Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Butuh Bella


__ADS_3

Happy Reading.


Revan menghentikan mobilnya di halaman parkir butik Bella, kemudian ia bergegas keluar dan langsung membuka pintu butik itu.


Emy yang akan keluar terkejut mendapati Revan dengan penampilan yang berantakan masuk ke dalam.


"Di mana istriku?" tanya Revan melihat Emy dan Jesselyn yang sepertinya bersiap-siap akan pulang.


"Bella sejak tadi keluar bertemu dengan klien, yang katanya mau pesan gaun, tapi sepertinya dia gak balik ke butik," jawab Emy yang di susul anggukan dari Jesselyn.


"Apa dia langsung ke rumah?" Emy mengedikkan bahunya.


"Mungkin," jawabnya.


"Kenapa gak kamu telepon aja, 'kan jadi tau dia masih meeting apa udah pulang," ucap Jesselyn.


"Ponselku tertinggal, baiklah aku balik ke rumah dulu," ucap Revan kemudian bergegas keluar dan langsung menuju ke mobilnya.


Emy dan Jesselyn menutup pintu butik dan menggemboknya. Selain Bella kedua sahabatnya itu juga membawa kunci cadangan butik.


"Apa mereka sedang ada masalah?" tanya Jesselyn.


"Siapa?" beo Emy.


Jesselyn menatap wajah sahabatnya itu dengan kesal. "Ya kali Satpam di rumah lo! Itu si Revan sama Bella yang lagi ada masalah, dari tadi juga raut wajah Bella murung seharian," ucap Jessy.


Emy hanya bisa mengedikkan bahunya. "Entahlah, mungkin saja mereka memang ada masalah, bukankah aneh kalau Bella dan Revan tidak ada masalah, sejak awal mereka menikah sudah bermasalah, kalau memang mereka sudah tidak bisa di satukan, lebih baik pisah, dan kalau aku jadi Bella, pasti aku sudah mundur sejak awal!"


Jesselyn menghela napas, memang benar yang di katakan oleh Emy, Bella terlalu menyakiti dirinya sendiri.


Tapi mereka berdua tahu kalau mereka tidak patut untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga sahabatnya itu.


"Mudah-mudahan urusan Bella bisa cepat selesai dan gak berlarut-larut, yah gue bisa lihat kalau Revan emang udah cinta ke Bella, tapi sepertinya masih banyak batu kerikil yang menghadang," ucap Jesselyn.


Emy hanya mengangguk, kemudian kedua wanita itu langsung masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap pulang, karena nanti di rumah Jessy akan ada pesta yang tentunya Emy di undang secara khusus.


****


Revan masuk melewati pintu gerbang yang telah dibuka lebar oleh satpam, pria itu keluar dari dalam mobil dan mengedarkan pandangannya, Revan memicingkan matanya mencari mobil Bella yang tidak ada di halaman maupun garasi.


"Apa Nona Bella belum pulang?" tanya Revan kepada satpam di rumahnya.


"Belum tuan," jawab satpam tersebut.


Revan langsung melenggang pergi dan berjalan ke arah rumah dengan perasaan yang menentu. Pikirannya sekarang benar-benar kacau, banyak sekali yang harus ia selesaikan saat ini. Masalah Lisa yang baru saja kehilangan bayinya karena dia, dan sekarang dia tidak bisa menemukan istrinya.


Revan langsung masuk ke dalam rumah, sedikit berlari menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya.


"Bella, sayang!! Kamu di dalam!" Revan masih berusaha berteriak memanggil sang istri, meskipun ia tahu bahwa Bella memang belum pulang.


Akhirnya Revan menemukan ponselnya ada di atas nakas. Dia langsung membuka ponsel itu dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan dari sang istri.


"Sial!!" geram Revan karena tadi dia terburu-buru untuk mengantarkan Lisa ke rumah sakit, sehingga dia lupa untuk membawa ponselnya.


Revan menghubungi nomer Bella, berdering tapi tidak diangkat. Di cobanya lagi, Revan kembali menelepon sang istri, berdering beberapa kali, dan akhirnya telepon itu di angkat oleh istrinya.


"Halo sayang, kamu di mana? Aku ke butik tapi kamu gak ada?"

__ADS_1


"Ehmm,, halo, Bella lagi di kamar mandi, nanti aku bilangin sama dia, apakah kamu suaminya?"


Deg! Revan benar-benar terkejut saat mendengar suara seorang pria yang menjawab. Apakah Bella masih bersama kliennya. Ah, Revan benar-benar tidak tenang kalau dia tidak menyusul Bella sekarang.


