena dulu pernah meninggalkan Revan. Sampai wanita itu rela mengejar sang suami hanya demi bisa bersama Revan.
Tangan Bella terangkat, menyentuh pipi Revan sebelah kanan, mengusapnya perlahan. Ah, Bella memang sudah jatuh cinta pada suaminya itu sejak lama. Dia tidak salah dan tidak juga gila hanya karena mencintai suami yang sudah menyakitinya selama ini.
Bella kembali mendesah, dia pun memilih turun dari ranjang untuk segera memakai bajunya, tapi tiba-tiba tangannya di hentikan oleh sebuah tarikan halus. Menghentakkan tubuhnya ke belakang.
Bella membelalakkan matanya ketika tubuhnya menubruk dada bidang sang suami yang saat ini tengah menatap nya sambil tersenyum lebar.
'Aduh, mati aku! Apa tadi Revan sadar kalau wajahnya udah aku pegang-pegang? Mudah-mudahan saja tadi belum bangun,' batin Bella.
Wanita itu berusaha bangkit tapi Revan mendekapnya dengan sangat erat.
"Revan, lepas dulu, aku berat," Bella berusaha meronta.
Sungguh posisi nya saat ini benar-benar tidak menguntungkan.
"Gak, aku pengen di elus lagi kek tadi," jawab Revan masih memeluk Bella. Tidak akan membiarkan istrinya itu terlepas.
Bella melotot sempurna, dia benar-benar merasa sangat malu sekali. Kalau bisa menghilang, Bella pasti sudah menghilang sekarang, kepergok seperti tadi itu rasanya benar-benar tidak bisa jabarkan. Malu setengah mati, apalagi pakai acara mengelus-elus pipi Revan.
Ah, kalau boleh, Bella ingin tenggelam di samudera Hindia. Bisa di pastikan sekarang Revan menjadi besar kepala karena ulahnya tadi. Lihatlah senyumnya yang benar-benar tengil saat ini.
__ADS_1
"Siapa yang elus?" Bella memalingkan wajahnya. Sudah dipastikan sekarang pipinya merah seperti tomat.
"Aku tadi gak tidur, yank, cuma pura-pura, pas tau kalau kamu keluar dari kamar mandi, aku pura-pura memejamkan mata, eh ternyata kamu...eehhmmm!" Bella langsung menutup mulut Revan dengan tangannya.
Revan membalikkan tubuhnya dan sekarang berganti Bella yang berada di bawah. Senyum menyeringai tercetak di wajahnya, membuat Bella merasa semakin malu.
"Revan! Lepaskan, aku mau ganti baju," Bella mendorong dada Revan yang kini berada di atasnya, tapi pria itu kekeh tidak mau beranjak.
"Cium dulu!"
"Ihh, apaan," Bella menutup bibir Revan yang dimoyongkan seperti ikan koi, bukannya kesal Revan malah semakin tergelak melihat tingkah lucu sang istri.
"Duh, gemesnya, jadi makin cinta, deh!" Revan mencubit pipi Bella sampai sang empunya meng-aduh.
Revan mencium kedua pipi Bella bergantian, kemudian beralih ke kening, kedua mata dan hidung, terakhir di bibir dan di kecup paling lama.
Tidak ada ******* hanya menempel, tetapi sensasi nya benar-benar beda. Jantung Bella semakin tidak karuan hanya karena perlakuan Revan yang seperti ini.
Begitupun dengan Revan, dia merasa benar-benar jatuh cinta dengan istrinya, cinta yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, perasaan yang membuat hatinya benar-benar kacau karena yang namanya cinta.
Ke-empat mata itu saling memandang, menyelami yang ada di dalam pupil matanya, hanya terdapat cinta yang terpancar di mata keduanya. Perlahan Revan mendekatkan wajahnya, menempel kan kembali bibirnya dan juga Bella. Kali ini dia melumatt dan menyesap bibir yang kali ini menjadi candunya.
Bagaikan menghirup heroinn yang sangat memabukkan, Bella membuatnya jadi tidak waras. Cinta itu membuat dadanya meletup-letup seperti kembang api yang membuat perutnya di gelitiki kupu-kupu.
Revan benar-benar merasakan hal yang luar biasa, setelah tadi moodnya anjlok karena Lisa, tapi sekarang dia bisa terlihat bersemangat kembali setelah mendapatkan mood booster, yaitu ciuman Bella.
Mereka menikmati sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, Revan mengeksplor setiap deretan gigi Bella, lidahnya menari untuk mencari lidah yang berada di dalam, saling membelit dan menyesap.
Revan memutuskan ciumannya kala Bella sudah kehabisan napas. Deru napas mereka masih saling memburu. Bella menatap wajah Revan yang malam ini benar-benar terlihat sangat tampan.
Revan tersenyum dan memajukan wajahnya ingin mencium bibir Bella kembali.
"Stop!" Bella menutup mulut sang suami dengan sebelah tangan. Revan langsung menaiki kan sebelah alisnya seakan bertanya ada apa?
"Ehm, masalah Lisa, bagaimana?" tanya Bella to the point. Dia memang sangat penasaran dengan bagaimana jawaban Revan.
Revan langsung melonggarkan pelukannya, bahkan sekarang posisinya sudah duduk di samping Bella.
"Sayang, masalah Lisa aku sudah menyerahkan pada asisten ku, dia yang akan mengurus semuanya, aku sudah tidak mau berurusan dengan nya lagi," jawab Revan serius.
"Kenapa? Bukankah dia sudah kehilangan bayinya karena kamu?" tanya Bella memancing.
Revan menggeleng. "Semua itu hanya kecelakaan, dan aku gak mau kalau hal itu dia buat untuk memeras ku, aku berjanji padamu tidak akan pernah kembali lagi sama dia meskipun dia selalu meminta dengan cara yang tidak masuk akal, aku hanya akan setia padamu, Bella. Apa kamu percaya padamu?" tanya Revan.
Bella terlihat ragu, tapi akhirnya dia pun mengangguk. Tentu saja dia tidak mau seolah tidak menghargai suaminya itu.
__ADS_1
"Iya sayang, aku percaya padamu, suamiku!"
Bersambung.