Istri 1 Triliun

Istri 1 Triliun
Rencana Viona


__ADS_3

Happy Reading.


Malam sudah semakin larut, kedua sejoli itu bergelung di balik selimut tebal yang menutup seluruh tubuh mereka.


Tentu saja masih dengan pakaian lengkap mereka.


Revan membuka matanya perlahan, dia belum tidur sejak tadi, bagaimana bisa tidur kalau ada wanita yang mulai mengisi hatinya dan sangat dia rindukan itu berada di dalam rengkuhannya saat ini.


Akhirnya setelah beberapa minggu dia tidak bisa bertemu dengan Bella dan baru berani menemuinya tadi, Revan bisa seutuhnya membawa cinta Bella dan menggenggamnya erat.


Revan menatap wajah Bella secara intens, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar merasa senang dan bahagia bisa membuat hati Bella luluh dan juga juga memaafkannya secara tulus.


Sungguh hati istrinya memang sangat baik.


Lampu kamar itu remang-remang, suasananya benar-benar begitu syahdu dan sangat mendukung.


Tangan Revan terulur untuk menyentuh wajah cantik sang istri, jari telunjuknya mengelus pelan pipi Bella agar tidak bangun.


Revan bisa melihat bibir Bella yang mungil tapi berisi dan berwarna pink alami, sedangkan hidungnya mancung tapi tidak terlalu tinggi, bulu matanya tebal dan lentik, begitu pun dengan alisnya yang sudah membentuk rapi, membuat Bella tidak perlu mencukur nya lagi untuk merapikan.


"Cantik!" gumam Revan hampir tidak bersuara.


Tidak ingin membuat Bella terbangun dari tidurnya, karena Revan masih belum puas memandangi wajah cantik istrinya itu.


"Kamu baik dan cantik, seperti bidadari surga yang turun dari langit dan membawa kebahagiaan untukku," gumam Revan.


Setelah puas memandangi wajah Bella, pria itu langsung mencium keningnya lama, ciuman penuh cinta.


Lalu Revan merebahkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya, Bella sedikit gerak karena mungkin gerakan Revan yang sedikit mengganggu tadi.


Bella menggeliat, sedikit membuka selimutnya karena memang terbiasa tidur tanpa selimut. Perlahan Bella membuka matanya, merasa sedikit gerah karena pelukan Revan yang begitu erat.


Bella memang tidak terbiasa tidur dengan AC, makanya dia lebih suka tidur tidak menggunakan selimut.


Tetapi melihat gaya tidur Revan yang suka menyalakan AC membuatnya mau tidak mau harus menutup seluruh tubuhnya dengan selimut agar tidak kedinginan.


Apalagi kalau dia harus berusaha menahan diri agar tidak membuka pakaian tidurnya karena kepanasan, itu juga kebiasaan Bella yang tidur tanpa menggunakan bra.


Bella merasa perutnya begitu sesak, wanita itu melihat tangan kekar Revan sudah melingkar sempurna di perut rampingnya.


'Ya Tuhan, berat sekali tangan Revan!' batin Bella.


Dia pun segera memindahkan lengan Revan dari atas perutnya.


Huh, sebenarnya Bella ingin adegan yang romantis-romantis seperti di film-film yang Bella tonton dengan tidur berpelukan, apalagi bersama dengan pria yang dicintainya, setelah bangun ada adegan morning kiss, tapi nyatanya Bella tidak sanggup jika harus tidur dipeluk semalaman seperti ini.


'Duh, gerah!'


Revan yang memang masih belum tidur merasakan pergerakan Bella dan ikut membuka matanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak bisa tidur, sayang?" tanya Revan khas dengan suara seraknya.


Bella merasa sedikit terkejut saat ia menggeser tubuhnya ke samping agak menjauh dari tubuh suaminya, ternyata hal itu membuat Revan terbangun.


'Revan tersinggung gak, ya? tapi aku gak terbiasa dipeluk-peluk!'


"Sayang, kenapa jauh-jauh, sini!"


"Eh, Revan?" Bella nyengir kuda.

__ADS_1


"Kenapa? hemm? gak bisa tidur?" tanya Revan yang sudah berhasil menarik tubuh sang istri untuk mendekat.


"Ehm aku tadi udah tidur, tapi kebangun karena ehmmmm ... sedikit gerah, tapi kalau gak pake selimut, aku kedinginan," jawab Bella jujur.