"Iya, aku suaminya, di mana istriku sekarang?"


****


Sebelumnya..


Dewa menahan lengan Bella dan mengajak nya untuk mengobrol sebentar. Tapi Bella juga tidak mau kalau hanya mereka berdua saja.


Irene terpaksa ikut duduk bertiga bersama mereka. Meskipun Irene merasa sangat canggung, tapi dia tidak bisa mengelak karena permintaan Bella dan Dewa.


"Gue mau minta maaf sama elo, atas sikap gue dulu yang selalu bikin lo marah," ucap Dewa menatap Bella intens.


"Hemm, udah gue maafin, gak usah di bahas lagi, lagian itukan hanya masa lalu, dan setelah sekian lama, gue juga udah lupa," jawab Bella.


Sebenarnya dia ingin sekali segera pergi dari tempat itu, tidak ingin berlama-lama dengan Dewa dan Irene. Bella sangat tahu bagaimana tatapan mata Irene yang terlihat sendu, pasti wanita itu masih sangat mencintai Dewa.


"Sebenarnya waktu itu gue bukannya benci sama elo, Bell. Gue hanya berusaha menutupi perasaan gue ke elo aja, karena gue cinta dan gue gak pintar ngungkapin kata cinta buat lo!" Kali ini Bella langsung menelan saliva-nya setelah mendengarkan pertanyaan dari Dewa.


Irene tersenyum ke arah Bella, hatinya memang sakit mendengar pengakuan cinta orang yang dia cintai, tetapi pengakuan itu bukan untuk dirinya melainkan untuk sahabatnya sendiri.


Bella benar-benar merasa canggung, dia pun pura-pura memainkan ponsel yang ada di dalam tas dan mengambilnya, tidak mungkin kan dia menatap kearah Dewa apa lagi ke arah Irene, yang ada pasti saat ini dia merasa sangat malu sekali.


"Ehm, gue tahu kalau lo pasti merasa gak nyaman dengan kehadiran gue, apalagi saat ini lo udah punya suami, gue sama sekali nggak ada maksud apa-apa, Bell. Gue cuma ingin ungkapin perasaan gua aja sama lo Bel, ya mumpung gue ada di Indonesia karena gue di sini juga nggak akan lama, jadi please! Gak usah canggung sama keadaan ini," ujar Dewa tertawa kecil.


"Iya kali lo mau jadi pebinor, kan sekarang lagi deket sama cewek Korea, dia tuh sebenernya udah move on sama elo, Bell. Cuma pengen ngelurusin masa lalu yang dulu, Dewa minta bantuan gue buat bisa ketemu sama elo, dia cuma pengen lo tau kalau sebenarnya dulu dia tuh gak benci sama lo, melainkan sebaliknya, tapi balik lagi, memang kalian gak jodoh, gue juga bukan jodohnya Dewa, karena sebentar lagi gue mau di lamar sama pacar gue," ujar Irene mencoba mencairkan suasana.


"Eh, yang bener? wah selamat ya, Ren! Gue seneng banget dengernya!" ucap Bella memeluk lengan sahabatnya itu.


"Selamat buat lo, udah bisa Move On dari gue," kali ini Dewa yang memberikan selamat.


"Udah move on donk, gak enak kali mencintai sendiri, tuh! Enaknya kalau kita sama-sama saling mencinta, iya gak, Bell?" Bella mengangguk sambil tersenyum ke arah dua temannya itu.


"Eh, gue ke kamar mandi dulu, ya?" ucap Bella meletakkan ponselnya di atas meja.


"Mau di temenin gak?"


"Gak, gue bisa sendiri, iya kali di temenin," jawab Bella tertawa.


Kini mereka sudah tidak canggung lagi, bahkan lebih memanggil dengan bahasa tidak formal.


Bella beranjak ke kamar mandi yang terletak di sudut restoran.


Tiba-tiba ponsel Bella yang di tinggal di atas meja berdering, nama 'Revan' muncul di layar.


"Siapa?" tanya Irene yang melihat Dewa menggeleng.


"Suaminya?"


"Gue gak tau, namanya Revan, masa iya gue angkat," ujar Dewa.


"Siapa tahu penting," panggilan itu berhenti dan Bella masih ada di dalam kamar mandi.


"Eh, itu berdering lagi, angkat aja, Wa! Siapa tahu penting, biasanya kalau sampe telepon dua kali atau lebih itu penting, loh!" ucap Irene.

