Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Happy Reading.


"Bella, jangan berfikir yang tidak-tidak, aku sudah merasakan nyaman denganmu, bagaimana kalau kita mulai dengan kencan atau mungkin berbulan madu?"


Bella memicingkan matanya.


"Jangan harap kalau bulan madu, aku belum siap, hatiku masih bimbang dengan semua ini, Van," jawab Bella.


Ya, bulan madu yang di bayangkan Bella tentu saja liburan ala pengantin baru ke sebuah tempat yang indah. Kegiatan mereka hanya seputar tentang bercinta dan bercinta, Bella tidak ingin sampai hal itu terjadi.


Perjalanan kisah mereka baru di mulai, dan tentu saja kalau harus membuka hatinya, Bella belum siap, meskipun terkadang perasaannya untuk Revan tumbuh dengan subur begitu saja. Tetapi biasanya perasaan itu tidak pernah bertahan lama, karena Revan menyiram hama ke dalamnya, membuat kesuburannya jadi musnah seketika.


"Ehm, baiklah kalau kamu belum siap, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang pasti kamu sukai," Revan langsung menambah kecepatan mobilnya.


Bella hanya diam menurut. Setelah kejadian tadi di kantor dan juga drama dari Lisa dan Viona, membuat Bella sebenarnya masih kesal, tapi dia juga ingin menghargai suaminya yang mengatakan akan mengajaknya ke suatu tempat.


Setelah beberapa saat akhirnya Revan dan Bella sampai di sebuah tempat. Revan ingin memberikan sang istri kebahagiaan dan berharap bahwa istrinya bisa segera luluh hatinya. Revan tahu kalau selama ini dia sudah begitu banyak menyakiti istrinya.2


"Waahh, tempatnya indah sekali!" seru Bella ketika ia sudah keluar dari dalam mobil. Revan melihat mata sang istri yang berbinar, sudah lama sekali tatapan Bella tidak menunjukkan binar kebahagiaan seperti ini.


Bella menatap sekitar dengan senyum mengembang. Semilir angin menerpa wajah cantiknya yang mulus, bahkan rambutnya yang dikuncir kuda ikut beterbangan.


Bella bisa melihat Danau luas dengan pemandangan yang indah membuat hatinya merasa begitu bahagia.


Bella memang sangat menyukai pemandangan seperti ini, dia dulu juga suka mendaki gunung bersama sahabat-sahabat semasa kuliah.


Berada di alam liar memang sudah menjadi kegemarannya sejak dulu, selain menggambar desain. Hiking juga salah satu favorit nya. Kegiatan ini sendiri memiliki arti berjalan kaki di alam bebas. Hanya saja sering kali istilah ini juga sering disamakan dengan kegiatan mendaki gunung.


Yah, Bella memang memiliki fisik yang kuat saat mendaki bersama para sahabatnya, tapi sekarang dia lebih suka mendalami ilmu desain.


Revan tersenyum melihat Bella dari belakang, menatap punggung kecil itu dengan tatapan yang berbinar, sungguh dia juga merasa bahagia jika Bella bisa tersenyum lebar seperti ini.


Revan berjalan mendekati sang istri yang sedang menatap ke depan, menghirup aroma dari air danau yang terasa begitu segar menyejukkan.


Bella benar-benar menikmati pemandangan alam yang begitu indah.


Tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan dari belakang. Tangan kokoh Revan melingkar di perutnya dan Revan menempelkan erat tubuh Bella pada tubuh atletis itu.


Bella merasa sedikit terkejut, tetapi kemudian dia berusaha mengendalikan dirinya dan menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Apakah kamu suka tempat ini, sayang?" bisik Revan di telinga Bella membuat wanita itu merasakan desiran aneh pada tubuhnya.


"Indah dan tenang," jawab Bella tersenyum.

__ADS_1


"Seperti wajah mu yang selalu tenang dan memancarkan kecantikan yang alami, tidak pernah pudar walaupun banyak sekali badai menerjang," lirih Revan membuat jantung Bella kembali berdetak tidak karuan.


'Oh jantung, kenapa kamu lemah sekali!'


"Tempat ini akan menjadi saksi bahwa seorang Revan Alfredo telah jatuh ke dalam pesona Bella," Revan membalikan tubuh Bella dan menatap matanya dalam.


Wanita itu merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat setiap Revan menatapnya seperti itu, seolah banyak pancaran cinta yang ada di dalamnya.


Apakah Revan memang benar-benar mencintainya dengan tulus? Apakah hanya ucapan modus seorang playboy kelas kakap yang selalu sesumbar atas nama cinta? Bella selalu bingung dengan perasaan Revan untuknya.


"Van, aku tidak paham, apa maksud ucapanmu?" tanya Bella yang sepertinya memang masih belum begitu fokus. Takut kalau dia salah dengar.


Revan tersenyum, mendekat kan wajahnya ke arah sang istri yang tampak cantik saat ini dan semakin hari Revan rasa Bella memang semakin cantik.


Revan mencium bibir Bella sekilas, kemudian ibu jarinya mengusap bibir itu pelan.


"Bella, aku tahu awal hubungan kita tidaklah baik, bahkan bisa di katakan sangat buruk, tapi kini aku menyadari bahwa semuanya adalah salah, sikapmu yang begitu dingin padaku membuat ku tidak tahan, setiap saat ingin sekali bisa membuatmu menoleh padaku, aku ingin kamu memperhatikan ku barang sedetik saja, bahkan aku sengaja bermesraan dengan Viona di hadapan mu agar bisa membuatmu cemburu," Revan menghela nafas dan membuangnya kasar.