Revan tersenyum lalu mengulurkan tangannya menyentuh pucuk kepala istrinya. "Maaf, aku tidak tahu kebiasaan mu, kalau begitu tidak perlu memakai selimut kalau ingin tidur bersama, bukan?" Revan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh mereka tadi.


Cuaca di kota Paris memang sedikit agak hangat karena sedang memasuki musim panas.


Bella merasa kedinginan karena AC nya yang masih menyala.


"Kenapa? kamu kedinginan?" Bella mengangguk.


"Aku sengaja tidak mematikan AC-nya biar bisa menghangatkan tubuhmu," ujar Revan.


Kemudian dia menarik Bella kedalam dekapannya. Udara AC yang memang dingin membuat Bella mau tidak mau harus menelusup kan wajahnya di dada bidang Revan. Hal ini di gunakan Revan untuk semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri.


'Mengetahui kebiasaan mu ternyata sangat menarik,' batin Revan tersenyum.


"Ehmm, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," Revan melonggarkan pelukannya dan menatap istrinya yang ternyata belum memejamkan mata.


"Apakah harus malam ini? Apa sebaiknya tidak besok saja, sayang?" tanya Revan.


Bella menggeleng. "Ini tentang perjanjian kita, di mana ketika aku menyerahkan keperawanan ku, maka saat itu aku boleh pergi?"


Deg!


Revan benar-benar terkejut mendengar hal itu, dia bahkan tidak mengingat sama sekali tentang perjanjian bodoh yang pernah ia lontarkan.


"Ehm, semua perjanjian yang dulu pernah ku buat, sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, sayang. Kita sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal, jadi perjanjian itu juga tidak berguna," jawab Revan.


Ada sedikit rasa khawatir kenapa Bella bertanya tentang hal itu, tapi Revan segera menepisnya.


Bella hanya tersenyum dan menurut


Akhirnya malam itu, dua sejoli yang mulai membuka hatinya dan berjanji untuk saling mencintai mulai memejamkan mata mereka.


Udara dingin sudah tidak begitu terasa lagi ketika Revan memeluk Bella dengan erat.


****


Akhirnya, hari ini Revan dan Bella kembali ke Jakarta, karena Bella tidak berhasil masuk ke final fashion show. Sebenarnya Bella masih ingin berlibur di Paris, apalagi kabar yang didengar bahwa kota Paris adalah kota yang begitu romantis membuatnya ingin menelusuri kota tersebut dengan sang suami.


Tapi Revan mengatakan jika dia masih banyak pekerjaan dan Bella juga sudah terlalu lama meninggalkan butiknya. Akhirnya setuju tidak setuju Bella harus ke Jakarta.


Mereka sampai di rumah sudah cukup malam dan akhirnya tertidur karena kelelahan di perjalanan.


Keesokan paginya.


Revan membuka matanya dan tidak mendapati sosok Bella di sampingnya, pria itu langsung bangun dan mencari sang istri, tidak mungkin kan kalau semalam Bella pergi meninggalkannya tidur sendirian.


Revan benar-benar merasa sangat kelelahan sehingga dia tidak sadar kapan istrinya terbangun dan meninggalkan nya.


"Bella, sayang!"


"Bella!" Revan berteriak mencari istrinya. Dia membuka kamar mandi tapi Bella tidak ada.


Kemudian Revan memutuskan untuk mencari Bella di kamarnya yang letaknya berseberangan dengan kamarnya.


"Bella!" seru Revan menghidupkan saklar lampunya dan kosong, Bella tidak ada di kamarnya.

__ADS_1


Entah kenapa dia merasa takut istrinya pergi, seperti waktu itu saat Bella pergi ke Hongkong.


Revan juga teringat akan janji pernikahan mereka yang dimana salah satu dari mereka boleh pergi ketika mereka sudah tidak sanggup bertahan.


Tapi akan ada konsekuensi untuk hal itu, tidak, Revan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jantung nya sudah bergemuruh, rasa takut kehilangan sang istri benar-benar membuatku nya panik.


Sedangkan Bella sendiri sedang berada di dapur, melamun memikirkan banyak sekali yang ada di dalam kepalanya.


"Sayang,, ternyata kamu di sini?" seru Revan berjalan dengan sedikit berlari ke arah sang istri yang sedang melamun sambil mengaduk-aduk masakannya.


"Eh, Revan! Kamu sudah bangun!" Bella terkejut ketika tangan Revan tiba-tiba melingkar di perutnya.


"Kamu kenapa diam saja? Dari tadi aku panggil? Apa kamu gak dengar, Hem?" tanya Revan mencium tengkuk Bella membuat wanita itu kegelian.