__ADS_1


"Gak ah, nanti Bella marah ma gue, lo aja!"


"Yaelah, Dewa, nanti bisa di jelasin ke Bella, kan! Dari pada ntar dia nanti nyalahin kita karena ternyata itu telepon penting," ucap Irene.


"Oke, lo yang harus tanggung jawab!" tunjuk Dewa ke arah Irene dan kemudian mengangkat panggilan di ponsel Bella.


***


Revan masuk ke dalam restoran yang tadi di sebutkan alamatnya oleh si pengangkat telepon sang istri. Tentu saja Revan begitu khawatir dengan istrinya yang entah sedang bertemu dengan siapa di restoran tersebut.


Revan mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Bella, dan akhirnya dia melihat Bella yang duduk menyamping bersama dua orang, pria dan wanita. Revan sangat yakin kalau si pria itu yang mengangkat telepon dari nya tadi.


"Sayang, ternyata kamu di sini," Bella terkejut karena melihat sang suami datang dan langsung mencium pipinya di hadapan Dewa dan Irene.


"Ehmm, Revan, aku ... !"


"Ayo kita pulang, aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, ehm, maaf ya? Bella saya ambil paksa karena darurat," Dewa dan Irene langsung mengangguk.


Setelah berpamitan akhirnya Bella mengikuti sang suami keluar dari dalam restoran tersebut.


"Aku bawa mobil sendiri," ucap Bella.


"Baiklah, aku akan berada di belakang, kamu duluan, ya?" Bella mengangguk.


Kemudian mereka pun meninggalkan restoran tersebut dengan membawa kendaraan sendiri sendiri.


Setelah sampai di rumah, Revan langsung mengajak Bella untuk bicara, dia akan menceritakan semuanya kepada sang istri tentang kronologi kejadian sebelum Lisa mengalami kecelakaan yang diakibatkan oleh dirinya.


Tentu saja itu membuat Bella benar-benar shok dan terkejut, Revan telah membunuh calon bayi dari Lisa yang notabene adalah wanita yang pernah ada di dalam hidupnya.


"Lalu bagaimana keadaan Lisa sekarang? Kenapa kamu tidak memberitahu ku, Revan?"


"Sekarang Lisa sedang dioperasi untuk pengangkatan janinnya, aku tidak bisa menghubungimu karena tidak membawa ponsel, maafkan aku," Bella menghela napas lega.


Ternyata suaminya tidak membalas pesan nya karena tidak membawa ponsel.


"Kalau begitu ayo sekarang kita ke rumah sakit dan melihat keadaan Lisa. Apakah dia sudah selesai dioperasi atau belum," Bella menarik lengan suaminya agar segera berdiri.


Revan sebenarnya masih merasa khawatir dan ragu untuk bertemu dengan Lisa, ia begitu takut kalau misalkan Lisa menuntutnya karena telah berhasil menghilangkan nyawa janinnya.


"Aku takut, sayang, tadi reaksi Lisa benar-benar menakutkan, dia mengamuk pada saat akan dioperasi karena tidak mau dokter mengangkat janin yang ada di dalam rahimnya. Lisa mengira bahwa janin itu masih hidup dan dia terlihat sangat stres dan tertekan," ujar Revan menunduk.


Tangannya ia gunakan untuk mengusap wajah. Terlihat frustrasi.


Bella menyentuh lengan Revan dan mengelusnya perlahan. "Kamu yang tenang, pasti Lisa akan mengerti kalau sudah di jelaskan, yang penting kita ke rumah sakit terlebih dahulu, untuk melihat kondisi Lisa saat ini," ucap Bella tersenyum.


Memberi semangat kepada sang suami agar Revan tidak terlalu khawatir dan tertekan.


Akhirnya setelah merasa lebih baik, Revan merangkul bahu Bella dan mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit. Sepertinya dia akan kuat kalau ada Bella di sampingnya.


Sungguh Revan sama sekali tidak bisa berpikir jernih tanpa Bella. Ternyata Revan memang sudah mulai bergantung kepada istrinya.


Akhirnya Bella dan Revan menuju ke rumah sakit dengan Revan yang menyetir, meskipun tadi sempat terjadi perdebatan antara Bella dan Revan karena istrinya itu ingin menyetir mengingat kondisi Revan yang masih tidak stabil.


Bersambung.


Maaf kalau alurnya membosankan, tapi plotnya memang sudah seperti ini 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa dukung othor terus ya ...


tanpa akak2 semuanya, othor juga tidak bisa sampai sejauh ini, terima kasih.


__ADS_2