
Happy Reading.
Josh keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman yang terus mengembang. Setelah menutup pintu, pria itu langsung berjalan ke arah butik dengan sedikit berlari. Langit mendung sedari pagi akhirnya mengeluarkan air hujan rintik-rintik.
Rencananya sebelum pulang ke Amerika, Negara di mana Josh bekerja dia akan meminta Bella mencarikan pesanan baju batik yang nantinya akan ia pakai buat oleh-oleh beberapa sahabat dan karyawannya.
Bella yang memang sedang menunggu kedatangan Josh di ruang tamu melihat sahabatnya itu masuk ke dalam butik, mengibaskan tangannya ke arah baju yang ia pakai karena terkena rintikan hujan.
"Kamu menerobos gerimis?" tanya Bella menaikkan sebelah alisnya melihat baju sahabat nya itu agak basah sedikit.
"Ya, seperti yang kamu lihat," jawab Josh tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kan bisa aku jemput pakai payung, jadi gak enakkan kalau gini, kalau kamu sakit gimana?" Josh tertawa senang melihat Bella yang sedikit khawatir padanya.
"Makasih karena udah begitu perhatian, pasti bakalan seneng deh kalau setiap hari mendapatkan perhatian dari Bella, secara sejak dulu aku sudah kagum dan suka sama kamu," ucap Josh tersenyum manis. "Mungkin kalau kamu belum menikah aku pasti akan langsung menculik mu dan membawa ke KUA," Josh tergelak setelah mengatakan hal itu.
Pria itu sejak dulu menyukai Bella dalam diam, kali ini dia akan terang-terangan mengatakan apa yang ada di hatinya. Mencintai sendiri itu memang menyakitkan, tapi mencintai tanpa pernah tahu orang yang kita cintai tentang perasaan kita, pasti rasanya lebih gimana gitu, antara sakit dan kecewa. Kecewa pada diri sendiri tentunya.
Bella berdehem untuk membuat suasana agar tidak menjadi canggung. Dia mengakui kalau Josh memang pria yang baik. Tapi sejak dulu Bella hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.
"Maaf, Josh. Kamu pria yang begitu baik, kenapa bisa menyukai wanita seperti ku?" ucap Bella mencoba mencairkan suasana.
Josh tertawa, dia sangat suka sifat Bella yang seperti ini. Polos dan jujur. "Aku tidak tahu, Bella! Yang pasti memang itu yang kurasakan dan aku hanya berusaha untuk jujur padamu!"
"Baiklah, dari pada ngomongin yang tidak jelas, mending kita segera bahas apa yang tadi kita ingin bicarakan," ucap Bella.
"Ya, maafkan aku, Bell! cinta memang tidak bisa dipaksakan, tapi beneran loh, aku pengen nglamar kamu, tapi aku tau kalau kamu gak mungkin cinta sama aku, secara suamimu udah setampan itu, tapi masih banyakan aku tampannya," Josh tergelak setelah mengucapkan hal itu.
Bella hanya menggelengkan kepalanya, sahabatnya ini memang bisa untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman tanpa menyinggung perasaannya.
"Kalau begitu aku akan memberikan contoh gambar bajunya, kamu bisa memilih mana saja yang kamu suka, ehm ... Kira-kira kamu kapan kembali ke Mexico?" tanya Bella sambil menyerahkan tablet pada Josh agar pria itu bisa melihat-lihat contoh pakaian yang akan dia pesan.
"Aku pulang ke Amerika tiga hari lagi, ehm.. sebenarnya aku juga ingin sebelum aku kembali, kita bisa meluangkan waktu untuk makan malam bersama, itu pun kalau kamu mau, tapi kalau kamu sibuk, aku juga tidak akan memaksa," ucap Josh tanpa menatap Bella, karena dia sibuk melihat tab yang dia bawa.
Memilih beberapa contoh baju batik Jogja yang ia inginkan.
Bella menghela nafas dan menghembuskan perlahan, dia tidak mungkin makan malam bersama Josh tanpa izin dari Revan, biar bagaimanapun sekarang dia dan suaminya sudah berbaikan, dulu ketika Revan belum seposesif ini tentu akan sangat mudah bagi Bella keluar hanya sekedar makan malam bersama sahabatnya.
Tapi semenjak Revan sudah menganggap nya sebagai seorang istri dalam artian yang sebenarnya, Bella harus menjaga perasaan suaminya.
Meskipun Bella memang belum yakin seratus persen terhadap ketulusan Revan, tapi dia juga harus menghargai perasaan sang suami.
"Aku tidak memaksa, loh, kenapa kamu jadi diem aja gitu," ucap Josh seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bella.
"Bukan begitu maksudnya, Josh. Aku sebenarnya ingin juga bisa makan malam sama sahabat karibku, tapi sekarang Revan agak rewel, maksudnya dia pasti gak suka kalau aku pergi sama kamu tanpa seizinnya, jadi, aku tidak bisa se-leluasa seperti dulu," jawab Bella.
