Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Terharu


__ADS_3

Happy Reading.


Emy begitu terkejut saat melihat Josh yang tiba-tiba masuk kedalam butik dengan tatapan yang aneh. Ada apa dengan pria itu, Emy celingukan mencari keberadaan bos sekaligus sahabatnya yang tadi pergi bersama dengan pria itu, tetapi masih belum nampak juga di belakang pria tersebut.


Josh berjalan ke arah Emy yang sedang menatap ke arahnya.


"Bella belum kembali ke butik?" tanya Josh dengan wajah yang gelisah.


"Lah, kan dia sama kamu tadi, kok malah tanya aku?" Josh mengusap wajahnya kasar.


"Tadi dia di jemput sama suaminya, dari mana si brengsek itu tahu kalau aku sama Bella ke restoran Italia? Apa kamu yang kasih tau?" Josh memicingkan matanya pada Emy.


"Eh, apa aku gak salah dengar? Tau lo sama Bella pergi kemana aja gak! Aneh lo ya? Lagian Bella juga di jemput sama suaminya, kenapa lo yang frustasi!!" geram Emy, dia sudah pakai bahasa lo-gue kalau sedang dalam mode kesal. Padahal Emy tidak begitu mengenal Josh, dia hanya tau pria itu adalah sahabatnya Bella.


Josh menarik napas dan menghembuskan perlahan. "Gue tau hubungan Bella sama Revan itu tidak seperti pasangan pada umumnya, gue juga tahu kalau Revan punya kekasih, gue gak percaya kalau mereka pasangan suami istri yang saling mencintai, gue gak mau Bella sakit hati!" seru Josh mengepalkan tangannya.


"Eh, ada apa ini?" Jesselyn yang baru saja melayani pelanggan datang menyela.


"Gue pergi dulu, kalau Bella udah balik tolong hubungi gue Jess, ini kartu nama dan nomer telepon gue," Josh menyerah kan sebuah kartu nama pada Jesselyn.


"Kenapa gak lo telepon aja!" tanya Emy.


"Gak di angkat, pesan gue juga belum di baca," jawab Josh terlihat kesal.


"Ya udah, lo balik aja, ntar gue kasih tau lo kalau Bella balik!" Jesselyn mengusir Josh.


"Iya, ini juga mau balik!" seru Josh langsung berjalan ke arah pintu. Merasa sedikit kesal karena di usir terang-terangan.


"Siapa dia, sok-sokan peduli sama Bella!" sungut Emy.


Jesselyn hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan benci-benci, ntar kamu naksir!"


Emy melotot sempurna. "Gak doyan cowok modelan kek gitu, mending sama sepupu lo itu yang masih berondong!"


Jesselyn menghela napas. "Lo mau sama Fery? Dia ganteng dan baik, kalau lo mau kenalan sama dia, aku bisa bantu," ucap Jessy.


Emy melihat ada yang berbeda dari pandangan sahabatnya itu. "Kamu kenapa Jess? Kalau ada masalah bisa cerita sama gue?" Emy menarik tangan Jesselyn dan memeluknya.


"Hiks! Tio-tio mutusin aku, Em! Dia .... Hiks dia udah punya wanita lain di hidupnya, aku harus gimana!" pecah sudah tangisan Jesselyn.


Emy hanya bisa menepuk bahunya pelan, dia juga merasa kasihan melihat kondisi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu kalau Tio punya wanita lain?" tanya Emy.


"Dia yang ngomong sendiri, Em, aku gak terima dia putusin gitu aja, aku tanya apa alasan dia, awalnya dia gak mau jawab, tapi aku tetep ngotot dan akhirnya dia bilang kalau dia udah punya kekasih di sana dan udah serius, bahkan rencananya mereka akan nikah tahun ini! Hiks!" Jesselyn menangis tersedu.


Sepertinya Emy harus menutup butik lebih cepat, dia tidak bisa menanggapi pelanggan kalau keadaan sahabatnya seperti ini.


"Aku tutup dulu ya butiknya, nanti aku bilang sama Bella kalau kamu gak enak badan," Emy berjalan ke arah pintu dan memasang tanda close di sana.


Setelah itu mereka pun masuk ke kamar tempat mereka istirahat.


"Kamu yang sabar ya, Jess! Untung tau sekarang, belum lama juga 'kan hubungan kalian, jadi gak terlalu berat dan kecewa, ya ada sih kecewa dan sakit hati, tapi dikit," ucap Emy mengangkat jari telunjuk dan ibu jari yang di dekatkan, seakan menggambarkan betapa sedikitnya kekecewaan yang di alami Jesselyn.


"Iya, aku juga gak terlalu sakit hati karena sebelumnya kita juga udah gak ketemu lama, mungkin aku lebih yang ke kecewa banget, Makasih ya Emy, kamu udah sedikit menghibur aku," Emy tersenyum.


