Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Kegelisahan Bella


__ADS_3

Jika aku tahu perpisahan sesakit ini, aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu sama sekali. Meninggalkan segala kenangan yang telah kita buat bersama itu berat.


^^^Bella^^^


Happy Reading.


Revan dan Bella masuk ke dalam ruang rawat di mana Lisa di rawat pasca operasi. Sepertinya memang kedatangan Revan sedikit terlambat karena Lisa sudah selesai operasi dan keadaannya masih belum siuman hingga saat ini.


Bella bisa melihat Lisa yang masih menutup matanya rapat, seakan wanita itu tidak ingin membuka matanya karena tidak bisa menerima kenyataan yang akan ia alamai setelah siuman.


"Apakah dia baik-baik saja, dok?" tanya Bella kepada dokter yang sedang menemani mereka mengecek keadaan Lisa dan juga sempat mengoperasinya.


Saat ini Lisa sudah di pindahkan ke ruang rawat.


"Pasien pasti mengalami depresi pasca kehilangan bayinya, tapi hal itu bisa kita ketahui setelah nona Lisa siuman," jawab dokter tersebut.


Revan terlihat menghela napas, dia juga merasa sedikit gusar, membayangkan bagaimana reaksi Lisa saat wanita itu sudah bangun nanti. Entah kenapa rasanya dia sudah seperti seorang pembunuh saja. Ya, Revan memang menghilangkan satu nyawa. Meskipun nyawa itu masih berupa janin yang ada di dalam perut tapi tetap saja dia menghilangkan nyawa makhluk hidup.


"Revan, yang tenang! semua ini kecelakaan, jadi kamu tidak sepenuhnya bersalah dari versi cerita yang kamu ceritain ke aku," Bella memegang lengan suaminya.


Melihat Revan yang begitu gusar tentu saja bila menjadi sedikit khawatir.


"Iya, sayang. Aku tidak apa-apa, kamu juga tenang saja, ya?" ujar Revan seakan biasa-biasa saja, berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan istrinya.


Tapi tetap saja Bella masih bisa menangkap bagaimana raut kegelisahan yang terpatri di wajah sang suami. Tiba-tiba mata Bella menangkap pergerakan tangan Lisa dan sesaat kemudian mata Lisa terbuka.


"Dokter, Lisa sudah sadar!" Lisa bisa mendengar suara seorang wanita yang tidak asing. Dia pun langsung berusaha menoleh dan melihat Bella yang sedang menggandeng lengan Revan dengan posesif, seakan mengatakan padanya bahwa Revan adalah miliknya.


Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Lisa pasca sadar dari pengaruh obat bius yang tadi di berikan pada saat akan melakukan operasi.


Revan sendiri hanya bisa diam saat melihat reaksi Lisa yang menatapnya penuh kekecewaan. Revan memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak bisa melihat mata coklat itu terlalu lama. Mata itu yang dulu selalu membiusnya dan membuatnya rapuh. Mata yang bisa membuat hati Revan merasa menjadi seseorang yang bisa diandalkan.


Tapi mata itu pula yang dulu pernah membuat hidupnya hancur dan terpuruk. Membuat dirinya menjadi pribadi yang brengsek di mata semua wanita, termasuk istrinya. Entah kenapa sekarang Revan merasa bahwa Lisa hanyalah sebuah virus yang harus di basmi dan di musnahkan sesegera mungkin.


"Aku ingin bicara empat mata dengan Revan, Bella," ucap Lisa membuat Revan membuyarkan lamunannya.


Ternyata sejak tadi dia hanya melamun, bahkan pada waktu dokter keluar dari ruangan itu, Revan sampai tidak tahu.


Bella menyikut perut suaminya yang sejak tadi hanya diam saja, dia benar-benar tidak tahu dan bingung melihat keadaan Revan yang seperti itu.


"Lisa ingin bicara denganmu berdua saja, bagaimana? aku akan menunggumu di luar," ucap Bella pada suaminya.


Tentu saja dia tidak mau egois dan melarang Revan untuk tidak mengobrol dengan Lisa, Pasti ada suatu masalah yang harus secepatnya di selesaikan. Sepertinya Revan juga ada yang ingin dibicarakan dengan wanita tersebut. Menghela napas panjang Akhirnya Revan meminta persetujuan dulu dari istrinya


"Kalau kamu mengizinkan ku, aku akan ... !"


"Tentu saja, aku mengizinkan mu, sebaiknya memang kalian bicara dulu!" sela Bella.


"Tapi sayang...!" Bella mengangguk dan tersenyum.


Kemudian dia langsung berjalan meninggalkan kamar rawat tersebut.


Bella memilih menunggu di luar pintu dan duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk menunggu di luar. Entah kenapa perasaannya benar-benar merasa tidak enak. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tapi entah itu apa.