Tidak lama Emy datang membawakan minuman dan cemilan untuk Josh dan Bella, di butik ini memang selalu tersedia makanan seperti kue kering untuk para tamu ataupun klien yang akan memesan baju.
"Silahkan di minum dulu, Josh!" ucap Bella.
Josh melirik Emy yang masih setia berdiri disampingnya. "Ini gak di obat kan?" tanya Josh sambil mengangkat gelas yang berisi jus jeruk tersebut.
Emy melotot-kan matanya. "Emangnya kalau aku kasih racun buat kamu, apa untungnya coba!" ketus Emy.
Josh tertawa setelah meminum jus yang terlihat menyegarkan di tenggorokan itu. "Ya, siapa tahu, kamu kan suka sama aku, tapi ku tolak, terus balas dendam deh!" jawab Josh masih menggoda Emy.
Bella ikut tertawa melihat ekspresi Emy yang langsung melengos pergi dari tempat tersebut.
"Kamu kok bisa deket sama Emy? Apa kalian...?"
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, Bell! Aku cuma suka nge-godain dia aja," jawab Josh yang kembali fokus pada tab milik Bella.
Di sisi lain.
Revan melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir rapi di depan butik sang istri. Mungkin itu adalah klien yang sedang memesan baju.
Dengan langkah lebar, Revan mendekat ke pintu dengan senyum yang mengembang.
Membuka pintu dan kakinya langsung melangkah masuk, terdengar suara sayup-sayup sang istri yang sedang berbincang dengan seorang pria, mungkin itu adalah kliennya.
Apakah Revan akan menunggu sang istri di ruang kerjanya? Ah, sebaiknya dia menemui istrinya terlebih dahulu, hanya untuk sekedar menatap wajah cantiknya dan memberikan kecupan di bibir manis sang istri.
Sekarang Revan benar-benar seperti orang yang sedang kasmaran. Rasanya ingin selalu berada di dekat Bella. Apalagi ketika istrinya itu tidak membalas pesannya setelah tadi sempat membalasnya sebentar. Revan tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya apalagi menyangkut soal wanita.
Revan biasanya tidak pernah peduli meskipun kekasih-kekasihnya itu tidak membalas pesannya, tapi Revan juga tidak masalah.
"Apa? Aku tidak seperti itu, bukankah dulu kamu yang suka bolos saat pelajaran pak Santo!" Revan mendengar suara Bella sedang bercanda dengan tamunya dan betapa terkejutnya saat melihat Bella tengah mengobrol bersama pria yang sangat familiar.
"Bella!" seru Revan mendatangi sang istri dan langsung menatap tajam ke arah Josh yang duduk di hadapan istrinya.
"Eh, Van! Kok kamu di sini?" pertanyaan Bella membuat Revan sedikit tersinggung.
"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Apa kamu tidak suka?" jawab Revan menatap sang istri. "Oh, apa karena kamu sedang bersama dia, jadi kamu gak suka kalau aku ada di sini!!
Bella hanya berdecak sebal, lihatlah mata Revan memandang nya dengan aura kecemburuan yang sangat terasa.
"Maaf, Bell! Sepertinya aku sudah menemukan batik yang bagus, aku suka yang nomer dua dan sepuluh, jadi 10pcs untuk yang nomer 2 dan 10psc untuk yang nomer 10. Nanti aku dp dulu uangnya untuk ditransfer, ehm seperti nya aku harus segera balik ke kantor adikku," Josh melirik Revan yang menatapnya tajam.
"Oh, baiklah Josh, nanti aku kabari kalau sudah siap dikirim, terima kasih, ya?" jawab Bella merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.
Revan sedari tadi hanya diam saja menyimak interaksi kedua orang itu, mungkin setelah ini dia pasti mendapat kemarahan Bella karena tiba-tiba datang dan marah-marah tidak jelas hanya karena melihat Bella duduk berdua dengan sahabatnya yang sepertinya memang sedang memesan beberapa baju, tidak ada interaksi mencurigakan dari mereka.
Bella berdiri saat Josh berpamitan, menatap Revan yang langsung berpaling ke arah lain.
"Kenapa kesini marah-marah gak jelas seperti ini?" tanya Bella. Dia tidak akan menghadapi Revan dengan emosi, sepertinya kalau dia emosi yang ada bakalan berdebat seperti anak kecil karena Revan pasti tidak mau mengalah.
Revan menghela nafas, dia juga tidak tahu mengapa kalau melihat Bella bersama pria tadi, membuat Revan langsung cemburu seketika.
"Maaf, aku kangen sama kamu, dan melihat mu bersama dia, rasanya aku benar-benar tidak suka," jawab Revan yang kali ini berani menatap istrinya
"Memangnya kenapa kalau sama Josh, dia ke sini juga karena mau pesen baju, lagian aku dan Josh sudah bersahabat lama, kamu gak perlu berlebihan seperti ini!"
"Tapi dia itu suka sama kamu, sayang!"
"Lalu?"
"Ya, aku gak mau kalau lihat kamu sama dia bersama," jawab Revan sedikit lemah.