"Pokoknya nggak boleh bersedih lagi, nanti aku traktir makan es krim, deh, sambil nyariin kado buat sepupu kamu yang katanya tampan itu," jawab Emy tergelak.


"Eh, Fery emang tampan banget loh, nanti kalau kamu suka sama dia, aku bisa kok deketin kalian, kan sama-sama jomblo, Fery juga baru putus dari pacarnya," jawab Jesselyn yang sepertinya sudah melupakan kesedihan yang tadi menderanya.


Emy semakin tertawa mendengar kalimat dari sahabatnya itu. Sepertinya dia harus banyak mengajak Jesselyn bercanda agar dia segera move on dari Tio.


###


Revan mengajak Bella makan di restoran pinggir danau yang letaknya tidak terlalu jauh, memang sepertinya tempat itu di tunjukkan untuk orang-orang yang sedang ingin merasakan kuliner khas tempat tersebut.


Jaman sekarang sudah banyak destinasi wisata yang di buka di daerah terpencil, ada yang berupa persawahan, sungai, gunung, bahkan tempat yang dulu benar-benar tidak terurus mereka kelola hingga membuat tempatnya terlihat lebih nyaman lagi.


Sepertinya setiap daerah sekarang berlomba-lomba membuat destinasi wisata di daerah mereka masing-masing. Terkadang hanya dengan membuat sebuah taman dan bangku ataupun gazebo kecil itu pun bisa untuk membuat para wisatawan rehat dan memanjakan matanya.


Maka dari itu banyak juga para pedagang dadakan yang memulai membuka lapaknya di sekitar area wisata tersebut.


Revan memesankan makanan untuk istrinya soto iga sapi dan juga jus strawberry, Revan sendiri memesan rawon makanan khas Jawa timur dan juga kopi hitam panas.


Benar-benar menu khas olahan jawa yang dia pesan.


"Aku ingin bisa memulai semuanya dari awal, sayang. Jadi biarkan aku selalu memanjakan mu," ucap Revan memegang tangan Bella yang berada di atas meja.


Bella merasa tersipu dengan perlakuan Revan ini sangat manis dan bikin hatinya langsung meleleh.


'Duh, jangan seperti ini, nanti aku bisa jantungan,' batin Bella.


Wanita itu membelalakkan matanya ketika tiba-tiba wajah Revan maju dan mencium bibirnya.

__ADS_1


"Revan! Ini tempat umum! Apa kamu gak malu?" Lirih Bella menatap sekeliling, tapi untung saja tempat itu tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa pasangan yang datang untuk makan. Lagian kalau bukan malam Minggu, tempat ini tidak akan ramai pengunjung.


"Kenapa harus malu, kan sah-sah saja, toh kita juga pasangan yang halal, bukan pasangan yang sedang selingkuh," ucap Revan membuat wajah Bella langsung berubah pias.


Revan baru sadar kalau ternyata ucapannya itu mampu membuat sang istri langsung terdiam, dirinya sadar kalau ia telah salah berbicara, seharusnya Revan tidak pernah mengatakan masalah perselingkuhan karena dia sendiri juga melakukan semua itu.


"Maafkan aku, sayang, aku tidak bermaksud," Revan langsung mencium punggung tangan sang istri.


Dia benar-benar merasa tidak enak dengan Bella. Sedangkan Bella sendiri hanya menghembuskan nafas panjang.


"Tidak apa-apa, Van. Aku percaya padamu," jawab Bella tersenyum manis.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.


"Silahkan di nikmati, tuan dan Nona," ucap pelayanan tersebut.


"Terima kasih," jawab Bella.


Revan masih merasa agak canggung karena ucapannya mengenai soal perselingkuhan, ia benar-benar tidak sadar tadi, tetapi sepertinya Bella bersikap biasa saja, seolah-olah memang Revan tidak mengatakan hal tersebut.


"Di makan, donk! jangan di liatin terus!" seru Bella membuyarkan lamunan Revan.


"Iya, sayang, ini juga mau di makan," jawab Revan tersenyum. Bella mengerti kenapa suaminya itu mendadak menjadi pendiam.


"Van, aku gak terpengaruh oleh ucapan mu, aku juga gak masalah dulu kamu seperti apa, yang terpenting adalah sekarang dan janjimu, kamu sudah berjanji tidak akan selingkuh lagi, kan?" tanya Bella dan hal itu membuat Revan langsung mengangguk.


"Jadi yang di lihat itu masa kini dan masa yang akan datang, jangan menoleh ke belakang melihat masa lalu, karena biar bagaimanapun kalau kamu tulus ingin berubah tentu aku akan memberikan kesempatan kedua."


Revan benar-benar merasa sangat terharu mendengar ucapan sang istri.


Bersambung.


*


*


*


Hai semuanya, aku ada rekomendasi karya keren dari temen ku yang gak kalah seru.


__ADS_1


__ADS_2