__ADS_1


Ya, Bella tentu saja takut kalau saat memutuskan untuk mengizinkan sang suami berbicara berdua dengan Lisa, yang notabene adalah wanita yang dulu pernah di cintai oleh Revan, bahkan mungkin bisa juga cinta pertamanya. Tapi Bella juga tahu kalau dia tidak boleh egois, biar bagaimanapun masalah Lisa yang masuk rumah sakit seperti ini karena Revan juga.


Sementara itu Revan duduk di samping ranjang pasien, menatap Lisa yang tengah menangis saat ini. Ada rasa tidak nyaman ketika menatap Lisa yang seperti itu, Revan merasa benar-benar bersalah, biar bagaimanapun wanita itu kehilangan bayinya karena dirinya.


"Bayiku, bayiku, bayiku udah gak ada! dan semua ini karena kamu, Van!! kamu jahat!!" ucap Lisa masih sesenggukan. Bahkan saat ini Lisa menarik-narik lengan Revan dan memukulinya. Tentu saja dia merasa terpukul sekali.


"Tenanglah Lisa! oke aku minta maaf, kamu kehilangan bayimu karena aku, tapi ini semua juga bukan kesalahanku sepenuhnya. Coba saja kamu menurut dan tidak memberontak dengan mendorong pintu itu, pasti semua ini tidak akan terjadi, jangan sepenuhnya menyalahkan ku!" jawab Revan tegas.


Lisa menggelengkan kepalanya cepat, dia tetap harus meminta tanggung jawab pada Revan atas apa yang terjadi padanya saat ini. "Aku tetap gak terima, kamu harus bertanggung jawab Revan!"


"Aku sudah tanggung jawab, seluruh biaya administrasi semuanya sudah aku bayar," jawab Revan.


Bukan itu yang Lisa mau, perempuan itu mencoba meraih tangan Revan untuk digenggamnya. Revan menarik tangannya sebelum di sentuh oleh Lisa, membuat wanita itu menatap sendu pria itu, sebenarnya Revan tidak tega melihat wajah Lisa yang benar-benar terluka.


"Aku ingin kamu bertanggung jawab dan membuat anakku kembali," lirih Lisa.


"Hahaha, jangan bercanda Lisa, bagaimana anakmu bisa kembali, dia sudah tenang di sana!"


"Kamu harus menikahiku dan memberiku anak!" Revan mebelalakkan matanya mendengar permintaan Lisa.


"Omong kosong apalagi yang kamu katakan ini! gak usah main-main sama aku sekarang!" tekan Revan menatap tajam Lisa.


"Aku gak main-main, Van! aku memang berencana kembali sama kamu, aku menyesal telah ninggalin kamu, aku ingin bisa sama kamu lagi," bujuk Lisa sambi mengeluarkan air matanya.


Revan diam, dia tidak menjawab keinginan Lisa yang sangat tidak masuk akal menurutnya. Sungguh egois kalau wanita itu memaksanya untuk menikahinya. Bahkan dulu dengan teganya Lisa meninggalkan Revan dan menikah dengan pria lain, lalu apakah saat ini Revan akan dengan mudah menerimanya kembali? Tidak! tentu saja tidak mungkin.


"Van, maafkan aku! aku nyesel, aku masih cinta sama kamu, ternyata kamulah pria yang terbaik untukku, aku pengen kembali sama kamu, seperti dulu, kita yang saling mencintai!"


Di luar ruangan Bella yang memang sengaja menguping juga ikut menangis, dia tidak sanggup jika Lisa meminta pertanggung jawaban dengan meminta Revan untuk menikahinya. Wanita cantik itu langsung berlari menjauh dari ruang rawat tersebut, dia sudah tiak tahan untuk mendengar jawaban dari sang suami. Bella harus menyendiri untuk bisa membuat hati dan pikirannya lebih tenang.


****


Wanita itu hanya butuh waktu untuk sendiri, meskipun dia tahu mungkin Revan tidak akan pernah menduakannya lagi, dan itu artinya bisa juga Revan tidak mau menikahi Lisa, tetapi tetap saja hatinya masih begitu resah.


Revan meremas ponselnya dengan kuat, dia merasa sangat frustasi, istrinya sejak tadi tidak bisa di hubungi, Bella tidak mengangkat panggilan darinya sama sekali.


Revan berlari kesana-kemari, mencari keberadaan sang istri di setiap sudut rumah sakit. Seharusnya Bella masih di area rumah sakit, mengingat tadi mereka berangkat dengan mobil yang sama.


"Aggrrhh!! kamu di mana Bella?" Revan menjambak rambutnya.


Tidak mungkinkan kalau Bella pulang naik taksi? Revan langsung berlari ke parkiran, dia berusaha mencari istrinya di sana, siapa tahu Bella sedang istirahat dan menunggunya di mobil. Tapi hasilnya nihil, Bella tidak ada di sana.


"Bella! Kamu di mana sayang!!" teriak Revan, saking frustrasi nya pria itu sampai menendang pintu mobilnya.


