
Happy Reading.
Revan merasa geram dengan tingkah laku wanita itu. "Maksud kamu apa? Kenapa aku harus tidak tega!!"
"Van, please! Jangan seperti ini! Aku sayang sama kamu, apa kamu gak kasian liat aku yang lagi hamil gak di izinkan masuk! Apa kamu gak punya rasa simpati sama sekali?"
Revan mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Lisa yang menggunakan kehamilannya agar dia terenyuh. Huh, apakan wanita itu pikir Revan masih sama seperti yang dulu, tidak pernah tega melihat Lisa yang menyedihkan.
"Lalu kenapa kalau kamu ada di sini? aku bukan dokter kandungan, jadi kalau kamu menunjukkan kehamilan mu, lalu aku harus berbuat apa?" ucap Revan dengan senyum mengejek.
Lisa tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Revan, kali ini dia harus mendapatkan Revan kembali, hanya dengan menjeratnya ke dalam pesonanya pasti Revan akan bisa dengan mudah jatuh ke dalam pesonanya.
"Aku ingin masuk, apa kamu tidak mengizinkan, ayolah, Van! Aku haus!" ucap Lisa manja.
"Maaf, aku tidak menerima tamu perempuan saat istriku tidak ada di rumah, kalau kamu ingin bicara di luar saja seperti ini!"
'Sial, bagaimana aku bisa menggodanya kalau di luar seperti ini!' batin Lisa.
"Kalau kamu sudah tidak ada urusan dengan ku, lebih baik kamu pergi dari sini, aku ngantuk mau tidur!" ucap Revan akan menutup pintunya.
Lisa yang melihat itu langsung mendorong pintu dan menahannya. "Tunggu, Revan! Aku belum selesai!" seru Lisa.
Revan benar-benar sudah tidak tahan dengan Lisa, entah kenapa wanita itu benar-benar tidak tahu malu. Wanita yang pernah meninggalkannya, wanita yang dulu mencampakkannya begitu saja. Padahal saat itu Revan benar-benar membutuhkan Lisa.
Dan lihatlah sekarang, dengan tidak tahu malu Lisa datang kembali pada Revan dengan keadaan perut yang sudah membuncit. Bisa di pastikan kehamilan nya berkisar kira-kira usia lima bulan.
"Revan! Aku mohon, tolong kasih kesempatan aku kali ini aja, aku ingin bicara sama kamu, please!" ujar Lisa memohon. Revan bisa melihat air mata Lisa sudah menggenang dan siap untuk meluncur.
Tidak, Revan tidak akan goyah, dia benar-benar tidak mau mengkhianati kepercayaan istrinya, dia tidak mau kalau harus bicara dengan Lisa lagi. Revan sudah berjanji untuk tidak membawa masuk wanita lain ke rumah mereka, ataupun berbicara dengan wanita selain membicarakan perihal pekerjaan.
"MINGGIR! SEBAIKNYA KAMU PULANG SEKARANG! ATAU AKU AKAN MENYURUH SATPAM MENGUSIR MU!" bentak Revan dan mendorong pintu yang sejak tadi ditahan oleh tubuh Lisa.
Wanita keras kepala itu masih mencoba bertahan dengan sedikit tenaganya tetapi tenaga Revan lebih besar dan akhirnya pria itu berhasil mendorong pintu agar tertutup.
Saking kuatnya dorongan membuat Lisa langsung terpental ke depan dan jatuh ke lantai dengan posisi terguling kemudian mendarat ke tanah dengan posisi tengkurap.
"Aaaakkkkk!!! Sakittt!!" jerit Lisa saat merasakan perutnya langsung terasa keram.
Lisa semakin terkejut saat melihat cairan merah yang mengalir di sela kakinya. Revan mendengar suara jeritan dari Lisa dan hal itu membuat Revan membuka pintu rumahnya kembali.
Betapa terkejutnya saat dia melihat Lisa duduk sambil memegang perut dan juga ada cairan merah di bawah kakinya.
"Revan!! Tolong!! Perutku sakit sekali!" Lisa hanya bisa merintih saat melihat Revan yang terkejut melihat keadaannya sekarang.