Bella bersedekap dada. "Van, aku bukan kamu, ya? Yang suka main sama wanita lain meskipun sudah memiliki istri, jadi jangan samakan aku dengan mu!" sepertinya kali ini Bella benar-benar marah.
Mungkin benar yang di katakan Bella, kalau memang dia khawatir dan takut kalau Bella berselingkuh atau jalan bersama pria lain, dia seakan mengaca dirinya sendiri, yang memang seperti itu.
"Sayang, maaf! Kamu benar, aku terlalu takut kalau kamu akan seperti ku!" ucap Revan membuat Bella benar-benar emosi kali ini.
Sungguh dia tidak menyangka bahwa Revan menyamakannya dengan dirinya.
"Terserah, yang jelas aku bukan wanita murahan yang akan dengan mudah jalan sama pria lain!" Bella pergi meninggalkan Revan dengan segenap kemarahan di hatinya.
Revan mengusap wajahnya kasar, dia tahu bahwa kelakuannya itu salah. Tidak seharusnya dia menganggap Bella itu sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Bella, tunggu sayang!"
****
Lisa melihat Viona yang tengah minum di sebuah klub malam. Dia tahu kalau mantan pacar Revan itu baru saja mendapatkan penolakan.
"Bukankah sudah ku bilang, sebaiknya kamu mundur, kamu sudah di buang sama Revan, dan pasti kamu akan merasa sakit sendiri!"
ucap Lisa duduk di samping Viona.
"Apa urusannya sama lo! Bukanya lo juga udah di tolak sama Revan!" jawab Viona setelah menyadari siapa yang duduk di sampingnya ini.
Lisa tidak menjawab, dia hanya mengaduk jus jeruk kemasan yang dia bawa.
"Dasar wanita tidak tahu malu, lo gak ingat kalau perut lo itu udah buncit! Masih main ke tempat seperti ini? Heh, dasar gak waras!" lanjut Viona.
Lisa menoleh dan tersenyum. "Memangnya ada larangan wanita hamil masuk klub? Ehm sepertinya kamu belum tahu, ya? Pemilik klub ini adalah sahabat baik ku, dan dia menyediakan ku jus jeruk ini, jadi aku tidak akan bertindak bodoh dengan minum alkohol, aku masih punya hati nurani dan tidak akan membahayakan nyawa calon bayiku!" jawab Lisa menyeruput jus jeruknya.
"So, buat apa lo kesini? Cuma mau nertawain gue?"
Lisa tertawa remeh. "Ya, mungkin bisa di bilang gitu, kan aku udah bilang kalau kamu pasti bakalan di buang sama Revan!"
"Cih, emangnya Revan mau sama lo!" sinis Viona.
Lisa menatap Viona dan tersenyum. "Aku pastikan kalau Revan bakal balik lagi sama aku, kamu tahu, dia belum pernah menolak tubuhku selama ini, dan kamu juga harus tahu, aku memiliki kelemahan Revan yang tidak di miliki wanita lain, dan akulah yang pertama kali mengajari Revan tentang hal itu, jadi aku bakan bikin dia kembali tergila-gila padaku!" jawab Lisa penuh dengan kebohongan.
"Hah, aku tunggu! Lagian Revan udah cinta sama istrinya, lo pasti bakal kesulitan, karena istrinya bukan wanita lemah seperti yang selama ini gue kira!" Viona beranjak dari duduknya meninggalkan Lisa yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Sebenarnya Lisa juga takut kalau Revan sudah terpesona dengan kecantikan istrinya. Lisa akui bahwa Bella memiliki wajah yang cantik alami, tanpa polesan make up yang menutupi wajahnya.
"Aku pastikan Revan akan menjadi Ayah dari anakku, tidak peduli bagaimana caranya, dia pasti akan merasa kasihan padaku!" gumam Lisa.
****
Hachim!
Hachim!
Revan sejak tadi bersin-bersin, entah kenapa tiba-tiba hidungnya merasa gatal, padahal dia tidak flu.
Bella yang melihat hal itu langsung mendekati sang suami. Sepertinya dia tidak bisa lama-lama marah dengan Revan. Buktinya saat ini mereka berada di dalam kamar bersama, kamar Revan tentunya. Karena semua barang-barang Bella sudah dipindahkan ke kamar tersebut.
"Apa kamu sakit?" tanya Bella duduk di sisi ranjang. Revan sudah berbaring tapi belum ingin tidur karena menunggu istrinya.
"Aku tidak sakit, sepertinya ada yang sedang membicarakan ku!" jawab Revan.
Bella hanya memutar bola matanya malas. "Siapa yang sedang ngomongin kamu, ih, pede banget!"
"Kenapa, sayang? Kamu cemburu?"
"Tidak, apa yang harus di cemburuin!" jawab Bella masuk kedalam selimut.
Revan bergeser mendekat ke arah sang istri. "Apa kamu belum selesai?"
"Apanya?"
"Itu, merah-merahnya," jawab Revan.
"Belum!" Revan hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Bersambung.