Dia sudah tidak tahan pada sang istri yang masih saja ragu kepada nya.


"Entah sejak kapan hatiku merasa tidak karuan seperti ini, apalagi melihatmu dengan pria lain semakin membuatku tidak suka, aku cemburu," Bella masih mendengarkan dengan serius segala ungkapan dari suaminya itu.


"Bella, sikap dingin mu itu membuatku jatuh cinta padamu, jatuh cinta sedalam-dalamnya, dan semua ini berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam!" ucap Revan jujur. Sudah saatnya dia mengatakan segalanya.


Revan melihat Bella yang hanya diam saja mengira istrinya itu belum sepenuhnya percaya kepadamu, jujur Revan sangat sedih melihat ekspresi dari Bella itu.


Apakah istrinya ini belum memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Apakah Bella belum mencintainya?


"Kalau kamu belum mencintaiku tidak masalah, Bella, aku akan mengajarimu dan akan membuat mu jatuh cinta padaku," ucap Revan kala melihat respon sang istri yang hanya diam saja seperti itu.


Jujur, hatinya sedikit kecewa, ada rasa sedih dan sakit di sudutnya, tapi tidak banyak karena pasti hati Bella lebih sakit karena di awal-awal mereka menikah dia lebih memilih bersama kekasihnya ketimbang Bella yang jelas-jelas istri sahnya.


"Entahlah, Van, menurutku semua ini begitu cepat, aku tidak yakin apakah perasaan mu itu benar-benar cinta atau hanya sekedar obsesi, karena kamu hanya penasaran denganku, beri aku waktu untuk memikirkan," jawab Bella membuat Revan tersenyum miris.


Sebenarnya Bella sangat bahagia mengetahui bahwa Revan juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, tapi ia tidak mau terburu-buru menyambut perasaan cinta dari Revan, apalagi suaminya itu masih sering dikejar masa lalunya.


"Aku akan menantimu, Bella, sampai kamu membuka hatimu untukku dan mencintaiku sepenuh hati," jawab Revan menatap kedua mata Bella


"Baiklah, aku beri kamu waktu untuk membuktikan ucapanmu itu, aku ingin kamu tidak berhubungan dengan wanita manapun mulai saat ini Van, dan misalnya kamu masih berurusan dengan wanita-wanita itu, aku sudah tidak bisa percaya padamu lagi," ucap Bella memperingatkan sang suami.


Bahwa dialah istri sahnya yang pantas di sayangi dan di lindungi, bukan para mantan dan wanita masa lalunya. Revan harus bisa menjaga perasaan hatinya bila benar-benar ingin berubah.


"Tentu saja sayang, bukankah aku sudah berjanji," Bella hanya tersenyum menanggapi ucapan Revan, nyatanya siang tadi dia masih mengkhawatirkan Lisa. Ah, bukankah itu hal yang wajar, melihat Lisa yang tengah hamil tiba-tiba pingsan, siapapun orang yang paling dekat dengannya yang akan menolong.

__ADS_1


"Aku berjanji padamu, bahwa aku tidak akan dekat-dekat dengan wanita lain lagi, aku akan membuatmu mencintai ku, aku akan menyingkirkan para wanita yang mendekati ku," janji Revan.


"Baiklah, aku usahakan percaya!" jawab Bella.


"Kok usahakan sih, yank? Seharusnya kamu percaya padaku," Revan mencebikan bibirnya, berusaha terlihat gemas di hadapan Bella.


"Ya iyalah, kamu aja belum bisa membuktikan, buktinya masih lemah dengan para mantan, jadinya harus ada bukti dulu baru aku percaya kalau kamu memang benar-benar serius dengan ku dan mencintai ku!" jawab Bella menyindir.


"Iya-iya, ternyata istriku ini selain galak, judes, dingin, juga tukang sindir, ya?" Bella melotot kala mendengar ucapan sang suami.


Revan yang melihat ekspresi Bella benar-benar gemas. Pria itu mencium bibir Bella kembali, tapi ciuman kali ini begitu lama, saling memagut dan menyesap membelitkan lidah mereka.


Revan bahkan menekan tengkuk Bella untuk memperdalam ciuman mereka.


Pria itu berharap sang istri akan segera luluh hatinya, padahal tidak tahu saja bahwa Bella sudah hampir meleleh karena sikap Revan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat romantis akhir-akhir ini.


###


Lisa memukul setir mobilnya berkali-kali, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan Revan lagi, bagaimana dia bisa mendapatkan banyak uang dari Revan kalau pria itu bahkan mengabaikannya.


Apalagi perutnya yang semakin membuncit itu benar-benar membuatnya tidak leluasa untuk bergerak. Padahal awalnya dia berharap dengan kehamilannya bisa membuat Revan kasihan dan kembali peduli padanya.


Tapi nyatanya Revan sama sekali tidak peduli, sepertinya istrinya itu telah mencuci otak Revan dan membuat pria muda itu tidak bergantung kepadanya lagi.


"Sial! Aku harus melakukan sesuatu agar Revan bisa kembali padaku! rintangan utama bukan Viona, melainkan istri dari Revan sendiri!!" gumam Lisa mengepalkan kedua tangannya.


Wanita itu mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Revan yang telah ia dapatkan dari orang suruhannya.


Ponsel itu masih berdering, tidak ada tanda-tanda akan diangkat.


"Brengsek! Revan kamu berani mengabaikan ku! Aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali di hadapan ku!!"


Bersambung.


*


*


*


Hai semuanya, aku ada rekomendasi karya keren banget


__ADS_1


__ADS_2