Meskipun Revan sangat membenci Lisa, tapi dia tetap masih punya hati nurani sebagai seorang manusia. Revan langsung berlari ke arah Lisa yang sudah terlihat pucat dan lemah. Mungkin karena dia menahan rasa sakit apalagi darah yang keluar semakin bertambah banyak.
__ADS_1
"Bertahanlah, Lisa! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!" Revan langsung menggendong tubuh Lisa dan membawanya masuk ke dalam mobil, berkat bantuan satpam, Revan meletakkan Lisa di jog belakang.
Pria itu berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya. Tidak lama kemudian Revan keluar dan langsung membuka pintu kemudi dan masuk. Revan menoleh ke belakang sebentar, dia bisa melihat keadaan Lisa yang sudah tidak bergerak.
"Sial!! Bertahanlah lisa!!" Revan langsung men-stater mobilnya dan berlalu kencang menuju rumah sakit terdekat.
Tidak memakan waktu sampai 20 menit, Revan berhasil sampai di rumah sakit dan langsung meminta tolong kepada petugas untuk membawa Lisa keruangan UGD.
Jujur saat ini pikiran pria itu benar-benar kacau, tidak pernah terpikirkan akan jadi seperti ini, Lisa yang kekeh tetap ingin bicara padanya dan membuatnya Revan emosi sehingga mendorong pintu itu dengan sedikit keras.
Dan inilah akhirnya yang terjadi Lisa jatuh dan mengakibatkannya mengalami pendarahan. Revan hanya bisa berdoa mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang buruk terhadap Lisa dan kandungannya.
Tapi mengingat bagaimana tadi Lisa bisa mengalami pendarahan membuat bahu Revan langsung merosot.
Tentu saja tindakannya tersebut karena rasa manusiawi yang dimilikinya, Revan benar-benar takut saat melihat Lisa yang terlihat pucat pasi tadi.
Sudah hampir satu jam Revan menunggu kabar dari Lisa, tapi belum ada kabar apapun dari dokter, karena belum ada satupun dokter yang keluar dari ruang ICU.
Di sisi lain
Bella menatap ponselnya di ats meja, sampai jam satu siang suaminya itu belum membalas pesannya yang terkirim sejak dua jam yang lalu. Sebenarnya apa yang terjadi? bukankah seharusnya Revan tidak sibuk, dia tidak sedang di kantor, kan?
Pikiran Bella menjadi tidak tenang, apakah ada sesuatu yang menimpa suaminya, ataukah Revan pergi bersenang-senang dengan wanita lain? tidak! Bella langsung menggelengkan kepalanya, tidak mungkin suaminya itu sedang bersama dengan wanita lain, entah siapa wanita itu, yang jelas Bella tidak akan berpikiran macam-macam.
"Malam ini apa kamu ada acara?" tanya Jesselyn yang sejak tadi memperhatikan Bella yang sedang melamun.
"Di rumahku akan ada pesta, ulang tahun nenek dan juga sepupuku, sebenarnya ulang tahun nenekku masih dua minggu lagi, aku hanya ingin mengajakmu ke pesta, ku lihat wajahmu sedikit murung," ucap Jesselyn tidak berbohong.
"Aku belum membelikan kado untuk nenek dan juga sepupumu," jawab Bella tersenyum.
"Tidak perlu, Bella,, kamu dan Emy hanya perlu datang saja, lagian nanti akan banyak sahabat-sahabat dari sepupuku yang datang setelah acara potong kue, yah, intinya pesta anak muda," ucap Jesselyn.
Bella terlihat sedang berpikir, dia harus izin kepada Revan terlebih dahulu kalau mau pergi keluar malam hari, tapi nyatanya sampai detik ini Revan masih belum membaca pesannya.
"Kenapa, Bell? apa ini karena Revan? apa kamu sama dia udah baikan?" Bella menatap Jesselyn dan kemudian menghembuskan napasnya perlahan.