"Aku takut banget kalau kamu pergi lagi seperti waktu itu, aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan kamu lagi, sayang," Revan masih menenggelamkan wajahnya di leher sang istri.


"Revan, aku lagi masak! lepasin dulu!"


"Gak, gak mau, nanti kamu pergi lagi!"


Bella mematikan kompornya dan kemudian membalikkan badan, membuat tangan Revan terlepas.


"Maaf, tadi lagi masak dan gak dengar kamu berteriak, maaf, ya?" ucap Bella merasa bersalah.


Padahal tadi dia sedang melamun, memikirkan hubungannya dengan Revan kedepannya.


Revan mencium bibir Bella sekilas dan memeluknya. "Iya, gak apa-apa yang penting kamu gak pergi," jawab Revan menyerukan wajahnya di leher Bella.


"Memangnya aku pergi kemana?" Revan menggelengkan kepalanya, masih di taruh di leher sang istri.


"Sudah, mandi sana, aku mau nerusin masaknya lagi," Bella melepaskan Revan dari pelukan nya.


"Nanti aja, aku mau lihat istriku masak, nanti kita mandinya bareng," ucap Revan menaikturunkan alisnya.


"Iya, bareng! Kamu di kamarmu dan aku di kamarku!" jawab Bella tergeletak.


Setelah menyiapkan sarapan dan makan bersama, akhirnya mereka memulai rutinitas dengan wajah yang lebih cerah dan juga suasana hati yang bahagia.


****


Viona menahan amarahnya ketika mengetahui jika hubungan Revan dan Bella masih baik-baik saja. Padahal dia berharap jika Bella benar-benar pergi meninggalkan tempat menyerah dengan hubungan pernikahan mereka itu.


Tapi ternyata Viona salah, lewat orang suruhnya Viona tahu jika Revan menyusul Bella ke Paris dan sekarang mereka sudah sampai di Jakarta.


Viona masih terus berusaha menghubungi Revan, tetapi sampai sekarang dia tetap tidak bisa. "Sial, Revan brengsekk!! nomer baru gue juga di blokir!!" Viona membanting ponselnya ke atas ranjang dan menarik rambutnya frustasi


"Gue gak akan ngebiarin Revan jatuh cinta sama istrinya! gue yang udah lebih lama sama dia, tapi kenapa Bella yang akhirnya bisa mendapatkan Revan!" Viona mengambil tas dan ponselnya yang tadi dia buang sembarangan ke atas ranjang. Untung ranjangnya empuk dan besar, kalau tidak pasti sudah terpental dan jatuh ke lantai,


Viona keluar dari apartemen dan langsung bergegas menuju lift, dengan tidak sabar Viona memencet tombol berkali-kali, darahnya sudah mendidih ketika mengingat perlakuan Revan yang sampai memblokir nomornya berkali-kali. Dan semua ini karena Bella, ia akan memberikan perhitungan pada wanita itu, dia yang sudah merebut Revan darinya, Bella yang telah berhasil membuat posisi Viona tergantikan di hati Revan.


Setelah lift terbuka, Viona bergegas berlari ke arah lobi kemudian masuk ke dalam mobilnya. Saat ini yang ada di tujuannya adalah butik Bella. Dia harus mengajak Bella bicara dengannya secara langsung agar Bella melepaskan Revan untuk dirinya. Viona tahu kalau sebenarnya Revan sudah mulai tertarik dan bahkan telah jatuh cinta dengan istrinya itu, tapi Vio tidak menyangka kalau semuanya akan terjadi secepat ini.


Viona memang sudah mencari tahu dimana alamat butik Bella, dan tidak terlalu sulit untuknya menemukan dimana alamat tersebut. Setelah menempuh perjalanan selama Tiga puluh Lima menit menelusuri kemacetan ibu kota, akhirnya Viona sampai di butik Bella.


Viona mengamati tempat tersebut di dalam mobil, butik itu memang cukup besar, dan sepertinya Bella memang seorang designer yang cukup terkenal dengan melihat papan nama butik yang ada diatasnya. The Bella's Boutique memang sedang digemari oleh beberapa dari kalangan atas, tidak dipungkiri nama The Bella's Boutique sudah besar.


"Aku harus segera menemui Bella agar urusanku cepat selesai!" Viona membuka sabuk pengamannya dan segera keluar dari dalam mobil. Dia membuka kacamata hitamnya dan menyelipkan di baju bagian depan.


Sepertinya perang istri sah Vs pelakor akan segera di mulai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2