Revan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, cepat cari istriku, dia tidak mau mengangkat teleponku, lacak dia, aku yakin kalau dia masih berada di area rumah sakit."


Bella menyesap kopi hitam yang di pesannya, malam semakin larut, tapi entah kenapa dia masih belum ingin beranjak dari tempat itu. Hatinya belum tenang, dia masih belum bisa menata hatinya.


Ponselnya juga ia silent karena sejak tadi sangat berisik, Revan pasti menghubunginya, dia tahu kalau mengabaikan panggilan dari Revan pasti membuat suaminya khawatir, tapi saat ini Bella belum siap kalau harus bertemu dengan Revan.


Revan yang mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya langsung mendatangi tempat di mana sang istri berada. Ternyata Bella ada di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari rumah sakit. Revan bergegas mencari keberadaan sang istri dengan berjalan kaki menyusuri trotoar yang sedikit ramai karena banyaknya  pedagang asongan yang menggunakan trotoar untuk berjualan.

__ADS_1


Memang kalau berjualan di depan rumah sakit seperti ini, pasti akan menghasilkan untung yang lebih banyak. Meskipun kadang sudah dilarang oleh pemerintah tapi masih banyak pedangan yang terpaksa harus berjualan demi menyambung hidup.


Revan melihat istrinya duduk di sebuah meja sendiri, dia pun menghela napas lega. Rasa khawatir yang tadi sempat timbul akhirnya bisa sedikit surut karena melihat Bella yang baik-baik saja.


"Sayang, ternyata kamu di sini," Bella terkejut saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.


"Apa kamu baik-baik saja? apa ada sesuatu yang menyakitimu?" Bella masih terkejut dan berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang tadi berdetak kencang.


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Bella tersenyum lemah.


Revan memastikan bahwa memang keadaan sang istri baik-baik saja. "Lalu kenapa kamu gak angkat teleponku? aku sangat khawatir, apalagi aku mencarimu kemana-mana gak ada," ucap Revan sendu.


"Bukankah sekarang kamu sudah menemukanku? kalau masalah ponsel, maaf aku tidak dengar, ponselku aku silent," Bella mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan masuk bahkan sampai ada puluhan.


Revan mengambil ponsel tersebut dan meletakkannya di atas meja, kemudian ia mengambil tangan Bella yang bebas untuk di genggam. "Apa ada sesuatu yang kamu sedmbunyikan dariku, sayang?" tanya Revan dengan raut wajah serius.


Bella menggeleng."Tidak ada," Revan masih belum percaya dengan jawaban sang istri.


"Wajahmu terlihat murung, aku tahu kalau kamu sedang ada masalah?" Bella menghela napas.


Apakah begitu kelihatan jika raut wajahnya memang terlihat murung? kenapa sekarang dia tidak bisa berekpresi datar seperti dulu, hingga Revan tidak bisa membaca raut wajahnya.


"Aku hanya kelelahan, kamu tahu kan, kalau tadi dari butik langsung bertemu klien, setelah itu langsung ke sini, aku hanya merasa lelah, Revan. Kalau kamu sudah selesai dengan urusanmu tolong antarkan aku pulang," ucap Bella tanpa menoleh ke arah sang suami.


"Tentu saja, sayang! maafkan aku, ya? aku sudah membuatmu lelah, baiklah ayo kita pulang!" ucap Revan merasa sangat bersalah.


Diperjalanan Bella hanya memejamkan matanya pura-pura tertidur, sebenarnya dia masih belum sanggup untuk berbicara dengan Revan, jadi Bella memutuskan untuk tidur saat perjalanan.


Revan mengulurkan tangannya mengelus rambut Bella, dia benar-benar merasa sangat bersalah kepada istrinya. Karena Lisa, Revan jadi berurusan lagi dengan yang namanya wanita.


****


Bella membuka matanya ketika mobilnya sudah berhenti. Dia memang tidak berniat tidur tadi, dan setelah Revan menghentikan mobilnya di depan rumah, akhirnya Bella memilih bangun.


"Sayang, kamu sudah bangun?" ujar Revan yang melihat Bella sudah bangun.


"Iya, aku keluar dulu, ya?" jawab Bella yang di angguki oleh Revan.


"Aku bantu."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kamu masukan mobilnya ke garasi saja," jawab Bella.


"Baiklah, hati-hati sayang," Revan mencium pipi Bella gemas dan mengacak rambutnya lembut.


"Revan, jangan di acak-acak," Bella mengerucutkan bibirnya.


"Iya, sayang, ya udah aku masuk garasi dulu."


Bella keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Revan yang baru saja memasukan mobilnya ke garasi. Lelah sudah pasti, dia ingin segera membersihkan diri karena memang belum mandi sore tadi.


Bella masuk ke dalam kamar mereka berdua dan langsung menuju kamar mandi.


Revan melihat istrinya yang terlihat berbeda sejak dari rumah sakit, entah apa yang terjadi pada istrinya. Apa karena Lisa?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2