"Sebenarnya ada apa? cerita donk? biasanya kamu juga cerita sama aku dan Emy kalau lagi ada masalah?" tanya Jesselyn.
Bella menatap ponselnya kembali, berharap ada balasan dari pesan dari sang suaminya, tapi nyatanya pesan itu sampai sekarang belum dibuka apalagi di baca.
"Aku dan Revan memutuskan untuk mulai hidup dari awal, maksudnya kita baikan, seperti suami istri yang normal, Revan bahkan melenyapkan surat perjanjian pernikahan yang pernah ia buat waktu itu," Bella menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Jesselyn masih menyimak cerita Bella, bahkan Emy langsung gabung dan mendapatkan kode dari Jessy untuk diam.
"Revan bilang kalau dia udah cinta sama aku dan ingin membina rumah tangga yang sesungguhnya, apa kalian ingat wanita cantik yang kemarin ke sini mencari ku?" Emy dan Jessy kompak mengangguk.
__ADS_1
"Aku tebak, ya! dia pasti kekasihnya Revan, iya kan?" ucap Emy yang diangguki oleh Bella.
"Ya, dia memang kekasihnya Revan bahkan sebelum Revan menikah denganku, dan mereka tetap mempertahankan hubungan mereka setelah kami menikah," Emy dan Jessy hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Apa orang tua Revan tidak tahu masalah ini? masalah di mana Revan masih memiliki kekasih meskipun dia sudah menikah denganmu?" tanya Jessy penasaran.
"Mereka sering di luar negeri, Jess! ayah Kenzo udah terlanjur percaya sama putra semata wayangnya itu," Jessy manggut-manggut.
"Terus sekarang? apa kamu udah bener-bener percaya kalau Revan memang benar-benar sudah berubah?" Bella menggeleng pelan.
"Ini aja pesanku sejak tadi gak dibuka," jawab Bella lesu. Ada sebuah rasa menusuk di hatinya.
"Sejak kapan kamu kirim pesan ke dia?" kali ini Emy yang bertanya.
"Dua jam yang lalu."
Emy dan Jesseyn langsung salin pandang. "Telepon aja, Bella, mungkin Revan lagi sibuk."
"Udah lah, biarin aja, kalau memang dia masih menghargai ku dan menganggap ku istrinya, dia pasti langsung bales!" ucap Bella memperlihatkan deretan giginya.
"Atau bisa saja mungkin dia sedang tidur, ya dia kan lagi libur kerja," lanjut Bella.
"Kamu tidak perlu menyembunyikan kesedihanmu, kita sudah kenal lama, Bell, bagilah kesedihanmu pada kami," Emy memeluk Bella begitupun dengan Jesselyn.
"Terima kasih semuanya," balas Bella tersenyum haru.
###
Seorang dokter keluar dari ruang ICU dan langsung memanggil Revan.
"Apakah anda suami dari pasien yang ada di ruang ICU?" tanya dokter tersebut.
"Memangnya kenapa, dok?" tanya Revan penasaran.
"Pasien mengalami keguguran karena benturan di perutnya. Jadi kami hanya ingin tanda tangan suami atau keluarga pasien untuk segera melajukan operasi pengangkatan dan pembersihan rahim," jawab dokter tersebut.
"Anda suaminya?" tanya dokter lagi
Revan menggeleng. "Saya sepupunya, dok. Suaminya sedang di luar negeri, jadi saya yang akan menandatangani," jawab Revan berbohong, dia bingung barus bagaimana. Kalau dia tidak segera mengambil keputusan yang ada dirinya akan semakin merasa bersalah karena kondisi Lisa seperti ini adalah kesalahannya.
"Baiklah, mari ikut kami, pak!" Revan mengikuti dokter itu dengan langkah gontai.
Tiba-tiba dia teringat dengan sang istri, nanti ia akan mengabari Bella setelah menandatangani surat perizinan operasi untuk Lisa.
Setelah menandatangani surat izin itu, bergegas dokter tersebut kembali ke ruang operasi dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Revan merasa hari ini benar-benar melelahkan, bahkan dia sampai lupa untuk mengabari istrinya.
Bersambung.